Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Playboy Gokil

Playboy Gokil

Topeng Kedua | Bersambung
Jumlah kata
51.3K
Popular
1.3K
Subscribe
403
Novel / Playboy Gokil
Playboy Gokil

Playboy Gokil

Topeng Kedua| Bersambung
Jumlah Kata
51.3K
Popular
1.3K
Subscribe
403
Sinopsis
PerkotaanSekolahBadboy
Pradygta Raya Herlambang biasa dipanggil Dygta adalah seorang anak SMA dari salah satu keluarga konglomerat di Kota. Dygta dicap sebagai siswa yang nakal di sekolah karena sering terlambat dan buat onar di sekolah. Hidupnya yang mapan seolah tidak memikirkan masa depan, harinya diisi dengan kenakalan remaja dan hura-hura. Ayahnya yang khawatir dengan masa depan anaknya memutuskan untuk mengirim Dygta ke desa supaya dapat merasakan hidup yang sederhana dan tanpa dukungan orang tuanya yang kaya. Sesampainya di desa perjalanan Dygta di mulai. Dari kekonyolan, percintaan, kesedihan dan kesialan. Dapatkah Dygta bertahan di desa dengan suasana yang yang sangat jauh berbeda dengan hidupnya di kota sebelumnya?
1. Awal Masalah

Seorang laki-laki dengan langkah tergesa-gesa berlari menyusuri koridor sebuah sekolahan. Lagi-lagi dirinya terlambat masuk sekolah. Pemuda tampan itu tak lain adalah Dygta.

Ya namanya adalah Pradygta Raya Herlambang yang kerap di panggil Dygta. Entah berapa ratus kali ia terlambat masuk sekolah. Ini adalah hari pertamanya ia masuk ke sekolah setelah liburan kenaikan kelas tempo hari. Saat ini ia duduk di bangku kelas 3 SMA awal semester.

Akhirnya ia sampai di pintu kelasnya yang tak tertutup itu dan berharap dalam hatinya jika belum ada guru di kelasnya. Naasnya ternyata sudah ada guru, dan seorang siswi teman sekelasnya bertubuh rada gemuk yang sedang di hukum. Sepertinya siswi itu sama seperti dirinya yang terlambat di hari itu.

Tok..tok..tok..

"Pagi pak.." ucap Dygta dengan perasaan khawatir karena guru di kelasnya adalah pak Sardi, guru matematika yang merangkap sebagai BK, sangat terkenal disiplin dan satu-satunya guru paling killer di sekolah tersebut.

"Hebat.. hebat.. masih ada satu murid lagi yang terlambat, Dygta.... sini..!!" Hardik pak Sardi

Dygta masuk ke dalam kelasnya dengan berusaha setenang mungkin.

"Tunggu giliran kamu, berdiri di pojokan sana,murid paling bermasalah!" Ujar pak Sardi kepada Dygta.

Guru laki-laki itu tampak emosional pagi itu, ia hendak menghukum siswi bertubuh gemuk yang terlebih dahulu terlambat. Tampak siswi itu begitu gelisah.

"Kamu mau di hukum seperti apa?" Tanya pak Sardi kepada siswi, dan siswi itu tak menjawab. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca.

"Apa? Kok malah geleng geleng kepala! Bapak suruh push up gak mungkin kamu bisa kan?" Ucap guru tersebut lantang dengan mata nanar penuh rasa amarah.

"Njiirr..!! Body shaming nih guru." Batin Dygta yang tampak iba melihat teman sekelasnya itu.

"Merangkak..!! Taruh lutut kamu di lantai dan merangkak sampe ke meja kamu!" Ucap pak Sardi

Siswi itu bingung, antara malu dan takut ia hanya bisa menahan tangis. Ia mulai menundukkan badannya dan berlutut di lantai. Dygta yang melihat itu tak terima teman sekelasnya di perlakukan seperti hewan, apalagi dia adalah seorang wanita.

"Jangan mau! Berdiri." Ucap Dygta

Ketegangan terjadi, seluruh murid di kelas itu tampak khawatir. Dygta benar-benar akan di keluarkan dari sekolah jika sekali lagi ia membuat masalah. Di ketahui ia sudah berberapa kali hendak di keluarkan dari sekolah tetapi tidak jadi karna alasan Dygta membela diri cukup masuk akal saat dulu ia terlibat perkelahian.

"Kamu apa saya guru, disini hah!" Hardik pak Sardi kepada Dygta

"Maaf pak, bapak guru apa bukan? Hukuman macam apa itu? Bapak mau ngehancurin mental murid? Dia bakal malu seumur hidup kalo bapak ngehukum dia kayak gitu pak. Bapak mau tanggung jawab kalo nanti sepulang sekolah dia bundir gara-gara rasa malu?" Jawab Dygta.

"Udah berani jawab kamu ya? Apa mentang mentang kamu anak orang kaya. Kamu bisa berbuat sesuka hati kamu disini!"

"Apa hubungannya sama orang tua saya pak? Guru itu di gugu dan tiru. Minimal bapak memanusiakan manusia, bukan kayak gini. Ini SMA bukan pendidikan militer pake suruh ngerangkak, bapak liat gender gak? Dia perempuan. Bapak suruh dia ngerangkak kayak anj*Ng, apa bener kayak gitu? Biar saya yang gantiin dia ngerangkak. Kasih dia hukuman yang gak ngehancurin kehormatannya."

"Udah mulai berani kamu ngelawan dan bantah guru kamu sendiri? Mau kamu di keluarin dari sekolah ini? Kamu itu udah bermasalah dari dulu."

"Kalo menurut bapak saya salah, silahkan keluarin saya dari sekolah ini pak. Itu kantor, ayo kita kesana." Tantang Dygta yang mulai tersulut emosi

Kelas pagi itu penuh dengan ketegangan, Dygta dan pak Sardi adu mulut di dalam kelas bahkan mereka sempat ingin berkelahi. Hingga pak Sardi pergi meninggalkan kelas itu dengan perasaan penuh amarah. Tak lama sebuah pengeras suara memanggil nama Dygta dan memintanya untuk datang ke ruang kantor sekolah tersebut.

Sementara Dygta berada di ruang kantor, kelas tersebut sunyi dengan ketegangan. Tampak siswi tersebut itu menangis di meja nya.

"Dasar gajah bengkak Gak tau diri! Tinggal ngerangkak aja apa susahnya? Awas aja sampe Dygta di keluarin dari sekolah ini gara-gara dia!" Gerutu seorang siswi lain yang tampak terlihat paling cantik di kelas itu.

Tak lama seorang guru wanita masuk ke dalam kelas itu yang tak lain adalah wali kelas mereka.

"Ristya, gimana kejadiannya tadi?" Tanya guru itu kepada siswi gemuk yang ternyata bernama Ristya.

Ristya pun menjelaskan duduk perkara di bantu teman teman sekelasnya yang ikut serta menjelaskan.

"Itu salah Ristya buk! Kalo dia ngerangkak, pasti gak jadi kayak gini! Dygta gak salah." Sahut seorang siswi

"Udah udah! Ibu gak cari siapa yang bener siapa yang salah. Ibu cuma mau tau seperti apa duduk perkaranya. Ya udah ibu mau kembali ke kantor lagi. Kalian kerjain halaman 38-41. Jangan berisik dan jangan keluar kelas."

PLAKK...!!

sebuah tamparan keras mendarat di pipi Dygta. Ya ayahnya yang sudah di hubungi pihak sekolah datang dengan perasaan malu dan emosi.

"Udah pak, saya minta maaf.. keluarin aja dia dari sekolah biar saya yang didik dia." Ucap ayahnya

"Pa.. kok gitu sih sama anak sendiri!" Protes istrinya yang tak lain adalah mama Dygta.

"Udah ma.. papa udah setres tiap saat dia buat ulah terus! Gak bisa sebulan aja dia hidupnya baik baik aja, ada aja masalah yang dia buat! Sampe kapan mama belain anak kesayangan mama itu!" Ucap lelaki setengah baya yang masih terlihat gagah itu.

"Tapi pa.."

"Gak ada tapi tapian! Udah mama sama Dygta masuk ke dalam mobil, papa masih mau ngurus ini.."

Di halaman depan sekolah itu, Dygta bersama ibunya di dalam mobil menunggu sang ayah. Tampak Dygta hanya diam menyandarkan kepalanya di kaca jendela mobil menatap taman depan kantor sekolah dengan pandangan kosong.

"Nanti mama cariin sekolah yang bagus ya Dygta. Emm.. apa kamu punya keinginan sekolah di mana? Nanti mama usahain." Ucap ibunya berusaha memenangkan suasana hati Dygta.

Dygta tak menjawab, ia memilih diam seribu bahasa dan memilih memejamkan matanya dan tidur. Ibunya hanya bisa menghela nafas panjang sembari menatap wajah anaknya itu.

Suara klakson mobil membangunkan Dygta yang tertidur. Tampak seseorang membuka sebuah gerbang tinggi yang menutupi sebuah rumah mewah. Dygta sudah sampai di rumah.. ia langsung turun dari mobil dan bergegas hendak pergi ke kamarnya.

"Dygta! Papa mau ngomong sama kamu!" Ucap ayahnya

"Ssstt.. nanti aja pa... Kayak gak ada waktu aja lho.. papa itu lagi emosi, nanti yang ada malah ribut, mama gak mau denger denger keributan di rumah ini. Kasian dikit Napa sama Dygta, pa? Dia itu gak salah, mama justru bangga sama anak kita"

"Hah? Bangga? Apa yang bisa di banggain dari dia? Mama tau absensi dia waktu baru masuk SMA dulu? 114 hari alpha di kelas satu SMA, dia masuk sekolah cuma hari Jum'at sama Sabtu aja! Kalo kepala sekolah gak mandang papa, udah gak mungkin dia bisa naek kelas. Sekarang udah kelas tiga kelakuannya sama aja, mau jadi apa anak itu!"

"Sabar pa, namanya anak ya beda beda pa.. gak semua anak itu bisa nurut."

"Hufftt.. mau mama itu gimana? Selama ini mama yang manjain dia, itu jadinya. Sekarang giliran papa.. biar tau dia hidup itu keras! Papa mau kirim dia ke desa!"

"De.. desa? Ng..nggak! Mama gak setuju pa, pendidikan, makanan, belum lagi pergaulan.. nggak pokoknya mama gak setuju."

"Keputusan papa udah bulat, papa mau kirim dia ke desa mbok ijah. Biar mbok Ijah yang ngurusin dia."

"Hah? Mbok Ijah? Desanya Itu jauh pa.. itu beda provinsi!! Itu di Jawa Timur..!!"

"Biar..! Biar dia bisa memperbaiki kelakuannya!"

Lanjut membaca
Lanjut membaca