Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Kebangkitan Menantu Terhina

Kebangkitan Menantu Terhina

Shun Li | Bersambung
Jumlah kata
67.0K
Popular
819
Subscribe
161
Novel / Kebangkitan Menantu Terhina
Kebangkitan Menantu Terhina

Kebangkitan Menantu Terhina

Shun Li| Bersambung
Jumlah Kata
67.0K
Popular
819
Subscribe
161
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeBalas DendamPewarisMengubah Nasib
Anton difitnah dan dipecat oleh Rendi yang menyukai istrinya. Ia bahkan diperlakukan seperti babu oleh mertuanya. Puncaknya, ia ditagih hutang sebesar 500 juta yang menggunakan namanya. Itu adalah ulah mertuanya yang sengaja menjebaknya saat dia masih menjadi Kepala Cabang. Setelah dipukuli dan diusir dalam keadaan hancur, ia bertemu Paramitha, Sekretaris misterius yang mengatakan bahwa Anton adalah putra mahkota keluarga Adiwangsa yang hilang. Wanita itu bahkan memberikan Anton Kartu Hitam berisi 100 Miliyar. Namun Anton tidak semudah itu percaya padanya. Hingga berulang kali dia mengalami kesulitan dan dibantu oleh Paramitha. Akhirnya dia berusaha untuk percaya dan memberinya kesempatan. Berbekal kartu hitam berisi 100 miliar, Anton bangkit untuk menghancurkan mereka yang merendahkannya. Sambil mencari tahu tragedi 20 tahun silam.
Bab 1. Dihina Mertua

"Piring kotor itu gak akan bersih kalau cuma kamu liatin aja, Ton! Dasar menantu gak guna!"

Suara melengking Siska, mertua Anton, memecah keheningan dapur. Pria itu terkesiap, nyaris menjatuhkan piring keramik yang sedang dia keringkan.

Belum sempat ia menjawab, sebuah kain pel basah yang kotor mendarat tepat di bahunya. Mengotori kaos usang yang ia kenakan.

"Coba kamu ngaca, sana!" cibir Siska sambil bersedekap. Matanya menatap Anton dengan tatapan jijik, seolah menantunya adalah tumpukan sampah yang lupa diangkut.

"Udah sebulan kamu cuma rebahan di rumah ini kayak benalu. Makan, tidur, mandi, semuanya pake uang anakku! Apa kamu gak tau malu?" cibirnya. Padahal selama ini Anton tidak seperti yang ia katakan. Pria itu sangat rajin dan selalu berusaha.

Anton menarik napas panjang, mencoba menekan rasa sesak di dadanya. "Bu, aku lagi berusaha nyari kerjaan baru. Ibu tau sendiri, aku dipecat bukan karena kinerjaku buruk. Aku ini kepala cabang terbaik sebelum—"

Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Siska langsung memotongnya dengan cepat. "Halah! Alesan!"

"Kepala cabang apa kalau ujung-ujungnya ditendang kayaki anjing kurap? Pak Rendi itu orang baik, dia gak mungkin mecat kamu kalau kau gak bermasalah. Mungkin kamu emang gak becus kerja!"

Hati Anton perih mendengar nama itu. Rendi, pemilik perusahaan tempatnya mengabdi selama tujuh tahun. Dia sengaja memfitnah Anton melakukan penggelapan dana hanya karena dia menginginkan Maya, istrinya.

Rendi menghancurkan karier Pria itu demi memuluskan jalannya mendekati wanita yang paling dicintai oleh Anton. Namun Anton hanya tahu bahwa Pria itu memecatnya dengan cara yang tidak adil.

Ceklek!

Pintu depan terbuka. Sosok wanita cantik dengan rok span kantor dan riasan wajah yang masih sempurna melangkah masuk. Siapa lagi kalau bukan Maya. Istri tercinta Anton yang kini sudah berpaling ke lain hati.

Bahkan sore itu dia diantar oleh Rendi sampai ke depan rumah. Namun Anton masih belum menyadarinya karena ia sibuk di dapur.

"May, akhirnya kamu pulang. Gimana, capek kerjanya? Lapar, gak?" Siska langsung berubah manis.

Dia menghampiri putrinya, mengambil tas branded dari tangan Maya, lalu melirik Anton dengan sinis. "Liat suamimu ini. Bukannya nyiapin makan malem, malah asyik ngadu nasib sama Mama."

Anton menatap Maya dengan binar harapan. Hanya dia kekuatan Pria itu saat ini. Ia pikir, istrinya masih mencintainya seperti dulu. Sebelumnya, hubungan mereka memang sangat harmonis. Mereka saling mencintai sebelum Rendi mendekati wanita itu.

Anton melangkah mendekat ke arah istrinya, hendak menyambutnya. "May, kamu capek, ya? Biar aku ambilin minum. Oh iya, besok aku ada panggilan wawancara di—"

"Bisa diem gak, Mas?"

Langkah Anton terhenti. Suara Maya begitu dingin, lebih dingin dari es batu. Dia bahkan tidak menatap mata suaminya. Dia sibuk mengusap debu yang tak terlihat, di lengan bajunya.

Perhatian Rendi, sikap romantisnya, bahkan kemewahan yang ia janjikan, membuat Maya sangat muak melihat Anton. Baginya, mereka bagai bumi dan langit. Wanita itu kini sudah tidak sanggup berakting lagi di depan suaminya.

Apalagi bosnya itu telah menjanjikan masa depan yang manis padanya. Makanya dia ingin segera berpisah dari suaminya. Padahal sebelumnya, mereka jatuh cinta karena pernah bekerja dalam satu proyek yang sama. Bahkan Maya yang bekerja di kantor pusat itu selalu mendukung Anton.

"Aku capek pulang kerja, masa harus denger keluhan kamu terus," lanjut Maya. Dia akhirnya menoleh, tetapi tatapannya bukan lagi tatapan cinta yang dikenal Anton tiga tahun lalu. Itu adalah tatapan penghinaan yang sama dengan Mamanya.

"May ... kenapa kamu ngomong gitu? Aku ini suamimu," ucap Anton, lirih tak percaya. Bayang-bayang hubungan mereka yang romantis selama ini, terus berputar di kepalanya. Sulit baginya untuk memercayai perubahan istrinya tersebut.

"Suami?" Maya tertawa hambar. Tawa itu sukses menusuk jantung suaminya. Dari sikapnya, dia seolah sudah tidak menganggap Anton sebagai suami lagi.

"Mas, apa kamu gak sadar? Pak Rendi bener, kamu itu cuma menghambat karierku. Selama ini aku bertahan karena kupikir kamu punya masa depan. Tapi sekarang? Kamu jadi pengangguran yang kerjanya nyuci piring di rumah orang tuaku."

Ya, rumah itu memang atas nama orang tuanya. Namun rumah tersebut dibelikan oleh Anton sebagai mas kawin. Itu pun atas permintaan orang tua Maya. Dulu dia ditantang oleh mereka, jika ingin menikahi Putrinya, maka harus membelikan rumah tersebut.

"Tapi aku difitnah, May. Rendi sengaja fitnah aku biar bisa nendang aku dari perusahaan. Aku juga gak tau apa alasannya. Kamu kan tau sendiri, selama ini kinerjaku kayak gimana. Mana mungkin suamimu ini korupsi?” keluh Anton.

Maya melangkah maju. Berdiri tepat di depan wajah suaminya. Dia menatap kaos suaminya yang kotor terkena air pel tadi dengan raut mual.

“Itu cuma alesan klasik, Mas. Semua buktinya udah jelas. Aku malu punya suami kayak kamu. Kamu tau gak, semua orang kantor pusat udah tau kelakuan hina kamu. Mau ditaruh di mana mukaku ini, Mas?” hina Maya.

Hati Anton mencelos. Baru kali ini ia merasa sangat terhina. Jika hanya mertuanya yang melakukan hal itu, dia sudah biasa. Namun ini adalah istri yang sangat ia cintai. Rasanya seperti diinjak-ijak di kubangan.

Pria itu bingung mengapa istrinya malah membela orang asing. Padahal ia yakin betul bahwa Rendi sengaja menjebaknya. ‘Kenapa dia malah bela Rendi?’ batinnya, sambil menatap wanita itu. Akhirnya ia pun curiga.

“Aku jadi curiga. Jangan-jangan dia sengaja ‘nendang’ aku karena dia naksir sama kamu?” tuduhnya asal, karena saking emosinya. Ia pikir dengan tuduhan itu, istrinya akan melunak dan mengelak.

Namun siapa sangka, respon Maya justru di luar dugaan. Dia malah membela Pria yang sudah jelas menjatuhkan suaminya tersebut.

"Emangnya kenapa kalau Pak Rendi naksir sama aku? Seenggaknya dia mapan, bukan pecundang yang bahkan gak sanggup beliin aku bedak," bisik Maya tepat di telinga suaminya. Suaranya mengandung racun yang mematikan.

Ia lalu merogoh tasnya. Mengeluarkan selembar uang seratus ribu, dan menjatuhkannya ke lantai. Tepat di atas kaki suaminya yang telanjang.

"Sana beli nasi bungkus! Jangan makan jatah Mamaku lagi malam ini. Oh iya, satu lagi ...." Maya menjeda kalimatnya sambil tersenyum tipis. Senyuman itu membuat dunia Anton runtuh seketika.

"Jangan harap aku masih cinta sama kamu. Ngeliat kamu aja, bikin aku mual.”

Anton terpaku di tempatnya. Uang seratus ribu itu diam di bawah kakinya. Namun harga dirinya terasa jauh lebih rendah dari itu.

Belum sempat Anton mencerna kata-kata menyakitkan dari Maya, pintu rumah tiba-tiba dihantam dari luar dengan dentuman keras.

BRAK! BRAK! BRAK!

"Anton! Keluar lo, pengecut! Bayar utang, woy!" teriak sebuah suara berat dari balik pintu.

Bersambung ....

Lanjut membaca
Lanjut membaca