

Di atas ranjang elektrik seharga ratusan juta, Arga Winata terbaring tak berdaya.
Pria yang dielu-elukan sebagai "Raja Pangan Nusantara" itu tertidur di atas ranjang dengan nafas tak beraturan.
Kanker hati stadium akhir telah merenggut kegagahannya, menyisakan raga ringkih yang hanya menunggu waktu untuk binasa.
Lucu sekali, Arga membatin miris.
Selama hidup, dia menguasai ribuan hektar sayur mayur dan lumbung padi. Hartanya bahkan cukup untuk membeli satu rumah sakit ini.
Namun, di akhir hayatnya ini, tak ada satupun orang yang tulus menungguinya.
Istri keduanya, Siska, lama pergi setelah menguras sebagian hartanya. Sementara anak-anak angkat yang ia adopsi belakangan, hanya datang ketika hendak menanyakan warisan.
Di ruangan VVIP yang dingin itu, Arga akhirnya sadar bahwa di mata orang-orang sekitarnya, dia tak lebih dari sekadar ATM berjalan.
Kesadaran Arga lantas melayang jauh menembus waktu puluhan tahun ke belakang, ke satu-satunya keluarga yang peduli padanya, Andini.
Istri pertama yang belakangan baru Arga sadari… begitu cantik.
Mereka menikah bukan karena cinta, melainkan karena wasiat terakhir kakek Arga.
Arga yang saat itu masih muda dan naif dipaksa menikahi Andini, anak yatim piatu piaraan tetangga karena dianggap "membawa hoki".
Namun, bagi Arga saat itu, Andini hanyalah wanita desa yang bau matahari dan lumpur. Wajahnya juga kusam dan tubuhnya terlalu kurus.
Dia tidak mau repot-repot peduli bagaimana Andini bangun paling pagi untuk mengurus rumah dan merawat Ayah Arga, Darman, yang lumpuh akibat stroke.
Arga juga tak pernah peduli bahwa Andini menyisihkan sebagian upahnya sebagai buruh tani hanya untuk membelikannya sehelai baju baru.
Agar suaminya tidak merasa malu saat berkumpul dengan para pemuda desa.
Ia melakukan itu tanpa mempedulikan kain dasternya sendiri yang sudah ditambal di sana-sini hingga tak jelas lagi warna aslinya.
“Andini .…” Mengingat ini, Arga merasa susah bernapas. Dadanya sesak. Air matanya tiba-tiba mengalir menembus masker oksigennya.
Mengingat Andini berarti mengingat saat Arga meninggalkannya demi Siska, janda desa tetangga yang dianggapnya lebih “berkelas” dengan bedak tebal di wajahnya.
Arga juga kembali mengingat dosa besar yang selama ini berusaha dia hilangkan dari ingatan, mencuri sertifikat rumah juga kebun kangkung dua hektar milik ayahnya.
Satu-satunya harta warisan leluhur keluarga Winata yang tersisa.
Namun, dulu dia tidak peduli. Cintanya pada Siska harus dibuktikan dengan uang, sehingga menjual tanah menjadi jalan pintas mendapat pundi rupiah untuk modal melamar janda itu.
Tanpa melihat ke belakang, Arga menjual tanah pada Juragan Kardi dan membawa Siska pindah ke kota, meninggalkan Andini dan Ayahnya dalam keterpurukan.
Semakin lama, Arga semakin tidak bisa mengontrol tangisannya di atas ranjang rumah sakit.
Dia sungguh menyesal, karena ternyata pergi ke kota membuatnya merasakan keberhasilan semu yang akan berbuah karma.
Meski berhasil menikahi Siska dan hidup mewah membangun bisnis agribisnis, hidupnya malah hancur secara mental.
Siska berselingkuh dengan Rendi yang merupakan sahabatnya, dan merampas semua aset awal Arga yang ironisnya berasal dari hasil jual tanah Bapak.
Dengan sisa harga diri yang hancur, Arga pernah mencoba pulang ke desa untuk meminta maaf. Namun, takdir telah menutup pintu rapat-rapat.
Andini tewas diterkam buaya, sementara Pak Darman, ayahnya, meninggal karena serangan jantung.
Bahkan, saat ditemukan, jasad Andini sudah tidak lengkap. Sebelah kakinya hilang karena telah termakan buaya sungai.
“Oh Tuhan …,” racau Arga di sela napasnya yang mulai pendek-pendek. "Aku membunuh mereka …”
“Aku layak Engkau hukum atas segala dosaku..."
Racauan dan tangisan pilu Arga semakin keras, membuat suster yang berjaga datang tergesa.
Bunyi monitor jantung di samping ranjang Arga tiba-tiba berdetak makin cepat—bip… bip… bip…—nyaring dan tak beraturan.
Napas Arga tersengal, berat, seolah paru-parunya tak lagi mau bekerja sama. Di masa ini, Arga tahu kalau waktunya hampir habis.
Di tengah para suster yang berusaha menyuntikkan obat penenang melalui selang infus, dia memandang langit-langit kamar dengan tatapan kosong.
Berharap dengan sepenuh jiwa.
Seandainya bisa menukar semua gedung dan perkebunannya hanya demi satu hari melihat Andini tersenyum, dia akan melakukannya.
“Tuhan… jika Engkau masih mau mendengar pendosa ini… beri aku satu kesempatan… satu kali saja…”
Setelah itu, pandangannya mulai merabun dan cahaya memudar menjadi kelabu.
Sebuah Saung, di Perbatasan Desa Bangun Jaya
Arga Winata tersentak bangun di sebuah pos ronda yang berada di pinggir jalan raya.
Alih-alih mendengar suara mesin jantung dan teriakan panik suster, kini semua terasa lebih hening.
Yang ada hanyalah suara angin pegunungan dan kring bel sepeda yang sesekali lewat.
Di samping Arga ada tas kain berisi baju-baju lusuh dan sisa uang yang tak seberapa.
“Ini ... bukannya di perbatasan desa?” Jantung Arga mulai berdegup tak beraturan. Ia meraba dadanya, tidak ada rasa sakit. Ia meraba wajahnya, tidak ada selang oksigen.
“Kok bisa ada di sini?”
Kemudian Arga melihat sebuah koran Suara Merdeka yang tergeletak di lantai tanah.
15 Mei 1988.
"Ini ... ini hari itu!" Arga mulai gemetar hebat.
Ini adalah hari di mana ia baru saja diusir oleh Siska setelah perselingkuhan wanita itu terbongkar di kota kecamatan.
Dalam garis waktu aslinya, Arga yang depresi memilih tidur di gubuk ini selama tiga jam karena kelelahan setelah berjalan kaki, menunggu truk angkutan lewat.
Karena tidurnya itu, ia terlambat sampai di rumah.
Saat ia sampai, Andini sudah menjadi jasad di pinggir sungai, dan ayahnya sudah kaku di kamar kena serangan jantung akibat didatangi oleh rentenir.
Arga melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Pukul 14.15 sore.
"Satu jam lagi ...." Arga bicara pada dirinya sendiri dengan suara bergetar. "Satu jam lagi, Andini akan pergi ke sungai untuk mencuci."
Ingatannya sebagai ahli pertanian kelas wahid di masa depan berputar cepat. Ia tahu pola air sungai di bulan Mei.
Ia tahu ini adalah musim kawin predator sungai, saat mereka menjadi sangat agresif dan mendekat ke tepian karena air surut.
"Aku tidak boleh menunggu lagi!" seru Arga. Dulu menurutnya, jalan kaki sejauh lima kilometer adalah siksaan.
Namun, sekarang setelah penyesalan yang membakar jiwanya selama puluhan tahun, jarak itu terasa seperti sejengkal.
Ia menyambar tasnya, tak peduli dengan sandalnya yang tiba-tiba saja putus. Ia membuang sandalnya dan berlari tanpa alas kaki.
Arga pun mulai berlari menjauhi jalan raya, melewati jalan setapak di antara ladang jagung.
Kali ini, ia tidak akan membiarkan Andini mencuci. Ia tidak akan membiarkan ayahnya dirundung rentenir.
Ia juga akan merebut kembali sertifikat tanah dan rumah itu dari tangan Pak Kardi!
"Tunggu aku, Andini! Bapak!!" Langkah kaki Arga menghantam tanah becek dengan kekuatan yang luar biasa.
Beberapa kali Arga berhenti untuk mengambil napas yang terasa panas di dada, tapi belum tiga detik, dia kembali berlari.
Keringat membanjiri kaos singletnya yang dekil, tapi matanya menyala dengan tekad yang tidak bisa dihentikan oleh apa pun.
Ia melihat jamnya lagi. Tinggal lima belas menit.
Saat ia hampir mencapai gerbang desa, ia berlari semakin kencang. Masuk semakin jauh, menuju ke bagian hulu sungai yang arusnya tenang, tapi mematikan.
Tinggal lima menit.
Dari kejauhan, Arga bisa melihat sosok wanita kecil berbaju daster kusam, memanggul bakul berisi pakaian kotor.
Berjalan turun ke arah tepian sungai yang rimbun oleh pohon beringin. Tinggal beberapa langkah lagi sebelum kakinya menyentuh air.
"ANDINI, BERHENTI DI SANA!” Arga berteriak sekuat tenaga. “JANGAN KE SUNGAI!"
Andini menoleh perlahan dengan raut wajah bingung sekaligus terluka melihat suaminya yang menghilang berbulan-bulan tiba-tiba muncul.
Di saat yang sama, dari balik semak belukar di pinggir sungai yang tenang, air mulai beriak.
Sepasang mata kuning yang dingin sudah membidik sasaran!