

"Tanda tangani surat pengunduran diri ini, Juna, atau aku pastikan kamu tidak akan pernah bisa melamar kerja di perusahaan manapun di seluruh Jakarta."
Sebuah map biru tua dilemparkan dengan kasar hingga menghantam dada Nagarjuna Abhinaya. Kertas-kertas di dalamnya berhamburan ke atas lantai pualam lobi gedung perkantoran mewah di kawasan SCBD malam itu.
Juna menatap tajam pria berjas Armani abu-abu yang berdiri di depannya. "Atas dasar apa Anda memecat saya, Pak Bonny? Target penjualanku selalu tercapai setiap kuartal! Saya yang membawa klien-klien besar itu untuk Anda!"
Bonny tertawa renyah, merapikan letak jam tangan Richard Mille di pergelangan tangan kirinya. "Atas dasar aku adalah anak pemilik perusahaan ini, dan aku muak melihat wajah kusammu beredar di lantasku. Lagipula, perusahaan elit seperti milik keluargaku tidak pantas mempekerjakan gembel berusia tiga puluh tahun yang masih naik motor kreditan dengan jok robek."
"Anda memecat saya tanpa pesangon setelah tujuh tahun saya mengabdi?" Suara Juna bergetar, rahangnya mengeras menahan amarah yang mendidih.
"Pesangon? Anggap saja gajimu bulan ini sebagai biaya ganti rugi karena merusak pemandangan." Bonny menyeringai licik.
"Sudahlah, Juna. Terima saja nasibmu.... berdebat sama Mas Bonny tidak akan membuatmu tiba-tiba menjadi kaya."
Suara wanita itu terdengar lembut, mengalun indah bak melodi. Namun, kalimatnya mengiris jantung Juna lebih tajam dari sebilah silet. Juna menoleh perlahan.
Charita, tunangannya atau lebih tepatnya, wanita yang selama tiga tahun terakhir ini dia perjuangkan mati-matian tampak berjalan ke arah Bonny lalu berdiri di samping laki-laki itu.
Wanita itu mengenakan gaun merah ketat yang mencetak jelas lekuk tubuh indahnya, sebuah gaun malam mahal yang mustahil bisa Juna belikan. Tanpa ragu, Charita melingkarkan kedua lengannya ke bisep Bonny, sengaja menekankan belahan dadanya yang penuh ke lengan pria kaya itu.
"Charita...? Apa yang kamu lakukan di sini? Dan kenapa kamu memeluknya?" Juna melangkah maju, dadanya sesak melihat pemandangan di depannya.
Charita mendesah sinis, menatap Juna dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan. "Aku butuh kepastian, Juna. Aku butuh pria yang bisa membelikanku tas Hermes edisi terbatas, yang membawaku makan malam di fine dining hotel bintang lima, bukan pria pecundang yang hanya bisa mengajakku makan di warung tenda pecel lele setiap malam minggu."
"Kita sudah bertunangan! Aku memberikan seluruh sisa gajiku untuk biaya perawatan kecantikanmu!" teriak Juna kesal, matanya memerah.
"Dan aku berterima kasih untuk itu," balas Charita dingin, "tapi sekadar cinta dan uang recehmu tidak bisa memuaskan gaya hidupku, Sayang. Usiamu tiga puluh tahun. Wajahmu standar, kamu selalu kelelahan setiap malam, bahkan di ranjang pun kamu payah karena otakmu hanya dipenuhi cara membayar tagihan. Kamu pikir wanita sekelas aku... pantas buat kamu?"
"Kamu... kalian berselingkuh?" Napas Juna memburu.
Bonny tertawa lepas, meraih pinggang Charita dan menarik wanita itu merapat ke tubuhnya. "Berselingkuh? Oh, Juna…. ucapanmu itu terlalu kasar. Charita hanya mencari pria sejati yang tahu cara memperlakukan wanita,” ujarnya sambil menyeringai sinis.
“Kamu tahu? Semalam, di ranjang penthouse-ku, dia meneriakkan namaku sampai suaranya habis. Tubuhnya jauh lebih liar saat berada di bawah pria kaya sepertiku, sesuatu yang tidak akan pernah kamu rasakan dari dirinya," lanjutnya dengan nada mengejek.
"Mas Bonny! Aaah… kamu membuatku malu.... jangan membahasnya di sini," rajuk Charita dengan nada manja yang dibuat-buat, meski wajahnya sama sekali tidak memancarkan penyesalan. Dia lalu berjinjit, mencium rahang Bonny dengan sensual tepat di depan mata Juna.
"Kalian berdua benar-benar sampah bajingan!" Juna mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih.
Pria itu bersiap melayangkan tinju ke wajah arogan Bonny. Namun, dua orang petugas security bertubuh besar dengan cepat menahan kedua lengannya dari belakang.
"Jaga mulutmu, Pecundang!" Bonny melangkah maju, menepuk pipi Juna dengan punggung tangannya berulang kali. "Lihat dirimu…. pakaian murah, kantung mata seperti mayat hidup. Kamu bukan siapa-siapa di Jakarta ini. Kamu hanya serangga kecil yang bisa aku injak kapan saja. Bawa barang-barangmu sekarang juga, dan keluar dari gedungku malam ini juga."
Bonny memberi isyarat pada kedua security itu. "Lepaskan dia. Jangan sampai seragam kalian kotor karena menyentuhnya." Kedua security itu mendorong tubuh Juna hingga terjatuh berlutut di lantai.
"Kamu tahu… minggu depan Mas Bonny akan membawaku liburan ke Bali," ucap Charita sambil menatap Juna yang tersungkur. "Jadi jangan pernah menghubungiku lagi. Anggap saja kita nggak pernah saling kenal. Mulai hari ini kita putus!"
Kedua pasangan pengkhianat itu segera berbalik, berjalan menuju ke pintu keluar VIP diiringi tawa renyah yang menggema di seluruh lobby, meninggalkan Juna sendirian dengan harga diri yang hancur berkeping-keping.
***
Malam itu, hujan badai mengguyur ibu kota tanpa ampun. Kilat menyambar membelah langit hitam pekat kota Jakarta, diikuti oleh bunyi gemuruh dan guntur yang memekakkan telinga.
Juna berjalan gontai menyusuri trotoar Jalan Sudirman yang basah dan licin, kebetulan motor tuanya harus masuk ke bengkel untuk diservice. Pakaiannya basah kuyup, air hujan bercampur dengan air mata yang menetes mengalir di wajah kusamnya.
Di tangannya, mendekap sebuah kardus kecil berisi barang-barang dari meja kerjanya, satu-satunya hal yang dia miliki sekarang.
Lampu neon dari gedung-gedung pencakar langit dan papan reklame raksasa memantul di genangan air, seakan memamerkan kekayaan kota yang tidak akan pernah bisa disentuhnya.
Tiba-tiba, ponsel di saku celananya bergetar. Juna mengambil ponsel berlayar retak itu dengan tangan gemetar. Tertera nama 'Bapak Kos' di layar.
"Halo, Pak…."
"Juna! Di mana kamu? Kapan kamu mau bayar uang sewa kamarmu? Ini sudah nunggak dua bulan penuh!" Suara kasar pria paruh baya membentak dari seberang telepon.
"Tolong beri saya waktu seminggu lagi, Pak. Saya baru saja... saya baru saja kehilangan pekerjaan saya malam ini," jawab Juna parau.
"Kehilangan pekerjaan? Itu bukan urusanku! Kalau dalam satu jam kamu tidak mentransfer uangnya, semua barang rombengmu akan saya buang ke jalan malam ini juga! Cari tempat tidur di kolong jembatan sana!" Sambungan telepon pun diputus secara sepihak.
"Sialan... bangsat kalian semua!" Juna berteriak sekuat tenaga, melemparkan ponselnya yang sudah mati ke aspal hingga hancur berantakan.
"Kenapa dunia sekejam ini padaku?! Apa salahku?! Aku sudah bekerja lebih keras dari siapapun!" Juna mendongak, menantang langit yang terus menumpahkan hujan.
Napasnya tersengal, dadanya terasa seperti dihimpit batu raksasa. Tiga puluh tahun hidup sebagai orang baik, hanya untuk diinjak-injak oleh mereka yang memiliki kekuasaan dan uang.
Saat pria itu terus berjalan tanpa arah, matanya menangkap sesuatu di tengah perempatan jalan yang padat. Seekor anak kucing berbulu putih kotor sedang meringkuk ketakutan di tengah guyuran hujan, terjebak di antara jalur cepat.
Dari arah kejauhan, raungan mesin V8 terdengar membelah hujan. Sebuah sports car hitam melaju dengan kecepatan ugal-ugalan menembus lampu merah yang baru saja berganti warna.
"Kucing itu... dia akan mati," gumam Juna.
Entah karena dorongan nurani atau alam bawah sadarnya yang sudah tidak peduli lagi pada nyawanya sendiri yang berantakan, kaki Juna bergerak dan berlari menerobos derasnya hujan ke tengah jalan raya.
"Minggir!" teriak Juna, melompat dan mendorong tubuh kecil kucing itu ke arah trotoar yang aman.
Namun, lampu sorot mobil sports itu sudah terlalu dekat, menyilaukan mata Juna. Suara decit rem beradu dengan aspal basah terdengar memekakkan telinga.
Tubuh Juna terpental keras di udara bagai boneka kain yang rusak, sebelum akhirnya menghantam aspal dengan suara tulang patah yang mengerikan. Mobil hitam itu bahkan tidak berhenti, pengemudinya langsung menginjak pedal gas dalam-dalam, melarikan diri ke dalam kegelapan malam.
Darah segar mengalir deras dari kepala, hidung, dan dada Juna, bercampur dengan genangan air hujan. Rasa sakit yang teramat sangat menyelimuti setiap inci sarafnya, membuat pandangannya mulai meremang.
"Sakit... sakit… apakah ini akhirnya?" Juna terbatuk keras, memuntahkan gumpalan darah merah pekat, "akhirnya…. aku mati sebagai pecundang sejati... di atas aspal kotor."
Tangan kanannya yang lumpuh terentang di atas genangan air. Di jari manisnya, melingkar sebuah cincin obsidian kuno berwarna hitam legam, cincin usang yang dia beli sepuluh tahun yang lalu dari seorang pengemis tua di pinggir jalan hanya karena kasihan.
Darah Juna yang mengalir dari kepalanya perlahan merayap, menyentuh batu obsidian tersebut. Detik itu juga, batu hitam yang selalu tampak mati itu berkedip dengan pendaran cahaya merah darah. Cincin itu menyerap darah Juna dengan rakus, layaknya entitas hidup yang kehausan.
Tiba-tiba, terdengar sebuah suara mekanis yang aneh. Namun, memiliki resonansi feminin yang menggoda dan dalam, bergema tepat di dalam tengkoraknya.
[Peringatan : Tanda vital inang berada di ambang kematian. Detak jantung 20%... 15%...]
"Siapa... siapa itu?" gumam Juna lemah, matanya perlahan menutup.
[DNA teridentifikasi. Darah murni terdeteksi.]
[Penderitaan ekstrem terdeteksi. Hasrat balas dendam terdeteksi.]
[Sistem Genesis siap diinisiasi.]
[Apa Anda menerima kontrak mengikat ini, Manusia Fana bernama Nagarjuna Abhinaya?]
"Kontrak... apa? Aku mau mati... biarkan aku mati..." bisik Juna putus asa.
[Anda tidak akan mati jika menerima tawaran saya.
[Saya akan merombak takdir Anda. Anda akan menjadi entitas absolut di dunia ini.]
[Harta tanpa batas, kekuasaan mutlak, dan setiap wanita angkuh yang pernah merendahkan Anda akan berlutut mengemis cinta di bawah kaki Anda.]
[Namun... kekuatan dewa tidaklah gratis.]
Cincin obsidian itu tiba-tiba memancarkan panas yang luar biasa, membakar jari Juna hingga ke tulang, memaksanya membuka mata lebar-lebar.
[Setiap kekuatan yang saya berikan membutuhkan kompensasi.]
[Sistem ini menuntut hasrat paling gelap dari manusia. Tubuh Anda akan menanggung rasa sakit dari setiap batas yang ditembus.]
[Anda membutuhkan penyatuan gairah murni dengan wanita kelas atas, esensi kehidupan mereka, untuk memadamkan api pembakaran Sistem.]
[Jika tidak, organ Anda akan hancur dari dalam.]
[Jawab, Inang! Hidup sebagai Raja Predator, atau mati sebagai serangga?!]
Mendengar kata-kata itu, bayangan wajah arogan Bonny dan seringai merendahkan dari Charita melintas tajam di benak Juna. Penghinaan bertahun-tahun, kemiskinan yang mencekik, dan ketidakberdayaannya meledak menjadi sebuah amarah yang membakar jiwanya.