

Langit malam di atas Universitas Mandala Sakti terlihat gelap. Lampu taman kampus menyala redup, menyoroti bangku kayu tua yang catnya sudah mengelupas. Bentang Samudera duduk di sana. Ia menunduk, menatap sepatunya yang sudah jebol di bagian jempol.
Bentang tahu ia memang tidak tampan. Kulitnya pun kusam karena sering terpapar matahari. Wajahnya biasa saja, bahkan cenderung masuk kategori jelek.
Ia meraba saku celananya. Ada kotak cincin di sana. Cincin perak seharga lima puluh ribu rupiah. Ia membelinya dengan uang makan seminggu.
Suara langkah kaki terdengar. Bentang mendongak. Jantungnya berdegup kencang.
Sekar Kinanti berjalan mendekat. Tangan kirinya memegang iPhone terbaru, merekam suasana sekitar untuk konten Instagram Story.
Sekar melihat Bentang. Ia langsung menurunkan ponselnya. Wajahnya yang cantik berubah menjadi jutek dan sombong.
"Heh, Bentang!" kata Sekar ketus. "Ngapain lo nyuruh gue ke sini? Gelap banget begini. Kalau ada followers gua yang liat, bisa jatuh image gua jalan sama cowok dekil kayak lo."
Bentang berdiri. "Maaf, Sekar. Aku cuma mau bicara sebentar. Nggak ada orang lain di sini, kok. Aman, insya Allah."
"Ya justru itu! Kalau ada paparazzi kampus gimana?" Sekar melihat ke kiri dan ke kanan dengan khawatir. "Cepetan deh. Gua ada live TikTok setengah jam lagi. Jangan buang waktu gua."
Bentang menelan ludah. Ia mengeluarkan kotak cincin itu dengan tangan gemetar.
"Sekar," suara Bentang parau. "Aku tahu aku bukan siapa-siapa di hidup kamu. Aku jelek dan miskin. Aku cuma seorang mekanik bengkel. Tapi aku tulus. Aku mencintaimu karena Allah."
Sekar menatap kotak cincin itu. Lalu ia tertawa. Tawanya terdengar renyah tapi menyakitkan.
"Apaan tuh?" tunjuk Sekar dengan kuku jarinya yang di-nail art cantik. "Cincin mainan? Lo gila ya, Tang? Lo ngaca dong. Gua ini Seleb TikTok. Endorse gua sekali posting bisa buat beli motor lo. Terus lo nembak gua pake begituan?"
"Ini perak murni, Sekar," bela Bentang pelan.
"Gua nggak peduli!" bentak Sekar. "Denger ya, Tang. Jangan mimpi ketinggian. Kita itu beda kasta. Muka lo aja bikin kamera gue error."
Hati Bentang hancur berkeping-keping. Penghinaan fisik itu menusuk tajam. Ia ingin marah, tapi ia diajarkan sabar. Ia mulai membaca istighfar dalam hati. Astaghfirullahaladzim ...
"Wow, konten yang sangat cringe," sebuah suara berat memotong pembicaraan mereka.
Bentang dan Sekar menoleh. Tiga orang lelaki keluar dari balik pohon besar.
Yang di tengah adalah Bara, pacarnya Sekar. Ia memakai jam tangan emas dan jaket kulit asli. Di jari kanannya melingkar cincin batu hitam besar, Mustika Keling Wesi.
Di kirinya ada Jake, lelaki kurus dengan rambut pirang norak yang sibuk merekam kejadian itu dengan ponselnya.
Di kanannya ada Rocky, lelaki berkacamata tebal yang menatap Bentang dengan tatapan analitis merendahkan.
"Sayang!" Sekar langsung berlari ke arah Bara. Memeluk lengan Bara manja. "Lihat tuh si Bentang. Dia maksa-maksa aku."
Bara mengelus rambut Sekar. "Tenang, Babe. Biar aku yang urus sampah ini." Bara berjalan mendekati Bentang. Ia menatap wajah Bentang dari dekat, lalu meludah ke tanah.
"Muka kayak aspal jalanan begini berani deketin cewek gue?" hina Bara. "Guys, kasih paham dia soal standar kegantengan."
"Siap, Bos!" seru Jake. "Woi, Ugly Boy! Lo salah lawan!"
"Secara estetika, muka lu memang offensif," tambah Rocky. "Ini adalah polusi visual bagi Nona Sekar."
Jake maju lebih dulu, melayangkan pukulan ke wajah Bentang. Namun, Bentang tidak diam saja, tubuhnya bereaksi secara refleks.
Ia memiringkan kepalanya sedikit, membuat pukulan Jake meleset.
Bentang memasang kuda-kuda rendah. Ia menangkap pergelangan tangan Jake. Dengan gerakan cepat, ia memutar tangan Jake ke belakang punggung, membuatnya menjerit kesakitan.
Bentang mendorong Jake hingga menabrak Rocky yang baru mau maju. Mereka terjatuh saling tindih di tanah.
Para mahasiswa yang menonton menahan napas. Mereka tidak menyangka Bentang ternyata bisa melawan.
"Bangun, Bego!" teriak Rocky pada Jake. "Serang dari dua arah!"
Mereka bangkit dengan marah, lalu menyerang bersamaan. Jake menyerang dari kiri, Rocky menendang dari kanan.
Bentang menarik napas. Ia menangkis tendangan Rocky dengan tulang keringnya. Suara benturan tulang terdengar tumpul. Rocky meringis kesakitan karena kaki Bentang ternyata kokoh.
Lalu Bentang melihat celah di pertahanan Jake. Ia melayangkan pukulan lurus ke ulu hati Jake. Anak buah Bara itu terbatuk-batuk, matanya melotot, dan mundur tiga langkah sambil memegangi perutnya.
Rocky mencoba memukul kepala Bentang dari samping. Bentang menunduk cepat, lalu menyapu kaki Rocky dengan gerakan bawah. Rocky kehilangan keseimbangan dan jatuh terlentang dengan suara keras.
Bentang berdiri tegak di antara dua lawannya yang mengerang. Napasnya sedikit memburu, tapi matanya tajam.
"Jangan ganggu gua," kata Bentang tegas. "Gua nggak mau berkelahi. Gua cuma mau bicara sama Sekar."
Sekar mundur ketakutan, bersembunyi di balik punggung Bara. "Mas Bara ... dia jago silat ternyata."
Bara tertawa pelan. Ia menepuk tangan dua kali. "Lumayan. Ternyata lo lumayan juga. Tapi itu cuma gerakan kampungan."
Bara melangkah maju. Jake dan Rocky merangkak menjauh, memberi jalan pada bos mereka.
"Minggir kalian. Bikin malu aja," kata Bara.
Bara berdiri berhadapan dengan Bentang. Ia memutar cincin Mustika Keling Wesi di jarinya. Batu hitam itu tiba-tiba bersinar merah redup.
Udara di sekitar mereka menjadi panas dan berat, membuat para mahasiswa yang menonton di kejauhan merasa sesak napas tanpa sebab.
Bentang merasakan bahaya. Bulu kuduknya berdiri. Ini bukan lawan sembarangan.
"Denger, Santri Gagal," kata Bara dingin. "Lo mungkin bisa ngalahin dua anak buah gua. Tapi di depan gua, lo cuma seekor semut."
"Jangan banyak omong. Buktikan saja." desis Bentang sambil menekan rasa takutnya.
Bara mengepalkan tangan kanannya. Otot lengannya membesar tidak wajar, urat-uratnya menonjol hitam. Energi jahat berkumpul di kepalan tangannya.
"Siap-siap menemui kedua orang tua lo."
Bara menghantamkan tinjunya ke arah dada Bentang.
Bentang mencoba menangkis dengan silangan kedua tangan, menggunakan teknik pertahanan benteng yang diajarkan guru ngajinya, Ustadz Nash.
Suara tulang patah terdengar. Pertahanan Bentang hancur. Tangan Bara menembus tangkisan Bentang dan menghantam dadanya.
Bentang terpental tiga meter ke belakang. Ia mendarat keras di tanah berdebu.
Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari dadanya. Paru-parunya terasa remuk. Napasnya hampir berhenti.
Jurus silatnya tidak cukup kuat melawan kekuatan mustika iblis.
Bentang terkapar. Pandangannya mulai gelap. Darah kental keluar dari mulutnya, membasahi kemeja flanelnya.
Beberapa mahasiswi yang menonton menutup mulut ngeri. Penjaga kantin memalingkan wajah, tidak tega tapi terlalu takut untuk menolong.
Sekar tertawa kecil melihat Bentang jatuh. "Mampus lo, Tang. Sok jago sih."
Bara berjalan mendekat. Ia menginjak dada Bentang. "Lihat kan? Silat lo nggak guna. Lo itu sudah miskin, jelek, lemah pula."
Bentang sekarat. Di ambang kematian itu, ia mendengar suara.
Suara itu menggema di tengkorak kepalanya.
"Perih, bukan?" bisik suara itu. "Kamu telah membalut dirimu dengan doa dan jurus silat, namun takdir tetap mematahkannya menjadi debu."
Bentang terdiam. Dendam di hatinya kini menjerit lebih lantang daripada rasa sakitnya. Ia muak menjadi seorang pecundang.
"Namaku Kama Wulung. Akulah yang dulu menjahitkan sayap kegagahan di punggung kakekmu, Bentang. Serahkan ragamu padaku. Akan kuajari kamu bagaimana cara menaklukkan dunia."
Bentang teringat wajah sombong Sekar, tawa Bara, wajah para mahasiswa yang tak menolongnya.
"Aku mau. Berikan aku kekuatan!"
Jantung Bentang berdetak satu kali dengan sangat keras. Kaki Bara yang menginjak dada Bentang tiba-tiba terangkat sendiri.
Bara terhuyung mundur. Cincin di jarinya mendesis panas, membakar kulit jarinya.
"Panas! Sialan!" teriak Bara.
Jake dan Rocky yang baru bangkit melihat sesuatu yang aneh. Asap tipis berwarna ungu keluar dari tubuh Bentang.
Luka-luka di wajah Bentang menutup sendiri. Tulang rusuknya berbunyi, menyambung kembali secara paksa.
Ia mengangkat wajahnya.
Wajah itu masih wajah Bentang yang jelek. Hidungnya masih pesek. Tapi matanya menyala ungu gelap. Tetapi sekarang wajah jelek itu terlihat sangat berwibawa, sangat jantan dan sangat memikat.
Kekurangan fisiknya tertutup oleh aura gelap yang memabukkan.
Sekar tiba-tiba merasa napasnya tertahan. Ia menatap Bentang tanpa kedip. Kakinya gemetar. Ia merasa Bentang adalah lelaki paling tampan yang pernah ia lihat. Kemiskinan Bentang mendadak tidak penting lagi.
"Bentang," bisik Sekar tanpa sadar. Matanya kosong.