

Layar mesin ATM itu berpendar pucat di dalam ruangan kaca sempit yang dinginnya terasa menusuk hingga ke tulang. Kaelo berdiri mematung, menatap angka yang tertera di layar dengan napas yang tertahan di tenggorokan. Lima digit. Hanya tersisa lima digit, dan bulan ini masih menyisakan sepuluh hari lagi sebelum tanggal gajian dari toko buku tempatnya bekerja sampingan tiba.
Ia menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang membawa beban berat dari pundaknya yang lelah. Jemarinya yang sedikit kasar akibat terlalu sering mengangkat kardus stok buku menekan tombol 'Keluar'. Dengan gerakan lunglai, ia memasukkan kartu ATM-nya ke dalam dompet usang yang kulitnya sudah mulai mengelupas di bagian sudut. Di dalam dompet itu, selain kartu, hanya ada beberapa lembar uang sepuluh ribu yang sudah lusuh dan setumpuk struk belanja yang ia simpan sebagai pengingat betapa kejamnya inflasi bagi dompet seorang mahasiswa tingkat akhir.
Keluar dari ruangan ATM, udara sore kota yang lembap setelah diguyur hujan menyambutnya. Aroma aspal basah bercampur dengan asap knalpot menciptakan suasana melankolis yang sudah sangat akrab bagi Kaelo. Ia berjalan menuju motor tua kesayangannya, sebuah kendaraan yang mesinnya sering kali batuk-batuk jika dipaksa menanjak, namun tetap setia menemaninya berjuang di kota ini. Baginya, motor itu bukan sekadar alat transportasi, melainkan saksi bisu betapa kerasnya ia harus menabung demi bisa mengganti oli setiap dua bulan sekali.
Kaelo adalah tipe pria yang tidak banyak menuntut pada hidup. Baginya, bisa makan tiga kali sehari—meskipun sering kali hanya nasi dengan telur dadar atau mi instan—sudah merupakan sebuah kemenangan kecil yang patut dirayakan. Namun, ada kalanya realita ekonomi yang pas-pasan ini mencubit kesadarannya dengan keras. Seperti sore ini, saat ia harus menghitung dengan saksama apakah sisa uangnya cukup untuk bensin seminggu ke depan atau ia harus mulai berjalan kaki ke kampus yang jaraknya tiga kilometer dari kost.
Di dalam pikirannya, ia mulai membuat kalkulasi matematis yang rumit—lebih rumit dari mata kuliah statistik yang ia ambil semester lalu. Jika aku melewatkan sarapan dan hanya minum air putih yang banyak, aku bisa menghemat sepuluh ribu sehari. Jika aku tidak membeli kopi di kantin dan membawa botol minum sendiri, aku bisa membeli bensin cadangan. Begitulah cara Kaelo bertahan hidup: sebuah seni bertahan dari satu koin ke koin lainnya.
Sesampainya di kost-an—sebuah bangunan dua lantai dengan cat dinding yang mulai memudar dan deretan jemuran yang tak pernah rapi—Kaelo tidak langsung masuk ke kamarnya. Ia memilih duduk di bangku kayu panjang yang ada di teras depan. Bangku itu sudah tua, kayunya sedikit berderit setiap kali ada yang duduk di atasnya, namun dari sana ia bisa melihat langit sore yang perlahan berubah warna menjadi jingga keunguan.
Ia mengeluarkan sebuah tas ransel dari pundaknya. Ritsletingnya sudah agak macet, tersangkut pada benang yang terlepas. Dengan penuh ketelatenan, Kaelo mencoba memperbaikinya menggunakan klip kertas yang ia temukan di saku celananya. Tangannya bergerak cekatan, memutar-mutar kawat kecil itu agar ritsleting kembali pada jalurnya. Hidup pas-pasan telah mengajarinya satu hal penting: jangan pernah membuang barang selama masih bisa diakali dengan akal sehat dan sedikit kreativitas.
"Jangan dipaksa, Kae. Nanti malah makin hancur. Kalau sudah waktunya pensiun, ya pensiunkan saja."
Suara itu datang tanpa peringatan. Datar, namun memiliki nada yang sangat familiar yang mampu mencairkan kesunyian di teras itu. Kaelo tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemiliknya. Aroma minyak goreng yang gurih dan uap hangat menyusul suara itu, menyerbu indra penciumannya sebelum sosok sang pemilik suara duduk di sampingnya.
Zoya.
Gadis itu duduk dengan santai, menyilangkan kakinya yang hanya beralaskan sandal jepit yang sudah tipis haknya. Ia mengenakan kaus oblong kedodoran warna abu-abu yang sepertinya sudah dicuci ratusan kali, dan celana kain panjang motif kotak-kotak. Pakaian "dinas" khasnya jika sudah berada di kost. Di tangannya, ada sebuah kantong plastik putih yang terlihat berminyak, namun dari aromanya, Kaelo tahu itu adalah harta karun.
"Lagi latihan jadi tukang jahit atau mau buka jasa servis tas keliling?" sindir Zoya, namun matanya menatap jemari Kaelo yang masih sibuk dengan ritsleting itu dengan sorot yang jauh lebih lembut dari kata-katanya.
Kaelo mendengus kecil, akhirnya menyerah dengan klip kertasnya setelah ritsleting itu berhasil tertutup meski sedikit miring. "Beli baru mahal, Zoy. Selama belum bolong sampai barangnya jatuh semua, masih layak pakai. Lagi pula, tas ini sudah menemaniku dari semester satu. Kita sudah punya ikatan batin."
Zoya tidak menjawab. Ia justru membuka kantong plastik di pangkuannya dengan gerakan yang sengaja diperlambat. Aroma bakwan jagung dan tahu isi yang masih panas langsung menguar, memenuhi udara teras yang dingin.
Wajah Kaelo memerah. Ia mencoba memalingkan wajah, pura-pura tertarik pada seekor kucing liar yang sedang berusaha mengejar ekornya sendiri di depan gerbang kost. Namun, suara perutnya tidak bisa diajak bekerja sama. Bunyi keroncongan yang cukup keras memecah keheningan sore itu.
Zoya tertawa kecil, suara tawanya yang renyah terdengar seperti musik di tengah kepenatan Kaelo. "Nggak usah gengsi. Tadi di depan ada promo gila, 'Beli 5 Gratis 5'. Abangnya mau tutup, jadi dikasih bonus banyak banget. Aku nggak mungkin habis sendiri, bisa kolesterol aku kalau makan semua ini dalam semalam. Bantu aku menghabiskannya, atau aku buang ke tempat sampah."
Kaelo tahu betul Zoya berbohong. Toko gorengan di depan kost mereka tidak pernah memberikan promo semacam itu. Zoya pasti sengaja membelinya dengan uangnya sendiri karena ia tahu Kaelo belum makan sejak siang. Kaelo tahu, karena tadi siang ia melihat Zoya memperhatikannya yang hanya meminum air putih di perpustakaan.
Zoya mengambil sebuah tahu isi yang masih mengepul, lalu menyodorkannya tepat di depan bibir Kaelo. "Makan, Kae. Jangan sampai pingsan di teras, nanti aku repot harus gotong kamu ke dalam. Badanmu itu tulang semua, tapi tetap saja berat."
Kaelo menatap tahu itu, lalu menatap Zoya. Gadis itu memiliki tatapan yang keras kepala, tipe yang tidak akan menerima penolakan dalam bentuk apa pun. Akhirnya, Kaelo menyerah. Ia membuka mulut dan menerima suapan itu. Rasa gurih, asin, dan hangat menjalar di lidahnya, memberikan sedikit energi yang sangat ia butuhkan. Sesuatu yang lebih dari sekadar makanan—ia merasakan kepedulian.
"Pelan-pelan, nggak ada yang minta. Abis ini minum, aku juga bawa teh botol satu," gumam Zoya, suaranya sedikit melunak. Ia kemudian mengambil sepotong bakwan untuk dirinya sendiri dan mulai mengunyah dengan santai.
Mereka duduk diam di sana selama beberapa saat, hanya ditemani suara kunyahan dan deru kendaraan di kejauhan yang mulai padat karena jam pulang kantor. Tidak ada kata-kata manis yang meluap-luap. Hanya dua orang yang sedang berjuang dengan cara masing-masing, duduk bersisian di atas bangku kayu tua yang hampir lapuk.
"Tadi aku dari ATM," ucap Kaelo tiba-tiba, suaranya pelan, hampir tertutup angin sore yang membawa hawa dingin.
Zoya berhenti mengunyah sebentar, tapi ia tidak langsung menoleh. Ia menatap lurus ke depan, ke arah deretan kabel listrik yang saling silang di atas jalanan. "Sisa berapa? Cukup buat beli nasi padang paket komplit?"
"Cukup buat beli paket data yang paling murah sama bensin sampai Senin depan. Sisanya... kayaknya aku harus mulai akrab sama air putih buat ganjal perut kalau malam-malam lapar." Kaelo tertawa getir, mencoba menutupi rasa malunya. "Hidup kok gini-gini amat ya, Zoy? Padahal aku sudah kerja lembur di toko buku sampai jam sepuluh malam setiap hari."
Zoya terdiam. Ia meletakkan sisa gorengannya kembali ke plastik, lalu menoleh menatap Kaelo dengan tatapan yang sangat dalam. Lampu teras yang kuning temaram membuat bayangan di wajah Zoya terlihat lebih tegas.
"Kae, hidup itu bukan tentang berapa digit yang ada di layar ATM-mu," kata Zoya pelan namun penuh penekanan. "Tentu, uang itu penting. Aku juga nggak munafik, aku benci kalau saldoku tinggal sedikit. Tapi, lihat diri kamu. Kamu mahasiswa berprestasi, kamu pekerja keras, dan kamu nggak pernah mencuri milik orang lain. Itu jauh lebih berharga daripada saldo jutaan hasil minta orang tua."
Kaelo menatap Zoya, sedikit terkejut dengan nada bicaranya yang serius. "Tapi kadang aku merasa lelah, Zoy. Lelah harus selalu menghitung uang setiap kali ingin makan. Lelah harus menambal tas dengan klip kertas sementara teman-teman yang lain gonta-ganti gadget terbaru."
Zoya menggeser duduknya, sedikit lebih dekat ke arah Kaelo. Aroma sabun mandi yang murah namun segar dari tubuh Zoya tercium oleh Kaelo. "Tenang saja. Aku baru dapat komisi dari jualan online tadi siang. Lumayan untuk menambah stok mi instan di lemari kita. Anggap saja gorengan ini adalah DP untuk bantuanku di hari-hari sulitmu nanti. Kita ini tim, kan?"
Kaelo menoleh, menatap Zoya dengan tulus. "Zoy, kamu nggak perlu sesering ini membantuku. Kamu juga punya kebutuhan sendiri."
"Laptop bisa nunggu, Kae. Perutmu nggak bisa," potong Zoya cepat. Ia kemudian tersenyum, sebuah senyuman yang jarang ia perlihatkan kepada orang lain—senyuman yang terasa sangat hangat dan protektif. "Lagi pula, siapa lagi yang mau mengantar aku ke pasar subuh-subuh kalau bukan kamu? Anggap saja ini biaya sewa supir pribadi."
Kaelo tertegun. Ia selalu bertanya-tanya dalam hati, apa yang membuat Zoya begitu betah berada di dekatnya yang tidak punya apa-apa ini. Ia bukan pria populer di kampus. Ia bukan pria yang bisa menjanjikan kemewahan. Ia hanya pria yang bisa memperbaiki ritsleting tas dengan klip kertas dan selalu bersedia mendengarkan keluh kesah mereka.
"Kenapa kamu baik banget sama aku, Zoy?" tanya Kaelo, suaranya nyaris berbisik.
Zoya mengangkat bahu, kembali menatap langit yang kini sudah gelap sepenuhnya. Bintang-bintang mulai muncul satu per satu, malu-malu di balik awan tipis.
"Karena kamu itu kayak teh tawar, Kae," jawab Zoya dengan nada misterius.
"Hah? Teh tawar? Maksudnya?"
"Sederhana, nggak neko-neko, nggak bikin enek karena terlalu banyak gula, tapi entah kenapa bikin tenang kalau diminum sore-sore begini saat dunia lagi berisik-berisiknya." Zoya berdiri, menepuk-nepuk bagian belakang celananya untuk menghilangkan sisa remah gorengan yang menempel. "Habiskan itu plastiknya. Jangan ada yang sisa. Aku mau masuk duluan, mau mandi. Badan sudah bau matahari."
Zoya berjalan menuju pintu masuk kost, namun langkahnya terhenti di ambang pintu. Ia menoleh sedikit, memberikan tatapan yang sulit diartikan.
"Besok jangan lupa, kita berangkat bareng. Aku mau nebeng motor bututmu itu ke kampus. Jangan telat jemput aku di depan kamar. Bensinnya aku yang tanggung untuk besok pagi, jadi kamu nggak usah mampir ke ATM lagi."
Sebelum Kaelo sempat memberikan balasan atau protes, Zoya sudah menghilang ke dalam koridor kost yang gelap, meninggalkan Kaelo sendirian dengan kantong plastik gorengan yang masih menyisakan sedikit kehangatan di pangkuannya.
Kaelo mengambil sepotong bakwan terakhir yang sudah mulai dingin. Ia mengunyahnya perlahan, meresapi setiap rasa yang ada di sana. Ia tersenyum tipis. Mungkin dunianya memang pas-pasan, mungkin saldonya memang berada di ambang batas bawah yang mengkhawatirkan, tapi entah mengapa, sore ini rasa lapar di perutnya benar-benar hilang. Kehangatan yang diberikan Zoya seolah mengisi lubang kosong di dadanya yang selama ini dipenuhi oleh kekhawatiran tentang masa depan.
Ia merogoh saku tasnya, mengeluarkan sebuah buku catatan kecil yang sampulnya sudah lusuh. Di halaman paling depan, ia melihat sebuah coretan kecil yang ia buat saat sedang melamun di kelas—coretan yang hanya ia pahami maknanya. Ia menutup buku itu, menyampirkan tasnya yang ritsletingnya sudah terperbaiki dengan klip kertas, lalu berdiri.
Kaelo melangkah masuk ke dalam kost-an dengan langkah yang lebih mantap. Ia tidak lagi memikirkan angka lima digit di layar ATM itu. Baginya, selama ia masih memiliki teman yang peduli dan sebungkus gorengan untuk dibagi, ia merasa cukup kaya untuk menghadapi hari esok. Di dalam kegelapan koridor, ia bergumam pelan pada dirinya sendiri, sebuah janji untuk terus berjuang.
Sore itu ia belajar satu hal: satu kepedulian bisa mengubah cara pandang seseorang terhadap dunia yang sempit. Dan ia tahu, hari esok akan membawa kejutan lain di balik pintu-pintu kosan yang berderet itu. Kaelo masuk ke kamarnya, menyalakan lampu neon yang sedikit berkedip, dan mulai menyiapkan buku pelajarannya untuk esok hari dengan semangat yang baru.