

Hidup Raka selalu terasa seperti lelucon yang kejam.
Sejak kecil, seolah-olah nasib tidak pernah berpihak padanya. Ketika anak-anak lain bermain dengan gembira, Raka justru sering menjadi bahan ejekan. Wajahnya yang dianggap biasa saja bahkan cenderung jelek menurut sebagian orang membuatnya sering diremehkan.
“Eh, lihat si Raka! Muka sial datang lagi!”
Kalimat itu bukan sesuatu yang asing baginya.
Di sekolah, ia sering menjadi sasaran candaan. Bukan hanya karena penampilannya, tetapi juga karena kehidupannya yang sederhana. Ayahnya yang miskin dan hanya seorang buruh serabutan, dan ibunya harus bekerja keras sebagai buruh cuci untuk membesarkannya.
Raka tumbuh dengan satu kebiasaan menundukkan kepala dan menerima semuanya.
Baginya, melawan hanya akan membuat keadaan semakin buruk.
Kini, di usia dua puluh enam tahun, hidupnya masih tidak jauh berbeda.
Pekerjaannya hanyalah pegawai toko kecil dengan gaji pas pasan. Setiap hari ia harus melayani pelanggan yang kadang memperlakukannya seperti mesin, bukan manusia.
“Cepat sedikit! Kamu kerja atau tidur di sini?” bentak seorang pelanggan suatu sore.
Raka hanya tersenyum kaku.
“Maaf, Pak.”
Ia sudah terlalu sering mendengar kata-kata kasar seperti itu hingga hatinya hampir kebal.
Namun tetap saja, ada bagian kecil di dalam dirinya yang merasa sakit setiap kali diperlakukan seperti itu.
Hari itu adalah hari yang melelahkan. Toko sedang ramai, dan Raka harus bekerja sendirian karena rekan kerjanya izin.
Ketika jam menunjukkan hampir pukul sembilan malam, akhirnya toko mulai sepi.
Raka menghela napas panjang.
“Ah… akhirnya.”
Ia mulai membereskan rak-rak barang yang sedikit berantakan.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
“RAKA!”
Suara keras membuatnya terkejut.
Ia menoleh dan melihat Pak Darto, pemilik toko, berjalan ke arahnya dengan wajah merah.
“Ada apa, Pak?” tanya Raka hati hati.
Pak Darto melempar sebuah kertas ke meja kasir.
“Ini apa?”
Raka mengambil kertas itu.
Tagihan barang.
Dan jumlahnya… tidak sedikit.
“Saya tidak mengerti, Pak…”
“Jangan pura-pura bodoh!” bentak Pak Darto. “Barang di gudang hilang! Dan kamu satu satunya yang jaga toko hari ini!”
Jantung Raka berdegup kencang.
“Tapi saya tidak mengambil apa pun…”
Pak Darto tertawa sinis.
“Kalau bukan kamu, siapa lagi?”
Raka mencoba menjelaskan, tetapi Pak Darto sudah tidak mau mendengar.
“Mulai besok kamu tidak usah datang lagi.”
Kalimat itu terasa seperti palu yang menghantam kepalanya.
“Pak… tolong… saya benar-benar tidak ”
“Keluar!”
Tidak ada kesempatan untuk membela diri.
Tidak ada yang mau mendengarkan.
Seperti biasa.
Raka hanya menunduk.
“Baik, Pak…”
Ia mengambil tasnya yang sudah usang dan berjalan keluar dari toko.
Udara malam terasa dingin ketika pintu toko tertutup di belakangnya.
Raka berdiri di trotoar selama beberapa detik, menatap lampu jalan yang redup.
Ia baru saja kehilangan pekerjaannya.
Lagi.
“Kenapa hidupku selalu begini…” gumamnya pelan.
Langkahnya terasa berat ketika ia mulai berjalan pulang.
Jalanan kota sudah tidak terlalu ramai, tetapi suara kendaraan masih terdengar dari kejauhan.
Lampu-lampu gedung tinggi berkilauan, seolah mengejek kehidupannya yang sederhana.
Orang-orang berjalan dengan pasangan mereka.
Tertawa.
Berbicara.
Menikmati hidup.
Sementara Raka berjalan sendirian.
Selalu sendirian.
Ia pernah mencoba mendekati seorang wanita beberapa tahun lalu.
Namanya Dina.
Raka masih ingat bagaimana jantungnya berdebar saat memberikan bunga kecil kepadanya.
Namun yang ia dapatkan hanyalah tawa.
“Serius? Kamu pikir aku mau sama kamu?”
Teman teman Dina ikut tertawa.
“Muka aja kayak gitu.”
Kenangan itu masih terasa seperti luka yang belum sembuh.
Raka menggeleng pelan.
“Sudahlah…”
Ia sudah belajar untuk tidak berharap terlalu banyak dari hidup.
Langkahnya terus berlanjut menyusuri trotoar yang panjang.
Hingga tiba-tiba
Suara klakson keras terdengar.
Raka menoleh.
Di seberang jalan, seorang kakek tua berdiri di pinggir trotoar.
Tubuhnya sedikit membungkuk, dan tangannya memegang tongkat kayu.
Sepertinya ia ingin menyeberang jalan.
Namun kendaraan terus melaju dengan cepat.
Kakek itu mencoba melangkah sekali.
Lalu mundur lagi.
Wajahnya terlihat bingung.
Raka berhenti berjalan.
Beberapa orang lewat di dekat kakek itu.
Namun tidak ada yang berhenti.
Tidak ada yang peduli.
“Ah…”
Raka menghela napas.
Ia sebenarnya sedang lelah.
Pikirannya penuh dengan masalah.
Namun melihat kakek itu membuatnya teringat pada ibunya.
Tanpa banyak berpikir, Raka menyeberang mendekati kakek tersebut.
“Pak… mau menyeberang?”
Kakek itu menoleh perlahan.
Matanya tampak tua… tetapi tajam.
“Oh… ya, Nak.”
Suaranya pelan.
“Lalu lintasnya agak ramai.”
Raka tersenyum kecil.
“Tidak apa-apa, saya bantu.”
Ia menunggu hingga kendaraan sedikit berkurang.
Lalu dengan hati hati, ia memegang lengan kakek itu.
“Pelan pelan, Pak.”
Mereka mulai berjalan menyeberangi jalan.
Beberapa mobil melambat.
Beberapa pengendara motor membunyikan klakson dengan kesal.
Namun akhirnya mereka berhasil sampai di seberang.
“Terima kasih, Nak.”
Kakek itu tersenyum.
Raka menggaruk kepalanya.
“Ah, tidak apa apa.”
Ia sebenarnya tidak mengharapkan apa pun.
Membantu orang lain adalah sesuatu yang biasa ia lakukan.
Meskipun hidupnya sendiri penuh masalah.
Namun kakek itu tiba tiba membuka tas kecil yang dibawanya.
“Sebagai tanda terima kasih…”
Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas.
Sebuah botol parfum besar.
Botolnya berwarna hitam dengan desain yang aneh.
Terlihat mahal… tetapi juga misterius.
Raka terkejut.
“Eh… tidak usah, Pak. Saya hanya membantu.”
Kakek itu tertawa kecil.
“Ambillah.”
Ia menyerahkan botol itu ke tangan Raka.
“Parfum ini… mungkin akan mengubah hidupmu.”
Raka mengerutkan kening.
“Mengubah hidup?”
Kakek itu hanya tersenyum.
Senyuman yang aneh.
“Gunakanlah dengan bijak.”
Angin malam berhembus pelan.
Ketika Raka mengangkat kepalanya lagi—
Kakek itu sudah berjalan menjauh.
Langkahnya pelan, namun entah kenapa terasa… misterius.
Raka melihat botol parfum di tangannya.
“Parfum?”
Ia memutarnya perlahan.
Botol itu terasa berat.
Dan entah kenapa… dingin.
Raka tertawa kecil.
“Ya ampun… hidupku sudah cukup aneh.”
Ia memasukkan parfum itu ke dalam tas.
Tanpa mengetahui bahwa benda kecil itu…
Akan mengubah seluruh hidupnya.
Selamanya......
Namun di perjalanan pulang, raka masih membayangkan apa yang akan dia katakan pada ibunya nanti?????
Ibu maafkan aku,, lagi lagi raka mengacaukan semuanya!!!!! Raka bakal cari kerja yang lebih lagi dari Kerjaan ini bu,,
Aaaah akhirnya sampu dirumah juga,
Badan ku pegal semua nya, apa karna botol parfum yang besar ini????
Setidaknya aku membawa pulang sesuatu yang bisa dipakai,, "raka kamu sudah pulang nak?? "
Aaaah iya bu, maaf yaa bu, raka bangunin ibu ya?? " Nggak kok nak, kamu sudah makan nak?"
Raka sudah makan kok bu,
Bapak sama ibu sudah makan kah???
Ibu, sama bapak sudah makan kok nak,
Kamu sendiri gimana, dari tadi ibu tanya kok nggak di jawab?????
Kalau raka sudah kok bu, ya udah ibu mau lanjut tidur lagi ya nak...
Kamu juga tidur, kan besok kerja...
Iya bu,, ibu juga selamat istirahat.