Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Hasrat Liar Sang Supir

Hasrat Liar Sang Supir

Nhie02 | Bersambung
Jumlah kata
38.0K
Popular
6.8K
Subscribe
1.1K
Novel / Hasrat Liar Sang Supir
Hasrat Liar Sang Supir

Hasrat Liar Sang Supir

Nhie02| Bersambung
Jumlah Kata
38.0K
Popular
6.8K
Subscribe
1.1K
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalPria MiskinAnak Yatim PiatuHarem
Warning 21+⚠️ "Mas jangan nolak ucapan terimakasih saya. Jika mas tidak mau saya kasih uang. Mas harus terima yang ini!!" Ucap sang penumpang yang baru saja Surya bantu. Surya hampir tidak bisa berkedip melihat pemandangan indah di depannya. Tanpa pikir panjang ia langsung mencicipi martabak spesial pemberian dari penumpangnya itu. "Bagaimana, Mas? enak kan?"
Nembak

"Gue bakal bilang hari ini!"

Surya menyimpan sebatang coklat bermerk mahal dan setangkai bunga mawar di balik jaket. Dia duduk di atas kap mobil.

Di sebelahnya, Cika sedang menyedot es kopi dari plastik. Rambutnya di kuncir kuda asimetris, seperti gadis lapangan pada umumnya. Sesekali, Cika melirik Surya dengan tatapan sulit di artikan.

"Lo, dari tadi kayak orang yang mau ujian skripsi, Sur," kata Cika. "Kenapa sih? Gelisah amat. Ada masalah sama uang setoran?"

Surya menoleh, sambil tersenyum penuh harap. "Gue mau nembak Silvia, Cik."

UHUK... UHUKKK!

"APA? Gue... gue gak salah denger kan, Sur?" Tanya Cika tidak percaya.

"Lo berisik Cika. Itu orang-orang sampai liatin kita," Surya membekam mulut Cika, sambil memaksakan senyum ke arah supir lain yang manatapnya.

"Lo serius?" Tanya Cika, kali ini dengan nada berbisik.

Surya mengangguk mantap. "Seriusan lah. Gue udah lama suka sama dia."

Cika meletakkan plastik kopinya di kap mobil, tepat di samping pantat Surya. "Anjir, Lo... lo sadar kan siapa Silvia, Sur? Jangan bilang lo amnesia karna kebanyakan hirup asap knalpot."

"Apaan sih lo, Cik. Gue tau betul silvia. Dia perempuan yang selalu senyum kalau gue setor pagi-pagi."

Cika langsung menekan keningnya sendiri dengan telunjuk sambil geleng kepala. "Astaga, Surya. Dia itu anak pemilik perusahaan taksi ini! Anak tunggal Pak Hardianto! Ibarat kata, lo itu aspal dan Silvia itu langit."

Surya hanya tersenyum kecil, menatap langit yang mulai berubah jingga. Dia langsung membayangkan wajah adik-adiknya di kampung—Laras yang baru masuk SMA dan Dimas yang masih SD.

Mereka tinggal bersama nenek yang sudah renta. Surya merupakan satu-satunya tiang penyangga sejak ayah dan ibunya meninggal dalam kecelakaan saat ia baru lulus SMA. Bagi Surya, merantau di jakarta adalah jalan keluar satu-satunya.

Surya menghela napas. Lalu mengeluarkan cokelat dan mawar tadi ke hadapan Cika. "Gue cuma mau jujur sama perasaan gue sendiri. Emangnya salah?"

Cika menatap benda-benda yang dikeluarkan surya. Lalu ia tertawa sangat keras. "HAHAHA! Lo serius mau kasih itu ke Silvia?"

Surya mengernyit, Marasa harga dirinya sedikit terusik. "Kenapa lo ketawa? Apa yang lucu?"

"Lo ini bego atau O'on sih? Lo kira, lo datang bawa coklat sama bunga, terus Silvia langsung bilang 'ia Surya, aku juga cinta sama kamu'? Terus kalian nikah, dan pak Hardianto kasih lo jabatan manager? Gitu?" Cika terus tertawa. Menyembunyikan rasa sesak di dada.

Surya diam, menatap cokelat dan bunga di tangannya. Dia tahu logikanya memang kalah, tapi hatinya menolak untuk menyerah.

Cika meneguk es kopi tadi yang sudah terasa tawar. Sebenarnya, Cika bukan supir Taksi kalangan biasa seperti Surya. Dia adalah putri seorang pengusaha kaya yang memilih bekerja susah.

Cika sudah mengenal Surya sejak mereka masih sangat kecil, saat ayah Surya menjadi supir pribadi di rumahnya dulu. Dia tahu perjuangan Surya sekarang demi adik-adiknya. Dan yang paling pedih, Cika tahu bahwa dirinya mencintai pria polos ini.

"Maaf gue terlalu berlebihan, Sur," Cika melihat perubahan raut wajah surya. "Gue dukung lo sekarang. Itupun kalau lo mau mempermalukan diri lo sendiri, silahkan. Gue gak akan halangi."

Surya tersenyum kecut, lalu menggelengkan kepala. "Jahat lo, Cik."

"Gue cuman realistis doang, Sur. Dunia butuh orang yang sadar diri."

Surya tidak peduli pada ejekan Cika. Dia memilih untuk masuk kedalam mobil, dan meletakkan dua hadiah itu di samping.

"Semoga sukses," ucap Cika menepuk bahu Surya melalui jendela mobil yang terbuka.

Surya menyalakan mesin. Kemudian tersenyum tipis. "Doain ajah, Cik."

Cika ikut tersenyum sambil mengangguk pelan. "Iya gue doain, lo."

Saat mobil Surya sudah menjauh, Cika melanjutkan kalimatnya. "Semoga lo ditolak."

_____________

Tidak lama kemudian, Surya sudah sampai di kantor pool taksi. Dia langsung memarkirkan mobilnya.

Surya segera keluar, menggenggam dua hadiah tadi dengan tangan gemetar.

"Tenang Surya," gumamnya. Menenangkan perasaan yang mendadak tidak enak.

Di sisi lain parkiran, sebuah mobil sedan putih berhenti. Pintunya terbuka. Keluar seorang perempuan dengan pakaian kantor yang elegan.

Dia Silvia, anak pemilik perusahaan taksi ini. Rambutnya rapi, tas mahal menggantung di bahunya. Gadis itu berjalan sambil pokus pada layar ponsel.

"Ya sayang, aku sudah sampai kantor. Iya, cuman mau ambil berkas doang sebentar, " Ucap Silvia pada orang di telepon.

Surya membeku di tempat, melihat Silvia yang sangat cantik malam ini. Tekadnya semakin bulat.

"Silvia?" Panggil Surya memberanikan diri.

Silvia menoleh, namun tatapannya berbeda jauh dari biasanya. Seperti ada raut wajah jijik saat melihat Surya yang masih berpenampilan lusuh dan bau keringat.

"Ya? Mas... Surya, kan? Ada apa malam-malam?" Tanya Silvia menjaga jarak.

"Sil, sa... saya mau bicara sebentar," Surya terbata karena gugup.

Silvia mengangkat alis, matanya beralih ke bunga dan cokelat di tangan Surya. Sebuah senyum tipis muncul di sudut bibirnya—bukan senyum ramah yang biasa Surya lihat, melainkan sesuatu yang lebih dingin. "Silahkan, mau bicara apa?"

Surya mengumpulkan seluruh keberaniannya. Surya merasa dia layak mendapatkan kebahagiaan. Dan inilah saatnya. "Saya... saya suka sama kamu, Sil. Sejak pertama kali saya kerja di sini."

Silvia tidak menjawab. Dia menyilangkan tangan di dada sambil memutar bola mata.

Namun Surya tetap mengulurkan tangan, memberikan kedua hadiah yang sudah dia bawa. "Ini buat kamu, Sil."

Silvia tidak bergerak untuk mengambil hadiah itu. Dia malah tertawa kecil seolah mengejek Surya. "ini prank ya? Mana kamera tersembunyinya? Mas Surya mau jadi YouTuber?"

"Bukan Sil. Ini serius."

Silvia mengehela napas panjang, seolah menghadapi anak kecil yang nakal. "Dengar ya, Mas Surya. Ini sangat lucu sekali. Sekaligus... menyedihkan."

Surya merasa jantungnya seolah berhenti berdetak. "Menyedihkan?"

"Surya Dinata...." Silvia menyebut namanya dengan nada yang merendahkan. "Kamu itu supir taksi. Kamu tahu kan gaji kamu sebulan bahkan gak cukup buat beli tas yang aku pakai sekarang? Kamu benar-benar berpikir kita cocok?"

Silvia melangkah maju, menekan dada Surya dengan telunjuknya yang berkuku cantik. "Sadar diri itu penting, Mas."

Silvia mengangkat ponselnya. "Sayang," kata Silvia ke layar ponsel. "Tunggu sebentar ya, aku mau nunjukin kejadian lucu."

Surya langsung terdiam. Ia baru sadar itu bukan telepon biasa. Itu video call.

Silvia langsung memutar layar ponsel ke arah Surya. Di layar terlihat seorang pria berpakaian rapi, tampan dan jelas sangat kaya.

"Kamu tau ini siapa?!" Kata Silvia santai. "Ini calon tunangan saya." Jelas Silvia menunjuk layar ponsel.

Pria di layar itu mengernyit. "Siapa itu sayang?"

Silvia tersenyum geli. "Supir taksi di perusahaan papa."

"Terus?"

"Dia barusan nembak aku."

Pria di layar langsung tertawa. "Tunggu, serius?"

Silvia mengangguk. "Iya serius."

Pria itu menatap Surya dari layar.

"Bro..." Katanya. "Lu berani juga ya."

Seketika Surya merasa wajahnya panas. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Silvia akan mempermalukannya.

Dengan santai Silvia melanjutkan ejekannya. "Bukan hanya itu lho, sayang... Dia juga bawa cokelat sama bunga."

Pria itu tertawa semakin keras. "Waw, romantis banget."

Surya menunduk sedikit.

Silvia mengambil cokelat itu dari tangan Surya. "Ini?"

Surya mengangguk pelan. Ia sedikit senang coklat itu akhirnya di ambil Silvia.

Silvia membukanya sedikit namun bukan untuk menyicipinya. Dengan raut wajah jijik ia berjalan dua langkah mendekat tong sampah yang ada di sampingnya. Lalu.

Plak

Cokelat itu masuk ke dalam. Disusul bunga merah itu.

Surya terpaku.

Pria di video call bersiul.

"Savepage sayang."

Silvia kembali menatap Surya.

"Surya," ucapnya dingin. "Tolong sadar posisi ya?!"

Pria di layar menambahkan. "Cari cewek yang selevel bro."

Silvia mengangguk. "Ingat, jangan mimpi terlalu tinggi." Ucap Silvia mengelap tangannya dengan sapu tangan. Seolah takut kemiskinan Surya melekat di tangannya.

Beberapa detik hening. Surya tidak berkata apa-apa. Tangannya kosong begitupun juga hatinya.

Silvia berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Meninggalkan Surya di parkiran. Sendirian, di dekat tong sampah. Surya pun mengambil kembali coklat dan bunga itu.

Langit sudah semakin gelap ketika Surya keluar dari area perusahaan. Langkahnya pelan. Tangannya masuk ke saku. Ia berjalan menuju kostnya yang tidak jauh dari sana.

Lampu jalan redup. Angin malam terasa dingin. Di kepalanya terus terulang hinaan mereka.

Ia berhenti sebentar mengeluarkan batang coklat yang ia pungut dari dalam tong sampah kemudian melemparkannya ke dalam semak-semak.

"Persetan! Memalukan. Memang apa salahnya jika seorang supir jatuh cinta pada anak bosnya sendiri?"

Clinggg!

Tiba-tiba cahaya putih kebiruan berpendar di tempat coklat itu mendarat.

"Apaan itu?"

Lanjut membaca
Lanjut membaca