

Hujan deras tidak mampu menyamarkan bau sampah busuk di gang belakang klub malam The Heavens. Tubuh Zeno terhempas ke aspal basah, menabrak tumpukan kantong plastik hitam dengan keras.
Belum sempat ia menarik napas, sebuah sepatu bot kulit sudah mendarat berat di dadanya, menekan rusuknya hingga terdengar bunyi retakan halus yang mengerikan.
"Lu masih mau bangun, Sampah?"
Suara berat itu milik Jack, kepala keamanan klub. Di belakangnya, dua lelaki berbadan tegap tertawa sambil menikmati rokok.
Zeno terbatuk. Rasa asin darah memenuhi mulutnya.
"Gua cuman bersandar doang, Bang," suara Zeno parau, terputus-putus oleh tekanan di dadanya. "Gua nggak sentuh mobil bos lu."
"Lu napas di dekatnya aja udah bikin kotor." Jack menekan tumitnya lebih keras, membuat Zeno mengerang tertahan. "Mobil sport Bos Marco itu harganya lebih mahal dari semua organ di badan lu kalau dijual. Paham?"
Zeno mencengkeram pergelangan kaki Jack, jemarinya gemetar berusaha melonggarkan tekanan yang mencekik itu.
Salah satu anak buah Jack mendekat, mengarahkan kamera ponsel ke wajah Zeno yang lebam. Cahaya blits menyilaukan mata.
"Senyum sedikit," ledek lelaki itu. "Biar orang-orang tahu akibatnya kalau cari gara-gara di wilayah kita."
"Dia nangis kayaknya, Bos? Lemah banget," timpal anak buah yang satu lagi.
Jack meludah. Cairan itu mendarat tepat di pipi kiri Zeno, bercampur dengan air hujan dan darah.
"Lihat itu," kata Jack sambil menyeringai puas. "Sekarang wajah lu udah cocok sama pakaian. Sama-sama menjijikkan."
Zeno memejamkan mata. Napasnya tersengal, paru-parunya terasa terbakar kekurangan oksigen.
"Buka mata!" bentak Jack. "Gua belum selesai."
Jack menarik botol wiski mahal dari saku jasnya, meneguk isinya sedikit, lalu menuangkan sisanya ke sepatu botnya yang berlumpur. Cairan itu membasahi kulit sepatu yang kotor.
"Jilat," perintah Jack.
Hening sejenak di gang itu. Hanya suara hujan yang menghantam aspal.
"Lu budek?" Jack menendang pelan pipi Zeno dengan ujung sepatu basah itu. "Bersihkan sepatu gua dengan lidah. Kalau bersih, mungkin gua biarin tulang tangan lu tetap utuh malam ini."
"Ayo, Sampah," sorak anak buahnya. "Anggap saja itu sup kuah wiski."
Di titik nadir itulah, sesuatu di dalam otak Zeno berubah.
Dentingan tinggi berbunyi di dalam kepalanya. Seperti suara mesin tua yang dipaksa menyala maksimal.
Detak Jantung: 180 BPM. Adrenalin: Kritis
Ini bukan sihir.
Ini adalah kutukan biologis yang Zeno miliki sejak kecil. Saat rasa sakit dan ancaman kematian mencapai puncaknya, otaknya tidak memilih panik, melainkan pemrosesan data ekstrem.
Pandangannya yang tadi kabur kini menajam. Pupil matanya mengecil, fokus pada satu titik di leher Jack.
Waktu bagi Zeno terasa melambat sepuluh kali lipat. Ia bisa melihat kontraksi otot lawan, menghitung sudut serangan, dan memprediksi lintasan pukulannya sebelum itu terjadi. Dunia di mata Zeno kehilangan warna, berubah menjadi grid garis dan angka.
Napasnya yang tadi memburu, mendadak tenang.
"Tiga detik," bisik Zeno.
Jack mengerutkan kening. "Apa? Lu berdoa?"
"Tiga detik," ulang Zeno. Suaranya datar, tanpa emosi, seperti mesin penjawab otomatis. "Waktu buat lu lari."
Tawa meledak di antara ketiga preman itu. Jack sampai harus memegangi perutnya saking gelinya.
"Dengar itu? Si Sampah mengancam kita!" Jack menggelengkan kepala, lalu wajahnya berubah sadis. "Patahkan kakinya. Biar dia merangkak pulang."
Dua anak buah Jack maju, mengeluarkan tongkat pemukul lipat dari balik jaket.
Mode analisis terkunci.
Di mata Zeno, gerakan mereka lambat seperti berada di dalam air. Ia melihat garis merah imajiner muncul dari bahu lelaki pertama.
Analisis: Bahu kiri turun lima senti. Otot leher menegang. Lintasan: Ayunan atas ke arah kepala.
Ia beralih ke lelaki kedua.
Analisis: Ragu-ragu. Kuda-kuda terbuka lebar di bagian tengah. Titik lemah: Lutut dan ulu hati.
"Terlalu lambat," gumam Zeno.
Saat tongkat pemukul itu melayang turun, Zeno tidak menghindar mundur. Ia justru menerjang maju, masuk ke dalam jangkauan serangan, tempat yang menurut logika orang awam adalah bunuh diri.
Satu gerakan cepat.
Zeno menepis lengan lelaki pertama tepat di titik syaraf pergelangan tangan.
Ia meminjam momentum dorongan lawan, berputar, dan menghantamkan sikunya tepat ke rahang.
Bunyi retakan tulang terdengar mengerikan di tengah hujan. Lelaki itu ambruk tanpa sempat berteriak, otaknya terguncang keras hingga kesadarannya hilang seketika.
"Astaga?!" Lelaki kedua terbelalak. Matanya tidak bisa mengikuti kecepatan Zeno. Belum sempat ia sadar, Zeno sudah berada di depannya.
"Titik tumpu lemah," desis Zeno.
Ia menendang sisi lutut lelaki itu dengan tumit. Kaki lelaki itu terlipat ke arah yang salah, membuatnya menjerit kesakitan dan jatuh berlutut.
Zeno menyambar kepala lelaki itu dan membenturkannya ke dinding bata. Tubuh besar itu merosot lemas.
Kini, tinggal Jack.
Tawa di wajah Jack lenyap, digantikan wajah pucat pasi. Ia mundur selangkah, tangannya meraba pistol di pinggang, tapi jemarinya gemetar hebat.
"Ba-bagaimana bisa ..." Jack gagap.
Zeno berdiri tegak. Ia menyeka darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan. Matanya menatap Jack seperti predator menatap mangsa yang terluka.
"Tadi lu nyuruh gua jilat sepatu lu, kan?" tanya Zeno. Langkahnya pelan, mendekati Jack.
"Jangan mendekat! Gua tembak lu!" teriak Jack panik.
"Kunci pengaman pistolnya belum dibuka," kata Zeno dingin.
Jack menunduk panik melihat pistolnya.
Itu kesalahan fatal.
Dalam sepersekian detik, Zeno sudah ada di hadapannya. Tangan Zeno mencengkeram pergelangan tangan Jack, memutarnya kasar. Pistol terlepas jatuh ke genangan air.
Zeno tidak berhenti. Ia menendang tulang kering Jack dengan kekuatan penuh.
Kepala keamanan bertubuh raksasa itu menjerit panjang dan jatuh berlutut. Posisi yang sama persis dengan Zeno tadi.
"Arghhh! Kaki gua!" raung Jack.
Zeno memungut pecahan botol wiski yang berserakan. Ia menjambak rambut Jack, memaksa kepala itu mendongak, lalu menempelkan ujung kaca tajam ke pipi Jack.
"Diam," perintah Zeno.
Tangisan Jack tertahan di tenggorokan. Air mata dan cairan dari hidung bercampur di wajah garangnya yang kini penuh ketakutan.
"Ampun, Zeno. Ampun."
"Oh, sekarang lu tahu nama gua?" Zeno menekan kaca itu sedikit, membiarkan darah segar mengalir. "Tadi lu panggil gua si Sampah."
"Maafkan kesalahan saya, Zeno. Saya khilaf."
Zeno menggeleng pelan. Sebuah senyum kecil terbersit di bibirnya mendengar Jack mengganti kata ‘gua’ menjadi ‘saya’.
"Maaf nggak bisa membersihkan bekas ludah di wajah gua."
Zeno menunjuk sepatu kets-nya yang kotor dan jebol dengan dagu.
"Lihat itu," kata Zeno.
Jack gemetar, matanya melirik ke bawah dengan ngeri.
"Sepatu gua kotor kena darah lu," lanjut Zeno dengan nada santai. "Lu tahu kudu ngapain, kan?"
"Ja-jangan ... "
"Jilat!"
"Zeno, tolonglah. Saya punya duit, saya kasih semua."
"Gua nggak butuh duit lu sekarang. Gua butuh sepatu jadi bersih." Zeno mendekatkan wajahnya ke telinga Jack. "Atau lu lebih suka lidah lu gua potong biar nggak perlu menjilat lagi?"
Jack tahu Zeno tidak bercanda. Aura pembunuh itu nyata.
Dengan isak tangis yang memalukan, Jack menunduk. Ia menjulurkan lidahnya ke sepatu butut Zeno yang penuh lumpur dan darah.
Zeno berdiri diam, membiarkan Jack melakukan itu selama sepuluh detik penuh. Cukup lama agar semua orang yang mengintip dari pintu belakang bisa melihatnya dengan jelas.
"Cukup," kata Zeno.
Ia menendang dada Jack hingga lelaki itu terjengkang ke belakang, lalu merogoh saku jas Jack yang terkapar. Zeno mengambil dompet kulit tebal di sana.
"Ini untuk biaya laundry dan berobat," kata Zeno sambil mengambil semua lembaran uang merah di dalamnya, lalu melempar dompet kosong itu ke wajah Jack.