Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pesona Si Buruk Rupa

Pesona Si Buruk Rupa

Lazuardi | Bersambung
Jumlah kata
50.0K
Popular
1.5K
Subscribe
319
Novel / Pesona Si Buruk Rupa
Pesona Si Buruk Rupa

Pesona Si Buruk Rupa

Lazuardi| Bersambung
Jumlah Kata
50.0K
Popular
1.5K
Subscribe
319
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalDewa PerangHaremUrban
21+ area dewasa, bijaklah dalam memilih bacaan. Di bawah naungan pohon yang rimbun dan gemericik air sungai hulu yang jernih, Aksa pun membiarkan dirinya larut dalam godaan yang diberikan oleh kedua wanita itu. Ia tidak lagi menolak, ia mulai menerima keadaan ini sebagai hal yang wajar."Uuuh ...."Dengan batu sungai yang besar sebagai penopang, Aksa menjilati benda kenyal milik Mbak Siska sambil memainkan bola air Bu Ratih seperti squishy, tangannya bersemangat meremas squishy lembut itu. Setiap kali Aksa menolong dan menggarap wanita, ia perlahan berubah menjadi pemuda gagah yang tampan.
Kehilangan Terakhir

Matahari belum sepenuhnya bangun saat Aksa menemukan Nenek Minah sudah dingin. Nenek meninggal dengan tenang, bahkan Aksa pun tidak tahu kalau nenek meninggal, ia baru tahu saat ingin memeriksa neneknya.

Hanya ada kesunyian yang mencekik di dalam rumah berdinding bambu itu. Aksa hanya berdiri mematung di samping dipan kayu, memandangi wajah satu-satunya orang yang tidak pernah memalingkan muka saat melihat wajahnya yang hancur dengan tatapan kosong tanpa ekspresi, ia bahkan tidak menangis. Aksa melihat wajah neneknya yang sangat tenang dan tersenyum.

Proses pemakaman berlangsung sangat cepat dan sepi. Hanya ada Pak RT, penggali kubur, dan dua tetangga yang datang karena rasa kasihan, bukan karena kedekatan. Sepanjang jalan menuju pemakaman, Aksa bisa merasakan tatapan-tatapan itu. Tatapan yang selalu sama selama 19 tahun hidupnya, jijik, ngeri dan menghindarinya seolah-olah ia adalah wabah berbahaya.

Aksa menunduk dalam-dalam, rambutnya yang tipis tidak mampu menutupi keningnya yang lebar dan bergelombang. Kulitnya hitam legam, bukan hitam manis, tapi hitam kusam karena terpanggang matahari di sawah setiap hari. Badannya kurus kering, tulang bahunya menonjol di balik kaos oblong yang sudah bolong di beberapa bagian.

"Sabar ya, Sa. Memang sudah waktunya," ucap Pak RT sambil menepuk bahu Aksa yang terasa hanya tulang.

"Iya, Pak. Terima kasih sudah bantu pemakaman Nenek," jawab Aksa lirih.

Suaranya serak, matanya tidak berani menatap lawan bicara karena giginya yang maju, tidak beraturan dan kuning sekali akan terlihat jelas jika ia bicara dan itu biasanya membuat orang merasa tidak nyaman.

"Habis ini kamu mau gimana? Masih kerja di sawah Juragan Rusli?" Tanya salah satu tetangga, Pak Darmo.

Aksa mengangguk pelan. "Masih, Pak. Kalau nggak kerja, saya nggak makan."

"Ya sudah, kalau butuh apa-apa, bilang saja. Tapi ya kamu tahu sendiri, kondisi kami juga lagi susah," pungkas Pak Darmo cepat-cepat, seolah takut Aksa benar-benar akan meminta bantuan.

Aksa hanya tersenyum tipis, senyum yang bagi orang lain mungkin terlihat seperti seringai menyeramkan. Ia pulang ke rumah sendirian. Rumah itu kini terasa sepuluh kali lebih luas dan seratus kali lebih sunyi.

Perutnya keroncongan, Aksa berjalan ke dapur, melihat sebuah keranjang bambu kecil di atas meja kayu yang sudah goyang. Isinya hanya dua potong singkong rebus sisa kemarin.

"Nek, Aksa makan ya," gumamnya otomatis, lupa kalau Nenek sudah tidak ada di sana untuk menyahut.

Ia mengunyah singkong itu pelan-pelan. Rasanya hambar dan seret di tenggorokan, tapi hanya itu yang ia punya. Untuk makan nasi, ia harus menunggu dua minggu lagi saat jatah beras dari Juragan turun. Itu pun kalau ia tidak dipotong upah karena alasan-alasan yang dicari-cari.

Perlahan air matanya turun saat mengunyah singkong, Aksa menyadari kalau mulai sekarang ia hidup sendiri. Ia juga sedih karena cuma ada sedikit orang yang membantu pemakaman nenek karena, ya, takut padanya. Aksa merasa bersalah pada neneknya karena tidak bisa mengantar dengan banyak orang.

Selesai makan, Aksa merasa tidak betah berdiam diri. Ia masuk ke kamar Nenek dan Mbah Jarwo yang sudah lama kosong sejak kakeknya meninggal sepuluh tahun lalu. Kamar itu pengap, bau kayu lapuk dan debu tercium menyengat.

"Lebih baik aku rapikan sekarang daripada makin sedih," bisiknya pada diri sendiri. Aksa sudah menghapus air matanya, tapi matanya bengkak.

Ia mulai memindahkan tumpukan kain tua ke dalam karung, saat ia mencoba menggeser sebuah lemari kayu kecil yang sudah dimakan rayap di sudut kamar, lantai di bawah kakinya berderit keras.

Krak!

"Aduh!" Aksa terjerembap.

Kaki kanannya terperosok masuk ke dalam celah lantai kayu yang patah. Kayu yang sudah lapuk itu hancur begitu saja menahan beban tubuh Aksa yang sebenarnya ringan.

"Sial, lantai ini juga sudah minta ganti," gerutu Aksa sambil berusaha menarik kakinya. Keningnya mengernyit menahan sakit.

Saat ia meraba-raba pinggiran lantai untuk bertumpu, jemarinya menyentuh sesuatu yang keras di bawah kolong lantai. Rasanya seperti kotak kayu yang dibalut kain kain bekas yang sudah kotor.

Kerutan dahinya semakin dalam, ia menarik kotak itu keluar dengan susah payah. Kotaknya kecil, ukurannya tidak lebih besar dari telapak tangan pria dewasa, tapi terasa berat. Ia duduk di lantai, membersihkan debu tebal di atas kotak itu.

"Apa ini punya Mbah Jarwo?" Gumamnya penasaran.

Pelan-pelan, Aksa membuka tutup kotak yang tidak terkunci itu. Di dalamnya, tergeletak sebuah gelang berwarna hitam kusam. Bahannya aneh, tidak terlihat seperti emas, perak, atau kayu biasa. Teksturnya kasar, tampak lusuh, dan tidak ada hiasannya sama sekali. Di bawah gelang itu, ada selembar kertas yang sudah menguning dan rapuh. Aksa mengambil kertas itu dan membacanya dengan teliti.

"Untuk keturunanku yang tidak beruntung. Pakailah ini, semoga hidupmu lebih baik. Mbah Jarwo."

Aksa tertegun. "Tidak beruntung? Apa Mbah tahu kalau aku bakal sejelek ini?" ia tertawa getir.

Baginya, wajah buruk rupa ini adalah kutukan dan kemiskinan ini adalah rantainya.

Ia menimang-nimang gelang hitam itu. "Gelang lusuh begini mau dipakai? Orang makin mengira aku jenglot beneran kalau pakai aksesoris aneh begini."

Tapi, entah kenapa, ada dorongan kuat dari dalam hatinya. Aksa merasa gelang itu seolah-olah memanggil untuk digunakan. Dengan ragu, ia melingkarkan gelang itu ke pergelangan tangan kirinya.

Seketika, gelang yang tadinya terlihat kaku itu seolah menyusut, pas dengan ukuran tangannya yang kurus. Ada sensasi hangat yang menjalar dari pergelangan tangan menuju jantungnya, membuat badannya yang tadi lemas, tiba-tiba terasa sedikit lebih segar.

"Lho, kok pas?"

Aksa mencoba melepasnya kembali, tapi gelang itu seolah mengunci. Tidak sakit, hanya saja tidak bisa ditarik keluar.

"Ah, biarlah. Lagian siapa yang mau melihat tanganku," pikirnya masa bodoh.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu depan yang reot.

"Aksa! Sa! Keluar kamu!" Suara melengking itu milik Bu Inah, istri Pak RT yang terkenal galak.

Aksa buru-buru keluar dengan wajah panik. "Iya, Bu? Ada apa?"

Bu Inah berdiri di depan pintu sambil menutup hidungnya dengan sapu tangan, seolah-olah bau kemiskinan dari rumah Aksa bisa menular padanya. Matanya melirik Aksa dari atas ke bawah dengan tatapan menghina.

"Ini, ada sedikit urapan sisa tadi siang di rumah. Daripada dibuang, kasih kamu saja. Kasihan kalau kamu mati kelaparan, nanti malah jadi hantu jenglot beneran di sini," kata Bu Inah sambil menyodorkan bungkusan daun pisang dengan kasar.

Aksa menerimanya dengan tangan gemetar. "Terima kasih banyak, Bu. Semoga rezeki Ibu lancar."

"Iya, iya. Sudah ya, saya mau pergi. Oh ya, itu rambut kamu mbok dirapikan atau ditutup pakai apa gitu, Sa. Serem saya lihatnya kalau sore-sore begini," tambah Bu Inah sebelum melenggang pergi tanpa menunggu jawaban dengan wajah jijik, keningnya berkerut dalam.

Aksa terdiam di depan pintu. Ia melihat bungkusan daun pisang di tangannya, lalu melihat gelang hitam di pergelangan tangannya yang tertutup debu. Hinaan tadi terasa biasa saja bagi Aksa, ia sudah kebal. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ia tidak merasa sesedih biasanya.

Ia masuk ke dalam, membuka bungkusan itu. Isinya hanya nasi sedikit dengan sisa sayur yang sudah agak layu. Bagi orang lain, ini mungkin makanan sisa yang tidak layak. Tapi bagi Aksa, ini adalah kemewahan.

"Mbah, moga-moga gelang ini benar-benar bawa nasib baik. Aku sudah capek dihina terus," bisiknya sambil mulai menyuap nasi ke mulutnya. Kakinya sedikit berayun-ayun, makanan buatan Bu Inah memang terkenal enak.

Malam itu, Aksa tidur di lantai beralaskan tikar pandan yang sudah compang-camping. Gelang hitam itu tetap melingkar di tangannya, memancarkan kehangatan samar yang menemani tidurnya yang biasanya dingin dan penuh kekhawatiran.

Lanjut membaca
Lanjut membaca