

"Ayo kawan, jangan cuma dipandangi dagingnya. Kau tidak akan menemukan tekstur daging selembut ini di warteg atau kedai nasi padang langgananmu."
Kalimat bernada hinaan itu ditujukan pada seorang pria berpenampilan sederhana. Kontras dengan situasi mewah di sekitarnya.
"Aku tidak lapar," balas Andrei datar. Berusaha untuk tidak terusik oleh konfrontasi Gading, pria yang baru saja mengejeknya.
Mereka memang tidak pernah akur sejak awal. Bahkan di saat reuni pun, hanya hinaan yang terpikirkan oleh Gading ketika melihat kondisi Andrei.
"Oh ya? Tapi ini sudah waktunya makan malam, Ndrei. Yakin kau tidak mau makan makanan mewah ini?"
Suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen berkualitas tinggi terdengar seperti rentetan ejekan di telinga Andrei. Di dalam ruang VIP restoran bergaya Eropa itu, udara terasa begitu berat dan pekat.
Aroma steak wagyu yang dipanggang sempurna serta wangi parfum desainer kelas atas memenuhi ruangan, namun bagi Andrei, oksigen di sana seolah menipis, membuatnya sulit bernapas.
Ia berulang kali memperbaiki letak kerah kemeja berbahan poliester miliknya yang terasa kasar di kulit. Kemeja itu adalah pakaian terbaik yang ia miliki, dibeli di pasar loak setahun lalu, dan kini tampak sangat kusam di bawah pendar lampu kristal yang mewah.
Sementara Gading duduk di ujung meja dengan gaya pongah, memegang pisau perak dengan gerakan elegan yang sengaja dipamerkan.
"Kenapa? Atau kau takut justru merusak citra rasa daging yang tak pernah kau makan ini?" ejek Gading semakin menjadi.
Tangan Andrei mengepal di bawah meja. Merasa telinganya panas mendengar ucapan Gading.
Firman, satu-satunya teman yang masih peduli pada Andrei, menyikut lengannya dengan pelan.
Ia berbisik, "Sudahlah, Ndrei. Jangan dimasukkan ke hati. Nikmati saja makanannya. Anggap saja ini kompensasi karena kau sudah mau meluangkan waktu datang ke sini."
Andrei hanya mampu memaksakan sebuah senyuman kecil yang tampak seperti ringisan.
"Aku masih agak kenyang, Man. Tadi sore sempat makan roti," dustanya.
Kenyataannya, perutnya sudah keroncongan sejak siang karena ia sengaja melewatkan makan demi menghemat uang transportasi menuju tempat reuni ini.
"Kenyang? Atau kau sedang menghitung-hitung berapa jam kau harus bekerja serabutan hanya untuk membayar satu potong daging itu?" Gading tertawa terbahak-bahak.
Sebuah tawa yang memancing rekan-rekan yang lain untuk ikut bergabung dalam simfoni penghinaan itu.
"Tenang saja, teman-teman. Hari ini aku yang memegang kendali atas tagihannya. Pesan apa saja yang kalian mau.
"Anggap saja ini bentuk sedekah dariku untuk teman lama yang nasibnya... yah, katakanlah sedikit kurang beruntung."
Lagi-lagi kalimat itu ditujukan pada Andrei.
"Terima kasih atas kebaikanmu, Ding. Tapi aku benar-benar tidak lapar," jawab Andrei.
Suaranya tetap rendah meskipun amarah mulai mendidih di balik dadanya yang bidang.
Tiba-tiba, pandangan Gading beralih ke arah Yuri. Wanita itu duduk dengan keanggunan seorang ratu, mengenakan gaun sutra yang membalut tubuh indahnya dengan sempurna.
Yuri, sang primadona kampus yang kini telah bertransformasi menjadi pengusaha sukses dengan jaringan butik di mana-mana.
"Eh, kalian ingat tidak?" Gading sengaja mengeraskan suaranya, menarik perhatian seluruh meja.
"Dulu ada seorang pemuda yang sangat berdedikasi. Dia rela tidak makan siang selama berbulan-bulan, bahkan kabarnya sampai gak tidur seminggu demi ikut proyek mengaspal jalan, hanya untuk membelikan Yuri hadiah ulang tahun. Benar begitu kan, Ndrei?"
Seluruh mata kini tertuju pada Andrei. Beberapa wanita yang tadi sempat melirik Andrei karena wajahnya yang rupawan dan postur tubuhnya yang atletis, kini secara terang-terangan menunjukkan ekspresi meremehkan.
Yuri mengangkat alisnya, lalu menatap Andrei dengan tatapan yang lebih dingin dari bongkahan es.
"Oh, cerita legendaris itu? Aku hampir melupakannya," sahut Yuri datar.
Ia menyesap red wine dari gelas kristalnya sebelum melanjutkan, "Andrei, benarkah kau membeli kalung perak untukku waktu itu? Gading bilang kau tidak jadi memberikannya karena melihatku dijemput dengan mobil sport. Apa itu benar?"
Kepalan tangan Andrei di bawah meja semakin erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Itu cerita masa lalu, Ding. Tidak ada gunanya diungkit sekarang."
"Kenapa tidak? Ini kan reuni, kita harus mengenang kebodohan masa muda," sela Siska, teman wanita Yuri yang selalu tampak sinis.
"Padahal kalau jadi dikasih, mungkin Yuri bisa menjadikannya gantungan kunci untuk tas Hermes-nya. Benar kan, Yur?"
Yuri mendengus kecil, sebuah tawa tipis yang menghina. "Sayang sekali, Siska. Kulitku ini sangat sensitif terhadap logam murah. Aku hanya bisa memakai emas putih atau platina.
"Jika aku memakai perak abal-abal, kulitku bisa gatal dan merah-merah. Tapi ya... aku hargai niatnya.
"Untuk ukuran orang yang membayar uang kos saja mungkin masih harus meminjam ke sana-sini, niat itu sudah sangat mulia."
Gelak tawa kembali pecah. Andrei merasa harga dirinya bukan lagi diinjak, melainkan dilumat hingga hancur menjadi debu di bawah sepatu-sepatu mahal mereka.
"Aku harus pergi," ujar Andrei tiba-tiba. Ia berdiri dengan sentakan yang membuat kursi kayunya berderit nyaring di atas lantai marmer.
"Hoi, Ndrei! Kita baru saja akan masuk ke hidangan penutup!" seru Firman, berusaha meraih lengan sahabatnya itu.
"Biarkan saja, Man," Gading menyambar dengan nada yang sangat merendahkan.
"Mungkin dia baru ingat kalau ada shift malam sebagai penjaga gudang atau tukang parkir.
"Jangan halangi orang yang sedang berusaha memperbaiki nasibnya, meskipun kita semua tahu hasilnya akan tetap sama."
Andrei tidak menoleh lagi. Ia melangkah keluar dari ruangan itu dengan langkah besar, mengabaikan tatapan-tatapan sinis yang mengikutinya hingga ke pintu keluar.
Sementara udara malam Kota Kencana yang lembap menyambut Andrei saat ia keluar dari lobi restoran mewah tersebut. Ia menghirup napas dalam-dalam, berusaha membuang sisa-sisa sesak yang menghimpit paru-parunya.
Langit malam itu tampak kelam, tanpa bintang, seolah merefleksikan suasana hatinya yang hancur.
Ia mulai berjalan menyusuri trotoar, tidak ingin menggunakan ojek daring karena sisa saldo di dompet digitalnya sangat krusial untuk makan esok hari.
Saat ia sedang merenungi nasibnya, ponsel tua di saku celananya bergetar hebat. Nama "Ibu" muncul di layar yang sudah retak di beberapa bagian.
Andrei menelan ludah sebelum menggeser tombol hijau. "Halo, Bu?"
"Andrei... uhuk-uhuk... Nak, suara kamu kok bising sekali? Kamu sedang di mana?" suara ibunya terdengar parau dan sangat lemah. Setiap kali batuk terdengar seperti pisau yang mengiris hati Andrei.
"Iya Bu, Andrei lagi di jalan. Baru selesai ada urusan pekerjaan," Andrei berbohong lagi. Ia tidak ingin ibunya tahu bahwa ia baru saja dihina di sebuah pesta mewah.
"Andrei, Ibu cuma mau tanya... tahun ini, apakah kamu sudah ada rencana untuk membawa calon istri ke kampung?
"Umurmu sudah hampir tiga puluh, Nak. Ibu... Ibu hanya ingin melihatmu bahagia sebelum Ibu menutup mata.
"Kakak-kakakmu semuanya sudah berkeluarga, anak-anak mereka sudah besar. Masa kamu mau terus-terusan sendiri di kota orang?"
Andrei memijat pelipisnya yang berdenyut. "Bu, Andrei masih fokus bekerja dulu. Masalah jodoh pasti akan datang. Ibu jangan banyak pikiran dulu ya, yang penting Ibu sehat.
"Andrei tutup dulu, ya, Bu. Ada telepon masuk dari kantor."
Andrei mematikan ponselnya dengan tangan gemetar. Selalu itu yang ditanyakan ibunya setiap kali menelepon hingga membuatnya bosan.
Pria itu menyandarkan punggungnya di tembok sebuah bangunan tua. Air mata hampir menetes, namun ia menahannya. Ia tidak boleh lemah.
Dunia sudah cukup kejam padanya, ia tidak butuh belas kasihan, bahkan dari dirinya sendiri.
Saat ia hendak melanjutkan langkah menuju pangkalan angkot, sebuah suara jeritan melengking memecah kesunyian lorong gelap di depannya.
"Tolong! Jangan! Lepaskan aku!"
Andrei tersentak. Instingnya langsung waspada. Ia berlari menuju sumber suara di sebuah gang sempit yang remang-remang.
Di sana, ia melihat seorang gadis muda dengan pakaian yang tampak lusuh sedang disudutkan oleh dua pria bertubuh gempal yang tercium bau alkohol menyengat dari tubuh mereka.
"Halah, cantik! Jangan sombong begitu. Kami cuma mau mengajakmu minum-minum sebentar," salah satu pria itu mencoba mencengkeram lengan si gadis.
"Lepaskan! Aku tidak mau!" teriak gadis itu sambil meronta.
"Woi! Lepaskan dia!" teriak Andrei dengan suara bariton yang menggelegar.
Kedua pria mabuk itu menoleh. Salah satunya meludah ke tanah dan menyeringai. "Siapa kau? Pahlawan kesiangan? Pergi dari sini sebelum aku mematahkan lehermu!"
"Aku tidak akan pergi sampai kalian melepaskannya," tantang Andrei.
Ia memasang kuda-kuda. Meskipun hidupnya miskin, Andrei selalu melatih tubuhnya. Pekerjaan kasar sebagai kuli angkut di pelabuhan terkadang memberikan keuntungan pada otot-otot lengannya.
Pria yang lebih besar menyerang terlebih dahulu dengan pukulan liar. Andrei menghindar dengan tangkas, membiarkan tinju pria itu menghantam udara kosong.
Sebelum lawan sempat berbalik, Andrei mendaratkan sebuah pukulan hook yang telak ke rahang pria itu. Suara tak yang renyah terdengar, diikuti oleh ambruknya pria tersebut ke atas aspal.
Temannya yang satu lagi, melihat kawannya jatuh, mencoba mengeluarkan sebilah pisau kecil. Namun, amarah Andrei yang terpendam sejak di restoran tadi seolah menemukan penyalurannya.
Ia menendang tangan pria itu hingga pisaunya terlempar, lalu menyambungnya dengan tendangan lurus ke arah perut.
"Argh!" Pria kedua tersungkur ke tumpukan sampah, memegangi perutnya yang terasa mulas.
"Pergi! Atau kalian ingin aku memanggil polisi dan memastikan kalian membusuk di sel!" ancam Andrei dengan tatapan mata yang sangat tajam dan mengintimidasi.
Kedua preman itu, menyadari bahwa mereka berhadapan dengan orang yang salah, segera bangkit dan lari kocar-kacir sambil mengumpat tidak jelas.
Andrei mengatur napasnya yang memburu. Ia kemudian menoleh ke arah gadis itu. Gadis itu masih gemetar, memeluk tas ransel kecilnya erat-erat di depan dada.
Rambutnya sedikit berantakan, namun di bawah temaram lampu jalan, Andrei bisa melihat wajah gadis itu yang luar biasa cantik meskipun tampak sangat lelah.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Andrei dengan nada yang jauh lebih lembut.
Gadis itu mendongak. Matanya yang bening dan bulat menatap Andrei dengan tatapan penuh kekaguman dan rasa syukur yang mendalam.
"Terima kasih... Terima kasih banyak. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi kalau tidak ada Anda..."
Tepat pada saat itu, sebuah sensasi aneh menjalar di kepala Andrei. Seperti sengatan listrik kecil yang tidak menyakitkan.