Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Metamorfosis Sang Bagus

Metamorfosis Sang Bagus

KH_88 | Bersambung
Jumlah kata
48.3K
Popular
1.3K
Subscribe
361
Novel / Metamorfosis Sang Bagus
Metamorfosis Sang Bagus

Metamorfosis Sang Bagus

KH_88| Bersambung
Jumlah Kata
48.3K
Popular
1.3K
Subscribe
361
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalZero To HeroHaremSupernatural
Seorang pemuda bernama Bagus, yang ironisnya miskin, jelek, dan selalu menjadi korban bully, secara tak sengaja tercakar kucing. Cakar tersebut menginfeksinya dengan virus misterius yang perlahan mengubahnya menjadi tampan, pintar, dan kuat, membalikkan kehidupannya secara drastis.
Hidup yang 'tidak Bagus'

Alarm ponsel berdering nyaring, memecah kesunyian kamar kos yang terasa lembap. Bagus mengulurkan tangan, meraba meja kayu di sampingnya.

Matanya terasa berat. Dia tidak bisa tidur nyenyak. Malamnya penuh bayangan hari esok.

"Sial," bisiknya, suaranya parau.

Dia bangun. Kaki telanjangnya menyentuh lantai dingin. Udara pagi yang lembap menusuk kulit.

Dinding kamar berjamur. Pakaian yang menggantung di paku terlihat lusuh. Dia mengambil sikat gigi dan pasta yang hampir habis.

Bayangan di cermin kecil menunjukkan wajah kusam. Mata bengkak dan rambut acak-acakan.

"Sudah saatnya, ya," dia berbisik pada bayangannya sendiri. Waktunya disiksa lagi.

Bagus mengenakan kemeja yang sudah ia pakai dua hari lalu. Ada noda kecil di kerah, tapi dia tidak punya pilihan.

Uang makannya lebih penting daripada sabun cuci. Dia memasukkan beberapa lembar uang kertas lusuh ke saku celana.

Nafasnya berat. Perutnya bergejolak. Rasa cemas mencengkeram.

"Semoga hari ini tidak ada apa-apa," katanya. Dia tahu itu hanya harapan kosong.

Langkah kakinya terasa berat saat dia keluar dari gang sempit kos-kosannya. Jalanan sudah ramai. Orang-orang buru-buru.

Dia menunduk. Tidak ingin menarik perhatian. Kampus adalah tempat terburuk baginya. Lebih buruk dari neraka.

Gerbang kampus terlihat dari kejauhan. Bagus mempercepat langkah.

Mungkin kalau cepat, aku bisa menghindar. Hatinya berdebar kencang. Dia melintasi taman. Beberapa mahasiswa sudah berkumpul. Tawa mereka terdengar riuh.

Lalu dia melihatnya. Aldi. Berdiri di antara empat temannya. Mereka sedang merokok, menghalangi jalan masuk utama. Jantung Bagus mencelos. Sial. Terlambat.

Aldi menoleh. Matanya menyipit saat melihat Bagus. Sebuah seringai muncul di bibirnya.

"Lihat siapa itu," kata Aldi dengan nada mengejek, suaranya meninggi. "Si Bagus datang!"

Teman-teman Aldi tertawa. Mereka menatap Bagus. Tatapan yang selalu sama. Meremehkan.

Bagus mencoba melewati mereka. Dia menunduk, pura-pura tidak mendengar.

"Mau ke mana buru-buru, culun?" Andre, salah satu teman Aldi, menghalanginya.

Bagus berhenti. Dia mendongak sedikit. "Mau... mau ke kelas."

"Oh, ke kelas?" Aldi mendekat. Bau asap rokok menusuk hidung Bagus. "Dengar tuh, dia mau ke kelas. Rajin sekali anak ini."

"Pasti mau belajar jadi paling pintar," Gilang menyambung. "Padahal otaknya juga kosong."

Mereka tertawa lagi. Bagus merasakan pipinya memanas. Dia ingin lari.

"Ada yang lupa, ya?" Aldi menepuk pundak Bagus. Tepukannya keras. Bagus terhuyung. "Kemarin... lo minjem duit gue, kan?"

"Nggak," Bagus menjawab cepat. Suaranya bergetar. "Aku gak pernah pinjam uangmu, Aldi."

Aldi tertawa kencang. "Jangan bohong, anjing. Ingat, uang kemarin buat beli rokok gue."

"Benar, Gus," ujar Toni, menarik kerah Bagus. "Bayar sekarang atau mau kami ingatkan di tempat?"

Bagus mencoba melepaskan diri. Tangannya gemetar. "Aku benar-benar tidak pinjam."

"Oh, gak minjem?" Aldi mendorongnya hingga Bagus jatuh. Tasnya terlempar. Buku-buku berserakan di tanah. "Kalau begitu, kami minta ganti rugi sudah buang waktu."

Tawa mereka pecah lagi. Beberapa mahasiswa yang lewat melirik. Tidak ada yang berhenti. Tidak ada yang peduli. Bagus sudah terbiasa.

"Bangun, Gus," kata Andre, menendang pelan kaki Bagus. "Jangan cuma tiduran di tanah begitu. Mau kami bantu?"

Gilang tertawa. "Bantu tendang, ya?"

Bagus bangkit perlahan. Dia merasakan nyeri di punggungnya. Matanya perih. Dia menatap buku-buku yang berserakan. Sebuah kertas tugas terjatuh di genangan air kotor.

"Udah bayar utang lo?" tanya Aldi, merapikan kerah bajunya.

"Aku gak punya uang," Bagus berkata, suaranya hampir tidak terdengar.

"Oh gak punya uang?" Aldi mencengkeram kerah Bagus. Wajahnya mendekat. "Lo pikir kita peduli?"

Aldi meninju perut Bagus. Tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat Bagus terbatuk dan meringis.

"Itu bunga pinjaman," Aldi tersenyum. "Jangan lupa, besok bunga utang lo bertambah."

"Ampun, Aldi," Bagus memohon. Air matanya sudah di ambang mata. "Aku benar-benar gak punya apa-apa."

"Makanya cari," Toni menendang tas Bagus yang sudah kotor. "Jangan cuma jadi parasit."

Bagus merasakan kakinya gemetar. Dia ingin marah. Dia ingin berteriak. Tapi apa gunanya? Dia tidak bisa melawan. Mereka terlalu banyak. Dia terlalu lemah.

"Minggir," kata Aldi, menampar Bagus pelan di pipi. "Sudah sana ke kelas. Jangan sampai telat, anak emas."

Mereka mendorong Bagus. Bagus tersandung, tapi berhasil menjaga keseimbangan.

Dia buru-buru memungut buku-bukunya yang kotor. Kertas tugasnya sudah hancur. Wajahnya memerah karena malu dan marah.

"Dasar pecundang!" teriak Gilang. "Lihat tampang lo! Hahaha!"

Bagus tidak menoleh. Dia berlari. Berlari sekencang-kencangnya. Jauh dari tawa mengejek mereka.

Jauh dari tatapan jijik orang lain. Dia hanya ingin menghilang. Dia ingin tidak pernah ada.

Kelas terasa mencekik. Setiap detik terasa seperti berjam-jam. Nyeri di perutnya berdenyut. Punggungnya pegal.

Tapi itu tidak seberapa dibandingkan nyeri di hatinya. Wajah Aldi, tawa Gilang, tatapan Andre, dan Toni. Semuanya berputar-putar. Dia tidak bisa fokus pada pelajaran.

Siang hari, kampus masih terasa sesak. Bagus duduk sendirian di sudut kantin, menyantap nasi bungkus termurah yang ia beli.

Dia melihat Rima dan teman-temannya di meja lain, tertawa ceria. Dia ingin punya teman seperti itu. Ingin merasakan tawa tanpa rasa takut.

Tapi dia tahu, itu tidak mungkin.

Luka di hatinya menganga. Sepanjang jalan pulang, dia hanya bisa menyeret langkah. Bayangan wajahnya yang kusam, bajunya yang lusuh, dan tubuhnya yang ringkih berkelebat. Dia memegang perutnya yang masih terasa sakit. Air mata akhirnya tumpah.

Kamar kosnya terasa lebih sempit dari sebelumnya. Dia menjatuhkan diri ke kasur. Bantalnya basah.

Dia memejamkan mata, berharap semua ini hanyalah mimpi. Tapi nyeri di tubuhnya, dan kekosongan di dadanya, adalah nyata.

"Kapan ini akan berakhir?" bisiknya, suaranya nyaris tidak terdengar. Aku lelah. Aku ingin semua berubah.

Lanjut membaca
Lanjut membaca