

"Ahhh! Terus, Pakdhe!"
Telinga Bayu melebar tatkala mendengar suara peluh kenikmatan dari dalam tembok tipis di sebelahnya.
Berhubung pintu kamar dari hotel melati tempatnya berada lumayan usang, jadi menyisakan sedikit celah tipis di bagian pinggirnya, membuat Bayu semakin penasaran ingin mengintip ke dalam.
Deg!
Jantung Bayu berdebar kencang tatkala melihat istrinya, Intan, sedang ditunggangi oleh seorang pria yang berhasil membuat seluruh tubuhnya itu menggelinjang hebat.
"Intan..?" gumam Bayu tak percaya.
Terlihat sebuah batang yang sudah terlumuri cairan licin menembus setiap lipatan dalam rongga milik Intan, menggoyang setiap inci dari lubang itu tanpa belas kasih sedikit pun.
Bayu langsung teringat bahwa istrinya, Intan, sempat izin padanya untuk bisa ikut bermain bersama temannya tadi, namun ia tak menyangka permainan panas ini yang justru ia lakukan.
Tak terima akan istrinya yang sedang digenjot ganas seperti itu, membuat Bayu langsung mengeratkan seluruh otot di tangannya, kemudian membanting keras pintu kamar dengan seluruh tubuhnya.
BRAKK!
Bayu membulatkan matanya lebar-lebar karena melihat pria yang sedang mengagahi tubuh istrinya dengan kasar ialah Danang, seorang juragan sapi paling terkenal di kampungnya.
"Ouchhh! Pakdhe!" eluh Intan sekali lagi. Bukannya berhenti karena Bayu sudah masuk ke dalam ruangannya, Danang justru lebih mempertajam laju pinggulnya.
"Aamhh!" Intan ikut menggila dengan meliuk-liukkan seluruh rawa beceknya itu ke bawah agar bisa melahap seluruh batang tebal milik Danang.
"Intan!" kejam Bayu. Ia tak habis pikir dengan pergerakan liar milik istrinya itu.
"Aammhh!" Intan seakan tak peduli, pasrah membiarkan tubuhnya terus menggelinjang hingga membuat kedua bulatan indahnya memantul di udara.
"Siap-siap, Ndukk!" Danang mengeluh kencang karena lobak impornya itu mengeluarkan kedutan kencang di seluruh batang tebalnya, kemudian meneteskan seluruh cairan kental yang berbau menyengat di dalam.
"Mghh, Pakdhe, keluarnya banyak banget!!" eluh Intan sekali lagi dengan seluruh cairan kental yang memenuhi setiap rongganya itu.
Danang langsung mengeluarkan batang tebal yang masih berdenyut itu, kemudian melingkarkan sehelai handuk di seluruh pinggangnya.
"Tua bangka bajingan!" Bayu merekatkan jemarinya.
"Hoamm!" Danang justru terlihat santai sembari berjalan pelan ke arahnya. Pasti lelaki di depannya ini adalah suami yang sering diceritakan wanitanya itu.
"Gausah sok marah, Le. Buktinya istrimu bisa begini gara-gara kamu sendiri, kan?" Danang mendelikkan matanya tajam ke arah Bayu yang hanya mengenakan seragam kuli lusuh di tubuhnya.
"Hah?!" Darah di tubuh Bayu semakin mendidih. Bagaimana bisa Danang justru menasihatinya di situasi seperti ini?
"Udah miskin, pekerjaan sampah, ya jelas lah istrimu maunya sama saya. Apalagi dia sering cerita kalau punyamu itu lemes dan nggak tahan lama, jadinya saya bermurah hati buat puasin dia." Danang semakin sombong karena berbeda dengan Bayu, dirinya yang terkenal sebagai juragan sapi mampu membuat harta bergelimang di bawah kakinya.
"Bajingan..." Bayu sudah tidak peduli lagi. Yang penting sekarang ia bisa memberi tua bangka itu pelajaran.
Baju kuli melantak liar di udara seiring kepalan tangan yang dilesatkan ke depan, hingga akhirnya terpaksa berhenti karena Intan berteriak kencang.
"Mass!" Intan tidak habis pikir suaminya yang hanya seorang kuli biasa berani macam-macam dengan Danang.
Belum sempat bereaksi, Danang ikut mengambil alih dengan juga mengangkat kepalan jarinya dahsyat, melesatkannya ke arah wajah milik Bayu.
BUAGH!
Bayu terkapar di bawah lantai karena terhantam di bagian mata, membuat pelipisnya itu mengucurkan darah.
Intan ikut menjatuhkan langkah kakinya ke bawah, kemudian mengangkat kedua pundak milik Bayu dengan susah payah, membantingnya keluar kamar.
"Kok sampek begitu sih, Nduk? Nggak kasian sama suami sampahmu ini?" heran Danang.
"Biarin aja udah, Pakdhe. Ayo lanjut!" Intan seakan tak memiliki hati dengan kemudian menutup pintu kamar itu kencang, meninggalkan Bayu yang masih meringkuk di depan.=
"Sialan!" Bayu menghantam karpet koridor di hotel itu dengan kesal, disusul dengan kedua matanya yang langsung tersambar nyeri akibat terhantam oleh Danang tadi.
"Akhh!" Bayu meringis tatkala rasa perih memutar di kedua bola matanya, membuatnya seakan ingin buta.
Bayu mengerjapkan matanya dengan susah payah. Rasa menyengat terus menyambar hingga tiba-tiba terlihat aliran emas yang mengelilingi seluruh pandangannya itu, membentuk aliran indah kemudian hilang secara tiba-tiba.
"Kenapa mataku ini?!" Bayu heran karena aliran emas yang menghiasi seluruh pandangannya tadi terasa benar-benar hebat, seakan mukjizat besar telah turun di kedua mata Bayu.
"Jangan-jangan ini mukjizat?!" Bayu sadar bahwa hari ini dirinya sudah bernasib sial dan mungkin Tuhan memberikannya kompensasi atas rasa sakitnya ini.
"Ouchh! Amhh!" Suara peluh dari mulut Intan makin terdengar nyaring saja.
"Bajingan..." Bayu kembali sadar bahwa istrinya itu benar-benar ingin meninggalkannya, membuatnya langsung menaikkan tubuhnya lalu meninggalkan hotel melati tempatnya berada.
Bayu menghela napas sembari melangkahkan kakinya menyusuri Jalan Mangga Muda. Ia bingung dengan apa yang terjadi dengan kedua matanya barusan, tapi yang pasti ia akan membuat Danang menyesal karena berani berbuat panas dengan istrinya itu.
Hingga belum lama dirinya berjalan, kali ini langkahnya harus terhenti ketika suara sahut-sahutan terdengar jelas di kedua telinganya.
"Wouhh gacorr! Menang lagi, menang lagi!" riang seorang bapak dengan hanya mengenakan kaos putih yang lumayan buluk. Namun seluruh tangannya kesusahan saat memegang lembaran uang berwarna merah yang cukup menggiurkan.
"Tempat apa ini?" Bayu bergumam pada dirinya sendiri saat ikut masuk menyusuri asal suara itu ke dalam gang, kemudian menemukan tanah lapang dengan berbagai permainan judi di dalamnya.
Semakin masuk ke dalam kerumunan, kini Bayu melihat banyak sekali bapak-bapak yang berteriak riuh karena taruhan yang mereka pasang. Di sebuah meja lebar berwarna biru muda, dengan sang bandar yang berada di ujung memegang banyak sekali tumpukan uang berlembar merah.
Mengingat uang yang berada di dalam dompetnya hanya berisikan dua lembar berwarna biru saja, membuat Bayu semakin ragu untuk sekadar mencoba, membuatnya ingin melangkahkan kaki dan keluar dari sana.
Hingga langkah kakinya terhenti saat suara merdu dari seorang wanita mengema kencang di kedua telinganya, menghalau semua suara kerumunan yang terjadi di belakangnya.
"Heii Mas yang di sana! Nggak mau main juga?" Yolla berteriak kencang. Sulit percaya rasanya jika ia adalah seorang yang memegang kendali atas operasi judi lapangan ini.
Dengan bulu mata lentik serta bibir semerah buah ceri miliknya, sukses membuat parasnya terlihat semakin menawan. Apalagi dengan kedua belahan yang menonjol lebar di bagian tengah mangga manisnya, makin membuat dirinya lebih cocok sebagai istri yang berada di rumah.
Kaos tipisnya itu seakan tak kuasa menahan berat dari mangga manis yang cukup lebar itu. Beruntung saja ia menggunakan bra yang cukup tebal, membuatnya jadi terlindungi dari tatapan cabul para bapak-bapak di sana.
"Hah?" Bayu melebarkan matanya. Bagaimana bisa dirinya, yang hanya memegang dua lembar uang berwarna biru saja, ikut ke dalam permainan gila ini? Bisa-bisa uang yang ia miliki tersedot habis dan membuat dirinya kesusahan seminggu ke depan.
Tidak cemas seperti Bayu, Yolla justru merekahkan senyumnya lebar-lebar. Sayang rasanya jika membiarkan seorang cecunguk kuli bangunan seperti Bayu lolos dari genggamannya.
Ia paham sekali, orang seperti Bayu adalah orang yang mendamba akan kekayaan dan sering kali langsung jatuh di bawah kakinya karena nafsu serta keserakahan yang tak terkendali.
"Ayoo Mas, main aja! Apa nggak capek kerja kuli begitu? Kalo main di sini langsung bisa, loh, beli mobil besok!" rayu Yolla lagi. Kini kedua pundaknya sedikit dimajukan ke depan, membuat dua belahan yang cukup menantang seakan ingin tumpah di wajah Bayu.
Bayu menelan ludahnya dengan kasar. Sebenarnya ia memiliki keraguan, tapi jika diingat lagi mukjizat yang baru saja diterima oleh kedua matanya belum dicoba benar tidaknya, membuatnya ingin sekadar mencoba untuk mengetes kemampuan yang bisa diberikannya.
Benar saja, pelipis di sela matanya bergetar lumayan kencang, mampu membuat Bayu langsung membalas tantangan Yolla dengan senyuman yang lumayan licik.
"Boleh saja, Mbak!"
BRAKK!
Bayu langsung membanting kedua lembar uang birunya itu di atas meja lebar itu dengan kencang, membuat bapak-bapak di sekelilingnya tergeser perlahan.
"Waahh, boleh-boleh Masnya ini!" Yolla semakin tidak bisa menyembunyikan niat jahatnya. Sepertinya ia mendapatkan jackpot sekarang, karena ada cecunguk yang entah dari mana akan ia sedot uangnya habis-habisan.
"Yaudah, Mas. Langsung saya kocok ya dadunya?"
Yolla langsung memasukkan tiga buah dadu ke dalam tiga gelas kosong, kemudian mengocoknya kencang-kencang.
Meski tidak terlalu mengerti dengan sistem permainannya, tapi Bayu sudah lumayan paham. Angka dari dadu yang muncul akan melambangkan kekuatan. Siapa pun yang memiliki jumlah lebih kecil, maka ia akan kalah, dan Bayu yakin berkat mukjizat yang tertanam di kedua matanya, angka yang keluar pastilah enam!
"Silakan dipilih, Mas!"
Yolla langsung membeberkan ketiga buah gelas kosong yang berjejer di atas meja bundar itu, membuat Bayu menyapu seluruh pandangannya dengan serius.
Benar saja, tak lama setelah ia menatap pandangannya itu lekat, terlihat salah satu gelas di bagian tengah mengeluarkan aliran emas yang berbentuk seperti kabut dan menari di kedua matanya, kemudian hilang secara tiba-tiba.
Sekejap, Bayu langsung menghujamkan tangannya ke bawah, membuka gelas itu dengan sepenuh tenaganya.
Bukannya enam, terlihat satu butir dadu yang di atasnya menunjukkan titik berjumlah dua.
"Wuhahahahah!"
Seluruh bapak-bapak di sekelilingnya langsung meledak tertawa keras.