

"Cepat sedikit, pemalas! Kau mau lantai ini tetap kotor sampai besok pagi?"
Suara melengking itu menghantam telinga Davin, lebih tajam dari hawa dingin yang merayap dari lantai marmer yang sedang disikatnya. Davin, yang baru berusia lima tahun, menggerakkan tangannya yang kecil dan memerah dengan gemetar. Kain lap yang sudah dekil itu digosokkan berkali-kali ke permukaan lantai yang mengilap, namun di mata Jonathan, itu tidak pernah cukup.
"Maaf, Tuan Muda Jonathan. Davin sudah berusaha cepat," bisik Davin lirih, kepalanya tetap tertunduk.
"Berusaha? Kau menyebut gerakan lambat seperti siput itu usaha?" Jonathan tertawa mengejek sambil menendang ember berisi air sabun di samping Davin.
Byurr!
Air keruh itu tumpah, membasahi seluruh pakaian tipis Davin dan membuat lantai yang baru saja dikeringkannya kembali banjir. Davin terperanjat, napasnya tertahan karena rasa dingin yang tiba-tiba menusuk kulitnya yang hanya dibalut kaos usang.
"Oh, lihat! Sekarang kau punya lebih banyak pekerjaan, si pemalas," ejek Jonathan lagi. Bocah seumuran Davin itu berdiri dengan angkuh, mengenakan pakaian sutra yang mewah, sangat kontras dengan Davin yang tampak seperti kain pel berjalan.
"Kenapa diam saja? Ayo bersihkan lagi!" bentak Jonathan sambil menginjak tangan kecil Davin dengan sepatu kulitnya yang keras.
"Sakit, Tuan Muda... tolong..." rintih Davin. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, namun ia tahu menangis hanya akan memperburuk keadaan.
"Sakit? Baguslah kalau kau merasa sakit. Itu artinya kau masih hidup untuk menjadi kacungku," Jonathan tertawa lebih keras, sangat menikmati pemandangan di bawah kakinya.
Langkah kaki yang berirama tegas terdengar dari arah tangga besar. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi, seolah udara di ruangan itu tersedot keluar. Elena, ibu tiri Davin, muncul dengan gaun panjang yang menyapu lantai. Wajahnya cantik, namun matanya sedingin es.
"Ada apa ini, Jonathan? Kenapa berisik sekali?" tanya Elena, suaranya tenang namun mengandung ancaman yang tak terlihat.
"Ibu, lihat si bodoh ini. Dia menumpahkan air ke mana-mana. Dia sengaja ingin membuat rumah ini kotor," lapor Jonathan dengan wajah tanpa dosa, langsung berpindah ke samping ibunya.
Elena menatap genangan air di lantai, lalu beralih ke arah Davin yang sedang menggigil di lantai. Tidak ada sedikit pun rasa iba di matanya. Yang ada hanyalah kejijikan.
"Begitu? Davin, kau benar-benar tidak tahu diri, ya?" ucap Elena dingin. Ia berjalan mendekat, ujung sepatunya berhenti tepat di depan hidung Davin.
"Bukan, Nyonya... Tuan Muda tadi—"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Davin, membuatnya tersungkur ke samping. Pipi kecilnya langsung memerah dan terasa panas membara.
"Kau berani menjawab? Kau berani memfitnah putraku?" suara Elena meninggi, setiap katanya seperti sembilu yang menyayat hati Davin.
"Maaf, Nyonya... Davin minta maaf..." tangis Davin akhirnya pecah. Ia bersujud di depan kaki Elena, memohon ampunan yang tidak akan pernah datang.
Elena tidak menjawab. Ia justru melangkah ke meja hias di dekatnya, tempat sebuah vas bunga porselen mahal berdiri dengan anggun. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, ujung jarinya mendorong vas itu ke tepi meja.
Prang!
Vas itu jatuh dan hancur berkeping-keping tepat di hadapan Davin. Potongan porselen yang tajam terpental ke segala arah, beberapa di antaranya menggores lengan Davin.
"Astaga! Lihat apa yang sudah kau lakukan, Davin! Kau menghancurkan vas kesayanganku!" seru Elena dengan nada sandiwara yang mengerikan.
"Tapi... bukan Davin yang—"
"Tutup mulutmu! Bersihkan ini sekarang juga," perintah Elena, suaranya kembali ke nada yang dingin dan datar.
Davin merangkak mendekati pecahan porselen itu. "Baik, Nyonya. Davin akan ambil sapu..."
"Siapa yang bilang kau boleh pakai sapu?" potong Elena cepat.
Davin tertegun, menatap ibu tirinya dengan bingung. "Maksud... maksud Nyonya?"
"Gunakan tanganmu. Ambil setiap kepingan kecil itu dengan tanganmu sendiri. Jika ada satu saja serpihan yang tertinggal dan melukai kaki Jonathan, aku akan memastikan kau tidak akan bisa berjalan selama seminggu," ancam Elena sambil tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih menakutkan daripada kemarahan mana pun.
"Tapi Nyonya, ini tajam... tangan Davin bisa terluka..." bisik Davin penuh ketakutan.
"Lakukan sekarang, atau kau ingin aku memanggil pengawal untuk membantumu?"
Dengan tangan gemetar hebat, Davin mulai memunguti kepingan porselen yang tajam itu satu per satu. Srek. Kepingan pertama langsung menyayat ujung jarinya. Darah segar mulai merembes keluar, bercampur dengan air sabun yang masih menggenang di lantai.
"Aduh..." rintih Davin, namun ia tidak berani berhenti.
"Terus, Davin! Jangan manja! Ibu, lihat tangannya berdarah! Lucu sekali!" Jonathan bertepuk tangan kegirangan, seolah sedang menonton pertunjukan sirkus yang paling menghibur di dunia.
Davin terus memunguti pecahan itu. Luka di jarinya semakin banyak. Darah mulai menetes ke lantai, menciptakan bercak merah di atas marmer putih yang mahal itu. Rasa perih yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya, namun ia terus bergerak karena takut akan hukuman yang lebih berat.
"Setelah selesai, pergi ke gudang belakang. Kau tidak boleh makan malam ini. Kau harus merenungkan betapa tidak bergunanya dirimu di rumah ini," ucap Elena tanpa perasaan. Ia kemudian menggandeng tangan Jonathan dan berjalan pergi, meninggalkan Davin sendirian di tengah kekacauan itu.
"Anak pintar. Jangan lupa bersihkan darah kotor itu dari lantainya, ya!" Jonathan berteriak dari kejauhan sebelum menghilang di balik pintu kayu jati yang besar.
Davin tetap diam, tubuhnya bergetar hebat karena kombinasi rasa dingin, sakit, dan lapar. Ia menatap telapak tangannya yang penuh luka sayatan dan noda darah. Pikirannya melayang pada sosok ayahnya, Ishak.
Beberapa jam kemudian, Davin meringkuk di pojok gudang yang gelap dan pengap. Kamarnya hanyalah sebuah ruang sempit di bawah tangga yang biasanya digunakan untuk menyimpan peralatan kebersihan yang sudah rusak. Di sana hanya ada sebuah kasur tipis yang bau apek dan selimut yang sudah bolong-bolong.
Ia memeluk lututnya erat-erat, mencoba menghalau rasa dingin yang menembus pakaian basahnya. Luka di tangannya berdenyut perih, berdenyut seirama dengan detak jantungnya yang lemah. Di luar, langit mulai menggelap, menandakan malam telah tiba.
"Kenapa mereka jahat padaku?" bisik Davin pada kegelapan. "Apa salah Davin?"
Bagaimana jika ayahnya tidak pernah kembali? Bagaimana jika ia harus menjalani hidup seperti ini selamanya?
Tepat saat ia hampir terlelap karena kelelahan, suara pintu gudang yang berderit terbuka sedikit mengejutkannya. Sinar lampu dari koridor masuk, membentuk garis panjang di lantai gudang yang kotor. Davin menahan napas, takut itu adalah Elena atau Jonathan yang datang untuk memberikan siksaan tambahan.
"Davin? Kau di dalam?" suara bisikan lembut itu terdengar asing namun menenangkan.
"Davin, ini aku... Shoppy," bisik suara itu lagi. Sebuah celah cahaya muncul saat pintu gudang sedikit terbuka. Seorang anak perempuan dengan gaun pelayan yang sederhana mengintip ke dalam. Di tangannya, ia membawa sebuah kain basah yang bersih.
Davin tidak bergerak. Matanya yang sembab menatap waspada. "Pergi... nanti Nyonya marah."
"Nyonya sudah masuk ke kamarnya. Jonathan juga sudah tidur," Shoppy melangkah masuk dengan sangat pelan, seolah kakinya tidak menyentuh lantai. Ia berlutut di samping Davin, menatap noda darah yang mulai mengering di jari-jari mungil itu. "Biarkan aku membersihkan lukamu. Ayahku bilang kau adalah tuan di rumah ini. Tapi mereka... mereka memperlakukanmu lebih buruk daripada kucing jalanan." ucap Shoppy pelan
*
Tiga hari telah berlalu, Davin terbangun saat dunia masih diselimuti kegelapan. Tubuhnya pegal-pegal, setiap sendinya seolah menjerit minta diistirahatkan. Namun, ancaman Elena lebih menakutkan daripada rasa sakit mana pun. Dengan langkah gontai, ia menyeret ember kayu menuju lantai dua.
Saat ia melewati kamar Jonathan, pintu besar itu sedikit terbuka.
Davin berhenti sejenak. Ia mengintip ke dalam. Di sana, Jonathan terlelap di atas ranjang empuk dengan selimut beludru biru yang hangat. Kamar itu berbau vanila dan kayu manis, sangat kontras dengan bau detergen dan apek yang menempel pada kulit Davin.
Dahulu... aku juga tidur di kamar seperti itu, pikir Davin. Matanya menatap boneka beruang di pojok kamar Jonathan, boneka yang dulu adalah miliknya sebelum Elena merampasnya. Apakah Ayah tahu aku sekarang tidur di gudang?
"Apa yang kau lihat, tikus kecil?"
Davin terlonjak. Elena berdiri di ujung koridor, mengenakan jubah tidur sutra merah. Wajahnya yang tanpa riasan terlihat jauh lebih pucat dan tajam di bawah cahaya lampu dinding yang remang-remang.
"Maaf, Nyonya... saya... saya hanya sedang membersihkan—"
"Kau sedang mengintip barang-barang putraku? Kau ingin mencurinya?" tuduh Elena, langkah kakinya tidak bersuara saat ia mendekat.
"Tidak, Nyonya! Sumpah, tidak!" Davin segera bersujud, tangannya yang memegang sikat gemetar hebat.
"Kau benar-benar tidak bisa dipercaya. Darah rendahan memang tidak pernah berubah," Elena menendang ember di samping Davin hingga airnya membasahi karpet mahal di depan kamar. "Lihat! Kau mengotori karpet ini! Karena kecerobohan mu, kau dilarang makan seharian ini. Masuk ke gudang setelah kau membereskan ini!"
"Tapi Nyonya, saya lapar... tolong..."
"Masuk ke gudang, Davin! Atau kau ingin aku memukulmu?" bentak Elena dengan suara tertahan namun penuh amarah.
Matahari naik dan turun, namun bagi Davin, waktu seolah berhenti di gudang yang pengap itu. Perutnya terasa sangat kosong, hingga rasanya ia bisa merasakan organ-organnya saling bergesekan. Ia mencoba memejamkan mata untuk tidur, berharap rasa lapar itu akan hilang dalam mimpi.
Kriitt...
Pintu gudang terbuka sedikit. Davin bahkan tidak memiliki tenaga untuk mendongak. Ia mengira itu Jonathan yang datang untuk menyiramnya dengan air kotor lagi.
"Davin... ini aku. Cepat, makan ini," bisik Shoppy, menyodorkan sepotong roti gandum yang tebal dan sebuah botol kecil berisi air.