

"Luke, dasar pemalas! Apa kau belum berpakaian juga? Kalau kau tidak segera turun, aku akan menyeretmu ke pesta kelulusan dengan telanjang bulat!"
Robert Garrison, yang sudah duduk di kursi pengemudi dengan pintu terbuka, menjulurkan kepalanya dan berteriak ke arah lantai atas. Suaranya yang menggelegar seolah mampu menggetarkan kaca jendela bangunan kayu kecil itu.
Sesaat kemudian, sebuah teriakan yang tidak kalah kencang menyahut dari dalam kamar: "W! T! F!?"
Mendengar umpatan itu, amarah Robert meledak seketika. Ia melompat keluar dari kursi Ford F150-nya dan menerjang masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya yang berat berdentum di tangga kayu, disusul suara gebrakan pintu yang dipaksa terbuka.
"Astaga, Luke! Ada apa denganmu, Nak?" Teriakan panik Robert kembali terdengar, kali ini bercampur dengan suara melengking seorang wanita.
Satu menit kemudian, Robert bergegas keluar rumah sambil menggendong seorang remaja di punggungnya. Di belakangnya, Catherine—seorang wanita paruh baya—berlari dengan wajah pucat pasi sambil menggandeng bocah berusia lima tahun.
"Catherine, kau bawa Joseph dan ikuti kami dari belakang. Hati-hati di jalan, jangan mengebut!" Robert menginstruksikan dengan terburu-buru tanpa menoleh. Ia membaringkan remaja itu di kursi belakang, lalu menyelinap ke kursi kemudi.
Mesin Ford Raptor itu menderu liar. Ban mobilnya mencengkeram aspal jalan raya dengan kuat saat kendaraan itu melesat menjauh, berpacu dengan waktu menuju rumah sakit terdekat.
Satu hari kemudian, Luke terbangun dari komanya.
Ia menatap langit-langit putih yang asing dengan pandangan kosong. Butuh waktu beberapa detik bagi kesadarannya untuk pulih sepenuhnya. Begitu ingatan tentang apa yang terjadi menghantam otaknya, jantungnya berdegup kencang karena gejolak emosi.
Namun, ia segera menekan perasaan itu. Luke mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Ia berada di kamar rumah sakit. Satu-satunya orang di sana adalah Claire, adiknya, yang sedang tertidur pulas di sofa tak jauh dari ranjangnya.
Melihat Claire, Luke mengembuskan napas lega. Kehadiran adiknya berarti Robert-lah yang membawanya ke sini. Ia mendengarkan suara di luar pintu; sunyi. Tampaknya ini sudah larut malam.
Barulah saat itu, Luke memejamkan mata dan memanggil sebuah entitas jauh di dalam lubuk pikirannya: "Muncul kau, Sistem."
Hening. Tidak ada jawaban.
"Sistem sialan macam apa ini!" maki Luke dalam hati. Ia mencoba bersabar dan memanggil lagi dengan lebih sopan: "Muncul kau, Ayahanda Sistem!"
Tetap... tidak ada respon.
Luke mulai kehilangan kesabaran: "...Anak Sistem?"
"Cucu Sistem?"
"Sistem, kau sedang asyik farming di hutan?!"
Tetap saja, kesunyian yang dingin menyambutnya. Luke menggerutu dalam hati. Sistem rusak ini setidaknya harus memberinya antarmuka, panel status, atau sesuatu yang bisa dilihat, bukan? Mengapa ia malah berpura-pura mati?
Begitu pikiran itu melintas, deretan data tiba-tiba muncul di benaknya. Berbeda dengan panel transparan yang ia bayangkan, data ini terpatri langsung dalam kesadarannya. Ia bahkan tidak perlu "melihat" dengan mata, karena memang tidak ada panel fisik yang melayang.
> Pengguna: Luke (Alias: Luke Colson)
> Kekuatan (Strength): 12
> Kelincahan (Agility): 11
> Kecerdasan (Intelligence): 12
> Level: 0
> Pengalaman (EXP): 0
> Poin: 0
>
Dan... hanya itu. Data itu menghilang secepat ia muncul.
Luke merasa ingin gila karena marah. Ia benar-benar ingin menyeret sistem ini keluar dan menghajarnya, namun sayangnya, ia bahkan tidak tahu di mana benda sialan ini bersembunyi.
Bagi Luke, semua kegilaan ini dimulai tiga belas tahun yang lalu.
Suatu hari, ia terbangun dan menyadari dirinya telah menjadi bocah kulit putih berusia lima tahun bernama Luke Colson. Tanpa banyak pergulatan batin, ia memahami dari sistem bahwa ini bukanlah kasus "perpindahan jiwa" biasa ke tubuh orang lain. Tubuh Luke ini memang miliknya sejak lahir.
Hanya saja, sistem tersebut memiliki persyaratan kapasitas otak tertentu. Benda itu baru aktif saat ia menginjak usia lima tahun, yang sekaligus mengembalikan ingatan masa lalunya. Selama lima tahun pertama hidupnya sebagai Luke, ia hidup dalam kondisi linglung, sampai akhirnya ia sadar bahwa kehidupan sebelumnya bukanlah di dunia ini.
Di kehidupan lampau, ia adalah seorang pria Tionghoa biasa. Hidupnya medioker namun damai. Hingga usia tiga puluh tahun, ia bekerja sebagai staf administrasi perusahaan, menjalani rutinitas yang membosankan, dan berpenghasilan pas-pasan.
Lalu, pada suatu malam, ia tertidur saat menonton serial TV Amerika tentang kasus kriminal di pedesaan. Melihat pemandangan indah dan hamparan tanah yang luas di layar kaca, ia bergumam kecil: "Alangkah indahnya jika aku bisa hidup di sana."
Setelah gumaman itu, memorinya tentang dunia lama terputus.
Rupanya, setelah tertidur malam itu, entah bagaimana ia terlempar ke Amerika di dunia ini dan terlahir kembali sebagai bayi. Kenangannya sebelum usia lima tahun tetap ada, tidak ada bedanya dengan anak normal lainnya. Namun, ia sadar ini bukan Amerika yang ia kenal di buku sejarah.
Di kehidupan lamanya, tahun terakhir yang ia ingat adalah 2018. Sedangkan di dunia ini, ia lahir pada tahun 1985. Bukti yang lebih kuat lagi? Presiden Amerika Serikat saat ini adalah seorang wanita Latina berusia 57 tahun bernama Michelle Gable.
Seingat Luke, dalam sejarah dunia asalnya, tidak pernah ada presiden wanita, apalagi seorang Latina. Ini bukan perjalanan waktu ke masa lalu; ini adalah dunia paralel yang sepenuhnya berbeda.
Awalnya, Luke merasa bimbang. Ia sempat berharap bisa menemukan orang tua dan saudara perempuannya lagi. Namun, ia tersadar: apakah mereka akan menerima seorang pria kulit putih sebagai anak atau saudara mereka? Kebenaran pahit itu memberitahunya bahwa jalan pulang telah tertutup.
Sebagai pemuda yang berwatak santai di kehidupan sebelumnya, Luke segera menyerah pada pergulatan batin yang sia-sia itu. Orang tuanya di sana setidaknya masih memiliki satu sama lain. Ia hanya bisa berharap kepergiannya tidak meninggalkan luka yang terlalu dalam, meski ia tahu itu mustahil.
Selama lebih dari satu dekade, Luke perlahan melepaskan masa lalunya dan membesarkan dirinya sebagai orang Amerika pribumi. Meski begitu, ia sering mengeluh tentang nasibnya. Mengapa penjelajah waktu lain selalu menjadi anak konglomerat di New York, sementara dia justru terdampar di daerah pelosok yang terpencil?
Sejak usia lima tahun, ia tinggal di kota kecil di luar wilayah Knox, Texas. Kota bernama Shackford ini hanya memiliki dua ribu penduduk—setara dengan ukuran satu desa kecil di Tiongkok. Ironisnya, wilayah ini sangat luas; jika kau berkendara keluar kota, kau bisa menghabiskan waktu berpuluh-puluh menit tanpa melihat satu pun rumah penduduk.
Satu-satunya alasan ia bisa bertahan di tempat terpencil ini selama tiga belas tahun adalah karena ia tahu dia memiliki "Sistem". Namun, sistem itu membisu seperti batu selama belasan tahun, seolah-olah tidak ada.
Sistem itu hanya memberinya satu pesan samar: Akan aktif sepenuhnya saat mencapai usia dewasa.
Luke hanya bisa bersabar. Ia pernah memanggil sistem itu dengan sebutan "Ayah", "Kakek", hingga "Yang Mulia". Setelah tetap tidak digubris, ia bahkan berani menghina dengan sebutan "Anak Haram" atau "Cucu Kura-kura", namun sistem itu tetap tidak bergeming.
Di novel-novel, sistem biasanya memiliki kecerdasan buatan, kepribadian yang licik, atau setidaknya bisa diajak mengobrol. Sistem miliknya? Benar-benar seperti mesin rusak yang mengalami cacat mental.
Hingga tibalah hari ini—hari pesta kelulusan SMA-nya, yang juga merupakan hari ulang tahunnya yang ke-18. Saat ia sedang berganti pakaian formal di lantai atas, tiba-tiba sebuah notifikasi bergema di kepalanya:
> "Inang terdeteksi telah dewasa. Sistem resmi diaktifkan. Sinkronisasi dimulai dalam sepuluh detik!"
>
"WTF?!" Hanya itu yang sempat diteriakkan Luke.
Sebelum ia sempat bereaksi, rasa sakit yang luar biasa menghujam otaknya. Pandangannya gelap seketika, dan mekanisme pertahanan tubuhnya memaksanya untuk pingsan di tempat. Itulah sebabnya Robert menemukannya tergeletak di lantai.
Sekarang, di ranjang rumah sakit ini, Luke merasa seperti seseorang yang baru saja menerima warisan besar setelah menunggu bertahun-tahun. Perasaan itu bercampur aduk antara lega dan kesal.
Ia akhirnya mengerti mengapa sistem baru aktif setelah ia dewasa. Proses sinkronisasi jiwa membutuhkan ketahanan fisik dan otak yang matang. Jika dilakukan saat ia masih kecil, otaknya mungkin akan meledak karena tekanan informasi.
Tetapi, ia tetap ingin mengutuk! Kenapa tidak memberitahu sehari sebelumnya? Kenapa harus hitungan mundur sepuluh detik saat ia sedang bersiap-siap ke pesta? Sekarang, pesta kelulusannya hancur total. Dan yang lebih mengerikan, pacarnya, Ximena—si gadis liar yang temperamental itu—pasti akan mengulitinya hidup-hidup karena telah membiarkannya menunggu sendirian di pesta.
Luke berusaha mengalihkan pikirannya kembali ke "mesin bodoh" di kepalanya. Meskipun sistem ini tampak tidak bernyawa, data yang diberikan memiliki logika yang jelas.
Rata-rata manusia normal memiliki atribut bernilai 10.
* Kekuatan 12: Mungkin karena ia sering membantu pekerjaan fisik di pedesaan dan sesekali pergi ke gym.
* Kelincahan 11: Standar untuk remaja yang cukup aktif.
* Kecerdasan 12: Sedikit lebih tinggi karena ia memiliki jiwa orang dewasa yang sudah pernah mengenyam pendidikan sebelumnya.
Ia tidak memiliki kelemahan mencolok, tapi juga tidak punya keunggulan luar biasa. Namun, adanya data "Level", "Pengalaman", dan "Poin" memberinya harapan. Atribut ini pasti bisa ditingkatkan.
Luke mencoba melakukan penyelidikan lebih dalam.
"Sistem, berikan respon. Bagaimana cara menaikkan level?"
"Pengalaman? Aku tahu butuh pengalaman, tapi bagaimana cara mendapatkannya?"
"Misi? Di mana misinya?"
"Dasar kau bajingan! Kau baru memberiku misi setelah aku mendesakmu? Kau benar-benar sistem idiot!"
Setelah serangkaian makian mental, sebuah baris informasi akhirnya muncul di kesadarannya:
> Misi: Menjadi Petugas Polisi Resmi.
> Batas Waktu: Satu Bulan.
> Hadiah: 10 EXP, 10 Poin.
>
Melihat pesan itu, Luke hampir saja berlutut di atas ranjangnya untuk bersyukur. Akhirnya, ada kemajuan! Sistem ini benar-benar berfungsi!
Namun, kegembiraannya segera berganti dengan keraguan.
Dunia macam apa yang akan ia hadapi dengan menjadi seorang polisi? Luke telah membaca banyak novel sistem. Ada yang bertema sihir, teknologi canggih, hingga sistem selebriti. Dan sistem miliknya adalah "Sistem Detektif".
Awalnya ia pikir ia bisa menjadi miliarder teknologi atau penulis hebat. Menjadi detektif di dunia yang "berbeda" ini mungkin terdengar menarik, namun ia tidak tahu seberapa besar bahaya yang mengintai di balik layar dunia paralel ini.
Dunia ini bukanlah sekadar film yang ia tonton dulu. Ini adalah realitas yang memiliki logikanya sendiri. Karakter-karakter dari film Marvel, serial TV Amerika, dan berbagai tokoh fiksi mungkin saja ada di luar sana, menjalani hidup yang jauh lebih kompleks dan mematikan daripada apa yang ditampilkan di layar kaca.
Dan kini, Luke Colson harus terjun ke dalam pusaran itu, dimulai dengan sebuah lencana polisi.