Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
SANG DETEKTIF ELIT

SANG DETEKTIF ELIT

dwoney | Bersambung
Jumlah kata
44.1K
Popular
100
Subscribe
0
Novel / SANG DETEKTIF ELIT
SANG DETEKTIF ELIT

SANG DETEKTIF ELIT

dwoney| Bersambung
Jumlah Kata
44.1K
Popular
100
Subscribe
0
Sinopsis
PerkotaanAksiGangsterMafiaKriminal
Pandu adalah seorang detektif elit dan Komandan Keamanan brilian yang dikenal selalu berhasil memecahkan berbagai kasus kriminal rumit. Alih-alih duduk di belakang meja, ia punya metode andalan: turun langsung dan menyamar ke sarang penjahat. Di wilayah penugasannya yang baru dan penuh mafia, Tiga Muara, sang detektif elit kembali beraksi memecahkan kasus demi kasus
BAB 1 PIMPINAN BARU & PREMAN PASAR

BAB 1 – Pimpinan Baru dan Preman Pasar Malam

Keadilan itu ibarat lautan yang tenang, namun siap menenggelamkan siapa saja yang berani bermain api. Di dunia ini, karma tidak pernah salah alamat. Orang yang menabur angin, cepat atau lambat pasti akan menuai badai.

Di sebuah kota besar yang hiruk-pikuk, tinggal seorang pria muda bernama Pandu. Ia bukan pemuda sembarangan. Pandu dikenal sebagai sosok yang cerdas, tegas, dan punya prinsip setajam pedang. Ayahnya sudah lama tiada, dan berkat kerja kerasnya, Pandu baru saja mendapat surat keputusan penting: ia ditugaskan menjadi Pengawas Utama di wilayah Tiga Muara, sebuah daerah yang terkenal keras dan rawan konflik.

Hari itu, suasana di kediaman Pandu cukup sibuk. Ia memanggil Pak Anwar, pria paruh baya yang sudah bertahun-tahun mengabdi pada keluarganya.

"Pak Anwar," panggil Pandu dengan nada tenang namun berwibawa. "Bapak kan sudah tahu, saya ditugaskan ke Tiga Muara. Mulai besok, saya akan berangkat. Tolong jaga rumah ini baik-baik selama saya pergi."

Pak Anwar mengangguk hormat. "Baik, Tuan Pandu. Jangan khawatirkan urusan di sini."

"Bagus. Saya hanya akan membawa Edo bersama saya. Tolong panggilkan anak itu."

Tak lama, Edo—pemuda lincah yang selalu setia membuntuti Pandu—masuk dengan wajah sumringah. "Siap, Bos! Kita jadi berangkat besok?"

"Siapkan barang-barang kita," perintah Pandu. "Perjalanan kita tidak akan mudah."

Setelah urusan di depan beres, Pandu melangkah ke kamar, menemui istrinya, Maya. Wanita anggun itu sedang duduk di tepi ranjang. Pandu menatapnya dengan lembut, ada rasa berat di hatinya karena harus meninggalkan sang istri yang sedang mengandung.

"Maya, daerah Tiga Muara itu bukan tempat yang ramah. Aku tidak bisa membawamu ke sana sekarang," ucap Pandu sambil menggenggam tangan istrinya. "Setelah urusan di sana stabil dan aman, aku pasti akan menjemputmu."

Maya tersenyum, sorot matanya penuh pengertian. "Pergilah, Mas. Lakukan tugasmu dengan baik. Jangan khawatirkan aku, aku akan menunggumu di sini sambil menjaga calon anak kita."

Keesokan paginya, sebelum matahari benar-benar terik, Pandu dan Edo menyempatkan diri mampir ke pemakaman keluarga. Pandu berdiri di depan makam ayahnya, memanjatkan doa dalam hati. Ia berjanji akan menggunakan wewenangnya untuk memberantas kejahatan dan melindungi mereka yang lemah. Sebelum pergi, Pandu memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu kepada Maman, si penjaga makam, agar terus merawat tempat itu dengan baik.

Saat kembali ke rumah untuk mengambil tas, sahabat baik Pandu, Reza, datang berkunjung. Reza adalah seorang pengusaha sukses yang sering membantunya.

"Wah, Pimpinan Tiga Muara yang baru sudah siap beraksi rupanya," goda Reza sambil tertawa. Ia menepuk bahu Pandu. "Kawan, wilayah itu isinya preman semua. Hati-hati. Ini ada sedikit bekal untuk perjalananmu." Reza menyodorkan sebuah amplop tebal berisi uang tunai.

"Terima kasih, Za. Aku memang butuh ini. Doakan saja aku bisa membersihkan wilayah itu dari para bajingan," balas Pandu mantap.

Siang itu, alih-alih menggunakan mobil mewah, Pandu memilih menyewa sebuah mobil jip tua. Ia menyetir bergantian dengan Edo, melintasi jalanan antar-kota yang mulai berdebu. Setelah berkendara cukup jauh, mereka memutuskan menepi di sebuah warung kopi pinggir jalan untuk beristirahat.

Edo segera memesan dua gelas kopi hitam. Saat mereka sedang asyik menyeruput kopi, sebuah motor sport berhenti dengan kasar di depan warung. Dua pria berwajah sangar dan berpakaian ugal-ugalan turun, langsung duduk dan berteriak memesan minuman.

Tanpa basa-basi, kedua pria itu menenggak habis minuman mereka, lalu melenggang pergi begitu saja menuju motornya.

"Woy! Main pergi aja, bayar dulu!" gumam Edo kesal melihat tingkah mereka.

Mang Kopi, si pemilik warung, buru-buru menahan lengan Edo dengan wajah pucat. "Ssst, jangan, Mas! Biarin aja. Mas ini pasti orang baru ya? Mereka itu Bowo dan Bimo, anak buahnya Bang Wira."

"Bang Wira siapa?" tanya Pandu penasaran, menaruh cangkir kopinya.

"Wira Si Macan, Bos. Dia itu penguasa wilayah sini. Duitnya banyak, jago bela diri, anak buahnya di mana-mana. Sayangnya, dia suka banget kumpul sama preman-preman jahat," bisik Mang Kopi sambil celingak-celinguk. "Malam ini lagi ada acara Pasar Malam besar-besaran di Desa Karang Jati. Bang Wira dan komplotannya pada ngumpul di sana."

Mata Pandu sedikit menyipit. Ada ketertarikan di wajahnya. "Edo, habiskan kopimu. Kita ubah rute malam ini. Kita mampir ke Pasar Malam Karang Jati."

Begitu malam tiba, suasana Pasar Malam Karang Jati benar-benar tumpah ruah. Suara musik dangdut berdentum keras dari pengeras suara, berpadu dengan aroma jagung bakar dan riuh rendah tawa pengunjung. Wahana permainan anak-anak dan lapak pedagang memenuhi lapangan desa.

Pandu dan Edo duduk di sebuah angkringan, menikmati suasana sambil menajamkan telinga. Di meja sebelah, beberapa bapak-bapak sedang bergosip dengan suara tertahan.

"Gawat ini, Bang Wira bawa anak buahnya kemari. Terus saya denger Zaki Si Naga juga ada di sebelah utara lapangan," kata seorang bapak berbaju batik pudar.

"Zaki yang anak buahnya suka bikin onar itu? Waduh, mending suruh anak perawan pada pulang deh. Komplotan Zaki itu kelakuannya pada bejat, suka gangguin perempuan!" timpal temannya dengan ngeri.

"Eh, udah, jangan keras-keras. Nanti ada yang denger, urusannya bisa panjang," tegur bapak yang pertama.

Mendengar itu, Pandu hanya tersenyum tipis. Ia meletakkan uang pas di meja, lalu memberi isyarat pada Edo untuk mulai berkeliling.

Baru beberapa langkah berjalan menembus kerumunan, pandangan Pandu tertuju pada seorang wanita muda yang berjalan dari arah berlawanan. Wanita itu sangat cantik, dengan riasan tipis dan kebaya modern berwarna ungu muda yang elegan. Ia menggandeng seorang anak laki-laki kecil yang tampak riang memegang kincir angin mainan.

Namun, kedamaian ibu dan anak itu tak berlangsung lama.

Tiba-tiba, segerombolan pria berwajah beringas menghalangi jalan mereka. Pemimpinnya, seorang pria kurus bermata tajam yang dikenal dengan julukan Hendro, menatap wanita itu dengan senyum licik. Di sebelahnya ada Hadi, preman berwajah bopeng yang tertawa genit.

"Aduh, aduh... Mbak cantik ini kok sendirian aja? Suaminya mana? Sini, biar Abang Hendro yang jagain," goda Hendro sambil sengaja menyenggol bahu wanita itu.

Wanita itu mundur selangkah, wajahnya pucat pasi sambil memeluk anaknya erat-erat. "Tolong, Mas, jangan ganggu jalan saya."

"Loh, siapa yang ganggu? Kita kan cuma mau kenalan. Anaknya lucu banget, Ibunya apalagi," sahut Hadi si bopeng, maju selangkah mendekati si wanita. Kawan-kawannya mulai menggunakan bahasa sandi preman yang aneh, menertawakan mangsa mereka.

Pandu yang muak melihat pemandangan itu, melangkah maju tanpa ragu. Suaranya berat dan dingin membelah keributan.

"Sebagai laki-laki, hargai sedikit kehormatan kalian. Jalanan ini milik umum, bukan tempat kalian mencari masalah dengan wanita dan anak-anak."

Hendro menoleh dengan cepat, matanya melotot marah melihat sosok Pandu yang berani ikut campur.

"Eh, pahlawan kesiangan! Mulut lu bau tanah, ya?!" bentak Hendro murka. "Berani-beraninya nyeramahin gue! Woy, habisi cecunguk ini, seret dia ke markas sekarang!"

Mendengar perintah itu, belasan preman langsung mengepung Pandu dan Edo. Edo menelan ludah, wajahnya tegang, namun Pandu tetap berdiri tenang bak batu karang, siap menyambut pertarungan pertamanya di tanah ini.

Lanjut membaca
Lanjut membaca