Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Petarung Bulan Sabit

Petarung Bulan Sabit

Klan_Qing | Bersambung
Jumlah kata
45.8K
Popular
616
Subscribe
63
Novel / Petarung Bulan Sabit
Petarung Bulan Sabit

Petarung Bulan Sabit

Klan_Qing| Bersambung
Jumlah Kata
45.8K
Popular
616
Subscribe
63
Sinopsis
18+FantasiFantasi TimurPertualanganKekuatan SuperDewa Perang
Follow ig aku: (klanqing): Adhy Sangaji adalah Murid Pelayan di Perguruan Awan Putih di Pegunungan Panah Buru.Hampir setiap hari dia ditindas dan direndahkan.Tapi semuanya berubah setelah Warisan Kuno memilihnya sebagai Pewaris.Dia bangkit dengan kekuatan yang mengguncang Dunia Kultivasi.Dia menghancurkan semua kejahatan dan dikenal sebagai Petarung Bulan Sabit. Sejak saat itu, Bahkan Dewa dan Iblis pun gemetar mendengar namanya.
Bab 01. Awal

Angin dingin berhembus melewati Lembah yang sunyi.

Asap tipis masih mengepul dari puing-puing rumah kayu yang hangus.

Bau kayu terbakar bercampur dengan aroma darah memenuhi udara.

Aroma itu membuat siapapun merasakan ada tragedi yang baru saja terjadi.

Desa kecil itu telah berubah menjadi lautan Reruntuhan.

Tidak ada lagi suara manusia, tidak ada tangisan dan tidak ada lagi jeritan.

Yang ada hanyalah kesunyian yang menyesakkan jiwa.

Di tengah kesunyian itu, langkah kaki terdengar di antara puing-puing Desa.

Seorang lelaki tua berjalan dengan tangan di belakang punggungnya.

Lelaki tua itu adalah Tetua Ahmad dari Perguruan Awan Putih.

"Hmm?"

Tetua Ahmad berhenti saat merasakan aura kehidupan.

Sebuah aura kehidupan yang sangat lemah.

Tetua Ahmad kemudian melambaikan tangannya.

Balok-balok kayu besar yang menindih Reruntuhan pun terangkat ke udara.

Satu persatu puing disingkirkan oleh Tetua Ahmad.

Hingga akhirnya sesosok kecil terlihat di bawahnya.

Seorang anak laki-laki yang dipenuhi debu dan darah kering.

Pakaiannya sobek di banyak tempat dan kulitnya penuh luka kecil.

"Dia masih hidup?"

"Menarik."

Tetua Ahmad berlutut dan meletakkan 2 jari di pergelangan tangan anak itu.

Whush...

Energi Qi mengalir masuk ke anak kecil itu dan memulihkannya.

"Masih bertahan setelah semua ini."

Gumam Tetua Ahmad mengerutkan kening.

Kemudian dia menatap wajah anak itu dengan rasa ingin tahu.

"Ugh..."

Tiba-tiba sebuah erangan lemah keluar dari anak kecil.

Kelopak matanya bergetar dan akhirnya matanya terbuka.

anak itu mencoba menggerakkan tubuhnya.

Tapi rasa sakit membuatnya meringis.

"Jangan bergerak."

Ucap Tetua Ahmad pelan.

Anak itu menoleh dan melihat lelaki tua di sampingnya.

"Jangan dulu bergerak. Lukamu masih parah."

Tetua Ahmad menahan bahu anak itu dengan lembut.

"Kalau kamu ingin balas dendam, Ikutlah denganku."

Ucap Tetua Ahmad mengajaknya pergi.

"Lepaskan aku!"

Anak itu itu menepis tangan Tetua Ahmad dan mencari orang tuanya.

Tapi tidak lama kemudian, anak itu jatuh dan tidak sadarkan diri.

"Malang sekali nasibmu, Bocah."

Tetua Ahmad menggeleng dan membawa anak itu pergi.

Tanpa terasa 12 tahun telah berlalu dengan cepat.

Angin pagi bertiup lembut di lereng Gunung Perguruan Awan Putih.

Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan pinus.

Membuat pemandangannya terlihat seperti lukisan hidup.

Namun, di halaman belakang Perguruan, tidak ada keindahan yang bisa dinikmati di sana.

Seorang pemuda kurus sedang memanggul 2 ember air besar di bahunya.

Pemuda itu tidak lain adalah Adhy Sangaji.

Bocah laki-laki yang ditemukan Tetua Ahmad 12 tahun yang lalu.

Anak kecil kurus yang dulu ditemukan di reruntuhan Desa, saat ini telah tumbuh menjadi pemuda berusia 17 tahun.

Karena tidak bisa berkultivasi seperti yang lain, Adhy Sangaji hanya bisa menjadi Murid pelayan di sana.

"Hei, Adhy Sangaji! Cepat sedikit!"

Suara keras terdengar dari belakang.

Adhy Sangaji pun menghentikan langkahnya dan menoleh.

Dia melihat seorang Murid Perguruan berdiri di tangga batu dan menatapnya dengan galak.

"Baik, Tuan Muda."

Jawab Adhy Sangaji hormat.

Lalu kembali menaiki tangga panjang menuju dapur Perguruan.

Setiap langkah yang diambilnya juga terasa sangat berat.

Tapi dia tetap tenang dan membawa air ke atas.

12 tahun hidup sebagai Murid pelayan, membuatnya terbiasa dengan pekerjaan seperti ini.

"Kamu terlambat lagi."

Setibanya di dapur Perguruan, Murid Pelayan tua menatap tajam padanya.

"Maaf, Senior."

Adhy Sangaji hanya bisa menundukkan kepala.

"Lain kali jangan lambat."

Pria tua itu mendengus dan meninggalkannya.

Adhy Sangaji hanya mengangguk dan tidak mengatakan apa-apa.

Di Perguruan Awan Putih, Murid pelayan tidak memiliki hak untuk membela diri.

Apalagi dia hanya Murid Pelayan Junior.

Setelah mengisi beberapa tong air besar di dapur, Adhy Sangaji kembali turun ke sungai.

Saat keluar dari dapur, beberapa Murid Perguruan melewati tempat itu.

Mereka mengenakan jubah putih bersih dengan simbol Awan di dada.

Mereka adalah Murid Luar Perguruan Awan Putih.

"Lihat Murid pelayan itu. Dia bekerja seperti keledai setiap hari."

Ucap salah satu menatap Adhy Sangaji dengan jijik.

Beberapa dari mereka juga tersenyum meremehkan.

Tapi Adhy Sangaji tetap berjalan tanpa melihat mereka.

Sudah terlalu sering dia mendengar kata-kata seperti itu.

Jika itu beberapa tahun yang lalu, dia akan merasa marah atau sedih.

Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang terus tumbuh selama bertahun-tahun ini.

Yaitu tekad.

Tekad untuk menjadi kuat dan menghancurkan semua ketidakadilan.

Adhy Sangaji menuruni tangga batu menuju halaman latihan.

Di sana, beberapa Murid luar sedang berlatih pedang.

Gerakan mereka cepat dan gesit.

Adhy Sangaji berhenti dan menatap latihan itu dengan serius.

"Apa aku benar-benar tidak bisa berkultivasi?"

Gumamnya membatin sedih.

Entah kenapa pemuda ini tidak bisa berkultivasi sama sekali.

Setiap kali dia berkultivasi, Energi Qi yang diserapnya itu seolah menabrak dinding kokoh dan tidak menembus ke dantiannya.

"Apa yang kamu lihat, Sampah?"

Saat memperhatikan mereka, salah satu Murid menoleh dan membentak Adhy Sangaji.

"Maaf, Tuan Muda."

Adhy Sangaji segera menundukkan kepala dan minta maaf.

"Kalau sudah selesai menyapu, Pergi dari sini."

Murid itu mendengus dan mengusirnya.

"Baik, Tuan Muda."

Adhy Sangaji kembali mengangguk pelan dan meninggalkan tempat itu.

"Aku harus bersabar."

Gumamnya membatin.

Angin Gunung kembali berhembus melewati halaman Perguruan.

Tidak ada yang memperhatikan pemuda kurus yang berjalan menuruni tangga itu.

Bagi mereka, Adhy Sangaji hanyalah pelayan biasa.

Tidak penting, tidak berbakat dan tidak berarti.

"Apa kamu baik-baik saja?"

Saat menuruni anak tangga, sebuah suara terdengar dari samping.

Adhy Sangaji menoleh dan menemukan seorang gadis di sana.

Sejak satu tahun yang lalu, gadis itu selalu baik pada Adhy Sangaji.

Bahkan seringkali dia memberikan harta langit untuk Adhy Sangaji.

"Aku baik-baik saja, Senior."

Adhy Sangaji tersenyum mengangguk.

"Aku memiliki sesuatu untukmu."

Gadis itu mendekat dan mengeluarkan sesuatu.

"Ini adalah Jamur Darah Naga. Jamur ini akan membantumu membentuk dantian. Terimalah."

Ucapnya menjelaskan dan memberikan Jamur Darah Naga.

"Apa? Jamur Darah Naga?"

Adhy Sangaji terbelalak mendengarnya.

Walaupun tidak tahu banyak soal tanaman herbal, tapi Adhy Sangaji tahu Jamur Darah Naga ini.

Ini adalah harta langit yang sangat berharga.

Bahkan Keluarga Bangsawan pun belum tentu memilikinya.

"Tidak Senior. Aku tidak pantas menerima Jamur ini."

Adhy Sangaji segera menolak dan tidak mau mengambilnya.

Jamur Darah Naga terlalu berharga untuk pemuda sepertinya.

"Aku akan marah kalau kamu menolak."

Gadis itu berpura-pura marah dan membalikkan badannya.

"Ini..."

"Baiklah."

Akhirnya Adhy Sangaji menerima Jamur Darah Naga dengan terpaksa.

"Terima kasih, Senior Andini. Aku akan membalasnya di masa depan."

Adhy Sangaji menunduk dalam-dalam dan berterima kasih.

"Baiklah. Jaga dirimu."

Gadis itu tersenyum dan meninggalkan Adhy Sangaji.

*******

Ranah Kultivasi di Alam Bawah.

Ahli Bumi

Ahli Langit

Ahli Raja

Ahli Kaisar

Ahli Suci

Ahli Surga

Ahli Dewa

Setiap ranah terdapat 10 bintang

Dan setiap bintang ada 5 tahapan

Yaitu tahap awal

Tahap menengah

Tahap akhir

Tahap puncak

Dan tahap sempurna.

Lanjut membaca
Lanjut membaca