

“Reza, kenapa kita lewat jalan ini?” Bintang bertanya pada sopirnya saat mobil mereka belok ke jalan sepi.
Reza yang sudah setahun bekerja bersama Bintang menjawab, “Itu karena Jalan Anggrek lagi ditutup, Pak. Katanya ada perbaikan saluran air.”
“Ok.” Bintang tidak bertanya lagi dan beralih melihat ke arah piala penghargaan yang teronggok di kursi penumpang.
‘Ahli IT Terbaik Polinera.’
Di samping piala itu, juga terdapat sebuket mawar dan sebuah surat bertuliskan: “Selamat ulang tahun, Pak Bintang. Semoga panjang umur dan bahagia selalu.”
‘Bahagia selalu apanya..’ Bintang mendengus kecil.
Beberapa jam sebelumnya, dia baru saja menghadiri acara penghargaan dari Organisasi Ahli IT Nasional. Namanya dipanggil ke atas panggung diiringi tepuk tangan yang bercampur kilatan kamera.
Bintang menerima piala itu dengan senyum singkat, menyampaikan pidato, lalu turun kembali ke tempat duduknya.
Beberapa orang juga mengucapkan ulang tahun dan mengajaknya untuk merayakan, tapi ia tolak secara halus.
Karena dalam kehidupan ini, dia nggak lagi berani berharap mendapat kebahagiaan sekecil apa pun. Karena yang ada hanyalah penyesalan yang bercampur dengan hampa.
Kata “ulang tahun” kembali muncul di benak Bintang.
Bagi orang lain, hari seperti itu pasti identik dengan kumpul keluarga. Atmosfernya ceria, dan dilengkapi kue, lilin, juga doa-doa baik.
Namun baginya, ulang tahun adalah pengingat akan tragedi yang ia sebabkan puluhan tahun lalu.
Bintang memejamkan mata, membiarkan perasaan bersalah itu muncul.
‘Kalau saja malam itu dia tidak mabuk, mungkin kakaknya masih bisa hidup. Dan.. kalau saja dia lebih peduli dengan kondisi Ibu, pasti penyakit itu masih bisa tertangani...’
Semua penyesalan Bintang bertumpuk dalam satu titik.
Ingatan malam itu juga terus menghantui Bintang. Setiap tahun, tepat di hari ulang tahunnya, luka itu kembali terbuka.
Dan jauh di dalam hati, ada bagian dirinya yang lelah, yang diam-diam berharap hidupnya berakhir saja. Untuk bisa tidur pun, Bintang bergantung pada pil.
Kadang ia berdoa agar diberi kesempatan menebus dosa-dosanya. Namun hingga usianya menginjak lima puluh dua tahun, kesempatan itu tak pernah datang.
Dari kaca spion, Reza sempat mengerutkan kening melihat wajah bosnya yang pucat dan tegang.
Ia ingin bertanya, tetapi perhatiannya teralihkan ketika mulai menemukan keanehan pada mobil mereka.
Baru beberapa meter melaju di jalan itu, ponsel Bintang berdering. Nomor tak dikenal.
Biasanya, ia akan mengabaikan panggilan seperti itu. Kali ini pun ia tidak mengangkatnya. Namun begitu dering berhenti, notifikasi pesan bertubi-tubi masuk.
[Bintang, akhirnya waktunya telah tiba.]
[Sudah saatnya kamu membayar dosa-dosamu atas kematian Bulan. Kekasihku mati karenamu!]
Tatapan Bintang bergetar. Reza yang melihat perubahan itu dari kaca tengah bertanya-tanya. Sebab, Bintang yang selama ini terlihat sebagai sosok tegar. Kini tampak seperti orang yang kehilangan pijakan.
“Pak Bintang, Bapak tidak apa-apa?” Reza akhirnya memberanikan diri.
Bintang Nararya dikenal tenang dalam situasi apapun. Karena itu, perubahan sekecil apapun terlihat janggal.
Bintang perlahan memegang dadanya. Ia memaksa mengingat siapa kekasih kakaknya, tetapi tidak menemukan apa pun.
Sepanjang yang ia tahu, kakaknya tak pernah terlihat dekat dengan pria mana pun.
Di kursi depan, Reza menginjak rem dengan gelisah. Kemudi mulai oleng. Sepersekian detik berikutnya, wajah Reza memucat.
“Pak Bintang! Pak! Remnya blong!”
Bintang yang tidak merespons.
“Pak!”
Mobil melaju tanpa bisa dikendalikan.
Kecepatan terus bertambah. Dalam kondisi itu Bintang baru tersadar akan adanya sesuatu yang salah.
Pesan misterius itu terlintas kembali di benaknya.
Membayar dosa-dosa…
Di saat yang sama, dari arah berlawanan, sebuah truk besar melaju kencang sambil membunyikan klakson panjang.
Suaranya memekakkan telinga.
Bintang menatap truk itu beberapa detik, lalu memejamkan mata. Ia tahu tabrakan tak terhindarkan.
Mungkin ini akhir yang pantas untukku, pikirnya. Pembunuh tak berguna sepertiku memang layak berakhir seperti ini.
Namun di detik terakhir, di tengah suara klakson dan teriakan panik di kursi depan, satu doa terucap dalam hati.
Jika keajaiban itu ada… beri aku satu kesempatan.
Aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan menebus semuanya.
Aku enggak akan membiarkan kakakku mati.
***
1995, kota Melona
Bintang tiba-tiba terbangun dengan cahaya yang langsung menusuk matanya. Spontan dia menutupi wajah dengan tangan.
‘Tunggu. Kenapa ada cahaya matahari?
Bukankah tadi malam mobilnya bertabrakan dengan truk? Bukankah itu terjadi di jalan gelap?’
Bintang membuka matanya perlahan dan langsung bersitatap dengan tiga anak muda yang duduk di sekitar.
‘Wajah-wajah itu… Bagaimana mungkin?!’ Bintang kaget.
“Woi, Bintang! Pas banget bangun!” Seorang pemuda berambut cokelat tertawa. “Tahu aja kalau arak kita udah datang.”
Bintang mengerutkan kening.
Salah satu dari mereka mendekat dan menyodorkan gelas kecil berisi cairan putih keruh. Aromanya menusuk hidung.
Perut Bintang langsung mual. Kepalanya pusing hanya karena mencium baunya.
“Woi, kenapa lo?! Nggak suka yang ini?”
Bintang menggelengkan kepala dan berdiri. Perlahan memandang sekitar.
Bangku semen yang retak di ujung. Warung kecil beratap seng di seberang jalan. Pohon flamboyan besar yang daunnya selalu berguguran saat kemarau.
Ini adalah pemandangan khas Taman Kejora yang menjadi tempat nongkrongnya dulu! Bagaimana dia bisa di sini?!!
Sebab, tempat ini adalah kota Melona, kota kelahirannya yang sudah puluhan tahun ia tinggalkan sejak pindah ke Lumina!
Namun yang membuat jantungnya berdebar bukan hanya tempatnya. Keempat pemuda itu. Mereka adalah teman-teman berandalannya yang seharusnya sudah mati karena overdosis.
Bintang menelan ludah, semakin gugup. “Tidak mungkin.”
“Kamu ini kenapa sih?!” Salah satu temannya berusaha mendekati, tapi Bintang menjauh dengan mundur dua langkah.
“Oy! Bintang! Gila nih dia!” Temannya yang lain tertawa.
“Maboknya belum hilang mungkin?!”
Bintang tak mempedulikan semua itu. Saat ini, dia yakin kalau dia sudah kembali ke masa lalu. Namun, kenapa bisa?!
Dia adalah seorang ahli IT yang mempelajari dan menciptakan berbagai teknologi. Tapi, hal semacam ini tidak pernah dia pikirkan!
“Mungkinkah ….” Bintang tersenyum lebar, bahkan sampai lupa pada tiga berandalan yang masih asyik minum di tanah.
Dengan langkah cepat ia bergegas menuju sebuah warung kecil di pinggir jalan. Matanya langsung tertuju pada kalender yang tergantung di dinding.
1995.
Jantungnya berdegup keras.
“Tunggu… boleh pinjam cermin sebentar?” tanya Bintang pada pemilik warung.
Ia meraih cermin kecil yang diberikan kepadanya. Seketika bayangan wajah muda terpantul di sana. Kulit yang masih kencang.
Rambut yang masih hitam pekat. Tidak ada garis lelah seperti yang selama ini ia kenal.
Itu adalah wajahnya ketika berusia dua puluh dua tahun.
Bintang menahan napas. “Ternyata benar….” gumamnya. Senyumnya melebar, hampir tak bisa ditahan. “Aku kembali ke tahun 1995!”
Dadanya bergetar oleh campuran kegembiraan dan harapan yang selama puluhan tahun tak pernah ia rasakan lagi.
“Kalau begitu… aku bisa menyelamatkan Mbak Bulan!”
Namun, begitu ingatan tentang hari itu kembali menyeruak, senyumnya langsung membeku. Jantungnya mencelos.
Bintang buru-buru menoleh ke arah jam dinding di warung.
“Jam lima….” Wajahnya langsung pucat.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Bintang berbalik dan berlari keluar warung secepat mungkin. “Aku cuma punya setengah jam lagi!”
Pada saat itu, di hari ulang tahunnya, ia sedang tidur di taman dalam keadaan setengah mabuk. Saat seorang tetangganya mengguncang bahunya, melaporkan bahwa kakaknya ditemukan dalam keadaan mengenaskan.
Diperkosa… lalu dibunuh.
Menurut ibunya waktu itu, Bulan keluar rumah sekitar pukul lima lewat tiga puluh sore untuk mencarinya. Namun setelah itu… Bulan tak pernah kembali.
Ingatan itu terasa seperti pisau yang kembali mengiris dadanya. Bintang mempercepat langkahnya.
“Aku harus mencegah Mbak Bulan keluar rumah!” Matanya menatap ke arah jalan menuju sungai. “Kali ini… Mbak nggak boleh mati!”