

Dorrr... Dorrr... Dorrr...
Suara letusan senjata api kaliber tinggi terdengar beruntun di sebuah kawasan elit di kota Jayakarta.
Sebuah rumah mewah bergaya kolonial milik Keluarga Dirgantara menjadi sasaran serangan bersenjata. Di dalam rumah, situasi sangat kacau.
Suara tembakan dan bau mesiu mendominasi ruangan yang biasanya tenang. Serangan ini terjadi secara mendadak tanpa ada peringatan sebelumnya.
Keluarga Dirgantara merupakan salah satu keluarga yang memiliki pengaruh sangat besar di negara GARUDA.
Serangan yang sedang terjadi di keluarga Dirgantara, dilakukan oleh keluarga cabang Dirgantara sendiri. Motif utamanya adalah perebutan kekuasaan dan aset perusahaan.
Keluarga cabang merasa pembagian harta dan keuntungan tidak adil dan memutuskan untuk menghabisi garis keturunan utama keluarga pusat.
Di sebuah ruangan tersembunyi di dalam kamarnya, Devan Dirgantara, kepala keluarga Dirgantara, berdiri sambil menggendong anaknya yang baru berumur tiga hari.
Istri Devan meninggal dunia sesaat setelah proses persalinan. Pintu ruangan terbuka, menampilkan Sulis, seorang pembantu rumah tangga yang sudah bekerja puluhan tahun di sana.
"Mbok Sulis," ucap Devan dengan suara rendah.
"Tolong bawa anak saya sejauh mungkin dari Jayakarta. Kita tidak bisa bertahan di sini lebih lama lagi." pinta Devan dengan wajah serius.
"Burhan dan keluarganya ternyata tidak hanya menyewa pembunuh bayaran profesional, tetapi dia juga bekerja sama dengan Keluarga Prakoso untuk menutup semua akses keluar bagi kita." lanjut Devan dengan wajah serius.
Sulis menerima bayi itu ke dalam dekapannya. Ia melihat wajah bayi yang baru berusia tiga hari tersebut. Bayi yang sudah kehilangan ibunya saat lahir dan sekarang terancam kehilangan ayahnya.
"Baik, Tuan. Saya berjanji akan membesarkan Tuan Muda seperti cucu saya sendiri. Tetapi Tuan... apakah Tuan tidak ikut melarikan diri bersama kami? Masih ada jalan melalui lorong bawah tanah," balas Sulis dengan wajah serius.
Devan menggeleng, sembari memberikan sebuah koper hitam yang berisi uang tunai dalam jumlah besar.
"Jika aku ikut, musuh akan memprioritaskan pengejaran kepada kita karena aku adalah target utama." ucap Devan dengan wajah serius.
"Aku akan tetap di sini untuk melakukan perlawanan dan memberikan kalian waktu untuk menjauh." lanjut Devan dengan tegas.
Devan kemudian memberikan instruksi terakhirnya. "Pergilah dengan cepat. Di dalam koper ini ada modal yang cukup untuk membesarkan anakku. Ingat satu hal, Mbok: jangan sampai ada yang tahu bahwa bayi ini adalah anggota keluarga Dirgantara. Cepatlah pergi sebelum mereka menembus ruangan ini!"
Tanpa berlama-lama, Sulis langsung keluar dari ruangan itu dengan dikawal oleh Jarot. Jarot adalah pengawal pribadi Devan yang paling terlatih dan setia.
Sulis dan Jarot langsung bergerak menuju lorong rahasia yang menghubungkan area kediaman keluarga Dirgantara ke jalan kecil di luar kompleks perumahan.
Setelah berhasil keluar dari kompleks tanpa terdeteksi oleh pasukan musuh, Jarot langsung membawa Sulis menuju Terminal Bus Antar Kota.
Sulis berencana membawa anak majikannya itu ke kampung halamannya di sebuah desa terpencil di ujung timur Pulau Jawa.
"Mbok, saya hanya bisa mengantar kalian sampai di sini, saya harus kembali ke kediaman. Tuan Devan tidak bisa menghadapi mereka sendirian," ucap Jarot dengan nada tegas saat bus akan berangkat.
Sulis melihat kondisi sekitar terminal yang kumuh. "Jarot, Apa tidak sebaiknya kamu ikut dengan kami? Kamu punya keahlian untuk menjaga bayi ini kelak," tanyanya dengan wajah serius.
Jarot menggelengkan kepala. "Kalau aku ikut, musuh pasti akan mengejar kita. Mereka mengenalku sebagai pengawal Tuan Devan. Lebih baik Mbok pergi berdua saja dengan Tuan Muda. Mulai detik ini, lupakan siapa dia sebenarnya," jawab Jarot dengan tegas.
Jarot turun dari bus dan segera menghilang di keramaian terminal. Bus ekonomi tersebut kemudian mulai bergerak keluar dari wilayah Jayakarta.
Sulis duduk di kursi bus yang sempit dan berbau apek. Ia mengamati bayi yang masih merah di dekapannya.
"Tuan Devan, saya berjanji akan membesarkan putra Anda dengan penuh kasih sayang, sebagaimana saya dulu mengasuh Anda," gumam Sulis dengan penuh tekad.
Perjalanan menuju kampung halaman Sulis, memakan waktu puluhan jam. Setelah melewati beberapa kota besar, bus akhirnya tiba di terminal kota kecil yang menjadi akses utama menuju desa Sulis.
Sulis turun dari bus dengan membawa bayi, koper hitam, dan tas perlengkapan bayi. Ia segera mencari transportasi lokal.
"Kang, ojek ke Desa Konoha berapa?" tanya Sulis kepada salah satu tukang ojek pangkalan.
"Lima puluh ribu saja, Mbok. Jalannya agak rusak karena hujan semalam," jawab tukang ojek tersebut.
Sulis menyetujui harga tersebut tanpa menawar. Motor melaju menyusuri jalanan tanah yang becek.
Selama di perjalanan, Sulis merancang alibi untuk menjelaskan keberadaan bayi tersebut kepada kakaknya di desa. Ia menyadari bahwa rahasia identitas bayi ini adalah kunci keselamatannya.
Setelah setengah jam menempuh perjalanan, Motor berhenti di depan sebuah rumah sederhana berdinding kayu di pinggiran Desa Konoha.
Sulis membayar ongkos ojek dan berjalan menuju pintu rumah. Ia mengetuk pintu tersebut dengan hati-hati.
"Kang Samsudin, buka pintunya! Ini Sulis!" panggil Sulis.
Seorang pria berumur sekitar lima puluh tahun membuka pintu. Namanya Samsudin yang merupakan kakak kandung dari Sulis.
"Sulis! Akhirnya kamu kembali juga setelah lebih dari tiga puluh tahun merantau tanpa kabar!" ucap Samsudin dengan nada suara tinggi karena terkejut.
Samsudin kemudian melihat bayi yang digendong oleh adiknya. "Lho, itu apa, Lis?"
"Ini cucuku, Kang. Nanti lebih jelasnya aku ceritakan di dalam," jawab Sulis sambil masuk ke dalam rumah.
Di dalam ruang tamu rumah sederhana yang hanya menggunakan lampu minyak, Sulis meletakkan bayi itu di tempat tidur kayu yang dilapisi kain.
Sulis meminum segelas air putih hingga habis, lalu memulai cerita karangannya. Ia mengatakan bahwa bayi ini adalah anak dari putrinya yang meninggal saat melahirkan.
Tidak hanya itu, Sulis juga mengarang cerita bahwa menantunya sudah meninggal akibat kecelakaan kerja di kota.
Sulis tidak menyebutkan satu pun nama atau istilah yang berkaitan dengan keluarga Dirgantara.
"Kamu benar-benar keterlaluan, Sulis. Kamu pergi tiga puluh tahun, menikah dan punya anak tanpa mengabariku. Sekarang anakmu sudah tiada dan kamu baru pulang membawa cucu," ucap Samsudin dengan wajah kecewa.
"Maafkan aku, Kakang. Tetapi Kakang juga tahu mengapa aku meninggalkan desa ini dulu?" balas Sulis dengan lembut.
Samsudin terdiam. Ia ingat bahwa dulu Sulis harus lari ke kota untuk menghindari paksaan menjadi istri kelima seorang tuan tanah lokal bernama Juragan Karta.
Saat itu Samsudin tidak ada di desa Konoha, karena sedang berada di luar pulau untuk berlatih ilmu Kanuragan.
"Ya sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Mari kita besarkan anak ini bersama-sama. Dia laki-laki atau perempuan?" tanya Samsudin, sembari menarik napas panjang.
"Laki-laki, Kang. Dan aku belum sempat memberinya nama. Apakah Kakang punya saran?" jawab Sulis.
Samsudin terlihat tertarik dengan informasi tersebut. "Syukurlah kalau laki-laki. Berarti dia bisa menjadi pewaris ilmu yang aku miliki. Kamu jangan melarangku untuk menurunkan ilmu Kanuragan padanya nanti."
Sulis tentu menyetujui rencana tersebut. Ia menyadari bahwa di masa depan, keahlian bela diri akan sangat berguna bagi anak ini jika keluarga cabang Dirgantara atau keluarga Prakoso berhasil menemukan jejak mereka.
"Kakang, menurutmu siapa nama yang cocok?" tanya Sulis lagi.
Samsudin mengamati wajah bayi itu dengan teliti. "Hidup bayi ini dimulai dengan kemalangan yang luar biasa. Ayahnya mati kecelakaan, ibunya tiada saat melahirkannya. Maka aku akan memberikan nama yang menjadi doa agar ia selalu selamat melewati segala badai dunia. Namanya adalah... SLAMET."
"Slamet... Aku setuju, Kang," balas Sulis dengan wajah berbinar.