Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sang Pewaris : Biarkan Aku Bertingkah Gila

Sang Pewaris : Biarkan Aku Bertingkah Gila

Ashen Sagana | Bersambung
Jumlah kata
20.4K
Popular
100
Subscribe
4
Novel / Sang Pewaris : Biarkan Aku Bertingkah Gila
Sang Pewaris : Biarkan Aku Bertingkah Gila

Sang Pewaris : Biarkan Aku Bertingkah Gila

Ashen Sagana| Bersambung
Jumlah Kata
20.4K
Popular
100
Subscribe
4
Sinopsis
18+PerkotaanAksiKonglomeratSistemHarem
Rangga tersadar bahwa dirinya adalah Tokoh Pendukung Baris Terakhir dalam kisah Asmara antara seorang Komandan Khusus Tentara dengan Gadis manis seorang Mafia. Dia berlabel Kejam, Gila, dan Mesum. Saat kesadarannya bangkit, dia menolak semua label itu. Tapi Kartu Plot dari Sistem Drama menolaknya, menentangnya dan terus menerus mengubahnya sesuai alur cerita. Bagaimana mungkin dia menjadi gila, kejam, dan mesum? Semua orang hanya iri padanya, banyak wanita mengincarnya, tidak ada waktu berbuat mesum, yang ada mereka menggoda saya! Balikan waktu! Mari mulai menjadi warga negara yang baik dan 'bertingkah gila' dengan sebenarnya. Ps. cerita murni fiksi
Bab 1 Saya Tidak Memperkosa Kakak Ipar!

“Minggir!”

Belaian seorang wanita di dadanya membuat kulit meremang dan jantung Rangga berdesir. Dia mendorong wanita di depannya kencang, membuatnya jatuh.

Wanita dewasa dengan fitur wajah halus dan kalem itu adalah Nilam. Rangga tidak suka dirinya, wanita itu dengan cara suci menggodanya, dan membuat semua orang melihat bahwa dirinyalah yang menindasnya. Tampilannya yang lugu dan polos membuat muak!

Ding!

Lagi!

Suara itu muncul lagi di kepala Rangga.

Plot aslinya, Ranggalah yang memaksa Nilam masuk ke dalam kamar, memberinya afrodisiak dan memaksanya untuk membelai dan bertingkah seperti budak.

Namun, Rangga menolak yang membuat sistem memaksa orang luar memberi keduanya obat terlarang itu. Menaruh dua tokoh di dalam kamar dan tetap saja, hal yang ingin dihindari terjadi.

Dia berdiri dengan sempoyongan untuk keluar. Namun, suara di kepalanya menyerang, menghambat reaksi motoriknya dengan tajam.

[Peringatan : Tokoh pendamping Rangga Wirawan keluar dari plot! Mencegah ketidakstabilan plot]

[Memperbaiki plot]

[Tokoh Pendamping Wirawan menggoda kakak iparnya! Tokoh Pendamping Wirawan memperkosa kakak iparnya, Nilam! Plot diperbaiki!]

Dengan kekuatan mencapai batas, Rangga gagal mencapai pintu. Kakinya secara reflektif menarik bahu wanita yang baru saja ia dorong. Wajahnya yang polos menampilkan sudut mata yang memerah dan berkaca kaca.

“Tidak!” gumamnya. Namun bibirnya dengan cepat mencumbu paksa Nilam.

Nilam tersentak kaget, lalu dia ikut menikmati. Wajah Rangga di atas rata-rata, tubuhnya yang kekar merengkuh total tubuh mungil Nilam.

Dia mendorongnya ke kasur besar dan melucuti pakaiannya. Gaun sutra berwarna putih dengan berlian murni yang tersebar itu robek.

Rangga tak bisa mengendalikan tubuhnya, dia merengkuh wanita di bawahnya dan mendorongnya, mengungkung di bawahnya. Tangannya tak bisa tinggal diam, merasakan betapa lembut dan berair kulit wanita ini.

Pikirannya kacau, saat Rangga memaksa melepaskan diri, sesuatu seperti setrum muncul dan menghantam otaknya.

Seperti suntikan nafsu, dia melakukan hal yang lebih parah. Nilam yang tadinya terlihat tengah menggoda kini menangis keras dan mendorongnya. Memukul dadanya dengan keras hingga ketukan pintu yang brutal masuk ke gendang telinga.

Dorongan di pintu tak bisa menghentikan tingkah bejat Rangga. Suara suara yang bergemuruh tak sabar justru meningkatkan libidonya. Dia tertawa dengan lebar menatap Nilam dengan sudut mulut yang terangkat menakutkan. Gembira dengan senyuman di wajah bagai iblis.

Brak!

Pintu berhasil didobrak, perasaan senang yang memuncak terhenti perlahan. Rangga berantakan, begitu pula Nilam. Dia menatap wanita di kasur dengan datar dan tak merasakan bersalah. Berdiri dengan tenang memandang orang yang mendobrak pintu tanpa ekspresi.

“Dia yang menggodaku! Kau tak perlu menampilkan wajah menjijikan seperti itu!” ujar Rangga masih dengan senyumannya.

Dia mengambil tisu dari saku celananya dan membersihkan tangan seakan telah menyentuh kotoran.

Bisu! Orang di depannya diam. Tanpa kata apapun sebagai jawaban. Pria yang notabenenya adalah suami Nilam itu langsung memukul Rangga dengan keras.

Sebelum kepalan tangan itu menyentuh pipi, Rangga dengan santai menyamping membuatnya gagal. Kekerasan dalam pukulan yang dipersiapkan Galih membuat dirinya sendiri terjungkal hampir mengenai cermin besar di depannya.

“Sialan! Bajingan!”

Rangga hanya menampilkan senyum miring, melirik Nilam yang pakaiannya terbuka setengahnya. Puncak merekah yang menampilkan warna merona itu mengintip di balik pakaian tipis yang sudah robek oleh Rangga.

Keadaannya begitu menyedihkan, kontras dengan sikapnya yang sembrono dan menggoda manja sebelumnya.

Rangga berdecak, dia menendang Galih hingga tersungkur dan keluar dari ruangan. Di luaran sana, lebih dari selusin penjaga tengah menghalangi beberapa media dan kamera, beberapa orang dari keluarga Wirawan juga ditahan

Ternyata, Galih hanya menyelinap masuk tapi sudah membuat gempar. Pasti plot drama yang membuatnya begitu mudah mendobrak pintu. Betapa tak masuk akalnya?

Mata Rangga menyipit. Mendapati keadaan sekacau itu, akan sulit pintu dua lapis keamanan didobrak oleh Galih begitu mudah. Bahkan berhasil keluar dari penjagaan pengawalnya.

“Cih! Kartu Drama sialan!”

Seseorang menyampirkan jubah kashmir ke bahunya. Dia mengikuti di belakang Rangga.

“Bos! Bukankah seharusnya kamu melakukan dengan lebih baik. Mengapa harus di hotel ini? Betapa bodohnya itu? Jelas jelas ini milik Tuan Pertama! Kau tak tahu begitu banyak media masuk menyebarkan rumor buruk. Kalau bukan karena aku, pasti Nyonya Bos akan kabur lagi karena tingkahmu!”

Rangga tak mau mendengarkan asisten oon di belakangnya. Dia terus berjalan dan masuk ke dalam lift.

Dia melirik Janu yang menekan tombol ke arah basement, masih tanpa wajah malu menoleh ke arah Rangga dengan senyum konyolnya. Tangannya saling tertaut dan menggosok perlahan.

“Bos! Bukankah kinerjaku bagus? Bukankah langkahku cerdas? Aku sudah mempelajari 36 strategi melawan musuh! Bukankah kau harus memberiku bonus? Bonus bulan kemarin kau kurangi tanpa alasan, hehehe!”

Kekehannya membuat Rangga pusing.

“Gajimu 6 bulan ke depan alam dikurangi 20 persen.”

Keputusan Rangga yang begitu cepat membuat Janu melongo, dia membeku dengan pikiran kosong dan melihat sang Tuan melangkah keluar dari lift mendekati mobil paling mewah di seluruh ruang parkir.

“Aku baru saja melakukan hal yang baik! Kenapa masih saja mendapatkan pengurangan gaji!”

Dia berlari mendekati Rangga.

Rangga yang berdiri dengan tenang tak peduli dengan rasa gelisah Janu. Janu kelabakan, membuka pintu mobil dan masuk ke belakang kemudian. Melihat tuannya masih berdiri, dia keluar dari mobil dan membuka pintu belakang.

“Tuan!” panggilannya bahkan berubah sekejap.

“Bukankah manajemen sudah mengurangi gajiku 30 persen, jika dikurangi lagi aku bahkan tidak bisa makan dan minum. Pekerjaanku akan semakin buruk dan mungkin aku mati mengenaskan. Bukannya aku tak bisa menyambut kematian, hanya saja Tuan. Kamu sekarang hidup sendirian, semua orang membencimu kecuali aku, bahkan istrimu berprasangka buruk sampai sampai kau harus mengurungnya sepanjang tahun.”

“Kamu tidak bisa menghentikan aksi gilaku hari ini, bukankah kamu bodoh? Masih bertanya!”

Rangga samar samar mengingat bagaimana media begitu cepat sampai ke hotel. Saat di pesta perayaan lelaki tua itu, Rangga tak kuasa menahan diri.

Dia membenci Galih, tapi tidak akan membunuhnya. Di pesta itu, dia secara terang terangan mendorong kakaknya ke kolam renang. Semua keluarga Wirawan tahu, Galih memiliki trauma dengan air, dan tidak bisa berenang.

Tapi di depan semua orang dia mendorongnya dengan keras, sepertinya seberkas cairan merah sedikit menyebar. Mungkin lelaki itu berdarah. Gilanya, dia bahkan menarik paksa Nilam ke hotel inj. Saat sadar, dirinya sudah dipengaruhi obat. Sangat sulit keluar dari perintah sistem.

Janu sebagai asisten sudah diperingatkan untuk mencegahnya berbuat gila. Tapi dia justru menuruti dengan bangga, meminta bonus, dan hanya mengirim selusin pengawal untuk mencegah orang masuk dan media meliput.

Jika Rangga tak tahu kebodohan Janu, dia akan berpikir lelaki oon yang sedang mengemudikan mobil itu berkhianat.

“Tuan! Kamu tak bisa mengalahkanku. Kamu sendiri setiap saat gila, aku tak tahu gila yang mana yang harus halangi untukmu?”

Rangga menendang kursi mobil di depannya secepat kilat, bola matanya berputar dan menatap keluar jendela.

Lanjut membaca
Lanjut membaca