

Tarjo duduk lemas di atas lincak bambu depan balai desa. Wajahnya kusut seperti pakaian yang lupa disetrika sebulan.
Pemuda berumur dua puluh empat tahun itu hanya seorang kuli rendahan. Pekerjaannya sehari-hari hanyalah menyapu, mengepel, dan menjaga warung kelontong milik Juragan Karyo.
Karena kemiskinannya, hidup Tarjo sering diinjak-injak. Gajinya yang cuma cukup buat beli tempe membuatnya selalu menunduk saat berjalan di kampung.
Di depannya saat ini, berdiri sosok bidadari desa bernama Wulan. Di depannya saat ini, berdiri sosok bidadari desa bernama Wulan--pacar Tarjo. Sudah bertahun-tahun Tarjo menabung untuk menikahinya, tapi apa yang didapat Tarjo?
"Wis, Jo, cukup sampai di sini aja!" bentak Wulan dengan nada melengking. "Aku malu pacaran sama penjaga warung kere kayak kamu!"
Saking kagetnya mendengar kalimat itu, jantung Tarjo rasanya mau copot dari rongga dada. Ia mencoba meraih tangan gadis itu untuk meminta belas kasihan.
Namun, Wulan menepisnya dengan sangat kasar seolah tangan Tarjo adalah hama wereng.
"Lha dalah, Lan. Kenapa mendadak begini toh?" keluh Tarjo memelas, nyalinya menciut habis. "Bukannya kemarin sampeyan janji mau nungguin aku ngumpulin modal nikah?"
"Modal dari mana? Gajimu jaga warung aja cuma cukup buat beli obat nyamuk!" cibir Wulan dengan tatapan setajam sabit. "Mulai besok aku mau dilamar Mas Bowo juragan gabah, jadi lupakan aku!"
Belum sempat bibir Tarjo bergerak untuk membela diri, Wulan mendorong bahu pemuda itu keras-keras. Tarjo yang kurus kering langsung terjengkang jatuh ke tanah berdebu. Pantatnya menghantam tanah dengan bunyi gedebuk yang memalukan.
"Aduh, Gusti Pangeran," batin Tarjo merana. "Nasib bener jadi orang kecil. Udah miskin, singkongnya nganggur, sekarang malah mau ditinggal nikah."
Sambil membuang muka jijik, Wulan melenggang pergi begitu saja. Pinggulnya yang padat bergoyang ke kanan dan ke kiri, meninggalkan Tarjo yang hancur lebur.
Beberapa menit kemudian, hujan rintik mulai turun membasahi bumi. Tarjo masih duduk meratapi nasibnya di lincak bambu yang dingin.
"Mas Tarjo, kok hujan-hujanan di situ toh?"
Dari balik pohon pisang, suara lembut itu memecah lamunan sedihnya. Seorang gadis berkepang dua berlari kecil mendekatinya sambil membawa payung kertas. Itu Ningsih, anak tetangga sebelah yang umurnya baru sembilan belas tahun.
Gadis itu mengenakan daster rumahan yang agak tipis. Kulitnya yang seputih singkong baru dikupas terlihat sangat bersih di bawah rintik hujan.
"Eh, Ningsih. Ndak apa-apa, Ningsih. Mas cuma lagi mendinginkan kepala aja," jawab Tarjo sambil tersenyum kecut, berusaha menutupi air matanya.
Lantaran kasihan melihat tetangganya seperti ayam kehujanan, Ningsih ikut duduk di lincak. Ia memosisikan payungnya agar menutupi kepala Tarjo.
Jarak mereka sangat dekat. Aroma sabun mandi bercampur wangi bunga melati dari tubuh Ningsih langsung menusuk hidung Tarjo.
Saat Ningsih membungkuk sedikit, kerah dasternya yang longgar memperlihatkan pemandangan indah. Dua buah apel malang yang masih muda dan kencang terlihat mengintip malu-malu.
Meskipun hatinya sedang hancur, si Gatot di dalam celana Tarjo mendadak berkedut pelan. Nalurinya seketika terbangun melihat pemandangan bening itu.
"Mas Tarjo jangan sedih terus, yo. Mbak Wulan emang ndak pantes buat orang sebaik Mas," ucap Ningsih dengan nada pelan dan tulus.
"Halah, Ningsih. Mas ini kan cuma butiran debu di desa ini." keluh Tarjo merendah. "Wajar kalau Wulan nyari laki-laki yang paculnya lebih kuat dan sawahnya lebih luas."
Mendengar kata "pacul" dan "sawah", pipi Ningsih mendadak merah merona karena dia tahu, yang dimaksud Tarjo itu uang dan stamina seorang lelaki. Ia menunduk malu namun tetap menemani pemuda itu.
"Bagi Ningsih, Mas Tarjo itu hebat kok. Rajin ibadah, rajin kerja bersihin warung. Sing penting rezekinya halal, Mas."
Padahal diam-diam Ningsih sudah lama menaruh hati. Ia sangat ingin lahan suburnya digarap oleh pemuda malang itu.
Sayangnya, otak udang Tarjo terlalu lambat untuk menangkap sinyal cinta yang begitu jelas di depan mata. Ia hanya menganggap gadis ini sebagai bocah kemarin sore.
"Matur suwun ya, Ningsih. Kamu pancen bocah sing paling ngertiin Mas," balas Tarjo polos sambil mengelus pelan rambut gadis itu.
***
Malam pun semakin larut menyelimuti desa.
Tarjo sudah kembali ke rutinitas kasarnya di warung kelontong milik Juragan Karyo. Suasana warung cukup sepi karena udara dingin. Pria itu menyusun rentengan kopi saset dengan tangan gemetar sisa patah hati tadi sore.
Sedetik kemudian, sebuah tepukan keras mendarat di bahunya. Parmin, sahabat karibnya sesama kuli, datang dan langsung duduk ngangkang di kursi kayu.
"Kusut bener mukamu, Jo. Kayak daun pisang layu kena hama wereng," ledek Parmin sambil menyalakan rokok lintingannya.
"Lagi apes, Min. Wulan minggat sama Juragan Gabah tadi sore," balas Tarjo lemas sambil menyandarkan punggungnya ke tiang bambu.
Alih-alih bersimpati, Parmin malah tertawa terbahak-bahak. Ia menepuk pahanya sendiri dengan keras hingga abu rokoknya berjatuhan.
"Makanya, Jo! Ngaca dong! Kamu itu kere, hidup cuma ngandelin gaji sepuluh ribu sehari dari si tua bangka Karyo!"
"Ya Allah, Min. Temen lagi susah malah diledek sampai hancur begini," keluh Tarjo.
Sebab merasa sedikit iba melihat temannya nyaris menangis, Parmin menepuk bahu Tarjo lebih pelan.
"Sabar, Jo. Emang nasib kita ini cuma kuli kasar yang bau pupuk kandang," ucap Parmin mencoba menghibur. "Mending kamu beres-beres gudang belakang gih, biar otakmu agak waras dikit."
Karena tidak ada lagi yang bisa dilakukan, Tarjo hanya menghela napas panjang. Ia mengangguk pasrah dan mengambil sapu ijuk di pojok ruangan.
Sesampainya di gudang belakang warung yang gelap dan pengap, Tarjo mulai membereskan tumpukan kardus bekas. Debu beterbangan membuat hidungnya gatal.
"Nasib... nasib... Coba kalau aku punya pelet jaran goyang," gumam Tarjo ngawur sambil memindahkan karung beras. "Pasti Wulan balik bertekuk lutut minta digarap lahannya."
Saat sedang menggeser sebuah peti kayu tua yang sudah reyot, tangannya menyentuh sebuah benda padat yang sangat dingin. Benda itu tersembunyi rapat di balik tumpukan kain lap berbau apak.
Lantaran penasaran yang memuncak, Tarjo menarik kain tersebut dengan cepat.
Matanya seketika melotot nyaris keluar dari kelopaknya. Sebuah kalung berbandul batu zamrud usang tergeletak pasrah di sana.
"Lho, ini kan kalung peninggalan Mbah Kakung dulu? Katanya hilang dicuri orang pas zaman penjajahan Belanda," ucapnya tak percaya.
Saking semangatnya menemukan harta karun, Tarjo meraih kalung itu tanpa perhitungan.
Namun, ujung batu zamrud yang ternyata sangat tajam itu tak sengaja menggores telapak tangan kasarnya.
"Aw! Sialan, tajem amat kayak mulutnya Wulan!" pekik Tarjo tertahan.
Darah segar berwarna merah pekat menetes dari telapak tangannya. Tetesan darah itu jatuh tepat mengenai permukaan batu zamrud hijau yang kusam tersebut.
Tiba-tiba saja, fenomena di luar nalar manusia terjadi. Batu usang itu menyerap darah Tarjo dan memancarkan cahaya hijau yang sangat menyilaukan mata.
Belum sempat Tarjo mencerna keadaan gila ini, cahaya hijau itu melesat masuk menembus pori-pori dadanya. Tubuhnya langsung terpental ke belakang dan menabrak tumpukan karung beras.
"Gusti Pangeran... panas banget dadaku!" rintih Tarjo sambil memegangi dadanya yang terasa seperti dibakar api tungku.
Rasa sakit yang luar biasa menjalar liar ke seluruh urat nadinya. Keringat dingin bercucuran membasahi kaus oblongnya yang dekil.
Akan tetapi, penderitaan itu tidak berlangsung lama. Rasa sakit tersebut dengan cepat bermutasi menjadi sensasi kekuatan yang mahadahsyat. Otot-otot kurusnya yang tadinya lembek tiba-tiba terasa mengencang dan padat.
Ketika Tarjo perlahan membuka mata, pandangannya menjadi sangat jernih di tengah kegelapan gudang. Kondisi magis itu membuat si Gatot di balik celananya menegang keras layaknya alu penumbuk padi.
Setelah merasa cukup stabil, Tarjo perlahan bangkit berdiri, tapi baru tiga langkah, dia tiba-tiba ambruk lagi, tanpa ada seorang pun yang mengetahuinya.