

“Hadeh, hidupku kok menderita sekali sih. Wahai Yang Maha Kuasa, di mana letak kesalahanku sebenarnya?”
“Mengapa aku harus bernasib sial terus seperti ini hampir seumur hidupku? Heran sekali aku, alamak!”
Pemuda berusia 25 tahun itu bergumam sendiri, berdiri di atas balkon, terus saja mengeluhkan nasibnya seolah yang paling menderita di dunia ini.
Namanya Bejo Sagara, seorang pria yang hidupnya tidak beruntung sama sekali sejak terlahir di dunia yang fana ini.
Padahal, ibunya sudah menamai dirinya dengan nama terbaik yang bisa dipikirkan oleh orang tua sepertinya.
Ibunya adalah orang Jawa sedangkan ayahnya adalah orang Sunda. Nama Bejo Sagara diambil dari kedua sisi orang tuanya itu.
Harapannya, menjadi cinta yang tak lekang oleh ruang dan waktu. Bejo diambil dari bahasa Jawa yang artinya beruntung, mujur, atau mendapatkan nasib baik.
Sagara di sisi lain berarti lautan atau samudera. Bersama-sama, kedua kata itu digabungkan menjadi doa keberuntungan seluas samudera.
Namun, entah bagaimana ceritanya, hanya kata Sagara saja yang berfungsi di sini. Adapun kata Bejo malah rasanya sedang eror atau malfungsi.
Nasib hidupnya Bejo Sagara dipenuhi dengan kemalangan seluas samudera, alih-alih keberuntungan yang nyatanya tidak kunjung tiba juga.
Malapetaka terus berdatangan sejak dia masih dalam kandungan hingga usianya sudah mencapai 25 tahun ini. Bahkan, orang-orang terdekatnya juga ikut terdampak.
Fakta kalau dia masih hidup saja sudah sangat luar biasa, hingga menjadi bahan ngomongan orang lain yang paham betul tentang dirinya yang selalu membawa kesialan.
Bayangkan saja, saat masih dalam kandungan rahim ibunya, Bejo Sagara sudah berlatih Pencak Silat secara mandiri. Dengan tak tahu malunya, dia menjadikan rahim ibunya sendiri sebagai karung tinju.
Akibatnya, setiap kali Bejo Sagara melayangkan tendangan mungilnya, sang ibu menjerit-jerit kesakitan hingga jatuh pingsan. Sang ayah harus berulang kali membawanya ke rumah sakit untuk pengobatan lebih lanjut.
Kalau tidak salah ingat, percakapan antara sang ayah dan dokter yang merawat ibunya terdengar absurd sekali. Kurang lebih, seperti di bawah ini.
***
“Dokter, apa yang sebenarnya terjadi kepada istrinya saya? Kok rasanya malah semakin aneh saja sejak hamil. Hampir setiap beberapa hari, istri saya menjerit-jerit, lalu tiba-tiba kehilangan kesadarannya!”
Sang ayah menatap lekat-lekat dokter yang ada di hadapannya. Dokter tersebut mengerutkan keningnya setelah mengecek kondisi sang ibu.
“Tidak bisa dianggap remeh lagi. Istri Anda kemungkinan besar tidak hamil seorang buah hati, tapi seorang buah kiamat! Kalau dibiarkan terus, hasilnya akhirnya akan sangat mengerikan!” jawab dokter itu terlihat serius sambil geleng-geleng kepala.
Sang ayah membelalakkan matanya. “Hah? Maksudnya apa sih? Kalau ngomong yang jelas saja, jangan pakai kata-kata puitis! Tentu saja, Anda sebagai dokter harus memberikan solusi pengobatannya juga!” ujarnya.
Dokter tersebut menghela napas sambil geleng-geleng kepala entah berapa kali jumlahnya. Sang ayah dibuat melotot, hampir saja menampar langsung wajah dokter yang gak jelas itu.
“Jawablah cepat! Jangan diam saja!” tegas sang ayah meradang amarahnya ketika melihat ekspresi wajahnya istrinya memucat, meski dalam keadaan pingsan.
“Maafkan saya, Pak! Saya hanya bisa menyarankan untuk melakukan kemoterapi sekarang juga. Jujur saja, saya yakin seratus persen kalau istri Anda mengandung sel kanker yang sangat berbahaya, bukan bayi!”
Jawaban dari dokter sudah absurd sekali. Hasilnya, urat nadi sang ayah membara dan batas kesabarannya sudah hancur. Tanpa basa-basi, dia memukuli dokter tersebut.
Kabarnya, sang ayah bahkan harus sampai dipenjara gara-gara perbuatannya itu. Dokter yang dipukulinya sudah babak belur, ikut-ikutan dipenjara juga.
Pasalnya, dokter itu ketahuan kalau dirinya hanyalah dokter abal-abal, tanpa sertifikat yang sah. Adapun diagnosisnya terbukti tidak berdasar sama sekali.
***
Kejadian itu adalah salah satu bukti bahwa, Bejo Sagara hanya membawa kesialan saja di dunia ini bahkan sebelum dirinya dilahirkan.
Nasib sialnya tidak kunjung berhenti saat itu saja. Ketika dirinya berusia lima tahun, bocah itu melarikan diri dari rumahnya tanpa sepengetahuan keluarganya.
Sang ayah dan ibu, beserta keluarga besarnya dibuat panik setengah mati. Mereka berulang kali mencarinya di seluruh seluk beluk rumah mereka.
Bahkan, mereka sampai harus mengerahkan polisi, pemadam kebakaran, hingga anggota militer untuk turut serta mencarinya.
Hasilnya, tetap nihil. Kejadian ini langsung viral diberitakan kemana-mana. Akhirnya, presiden dan para pejabat negara ikut berkunjung untuk membantu mencari keberadaan Bejo Sagara, si bocil laknat itu.
Tentu saja, mereka datang dengan maksud lain. Contohnya, kampanye dan pencitraan publik agar terlihat positif. Namun, alih-alih mendapatkan citra positif, mereka malah mendapatkan malapetaka.
Sebuah meteor purba berukuran sebesar kelereng dalam jumlah banyak menghujani rumahnya Bejo Sagara. Hasilnya, hancur lebur bersama semua orang yang ada di sana.
Tragedi yang memilukan itu menjadi viral. Sosok bocah laknat bernama Bejo Sagara menjadi sorotan publik nasional hingga internasional.
Berbagai macam teori dikemukakan demi menemukan lokasi keberadaan Bejo Sagara. Ternyata, bocah kematian itu sedang jajan cilok di taman kota tak jauh dari rumahnya.
Akibat ulah nakalnya, keluarganya hingga orang-orang elit dari negara malah musnah begitu saja. Bejo Sagara akhirnya diputuskan bersalah tanpa alasan yang jelas.
Tentu saja, pengadilan yang menyatakan dirinya bersalah langsung dibatalkan. Lagi pula, dia hanyalah bocah berusia lima tahun saat itu yang tidak tahu apa-apa.
Namun, reputasinya sudah hancur sehingga kerabatnya tidak ada yang mau mengurusnya. Bocah itu dimasukkan ke dalam Panti Asuhan Dikiru.
Di sana, pihak panti asuhan tidak ingin mengambil resiko. Bejo Sagara dikurung di suatu tempat seorang sendiri, dengan hanya makanan saja yang selalu tiba tepat waktu.
Kejadian itu kembali viral ketika bocor ke publik. Pihak hak asasi manusia menutut keadilan. Akibatnya, semua petugas Panti Asuhan Dikiru beserta para petingginya dijerat pasal berlapis tentang perlindungan bocah kematian.
Mereka semua dijebloskan ke penjara Nusa Kambangan, di mana para kriminal kelas kakap dikurung bersama. Sungguh nasib yang nahas sekali.
Dari peristiwa itu, tidak ada lagi yang mencoba mempermainkan Bejo Sagara. Meski begitu, mereka tetap menjaga jarak aman, tapi juga tidak menyudutkannya.
Hasilnya, Bejo Sagara selalu merasa kesepian hingga tumbuh dewasa tanpa teman yang benar-benar dekat dengannya. Semua orang terasa jauh darinya.
Walaupun semua itu hanyalah kebetulan secara tidak langsung saja, tetapi kebetulan yang terlalu sering menjadi sebuah cerita tersendiri. Ibarat mukjizat para nabi yang datang kebetulan, tetapi menyimpan kebenaran.
Bejo Sagara secara luas diyakini sebagai makhluk pembawa malapetaka. Kurang lebihnya, begitulah kilas balik dari sosok bernama Bejo Sagara, yang akan mengarungi hidupnya dengan dinamika tak menentu ke depannya.
“Bejo, turunlah! Jangan bengong saja di balkon! Tentu saja, ini hanya saran saja, bukan pemaksaan. Kalau tidak mau turun, ya sudahlah!” ujar Pak Mansur.