Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Jalan Sang Naga

Jalan Sang Naga

Forgetriz | Bersambung
Jumlah kata
48.7K
Popular
221
Subscribe
76
Novel / Jalan Sang Naga
Jalan Sang Naga

Jalan Sang Naga

Forgetriz| Bersambung
Jumlah Kata
48.7K
Popular
221
Subscribe
76
Sinopsis
PerkotaanAksiGangsterMafiaBela Diri
Satu petak tanah. Triliunan rupiah. Darah, pengkhianatan, dan kelahiran sebuah legenda. Bara Santoso hanyalah pemuda jalanan biasa yang dibesarkan oleh kerasnya dunia bawah Tanjung Emas. Sebagai anggota rendahan di Faksi Surya, bagian dari raksasa mafia Klan Dewangga, Bara tidak pernah menginginkan kekuasaan. Kesetiaannya hanya untuk ayah angkatnya, Pak Surya, dan sahabat seperjuangannya, Niko. Namun, hidup Bara hancur dalam semalam saat dia dijebak atas pembunuhan seorang warga sipil di Lahan Kosong Blok C—sepetak tanah bernilai triliunan rupiah yang menjadi kunci megaproyek kawasan hiburan. Menjadi buronan nomor satu di kotanya sendiri, Bara terpaksa membuang lencananya dan bertarung melawan ribuan mantan rekannya. Untuk bertahan hidup, Bara harus menanggalkan sisi kemanusiaannya dan membangkitkan sang naga yang tertidur di dalam dirinya. Di dunia hitam di mana kesetiaan bisa dibeli dan persaudaraan bisa dikhianati, mampukah Bara menegakkan keadilan dengan kedua tinjunya sendiri?
Bab 1

"Ampun, Bara,"

Itu kata Kusuma dengan suara gemetar ketakutan. Dia mendorong sebuah tas kulit berwarna hitam ke arah sepatu Bara. "Ini uangnya. Semuanya pas. Tolong jangan pukul aku lagi."

Hujan turun sangat deras malam itu di Tanjung Emas. Bara berdiri di sebuah area sepi yang dipagari seng berkarat. Orang-orang di sekitar sana menyebut tempat ini Lahan Kosong Blok C.

Di depan Bara, seorang pria berkemeja safari jatuh terduduk di atas genangan lumpur. Namanya Kusuma. Dia batuk-batuk sambil memegangi perutnya. Bara baru saja memukulnya karena pria itu telat membayar utang berhari-hari.

Bara menunduk dan mengambil tas itu. Terasa cukup berat di tangannya. Bara tidak mengatakan apa-apa dan tidak membuka tasnya. Orang seperti Kusuma tidak akan berani membohonginya. Bara langsung membalikkan badan dan berjalan pergi, meninggalkan pria itu yang masih meringkuk di tengah guyuran hujan.

Sebenarnya Bara tidak suka memukul orang. Tapi, ini adalah pekerjaannya sebagai bawahan di Klan Dewangga. Dia harus menagih uang setoran agar tidak dihukum oleh atasan.

Dulu, dunia Bara terasa sangat sempit. Hanya ada dinding-dinding tua Panti Asuhan "Bunga Matahari". Bara, Niko, dan Yuni selalu bermain bersama di halaman depan yang berdebu. Mereka bertiga adalah anak-anak buangan yang tidak punya keluarga.

Tapi, ada satu pria dewasa yang sering datang mengunjungi mereka. Namanya Pak Surya. Beliau selalu memakai setelan jas yang rapi dan sering membelikan mereka makanan. Pak Surya adalah orang yang menyelamatkan mereka dari kerasnya jalanan. Karena beliau sangat baik dan berwibawa, Bara dan Niko berjanji satu hal di dalam hati: suatu hari nanti, mereka akan menjadi kuat seperti Pak Surya dan bergabung dengan Organisasinya, Klan Dewangga.

Saat Bara berjalan keluar dari Lahan Kosong dan masuk ke gang sempit yang gelap, langkahnya terhenti. Di antara suara rintik hujan dan petir, telinganya mendengar sebuah bunyi aneh dari arah belakang.

Pft.

Suaranya pelan sekali. Terdengar seperti letusan pistol yang dipasangi alat peredam suara.

Bara menoleh ke belakang, menatap ke arah Lahan Kosong yang tertutup kegelapan malam. Perasaannya tiba-tiba menjadi sangat tidak enak. Jantungnya berdebar agak cepat. Tapi, dia mengingat aturan utama di klannya: jangan pernah mencampuri urusan yang bukan tugasmu. Lagipula, tugasnya malam ini hanyalah mengambil uang setoran.

Bara menarik napas panjang, menyalakan sebatang rokok kretek, dan melanjutkan langkahnya menembus hujan.

Beberapa waktu kemudian, Bara sampai di sebuah bangunan kecil. Ini adalah kantor tempat peminjaman uang. Pemiliknya biasa dipanggil Bos Rano. Dia adalah seorang rentenir lintah darat yang bekerja di bawah naungan Klan Dewangga.

Bara masuk ke dalam kantornya. Ruangannya bau asap rokok dan terasa pengap. Bos Rano sedang duduk di balik meja besarnya, sibuk menghitung tumpukan uang.

"Ini uang setoran dari Kusuma," kata Bara sambil meletakkan tas hitam itu di atas meja.

Bos Rano mendongak dan tersenyum lebar melihat tas tersebut. Dia langsung membuka resletingnya dan melihat tumpukan uang kertas di dalamnya. Matanya berbinar senang.

"Bagus sekali, Bara. Kerjamu selalu cepat, bersih, dan rapi," puji Bos Rano sambil tertawa kecil. "Klan Dewangga pasti bangga punya prajurit sepertimu. Pak Surya tidak salah merekrutmu."

Bara hanya diam dan mengangguk pelan menanggapi pujiannya. Tugasnya malam ini sudah benar-benar selesai. Dia berpamitan keluar dari ruangan itu untuk segera pulang ke kamar kos dan beristirahat.

Malam itu Bara tidur dengan tenang.

***

Sinar matahari pagi menembus celah tenda warung kopi kecil di pinggiran kota Tanjung Emas. Asap dari dua mangkok mie instan rebus mengepul ke udara, bercampur dengan bau jalanan basah sisa hujan semalam.

Bara duduk berhadapan dengan Niko, sahabat baiknya. Niko tampak rapi memakai kemeja kotak-kotak. Sangat berbeda dengan Bara yang masih memakai jaket denim kusam bekas tugas semalam.

"Tugasmu tadi malam lancar?" tanya Niko sambil meminum kopi hitamnya perlahan.

"Lancar. Kusuma sudah menyerahkan uangnya," jawab Bara singkat.

Niko menghela napas panjang. Dia melihat ke arah jalan raya yang mulai ramai. "Kita tidak bisa selamanya jadi pesuruh rendahan di Klan Dewangga, Bar. Apalagi sejak Pak Surya masuk penjara. Posisi kita di klan ini makin tidak aman."

Mendengar nama Pak Surya, wajah Bara berubah kaku. Pak Surya adalah ayah angkat yang membesarkan mereka berdua dari kecil. Setahun yang lalu, Pak Surya rela masuk penjara demi melindungi nama besar bos tertinggi Klan Dewangga.

"Kita hanya perlu bersabar sampai Pak Surya bebas" ucap Bara pelan, berusaha menenangkan sahabatnya.

Tiba-tiba, suara dari televisi tabung di sudut warung memotong obrolan mereka. Berita pagi itu mendadak menyiarkan kejadian yang sangat mengejutkan.

"...Seorang pria ditemukan tewas pagi ini di area Lahan Kosong Blok C, Tanjung Emas. Korban yang diketahui bernama Kusuma tewas di tempat karena luka tembak di kepala. Polisi menduga ini adalah pembunuhan yang sudah direncanakan dengan rapi..."

Layar televisi menampilkan gambar tempat Bara berdiri semalam. Ada garis polisi berwarna kuning melingkari area berdarah di atas tanah lumpur.

Garpu di tangan Bara terhenti di udara. Suasana warung yang tadinya berisik tiba-tiba terasa sangat sepi di telinganya. Niko perlahan menaruh cangkir kopinya ke meja. Dia menatap layar televisi dengan mata melotot, lalu menatap Bara dengan wajah pucat.

"Bar," panggil Niko dengan suara bergetar karena panik. "Kau semalam... bawa pistol?"

"Tidak," jawab Bara cepat. Tatapan matanya tajam dan dingin. "Aku hanya memukul perut dan rahangnya dengan tangan kosong. Saat aku pergi, Kusuma masih hidup dan bernapas."

Niko mengusap wajahnya dengan kasar. Keringat dingin mulai keluar di dahinya. "Gawat... Polisi pasti akan mencari tahu siapa orang terakhir yang bertemu dengan Kusuma. Apalagi kalau mereka tahu kau adalah anggota Klan Dewangga."

Belum sempat Bara menjawab, terdengar suara nyaring dari dalam saku jaketnya.

Tit! Tit! Tit!

Itu adalah bunyi pager hitam milik Bara. Dia segera mengambil alat komunikasi kecil itu. Di layarnya muncul deretan angka yang merupakan kode darurat. Itu adalah panggilan langsung dari markas besar Klan Dewangga. Tiga Panglima menyuruhnya untuk datang menghadap sekarang juga.

Bara dan Niko saling bertatapan dalam diam. Perasaan takut dan firasat buruk langsung menyelimuti mereka berdua.

"Kematian Kusuma di Lahan Kosong pasti akan membuat polisi menutup area itu untuk penyelidikan. Proyek besar Klan Dewangga di lahan tersebut akan terancam gagal. Dan karena Aku yang dikirim ke sana semalam, nama Pak Surya yang sedang di penjara pasti akan ikut terseret. Pak Surya akan dituduh sebagai otak di balik pembunuhan ini karena tidak bisa mengatur anak buahnya" Ucap Bara

Bara berdiri dari kursi kayunya. Dia mengambil jaketnya dengan tenang, meskipun hatinya sedang berkecamuk marah.

"Aku harus pergi ke markas," kata Bara.

Lanjut membaca
Lanjut membaca