Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Catatan Pendekar Dua Jiwa

Catatan Pendekar Dua Jiwa

Sueb Akhyar | Tamat
Jumlah kata
64.4K
Popular
100
Subscribe
2
Novel / Catatan Pendekar Dua Jiwa
Catatan Pendekar Dua Jiwa

Catatan Pendekar Dua Jiwa

Sueb Akhyar| Tamat
Jumlah Kata
64.4K
Popular
100
Subscribe
2
Sinopsis
18+PerkotaanAksiPertualanganTeka-tekiPendekar
Catatan Pendekar Dua Jiwa Rangga, pendekar tinju naga yang cuek, jail, dan gombal tak terkendali, ditugaskan guru untuk turun dari Gunung Karang setelah ilmunya mencapai puncak. Tapi satu godaan kecil ke Laras—murid seperguruan yang manja, centil, tapi selalu siaga—mengubah segalanya. Mereka terjebak dalam kejar-kejaran lucu yang berakhir di gua larangan. Saat tangan mereka menyentuh artefak kuno bercahaya, bumi berguncang hebat. Cahaya menyilaukan menelan keduanya, dan dunia berubah dalam sekejap. Mereka mendarat di Jakarta 2026—kota raksasa penuh mobil ngebut, gedung pencakar langit, HP bercahaya, ojol berlalu-lalang, dan manusia dari segala macam jenis. Jubah putih Laras dan tinju Rangga kini jadi pemandangan aneh di tengah kemacetan Tanah Abang. Kutukan dua jiwa yang selama ini hanya dongeng guru ternyata nyata: jiwa mereka terikat selamanya. Sakit satu, yang lain ikut sakit. Panas satu, yang lain ikut terbakar. Dan kalau salah satu celaka... yang lain ikut hilang. Di dunia modern yang asing ini, mereka harus bertahan sambil mencari cara mematahkan kutukan. Bayang hitam dari masa lalu menyusul—geng ilmu hitam urban, siluman kota, rahasia artefak yang bisa mengubah nasib dua jiwa ini. Rangga cuek: "Tenang, manja. Di kota ini aku cuma butuh tinju dan kau di sampingku." Laras centil: "Ih, jangan gombal mulu! Tapi kalau kau terluka, aku yang sakit duluan loh..." Apa yang terjadi kalau pendekar gunung terjebak di era smartphone dan ojol? Apa rahasia sebenarnya di balik kutukan dua jiwa? Dan apakah ikatan ini... hanya kutukan, atau takdir yang mereka tak bisa lepas? Petualangan action, misteri, humor jail, dan romansa panas dimulai. Turun gunung? Bukan lagi ke lembah, tapi ke neraka kota modern. Siap ikut Rangga dan Laras bertahan di Jakarta? Lanjut baca kalau berani rasain panasnya kutukan ini...
Godaan di Tepi Jurang

Aku berdiri di batu besar yang menjorok ke jurang Gunung Karang, angin pagi menusuk tulang seperti jarum es. Kabut tebal masih menyelimuti lembah di bawah, suara air terjun kecil dari tebing sebelah bercampur deru angin yang tak pernah diam. Guru bilang ini latihan terakhir sebelum turun gunung—ilmu tinju naga-ku sudah mencapai puncak, katanya. Tapi pikiranku cuma satu: "Turun gunung berarti bisa makan sate kambing lagi, kan? Dan mungkin... nemu cewek yang nggak langsung nyubit kalau aku gombal."

Di depanku, Laras lagi fokus berlatih. Jubah putihnya berkibar pelan, rambut panjang hitamnya terurai seperti sutra hidup. Gerakannya halus sekali—tinju lembut menyapu angin, kaki meluncur tanpa suara, ilmu dalam yang dia kuasai sejak kecil. Setiap pukulan bikin kabut bergoyang sedikit, seperti dia lagi menari dengan roh gunung.

Aku duduk selonjor di batu, gigit buah jambu yang aku petik semalam, lalu mulai goda seperti biasa. "Wahai bidadari jurang," kataku sambil menirukan gerakannya secara lebay—tinju melambai-lambai kayak orang joget dangdut, kaki loncat-loncat kecil. "Gerakanmu seperti angin musim semi yang lagi jatuh cinta... eh, tapi kok kaku ya? Gini dong, biar lebih... menggoda!"

Laras berhenti sejenak, matanya menyipit tajam. "Rangga! Serius dong! Ini latihan terakhir sebelum kita turun. Guru bilang ilmu kita harus sempurna, bukan buat kau jadikan bahan main-main!"

Aku nyengir lebar, bangun sambil tepuk tangan pelan. "Main-main? Ini pujian, Laras. Kau tahu nggak, kalau gerakanmu lebih halus lagi, angin gunung ini bakal iri. Atau... kau lagi latihan buat nari di depan aku nanti malam?"

Wajahnya memerah—bukan malu, tapi kesal campur geli. Laras manja kalau lagi aman, tapi kalau lagi fokus, dia bisa jadi singa betina. "Kau ini! Kalau nggak diam, aku lempar ke jurang beneran!"

Aku pura-pura takut, mundur selangkah sambil angkat tangan. "Wah, ancaman dari si manja! Ayo dong, kejar aku kalau bisa. Kalau nangkap, aku kasih hadiah spesial—cium pipi dari pendekar tinju naga!"

Dia mendengus, tapi matanya berkilat. "Dasar jail! Tunggu sana!"

Dan kejar-kejaran pun dimulai. Aku lari pelan-pelan, sengaja biar dia hampir nangkap, sambil gombal terus. "Laras, kau cepat sekali! Kalau gini terus, nanti aku yang capek duluan. Atau kau mau aku berhenti biar kau peluk dari belakang?"

Dia semakin kesal, tapi senyum kecil tersembunyi di bibirnya. "Rangga! Berhenti lari! Ini bukan main-main!"

Aku masuk ke semak-semak deket tebing, lalu tanpa sadar, kaki kami membawa ke mulut gua kecil yang tersembunyi di balik batu besar. Gua larangan—guru pernah bilang jangan deket-deket, ada yang lebih tua dari ilmu kita di sana. Tapi aku cuek. "Masuk sini, Laras! Di sini gelap, pasti kau takut gelap dan minta peluk aku!"

Dia kejar masuk, napasnya agak ngos-ngosan. "Kau ini... kalau guru tahu—"

Kami berdua diam sejenak, mata beradaptasi dengan gelap. Udara dingin lembab, bau tanah basah dan lumut menusuk hidung. Dinding gua penuh ukiran samar—garis-garis kuno seperti simbol dua jiwa terikat dalam lingkaran. Di tengah ruangan kecil, ada batu besar setinggi pinggang, permukaannya halus tapi bercahaya samar biru kehijauan, seperti ada api kecil di dalamnya. Ukirannya jelas: dua sosok manusia saling berhadapan, tangan terhubung, mirip yin-yang tapi lebih... hidup.

Aku mendekat pelan, penasaran. "Ini... apa ya? Bukan batu biasa. Cahayanya aneh, seperti ada tenaga dalam di dalamnya."

Laras ikut mendekat, matanya menyipit analitis. "Jangan disentuh dulu! Lihat ukirannya... dua jiwa terikat. Mirip cerita guru tentang kutukan dua jiwa yang dulu dilakukan pendekar legenda. Katanya ritual terlarang buat satukan kekuatan, tapi harganya ikatan selamanya. Kalau salah satu celaka..."

Aku tertawa kecil, pura-pura santai. "Haha, kau percaya dongeng itu? Mungkin ini cuma batu suci buat meditasi. Atau... artefak pusaka yang bisa bikin ilmu kita naik level. Bayangin, Laras—kita balik ke guru bawa ini, pasti dia bangga!"

Dia geleng-geleng kepala, tapi matanya nggak lepas dari batu itu. "Rangga... aku merasa aneh. Dadaku berdegup kencang, seperti... ada yang tarik aku ke sini. Kau nggak rasain?"

Aku diam sejenak. Sebenarnya iya—sensasi hangat di dada, seperti ikatan tak terlihat. Tapi aku cuek aja. "Mungkin karena kau deg-degan deket aku di gua gelap gini. Mau peluk?"

Dia nyubit lenganku pelan. "Serius! Artefak ini... mungkin pemicu kutukan yang guru pernah sebut. Dia bilang 'jangan sentuh kalau belum waktunya'."

Kami berdua berdiri di depan batu itu, kebingungan campur penasaran. Aku jongkok, sentuh permukaannya pelan dengan ujung jari—dingin, tapi ada getar halus. "Hangat juga... seperti hidup."

Laras jongkok di sebelahku, tangannya ikut menyentuh sisi lain. "Rangga, jangan—"

Tangan kami bersentuhan di batu yang sama. Saat itu juga, bumi berguncang hebat. Bukan gempa biasa—ini seperti gunung bernapas marah. Dinding gua retak, batu jatuh berderak dari langit-langit, tanah bergoyang keras sampai kami terhuyung.

Aku langsung tarik Laras ke pelukanku, lindung dengan tubuh. "Pegang erat! Jangan lepas!"

Dia balas peluk kuat, suaranya gemetar. "Rangga... ini gara-gara kita sentuh artefaknya!"

Cahaya dari batu meledak terang, pusaran angin kencang muncul dari dalam batu, menyedot kami ke dalam. Visi singkat melintas: dua pendekar legenda lagi ritual di gua yang sama, darah mereka menetes ke batu, suara bergema: "Dua jiwa menyatu... waktu akan membawa kalian kembali."

Aku genggam tangan Laras erat. "Laras! Apa pun ini, kita bareng!"

Dia balas genggam balik. "Jangan lepaskan aku... Rangga!"

Semuanya berputar dalam cahaya buta dan gemuruh. Saat cahaya memudar, kami mendarat keras di aspal dingin, suara klakson nyaring memekakkan telinga, bau asap knalpot menusuk. Orang-orang berlalu lalang di sekitar kami—Jakarta yang ramai, penuh macam-macam manusia: ojol berhelm, pedagang gorengan, anak muda selfie, pekerja kantor buru-buru.

Aku bangun, kepala pusing. "Ini... kota? Bukan gunung lagi."

Laras di sebelahku, jubah putihnya kontras banget sama orang-orang berpakaian modern. Dia langsung siaga, tapi matanya lebar kaget. "Rangga... lihat itu! Benda besar bergerak cepat tanpa kuda!"

Seseorang di dekat teriak: "Awas, mobilnya ngebut!"

Laras mata berbinar cepat. "Mobil... itu namanya mobil!"

Aku nyengir cuek meski hati campur aduk. "Selamat datang di dunia gila, manja. Kutukan dua jiwa ini... sepertinya baru mulai beneran."

Dan di kejauhan, aku dengar suara sirene polisi mendekat. Apa yang bakal terjadi kalau pendekar gunung ketangkep polisi gara-gara jubah putih dan tinju naga?

(To be continued...)

Lanjut membaca
Lanjut membaca