Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Takhta Abu: Ketika Dunia Menolak Mati

Takhta Abu: Ketika Dunia Menolak Mati

Nanashi | Bersambung
Jumlah kata
36.1K
Popular
100
Subscribe
37
Novel / Takhta Abu: Ketika Dunia Menolak Mati
Takhta Abu: Ketika Dunia Menolak Mati

Takhta Abu: Ketika Dunia Menolak Mati

Nanashi| Bersambung
Jumlah Kata
36.1K
Popular
100
Subscribe
37
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalMisteriKekuatan SuperPedang
Seribu tahun lalu, para dewa menghilang dari dunia Eldoria setelah sebuah perang besar yang hampir menghancurkan segalanya. Sejak saat itu, dunia perlahan membusuk. Monster bermunculan dari celah kegelapan, kerajaan saling berperang, dan langit mulai retak seperti kaca yang akan pecah. Di tengah kekacauan itu, seorang pencuri miskin bernama Kael menemukan sebuah pedang hitam misterius di reruntuhan kuil kuno. Pedang itu bukan senjata biasa. Pedang itu hidup. Pedang itu berbicara. Dan pedang itu memiliki kekuatan mengerikan: memakan kekuatan siapa pun yang dibunuhnya. Namun pedang itu juga membawa sebuah perintah yang mengubah hidup Kael selamanya. "Jika dunia ini ingin selamat… para raja harus mati." Dikejar oleh pasukan kerajaan, diburu oleh para pembunuh bayaran, dan dihadapkan pada monster-monster kuno yang bangkit dari kegelapan, Kael dipaksa berjalan di jalan yang dipenuhi darah. Semakin banyak musuh yang ia kalahkan, semakin kuat kekuatannya tumbuh. Namun semakin kuat ia menjadi, semakin jelas satu kebenaran mengerikan mulai terungkap: Para raja dunia menyimpan rahasia tentang hilangnya para dewa. Dan pedang yang Kael pegang mungkin bukan sekadar senjata… melainkan kunci kehancuran dunia. Untuk menyelamatkan dunia yang perlahan runtuh, Kael harus melakukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Membunuh para raja. Menghancurkan kerajaan. Dan akhirnya… duduk di Takhta Abu, tempat di mana nasib dunia akan ditentukan. Namun satu pertanyaan tetap menghantui: Apakah Kael benar-benar menyelamatkan dunia… atau justru menjadi monster yang akan menghancurkannya?
Bab 1 Pedang Yang Berbisik

Angin malam berhembus pelan di antara reruntuhan batu yang telah berdiri lebih lama dari ingatan manusia.

Kuil tua itu telah lama mati.

Dindingnya runtuh, pilar-pilarnya retak seperti tulang yang patah, dan lumut hitam merambat di setiap celah batu. Tidak ada yang berani datang ke tempat ini. Bahkan para pemburu monster sekalipun memilih memutar jauh dari lembah sunyi itu.

Orang-orang menyebut tempat ini Kuil Para Dewa yang Terlupakan.

Dan mereka percaya satu hal.

Siapa pun yang masuk… tidak akan kembali.

Namun malam ini, lima orang berdiri di depan gerbang kuil yang runtuh.

Salah satunya adalah seorang pemuda kurus dengan pakaian compang-camping.

Namanya Kael.

Usianya mungkin baru dua puluh tahun, tetapi wajahnya terlihat lebih tua karena kehidupan keras yang telah ia jalani. Rambut hitamnya berantakan, dan matanya yang gelap dipenuhi kewaspadaan.

Ia bukan ksatria.

Bukan penyihir.

Ia hanya pencuri kecil dari desa miskin di pinggir kerajaan Ardent.

Dan malam ini, ia sedang melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.

“Cepat masuk.”

Suara berat memecah kesunyian.

Seorang pria besar dengan bekas luka panjang di wajahnya mendorong Kael dari belakang.

“Jangan berdiri seperti patung, bocah.”

Pria itu bernama Rogan, pemimpin kelompok pencuri yang membawa mereka ke tempat ini.

Kael menelan ludah.

Ia memandang ke dalam kuil yang gelap gulita.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada suara.

Hanya kegelapan yang terasa terlalu dalam.

“Rogan…,” Kael berkata pelan. “Aku dengar tempat ini dikutuk.”

Beberapa anggota kelompok tertawa.

“Semua tempat tua selalu dibilang kutukan,” kata seorang pria kurus.

“Yang penting harta di dalamnya.”

Rogan menyeringai.

“Legenda mengatakan para dewa pernah menyimpan senjata mereka di sini.”

Matanya bersinar rakus.

“Kalau kita menemukannya… kita tidak perlu mencuri lagi seumur hidup.”

Kael tidak menjawab.

Hatinya terasa tidak nyaman.

Namun ia tetap berjalan masuk.

Karena ia membutuhkan uang.

Adiknya sakit.

Dan satu-satunya cara membeli obat adalah dengan melakukan pekerjaan kotor seperti ini.

Langkah mereka menggema pelan di dalam kuil.

Debu beterbangan di udara.

Patung-patung dewa berdiri di sepanjang lorong, tetapi sebagian besar telah hancur. Wajah mereka retak, mata mereka kosong.

Seolah-olah para dewa sendiri telah meninggalkan tempat ini.

“Atapnya hampir runtuh,” gumam salah satu pencuri.

“Cepat ambil apa pun yang berharga.”

Mereka terus berjalan lebih dalam.

Lorong kuil semakin gelap.

Hanya obor kecil yang mereka bawa menerangi jalan.

Kemudian mereka tiba di sebuah ruangan besar.

Langit-langitnya tinggi seperti istana.

Di tengah ruangan berdiri sebuah altar batu besar.

Dan di atas altar itu…

Ada sesuatu.

Sebuah pedang.

Pedang itu tertancap di batu hitam yang retak.

Bilahnya panjang dan gelap seperti malam tanpa bintang. Tidak memantulkan cahaya sama sekali.

Namun di sepanjang bilahnya terdapat retakan merah tipis… seperti bara api yang masih hidup.

Rogan tertawa pelan.

“Lihat itu.”

“Senjata para dewa.”

Ia berjalan maju tanpa ragu.

Namun langkah Kael berhenti.

Ada sesuatu yang salah.

Sangat salah.

Udara di ruangan itu terasa berat.

Seolah-olah sesuatu sedang… menunggu.

“Jangan sentuh itu,” Kael berkata tiba-tiba.

Rogan berhenti dan menoleh.

“Apa?”

Kael tidak tahu mengapa ia mengatakan itu.

Namun instingnya menjerit.

Pedang itu terasa… hidup.

“Pedang itu aneh,” kata Kael pelan.

“Seperti…”

Ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.

Rogan sudah meraih gagang pedang.

Dan menariknya.

CLANG!

Suara logam bergema di seluruh kuil.

Pedang itu keluar dari batu.

Selama satu detik… tidak ada yang terjadi.

Kemudian tanah bergetar.

Retakan merah di pedang itu menyala lebih terang.

Udara tiba-tiba menjadi dingin.

Sangat dingin.

Salah satu pencuri tertawa gugup.

“Cuma pedang tua.”

Namun kemudian mereka mendengar sesuatu.

Suara.

Suara berat yang datang dari kegelapan lorong.

Langkah kaki.

Tidak.

Bukan kaki.

Cakar.

Rogan mengangkat obornya.

Dan dari kegelapan lorong muncul sesuatu.

Makhluk itu berjalan dengan tubuh membungkuk.

Kulitnya hitam seperti batu hangus.

Matanya merah menyala.

Mulutnya dipenuhi gigi tajam.

“Monster—!” seseorang berteriak.

Makhluk itu bergerak.

Terlalu cepat.

CRACK!

Salah satu pencuri bahkan tidak sempat menjerit ketika tubuhnya terkoyak menjadi dua.

Darah menyembur ke lantai batu.

Kael mundur beberapa langkah, napasnya memburu.

Monster itu mengangkat kepalanya.

Dan menatap mereka.

Senyumnya melebar.

Kemudian lebih banyak suara muncul dari lorong.

Cakar.

Geraman.

Puluhan mata merah menyala di kegelapan.

“Lari!” teriak seseorang.

Namun sudah terlambat.

Monster-monster itu menyerbu masuk.

Jeritan memenuhi ruangan.

Rogan mencoba mengayunkan pedang hitam itu.

Namun gerakannya lambat.

Monster pertama mencabik dadanya.

Darah muncrat.

Pemimpin pencuri itu jatuh ke lantai dengan mata terbuka lebar.

Kael berdiri membeku.

Ia belum pernah melihat monster sebanyak ini.

Mereka seharusnya hidup jauh di hutan terlarang.

Bukan di kuil tua.

Salah satu monster menoleh ke arahnya.

Matanya menyala.

Makhluk itu mulai berjalan mendekat.

Langkahnya pelan.

Seolah menikmati ketakutan Kael.

Kael mundur.

Namun kakinya menabrak tubuh Rogan.

Pedang hitam itu tergeletak di lantai di samping mayatnya.

Monster itu melompat.

Kael bereaksi secara naluriah.

Ia meraih pedang itu.

Dan mengayunkannya.

SWOOSH!

Bilah hitam menembus tubuh monster itu seperti memotong kabut.

Makhluk itu terdiam.

Kemudian tubuhnya… runtuh menjadi debu hitam.

Kael membeku.

Pedang itu terasa hangat di tangannya.

Terlalu hangat.

Kemudian sesuatu terjadi.

Suara terdengar di dalam kepalanya.

Suara yang dalam.

Tua.

Dan sangat dingin.

"Akhirnya."

Kael terkejut dan hampir menjatuhkan pedang itu.

“Apa—?”

"Sudah seribu tahun…"

Suara itu terdengar lagi.

"Akhirnya seseorang menyentuhku."

Kael menatap pedang di tangannya.

Jantungnya berdetak keras.

“K… siapa?”

Pedang itu berdenyut.

Retakan merah di bilahnya bersinar.

"Aku adalah senjata yang membunuh para dewa."

Kael merasa darahnya membeku.

Monster lain menyerangnya.

Namun tubuhnya bergerak sendiri.

Pedang hitam itu menari di udara.

SLASH!

SLASH!

Monster demi monster jatuh.

Setiap kali mereka mati…

Tubuh mereka berubah menjadi debu.

Dan sesuatu mengalir ke dalam tubuh Kael.

Panas.

Kekuatan.

Energi yang membuat darahnya mendidih.

Kael terengah-engah.

“Apa yang kau lakukan padaku?”

Pedang itu menjawab dengan tenang.

"Aku memberimu kekuatan."

Monster terakhir menyerang.

Kael menebasnya.

Makhluk itu hancur.

Ruangan kembali sunyi.

Mayat para pencuri berserakan di lantai.

Kael berdiri di tengah darah dan debu monster.

Tangannya gemetar.

Pedang itu masih berdenyut.

"Namaku Devour."

Suara pedang itu bergema di pikirannya.

"Dan mulai hari ini…"

Retakan merah menyala terang.

"Kau adalah pembawaku."

Kael menelan ludah.

“Kenapa… aku?”

Pedang itu tertawa pelan.

Suara yang terdengar seperti retakan batu.

"Karena dunia ini sedang sekarat."

Angin dingin berhembus melalui kuil.

Obor mereka padam satu per satu.

Kegelapan menyelimuti ruangan.

"Dan satu-satunya cara menyelamatkannya…"

Suara pedang itu menjadi lebih dalam.

Lebih mengerikan.

"Adalah dengan membunuh para raja."

Kael membeku.

“Apa?”

Pedang itu berbisik.

"Bunuh mereka."

"Ambil kekuatan mereka."

"Duduklah di Takhta Abu."

Kael menatap pedang itu dengan napas gemetar.

Ia hanyalah pencuri kecil dari desa miskin.

Bukan pahlawan.

Bukan ksatria.

Namun malam ini…

Takdir dunia baru saja berubah.

Dan semuanya dimulai dengan satu pedang yang lapar.

Pedang yang tidak pernah puas.

Pedang yang ingin memakan dunia.

---

Lanjut membaca
Lanjut membaca