Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Aku Terjebak dalam Novel yang Kutulis

Aku Terjebak dalam Novel yang Kutulis

Mahaniputna | Bersambung
Jumlah kata
84.9K
Popular
100
Subscribe
21
Novel / Aku Terjebak dalam Novel yang Kutulis
Aku Terjebak dalam Novel yang Kutulis

Aku Terjebak dalam Novel yang Kutulis

Mahaniputna| Bersambung
Jumlah Kata
84.9K
Popular
100
Subscribe
21
Sinopsis
FantasiIsekaiIsekaiDunia Gaib
Rama, seorang penulis yang putus asa karena kegagalan kreatif dan tekanan finansial, memutuskan untuk mengasingkan diri di sebuah rumah tua bernama 'Griya Sunyi'. Alih-alih mendapatkan ketenangan, ia justru menemukan bahwa rumah tersebut adalah sebuah entitas naratif yang 'memberi makan' para penulis dengan inspirasi tak terbatas, namun dengan harga nyawa mereka. Melalui diari Bima—penulis yang hilang sepuluh tahun sebelumnya—Rama menyadari bahwa ia sedang menulis naskah kematiannya sendiri. Ketika garis antara dunia nyata dan dunia fiksi memudar, Rama harus memasuki labirin bawah tanah, menghadapi manifestasi karakternya, dan bertarung melawan 'Sang Pembaca', sebuah entitas kosmik yang haus akan tragedi. Rama tidak hanya berjuang untuk hidup, tetapi juga untuk merebut kembali otoritas atas ceritanya sendiri sebelum ia terhapus selamanya dari realitas.
Bab 1: Halaman Kosong yang Menjerit

Kursor itu berkedip. Satu garis vertikal kecil yang muncul dan hilang dengan ritme yang stabil, seolah-olah sedang menghitung detak jantung Rama yang kian melambat. Di luar jendela apartemennya yang berada di lantai empat, Jakarta sedang memamerkan kemacetan malam Selasa yang bising. Klakson bersahutan, deru mesin tua, dan teriakan pedagang asongan merembes masuk melalui celah kaca yang tidak lagi kedap suara.

Rama menatap layar laptopnya dengan mata yang perih dan merah. Sudah enam jam ia duduk di sana. Hasilnya? Nol. Delapan puluh ribu kata yang sudah ia ketik selama enam bulan terakhir tampak seperti tumpukan bangkai di matanya.

"Ini sampah," bisiknya. Suaranya serak, tenggelam oleh suara kulkas tua yang berdengung keras di sudut ruangan.

Ia menggulir naskahnya dari awal. Bab satu, hambar. Bab sepuluh, bertele-tele. Bab tiga puluh, sebuah kekacauan logika yang memalukan. Rama memijat pangkal hidungnya, merasakan beban berat di pundaknya yang bukan sekadar otot yang tegang, melainkan kegagalan yang memadat.

Ponselnya di atas meja bergetar hebat. Nama Maya (Editor) muncul di layar. Rama tidak bergerak. Ia membiarkan getaran itu merayapi permukaan meja kayu yang lecet, menciptakan suara dengung yang lebih menjengkelkan daripada kulkasnya.

Getaran itu berhenti, hanya untuk dimulai lagi lima detik kemudian. Rama akhirnya menyerah. Ia menyambar ponsel itu dengan gerakan kasar.

"Ya, May?"

"Rama! Akhirnya. Kamu tahu jam berapa sekarang? Kamu tahu hari apa besok?" Suara Maya terdengar seperti rentetan tembakan senapan mesin. Tajam, cepat, dan tanpa ampun.

"Aku tahu, May. Aku belum mati."

"Kalau kamu tidak mengirimkan naskah itu besok pagi, kariermu yang akan mati, Ram. Pihak pemasaran sudah memberikan lampu hijau untuk promosi bulan depan. Kita butuh draf final sekarang. Bukan revisi, tapi final!"

Rama menatap tumpukan surat tagihan di bawah lampu mejanya yang redup. Tagihan listrik, cicilan kartu kredit yang menumpuk, dan surat peringatan terakhir dari pemilik apartemen. Dunia nyata sedang mencoba mencekiknya, sementara dunia fiksi yang ia bangun justru menolak untuk memberinya perlindungan.

"Drafnya tidak bagus, May. Karakter utamanya tidak punya nyawa. Plotnya... bocor di mana-mana."

"Perbaiki sambil jalan, Rama! Kamu penulis thriller terbaik kita dua tahun lalu. Apa yang terjadi? Gunakan instingmu!"

"Instingku bilang aku sudah habis," suara Rama merendah, hampir menghilang. "Aku merasa seperti sedang menggali lubang tanpa dasar setiap kali aku mengetik satu kata pun."

Maya menghela napas panjang di ujung telepon. "Dengar, aku tidak peduli soal lubang atau apa pun. Kirimkan apa yang kamu punya. Sepuluh bab saja malam ini. Aku akan coba bicara dengan bos untuk memperpanjang waktu draf sisanya. Tapi tolong, Ram, jangan buat aku terlihat bodoh di depan dewan direksi."

"Akan kucoba."

"Jangan mencoba. Lakukan. Aku tunggu jam dua belas malam ini."

Klik. Sambungan terputus.

Rama meletakkan ponselnya kembali. Ia menatap layar laptop itu lagi. Delapan puluh ribu kata. Hasil kerja kerasnya, keringatnya, dan harapannya untuk keluar dari lubang kemiskinan ini. Namun, saat ia membaca satu paragraf secara acak, ia merasa mual. Kalimat-kalimat itu terasa asing, seolah-olah ditulis oleh orang asing yang tidak berbakat.

Ctrl+A.

Seluruh teks di layar terblok warna biru.

Delete.

Layar itu menjadi putih bersih dalam sekejap. Kosong. Luas. Mengerikan. Rama merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat. Ia baru saja menghapus enam bulan hidupnya. Tapi anehnya, ada rasa lega yang dingin menjalar di dadanya. Seperti orang yang baru saja membakar rumahnya sendiri untuk mengklaim asuransi jiwa yang sebenarnya tidak ada.

"Sekarang benar-benar kosong," gumamnya.

Ia menyandarkan kepala ke kursi, menatap langit-langit apartemen yang berjamur. Pikirannya melayang pada sebuah iklan yang ia lihat secara tidak sengaja di forum penulis bawah tanah beberapa hari lalu. Sebuah iklan sederhana tanpa gambar, hanya teks berwarna hitam di atas latar belakang putih pucat.

Griya Sunyi. Tempat di mana kata-kata menemukan rumahnya. Isolasi total untuk kreativitas tanpa batas. Gratis bagi mereka yang terpilih.

Saat itu, ia menganggapnya sebagai lelucon atau mungkin sekadar strategi pemasaran vila murah. Namun sekarang, ide tentang "isolasi total" terdengar seperti satu-satunya jalan keluar untuk menyelamatkan kewarasannya.

Rama meraih tas ransel tuanya dari kolong tempat tidur. Ia tidak butuh banyak hal. Beberapa potong pakaian, laptop, pengisi daya, dan sisa tabungan tunainya yang hanya cukup untuk bensin dan makan beberapa minggu. Ia harus pergi dari kota ini. Dari suara klakson ini. Dari ekspektasi Maya.

Saat ia sedang memasukkan kaus kaki ke dalam tas, matanya tertuju pada sebuah foto kecil yang terselip di pinggir cermin riasnya yang retak. Fotonya saat peluncuran novel pertamanya. Ia tampak muda, ambisius, dan memiliki sinar di matanya yang sekarang telah padam.

"Maaf," bisiknya pada bayangannya sendiri di cermin.

Ia mematikan lampu apartemen, meninggalkan kegelapan yang pekat. Saat ia melangkah keluar menuju lorong, ponselnya kembali bergetar. Maya lagi. Rama tidak melihatnya. Ia memasukkan ponsel itu ke saku jaketnya, membiarkannya terus berdenyut seperti detak jantung yang sekarat.

Di parkiran bawah tanah yang lembap, mobil tuanya batuk beberapa kali sebelum akhirnya mesinnya menyala dengan suara kasar. Rama mencengkeram kemudi, tangannya sedikit gemetar. Ia tidak tahu persis di mana Griya Sunyi itu berada, hanya sebuah titik koordinat di pinggiran kota yang dikelilingi hutan pinus, berjam-jam dari sini.

Ia mulai menjalankan mobilnya, melewati gerbang keluar apartemen. Lampu-lampu kota Jakarta mulai terlihat seperti coretan tinta yang berantakan di kaca depannya yang berdebu.

Ponselnya menyala lagi di kursi penumpang. Pesan teks masuk.

Maya: Ram, mana filenya? Ini sudah jam 11. Jangan main-main.

Rama menatap layar ponsel itu sesaat, lalu meraihnya dan menekan tombol daya hingga layarnya mati total. Ia melemparkan ponsel itu ke laci dasbor. Kegelapan di dalam mobil sekarang terasa lebih nyata, lebih melindungi.

Sepanjang perjalanan keluar dari batas kota, pikiran Rama terus berputar pada naskah barunya. Jika ia tidak bisa menulis tentang thriller pembunuhan, mungkin ia harus menulis tentang pelarian. Tentang seorang pria yang mencoba menghapus dirinya sendiri dari dunia, namun justru menemukan bahwa dunia tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.

Griya Sunyi, batinnya. Nama itu terus bergema di kepalanya seperti mantra.

Jalanan mulai menyempit. Lampu jalan semakin jarang, digantikan oleh bayangan pohon-pohon besar yang menjulang di sisi kiri dan kanan. Kabut tipis mulai turun, menyelimuti kap mobilnya seperti kain kafan lembut.

Rama menurunkan sedikit kaca mobilnya. Udara dingin yang tajam menusuk kulitnya, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang lain... sesuatu yang manis namun busuk, seperti bunga yang layu di dalam ruangan tertutup.

Ia menoleh ke kursi penumpang, di mana tas laptopnya berada. Di dalam sana, di dalam perangkat elektronik itu, hanya ada satu dokumen kosong bernama Untitled.docx. Sebuah janji tentang awal yang baru, atau mungkin, sebuah naskah kematian yang belum sempat ia tulis.

Mobilnya terus melaju menembus kabut, meninggalkan peradaban yang bising di belakangnya. Di depan sana, kegelapan menunggu dengan mulut terbuka lebar, siap menelan seorang pria yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan selain imajinasinya yang retak.

Rama tidak tahu bahwa di sebuah rumah tua yang ia tuju, sebuah mesin tik tua di sebuah loteng sudah mulai bergerak sendiri, mengetik baris pertama dari sebuah bab yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Bab Satu: Sang Penulis Telah Datang.

Ia mempercepat laju mobilnya, mengabaikan firasat buruk yang mulai merayapi tengkuknya seperti ujung jari yang dingin.

Lanjut membaca
Lanjut membaca