Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
PEWARIS SEBENARNYA

PEWARIS SEBENARNYA

Romochang | Bersambung
Jumlah kata
30.1K
Popular
100
Subscribe
3
Novel / PEWARIS SEBENARNYA
PEWARIS SEBENARNYA

PEWARIS SEBENARNYA

Romochang| Bersambung
Jumlah Kata
30.1K
Popular
100
Subscribe
3
Sinopsis
18+FantasiFantasi TimurMisteriKultivasiKultivator
Rangga pria malang yang mati tertabrak truk dan arwahnya terbang melintasi dimensi ruang dan waktu hingga berakhir di tubuh seorang pemuda yang hidup di dunia kultivasi.—Kebangkitan seorang pria yang ditakdirkan untuk duduk di puncak dunia sebagai Kaisar Kultivasi, dengan legenda, kekuatan, dan para wanita luar biasa yang berdiri di sisinya. simak dan ikuti bagaiamana keseruan dari Perjalanan menembus dimensi , dari dunia modern menuju dunia kultivasi di jaman dulu. legenda dari pria muda yang kurang berbakat perlahan dia mulai menguatkan tekad guna menjadi yang terbaik , tekad kuat adalah pondasi dari keteguhan seorang kesatria , maka teruslah berjuang walau rintangan menghadang dan jangan pernah menyerah karena orang orang di sekitarmu akan terus mendukungmu. tetap semangat dan tetap bekerja, lakukan apapun yang membuatmu bahagia, karena kebahagiaan diri sendiri tidak datang dari orang lain
BAB 1 INTRO

"Kau dipecat, Rangga." suara berat sang pemilik kafetaria memecah kesunyian dapur yang sudah sepi pelanggan.

Pria berusia dua puluh dua tahun itu berdiri kaku, celemek masih tergantung di pinggangnya, tangannya gemetar menahan malu.

"Pak… saya cuma terlambat sekali. Saya butuh pekerjaan ini." ucap Rangga lirih sambil menunduk.

Bosnya mendengus kasar, wajahnya merah padam.

"Kau selalu lambat, selalu ceroboh! Kafetaria ini bukan tempat amal!" bentaknya sambil menepuk meja hingga BRAK!

Beberapa pegawai lain hanya diam, pura-pura sibuk.

Rangga menggigit bibirnya.

"Saya akan bekerja lebih keras… tolong beri saya kesempatan terakhir."

"Keluar." pria itu menunjuk pintu tanpa ragu.

Sunyi menyelimuti ruangan beberapa detik.

"Baik, Pak." Rangga akhirnya melepas celemeknya perlahan, meletakkannya di meja, lalu berjalan menuju pintu dengan langkah berat.

Malam menyambutnya dengan udara dingin yang menusuk.

Lampu jalan redup. Angin berhembus pelan menyapu trotoar yang lengang.

Rangga menyusuri jalan tanpa tujuan.

"Hidupku memang tidak pernah benar." gumamnya pelan, menatap langit gelap tanpa bintang.

Dari kejauhan terdengar suara klakson panjang dan panik.

TIIIIIIIIIIIIIIINNNN!

Rangga menoleh.

Sebuah truk besar meluncur liar dari tikungan, bannya menggesek aspal hingga memercik api.

Di seberang jalan, seorang anak kecil berlari keluar rumah, mengejar seekor kucing yang menyeberang tanpa arah.

"Hei! Awas!" teriak Rangga refleks.

Klakson kembali meraung.

TIIIIINNN! TIIIIINNN!

Sopir di dalam kabin terlihat panik, memutar kemudi sia-sia.

Jarak antara truk dan anak itu semakin dekat.

Rangga tidak berpikir panjang.

"Jangan bergerak!" teriaknya sambil berlari sekuat tenaga.

Langkahnya menghantam aspal.

TAP! TAP! TAP!

Dalam sepersekian detik ia menerjang tubuh kecil itu dan mendorongnya keras ke sisi jalan.

BRUK!

Anak itu terjatuh di rerumputan, selamat.

Namun bayangan besar sudah menutup pandangan Rangga.

Ia hanya sempat melihat cahaya lampu menyilaukan.

"Ah… jadi begini akhirnya."

Tubuhnya tertabrak keras.

DUAAARRR!

Benturan itu mengangkat tubuhnya beberapa meter sebelum terhempas ke aspal.

DEG!

Segalanya hening.

Darah mengalir perlahan di bawah cahaya lampu jalan.

Anak kecil itu menangis histeris dari kejauhan.

Kesadaran Rangga memudar.

Gelap.

Sunyi.

Lalu… ringan.

Jiwanya terlepas dari tubuh yang remuk.

Ia melihat dirinya sendiri terbaring tak bernyawa.

"Jadi aku… mati?" suaranya bergema tanpa tubuh.

Ruang di sekelilingnya retak seperti cermin.

Dimensi berlapis terbuka satu demi satu.

Warna-warna tak dikenal melintasi pandangannya.

Ia melayang, semakin jauh dari dunia yang pernah ia kenal.

"Hidupku… tidak pernah berarti." gumamnya pahit.

Bayangan masa lalu berkelebat: dipecat, dihina, tak dihargai.

"Aku tidak pernah punya apa-apa."

Arus cahaya menariknya menembus lorong tak berujung.

"Jika ada kehidupan lain…" suaranya mulai melemah.

Energi aneh berputar di sekeliling jiwanya.

"Aku ingin hidup yang layak."

Lorong cahaya bergetar hebat.

Ruang dan waktu seperti terlipat.

"Aku ingin… menjadi seseorang yang tidak diinjak-injak lagi."

Sebuah pusaran besar muncul di hadapannya.

Tarikan kuat menyedot kesadarannya.

WUUUUSSHH!

Dan semuanya kembali gelap.

Sesuatu sedang menunggunya di sisi lain.

Langit di dunia asing itu berwarna kelabu keunguan.

Di halaman dalam sebuah kediaman keluarga besar, seorang remaja tergeletak di tanah berbatu.

Tubuhnya kurus, wajahnya pucat, napasnya kacau.

Ia adalah Rangga.

Seorang kultivator muda yang terhenti di Bumi 3.

Langkah kaki terdengar mendekat perlahan.

"Sampah sepertimu masih berani menyebut diri calon tuan muda?" suara dingin Portus menggema di pelataran.

Rangga berusaha bangkit, tetapi lututnya gemetar.

"Kau bahkan tak mampu menembus Bumi 4 selama dua tahun." ejek Portus sambil menepuk-nepuk pipi Rangga dengan hina.

Tiba-tiba tinju melesat.

BUKK!

Tubuh Rangga terhuyung ke samping, darah menetes dari sudut bibirnya.

Ia tidak melawan.

Matanya kosong.

"Lihatlah dirimu! Qi-mu stagnan, meridianmu tersumbat!" teriak Portus sambil mengangkat kaki dan menendang keras perut Rangga.

BRAKK!

Tubuh remaja itu terlempar beberapa langkah sebelum jatuh tersungkur.

Debu beterbangan.

Beberapa anggota keluarga berdiri jauh, menyaksikan tanpa niat menghentikan.

"Kau tahu kenapa kau tidak bisa maju?" Portus mencengkeram rambut Rangga dan mengangkat kepalanya paksa.

Darah menetes ke tanah.

"Karena langit sendiri tidak mengakui keberadaanmu!"

Ia melempar kepala Rangga ke batu.

DEG!

Penglihatan Rangga berkunang-kunang.

Napasnya berat.

Namun tubuhnya tak mampu mengerahkan Qi sedikit pun.

Portus mengedarkan Qi Bumi 6 miliknya.

Aura kasar menekan sekeliling.

"Posisi tuan muda hanya untuk yang kuat!" bentaknya sebelum menghantamkan tinju berlapis Qi ke dada Rangga.

BOOOM!

Benturan itu mengguncang halaman.

Tubuh Rangga terpental, punggungnya menghantam pilar kayu.

KRAKK!

Kayu retak.

Rangga jatuh terduduk, darah mengalir dari dahinya.

Portus melangkah mendekat dengan tatapan jijik.

"Kau hanya noda bagi keluarga ini."

Ia mengangkat kakinya tinggi.

"Lebih baik kau mati saja."

Tendangan terakhir menghantam kepala Rangga.

DUAKK!

Tubuh itu terkapar tak bergerak.

Napasnya melemah.

Pandangan matanya kosong menatap langit kelabu.

Kesadaran Rangga memudar perlahan.

Tubuhnya pingsan.

Halaman kembali sunyi, hanya tersisa debu dan jejak kekerasan.

Tak ada yang tahu…

di dalam kehampaan kesadarannya, sesuatu yang lain sedang mendekat.

Ruangan kayu itu sunyi.

Seorang remaja terbaring di atas ranjang sederhana, napasnya tipis namun masih ada.

Sudah lima hari ia tak membuka mata.

Tubuh itu adalah Rangga.

Di atasnya, di antara ruang yang tak terlihat manusia, sebuah cahaya redup melayang perlahan.

Jiwa dari dunia lain.

Cahaya itu bergetar, seolah mengenali wadahnya.

"Jadi… ini tempatku selanjutnya?" suara samar bergema di kehampaan.

Tubuh yang terbaring tetap diam.

Namun ruang di sekitar ranjang tiba-tiba beriak.

WUUUSSHH…

Jiwa itu turun perlahan dan menembus dahi Rangga.

Tubuh di atas ranjang bergetar halus.

Jari-jarinya bergerak sedikit.

Di dalam ruang kesadaran, dua aliran memori saling bertabrakan.

Seorang pelayan yang tertabrak truk.

Seorang kultivator lemah yang dihajar sepupunya.

Kedua rasa sakit itu menyatu.

"Dunia yang berbeda… tapi akhir yang sama." suara itu bergema pelan.

Gambaran langit ungu, aura Qi, kekuatan yang menekan yang lemah.

"Di sini… yang kuat berkuasa."

Gelombang memori terus berputar.

DENG!

Dua jiwa bertabrakan dan menyatu.

Tak ada lagi Rangga lama.

Tak ada lagi Rangga yang lama lainnya.

Hanya satu kesadaran baru.

Napas di atas ranjang tiba-tiba membesar.

Dada naik turun lebih kuat.

Kelopak mata bergetar.

Perlahan… terbuka.

Langit-langit kayu terlihat samar.

"Aku… masih hidup?" gumamnya pelan.

Ia mencoba mengangkat tangan.

Berhasil.

Tubuhnya terasa berat namun berbeda.

Ia memaksakan diri duduk.

KREEET…

Ranjang kayu berbunyi saat menopang gerakannya.

Kepalanya berdenyut.

Dua ingatan saling bertindihan.

Kafetaria. Truk. Kematian.

Halaman keluarga. Portus. Hinaan.

Ia memegang kepalanya erat.

"Rangga… pelayan tak berguna." bisiknya.

Napasnya tersengal.

"Rangga… kultivator gagal."

Kedua gambaran itu muncul bersamaan.

Air mata tipis mengalir tanpa ia sadari.

"Dua kehidupan… dua kehinaan."

Ia menatap telapak tangannya.

Ada sisa-sisa Qi tipis mengalir lemah.

"Ini dunia kultivasi…"

Matanya menajam perlahan.

"Dunia di mana yang kuat menentukan segalanya."

Ingatan tentang Portus muncul jelas.

Tinju. Tendangan. Hinaan.

Rangga mengepalkan tangannya.

"Kalau begitu… aku tidak akan hidup seperti sebelumnya."

Aura samar bergetar di sekeliling tubuhnya.

Lemah.

Namun berbeda.

"Jika aku diberi kesempatan kedua…" suaranya semakin tegas.

Ia menatap ke arah jendela tempat cahaya dunia baru masuk.

"Aku akan menjadi yang kuat."

Angin tipis berhembus masuk.

Qi di udara bergetar halus, seakan merespons tekadnya.

Tanpa ia sadari…

sesuatu di dalam meridiannya bergerak perlahan.

Rangga duduk diam beberapa saat di tepi ranjang.

Napasnya perlahan menjadi stabil, sementara dua aliran ingatan masih berputar di kepalanya.

Tubuh ini terasa berbeda.

Lebih berat… tapi juga lebih kuat.

Ia menurunkan kakinya ke lantai dan berdiri perlahan.

KREEEK…

Lantai kayu berderit saat berat tubuhnya berpindah.

Sedikit rasa sakit masih tertinggal di dada dan punggungnya, bekas pukulan brutal lima hari lalu.

Namun sesuatu terasa aneh di dalam meridiannya.

Seolah aliran Qi bergerak lebih deras dari sebelumnya.

"Aneh… Qi ini…" gumam Rangga sambil menutup mata.

Ia menarik napas dalam.

Qi di udara sekitar perlahan tertarik masuk ke tubuhnya.

Meridian yang sebelumnya tersumbat kini terbuka sebagian.

Aliran energi berputar cepat di dalam dantiannya.

Tiba-tiba tekanan kuat muncul dari dalam tubuhnya.

DENG!

Gelombang Qi meledak keluar dari pusat energinya.

Rangga membuka mata dengan kaget.

"Ini…?"

Ia merasakan tingkat kekuatannya.

Bumi 4.

Lalu meningkat lagi.

DENG!

Tekanan Qi kembali melonjak.

Bumi 5.

Napasnya menegang.

"Tidak mungkin…"

Aliran Qi masih terus naik.

Meridian yang sebelumnya rusak justru terbuka lebih luas akibat luka yang diderita.

Energi berputar semakin cepat.

DENG!

Tekanan ketiga meledak di tubuhnya.

Bumi 6.

Tubuh Rangga sedikit bergetar.

Namun gelombang itu belum berhenti.

BOOM!

Aura kuat menyebar dari tubuhnya.

Udara di dalam kamar bergetar.

Tirai jendela berkibar keras.

Rangga terdiam.

Ia merasakan kekuatan yang belum pernah dimiliki tubuh ini sebelumnya.

"Ranah Bumi… tujuh."

Tangannya perlahan mengepal.

Ekspresinya berubah campuran antara terkejut dan tidak percaya.

"Serangan Portus… justru memaksaku menembus empat tingkat."

Ia menatap tangannya lama.

Lalu menghembuskan napas panjang.

"Kau adalah aku… dan aku adalah kau." ucapnya pelan.

Tatapannya menjadi tenang.

"Karena aku diberi kesempatan kedua…"

Ia memandang tubuhnya sendiri.

"Aku akan menjaga tubuh ini."

Ia melangkah ke tengah ruangan dan berdiri tegak.

Aura Qi mulai ia keluarkan perlahan.

Tubuhnya memancarkan energi yang berputar di sekelilingnya.

Namun sesuatu yang aneh terjadi.

Qi itu tidak berwarna seperti Qi biasa.

Bukan putih.

Bukan biru.

Dari dalam meridiannya muncul energi yang sangat pekat.

Hitam.

Gelap seperti malam tanpa bintang.

WUUUUMM…

Aura itu berdenyut kuat di sekeliling tubuhnya.

Rangga membuka mata dengan tajam.

"Ini bukan Qi biasa."

Energi hitam itu bergerak seperti kabut hidup.

Lebih berat.

Lebih dalam.

Seolah membawa tekanan dari dua kehidupan yang telah menyatu.

Rangga menatap aura itu dengan ekspresi serius.

"Dulu… tubuh ini dianggap sampah."

Energi hitam berputar di telapak tangannya.

"Tapi sekarang… tidak lagi."

Aura gelap itu menyebar perlahan memenuhi ruangan.

Tekanannya membuat udara terasa berat.

Dua jiwa yang menyatu…

telah melahirkan sesuatu yang benar-benar baru.

Lanjut membaca
Lanjut membaca