

Vino merapatkan punggungnya ke sandaran kursi kantin sambil menghela napas panjang. Di hadapannya, nasi goreng yang baru setengah dimakan sudah mulai mendingin karena dia terlalu sibuk bercerita. Matanya berbinar setiap kali dia menyebut kata "sistem" seolah kata itu punya kekuatan magis tersendiri yang mampu mengubah dunia.
"Gila, Bro. Lo bayangin nggak kalau kita bisa dapet sistem kayak gitu?" kata Vino sambil mengetuk meja kantin dengan jari telunjuknya. "Kayak tokoh di novel yang gue baca kemarin. Orang biasa, tiba-tiba dapet sistem, langsung jadi jago. Bisa beladiri, bisa bisnis, bisa apa aja."
Bimo yang duduk di seberangnya langsung mengangkat kepalanya dari piring nasi padang porsi jumbo yang sudah hampir ludes. Pipinya yang tembam masih penuh dengan nasi saat dia mulai bicara.
"Kalau gue dapet sistem kayak gitu," kata Bimo sambil mengunyah, "gue bakal pacarin semua cewek di kampus ini. Satu per satu. Terus kalau udah bosen, gue tinggalin. Cari yang baru lagi. Cari lagi. Cari lagi. Nggak bakal ada yang bisa nolak gue kalau gue udah punya sistem."
Vino menatap sahabatnya itu dengan tatapan yang sulit diartikan, setengah geli setengah prihatin. Dia sudah mengenal Bimo sejak kelas satu SMA dan selama empat tahun lebih persahabatan mereka, Vino sudah kehilangan hitungan berapa kali Bimo ditolak oleh gadis. Rekor tertinggi yang Vino ingat adalah tiga penolakan dalam satu hari, dan yang paling mengesankan adalah Bimo tidak pernah terlihat sedih lebih dari lima menit sebelum matanya sudah melirik gadis berikutnya.
"Lo mah nggak perlu sistem buat nembak cewek, Bim," kata Vino. "Lo udah kayak mesin tembak otomatis. Masalahnya cuma nggak ada yang kena."
"Sialan lo." Bimo tertawa sambil menyuapkan sendok terakhir ke mulutnya. "Daripada lo, Vin. Muka ganteng, badan bagus, tapi kalau ketemu cewek langsung jadi patung. Mending gue yang berani tapi ditolak daripada lo yang bahkan nggak berani nyoba."
Kata-kata itu menusuk tapi Vino tidak bisa membantah. Dia memang seperti itu. Sejak dulu sampai sekarang, setiap kali ada gadis yang menatapnya sedikit lebih lama atau tersenyum ke arahnya, yang dia lakukan hanyalah menundukkan kepala dan berjalan lebih cepat seolah sedang dikejar hantu. Padahal dia tahu, dan Bimo selalu mengingatkannya, bahwa wajahnya yang tampan dengan rahang tegas dan tubuhnya yang atletis membuat tidak sedikit gadis yang diam-diam menaruh hati padanya. Tapi mereka semua hanya bisa menunggu, dan Vino tidak pernah datang.
"Bram, lo gimana?" Vino mengalihkan pembicaraan ke sosok di samping kirinya. "Kalau lo dapet sistem, lo mau ngapain?"
Bram tidak menjawab. Matanya terpaku pada layar ponselnya, kedua ibu jarinya bergerak lincah di atas layar dengan kecepatan yang tidak wajar. Sesekali alisnya berkerut, sesekali bibirnya bergerak tanpa suara, mengumpat pada lawan virtualnya yang tidak bisa dilihat oleh Vino maupun Bimo.
"Bram!" Bimo melempar bungkus tisu ke arah kepala Bram.
"Hah?" Bram mengangkat kepalanya sekilas, matanya masih setengah terpaku pada layar. "Apaan?"
"Kalau lo dapet sistem, lo mau ngapain?"
"Oh." Bram kembali menunduk ke layarnya. "Gue cuma butuh sistem yang bikin gue nggak pernah kalah main game. Udah, itu aja. Sisanya nggak penting."
Vino dan Bimo saling bertukar pandang. Bram memang selalu seperti itu. Di antara mereka bertiga, Bram adalah satu-satunya yang tidak pernah mempermasalahkan soal pacaran, bukan karena dia tidak tertarik pada gadis, melainkan karena seluruh waktu dan perhatiannya sudah habis terserap ke dalam dunia virtual. Vino pernah menghitung bahwa dalam satu hari, Bram bisa menghabiskan dua belas jam hanya untuk bermain game. Makan sambil main game. Jalan sambil main game. Bahkan saat kuliah tadi, Vino sempat melirik ke arah Bram dan mendapati layar ponselnya menyala di bawah meja.
Sebenarnya ada beberapa gadis yang pernah menyukai Bram. Anak orang kaya, wajah lumayan, dan aura misterius yang ditimbulkan oleh sikapnya yang selalu asyik sendiri ternyata punya daya tarik tersendiri bagi sebagian gadis. Tapi pendekatan dari manapun tidak pernah berhasil karena Bram terlalu malas untuk menanggapi. Baginya, membalas chat gadis itu menghabiskan waktu yang seharusnya bisa dia gunakan untuk menaikkan ranking.
Tiga sekawan yang sama-sama belum pernah pacaran, tapi dengan alasan yang sama sekali berbeda.
Waktu menunjukkan pukul tiga sore saat mereka memutuskan untuk pulang. Vino menghampiri sepedanya yang terparkir di bawah pohon dekat gedung fakultas, sementara Bram berjalan keluar gerbang kampus di mana sebuah mobil sedan hitam sudah menunggu. Sopir pribadi Bram, seorang pria paruh baya berseragam rapi, segera turun dan membukakan pintu belakang. Bram masuk tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel barang sedetik pun.
Tinggal Bimo yang masih berdiri di depan gerbang kampus, jempolnya sibuk mengetuk layar ponsel untuk memesan ojek online. Satu menit kemudian, sebuah motor ojol berhenti di depannya. Pengemudi ojol itu, seorang pria kurus bertubuh mungil, menatap Bimo dari atas ke bawah dengan mata yang perlahan melebar.
"Mas, ini yang pesen?" tanya si pengemudi ojol dengan nada ragu.
"Iya, gue yang pesen." Bimo sudah hendak naik tapi pengemudi ojol itu mengangkat tangannya.
"Aduh, maaf Mas. Saya nggak bisa. Motor saya nggak kuat."
"Lah, emangnya gue seberat apa?" protes Bimo, walaupun dalam hati dia sudah tahu jawabannya. Timbangan terakhir yang berani dia naiki menunjukkan angka seratus dua belas kilogram, dan itu sudah tiga bulan yang lalu. Dia tidak berani menimbang lagi sejak saat itu.
Pengemudi ojol itu tersenyum canggung sambil menggeleng, lalu melesat pergi sebelum Bimo sempat berargumen lebih lanjut. Bimo menggerutu sambil memesan ojol berikutnya. Kali ini yang datang adalah pengemudi dengan motor yang sedikit lebih besar. Pria itu juga menatap Bimo dengan ekspresi yang sama persis dengan pengemudi sebelumnya.
"Bang," kata Bimo cepat sebelum pengemudi itu sempat membuka mulut. "Gue tambahin lima ribu. Anter gue pulang, ya."
Pengemudi ojol itu diam sejenak, menimbang antara keselamatan suspensi motornya dan tambahan uang lima ribu rupiah. Akhirnya dia mengangguk, walaupun dengan ekspresi seperti orang yang sedang menerima takdir.
Bimo naik dengan hati-hati. Motor itu langsung merendah drastis, dan pengemudi ojol meringis menahan beban. Mereka meluncur pergi dengan kecepatan yang menyedihkan, motor itu mengerang kesakitan setiap kali melewati polisi tidur.
Sementara itu Vino sudah setengah jalan menuju apartemen tantenya. Kakinya mengayuh pedal sepeda dengan irama konstan melewati jalanan kota yang mulai padat menjelang sore. Angin sore menerpa wajahnya dan membuat pikirannya melayang ke hal-hal yang biasanya dia hindari. Seperti Paramita.
Paramita adalah gadis yang dia sukai sejak kelas dua SMA. Rambut panjang yang selalu diikat ekor kuda, senyum yang menampakkan lesung pipi di sebelah kiri, dan tawa yang terdengar seperti melodi paling indah yang pernah Vino dengar. Tapi selama dua tahun lebih, Vino tidak pernah berani bicara dengannya lebih dari sekadar "permisi" saat mereka berpapasan di koridor sekolah. Sekarang mereka sudah tidak satu kampus lagi, tapi Vino tahu Paramita tinggal di daerah yang tidak terlalu jauh dari apartemen tantenya. Kadang-kadang, saat mengayuh sepeda melewati jalan di depan kompleks perumahan Paramita, Vino akan memelankan lajunya dan diam-diam berharap gadis itu kebetulan sedang berdiri di depan rumah. Tentu saja, meskipun keajaiban itu terjadi, Vino tahu dia hanya akan mengayuh lebih cepat dan berpura-pura tidak melihat.
Sesampainya di apartemen, Vino memarkirkan sepedanya di area parkir bawah tanah lalu naik lift menuju lantai sembilan. Di koridor, dia berpapasan dengan Pak Tono, tetangga satu lantainya, seorang pria berusia lima puluhan yang ramah dan selalu menyapa siapapun yang berpapasan dengannya.
"Pulang kuliah, Vin?" sapa Pak Tono sambil tersenyum.
"Iya, Om." Vino membalas senyumnya. "Om mau keluar?"
"Mau beli rokok sebentar." Pak Tono menepuk bahu Vino sebelum berjalan menuju lift. "Belajar yang rajin, ya."
Vino mengangguk lalu masuk ke apartemen tantenya. Ruangan itu sunyi karena tantenya masih di kantor dan baru akan pulang sekitar pukul enam sore. Dia melempar tasnya ke sofa, mengambil air minum dari kulkas, lalu masuk ke kamarnya. Tubuhnya langsung ambruk ke kasur. Matanya menatap langit-langit kamar yang putih polos sementara pikirannya masih berkeliaran antara novel tentang sistem yang baru dia baca dan bayangan wajah Paramita yang sudah lama tersimpan di sudut hatinya.
'Kalau gue beneran dapet sistem,' pikirnya sambil memejamkan mata, 'mungkin gue bakal punya keberanian buat ngomong sama Mita. Setidaknya ngomong. Nggak usah nembak dulu. Ngomong aja dulu.'
Dia tersenyum pada pikirannya sendiri, merasa lucu dan menyedihkan di saat bersamaan. Perlahan kantuk mulai merambat dan kelopak matanya semakin berat.
Tepat saat kesadarannya hendak tenggelam ke dalam tidur, sebuah suara terdengar.
Bukan suara dari luar. Bukan suara televisi yang lupa dimatikan atau notifikasi ponsel. Suara itu terdengar langsung di dalam kepalanya, seolah seseorang sedang berbicara tepat di pusat otaknya. Suara itu mekanis, datar, dan tanpa emosi, seperti suara navigasi GPS tapi lebih jernih dan lebih otoritatif.
"Selamat. Anda telah terpilih sebagai inang Sistem Solid. Silakan konfirmasi pengikatan untuk mengaktifkan seluruh fungsi sistem."