

PRANG!
Suara piring yang pecah menggema di dapur mewah itu, membuat panas suasana pagi di kediaman keluarga Lazuardi.
“Kau ini benar-benar tidak becus! Cuci piring begitu saja bisa pecah!”
Wanita paruh baya yang masih mengenakan jubah tidur, Beninda Lazuardi, mengarahkan telunjuknya di depan wajah pria yang berada hadapannya dengan gemetar karena marah.
Pria itu, Mada, hanya diam menunduk. Ia mengenakan apron dekil yang sangat kontras dengan tubuhnya yang tegap dan bahunya yang lebar. Di kakinya, berserakan pecahan porselen mahal.
“Maaf, Bu,” jawab Mada nadanya yang datar, terdengar tanpa emosi.
“Maaf, maaf! Kau pikir dengan kamu bilang maaf, bisa membuat piring itu utuh lagi? Itu impor dari luar negeri, harganya mahal!” Beninda mendengus, lalu sedikit menendang kaki Mada. “Minggir! Cepat bersihkan!”
Mada tidak membantah. Pria itu berjongkok, dan mulai memunguti pecahan porselen dengan tangan kosong. Wajahnya begitu tenang, seolah teriakan Beninda adalah sesuatu yang biasa.
Dua tahun sudah Mada Mahadana menjalani hidup seperti ini.
Di mata penduduk keluarga Lazuardi, Mada adalah lelucon terbesar. Seorang pria yang tidak diketahui asal usulnya itu kenapa bisa nasibnya begitu beruntung bisa menikahi Alamanda Lazuardi, seorang putri dari keluarga konglomerat Lazuardi Group. Beninda menyebutnya “Menantu Benalu”. Makan dari harta istri, tinggal di rumah mertua, dan pekerjaannya hanyalah seorang pengantar makanan.
Siapa sangka, tangan yang sedang membereskan meja ini pernah memegang leher jenderal musuh di perbatasan. Di tempat ini, tak ada yang tahu bahwa mata yang menatap lantai marmer itu dulu terbiasa melihat ratusan mayat di perang Southview.
“Pagi, Ma.”
Suara lembut itu membuat suasana tegang sedikit mencair. Alamanda turun dari tangga. Wanita itu sudah rapi dengan setelan blazer kantornya, cantik namun tetap tak bisa membohongi rasa lelah yang menggelayut di matanya.
“Lihat suamimu itu, Al! Piring Mama dia pecahkan,” Beninda mengadu, wanita paruh baya itu langsung mengubah nada bicaranya.
Alamanda menghela napas jengah. Perempuan bermata hazel itu menatap Mada yang sedang mengelap lantai. Hatinya merasa kasihan, bagaimana pun Mada adalah suaminya.
“Ma, itu cuma piring,” Alamanda menyentuh tangan ibunya, lalu menghampiri Mada, “kamu tidak luka kan, Mada?” tanya Alamanda.
Mada mendongak, pria itu membalas dengan tersenyum tipis, senyum yang hanya ia berikan pada istrinya. “Aku sangat baik, Al. Maaf untuk keributan pagi ini.”
“Halah, masih pura-pura kuat ,” terdengar cibiran dari suara di arah pintu.
Seorang pemuda dengan setelan kemeja masuk sambil memutar-mutar kunci mobil. Itu Axel, kakak Alamanda. Ia menatap Mada seperti melihat debu yang menempel di ujung sepatunya.
“Heh, Mada. Mobilku kotor kena hujan. Cepat cuci. Bannya harus disemir sampai mengkilap. Sebentar lagi aku harus pergi rapat penting,” Axel memerintah sambil melempar kunci mobil ke arah wajah Mada.
Dengan refleks, Mada menangkap kunci iti sebelum mengenai hidungnya.
“Baik, Kak Axel,” Mada menjawab dengan pelan.
“Satu lagi, ingat ini,” Axel mendekat, menepuk pipi Mada dengan kesan merendahkan, “Nanti malam ada acara makan malam dengan Keluarga Widiarta, dan kau tidak usah ikut. Lihat dirimu itu cuma bikin malu. Kurir sepertimu tidak pantas duduk satu meja dengan para elit.”
“Axel! Jangan asal bicara,” Alamanda melontarkan teguran tajam. “Dia suamiku.”
“Suami? Al! Sadarlah! Ayah sudah bilang berkali-kali, ceraikan dia dan menikahlah dengan Tuan Muda Tirta. Hidupmu terjamin tanpa harus kesusahan. Saat ini perusahaan kita krisis, lihat si sampah ini bahkan tidak bisa bantu apa-apa!”
Alamanda terdiam. Kata-kata itu begitu mwnancap karena sedikit banyaknya memang benar. Bisnis keluarga Lazuardi sedang di ujung tanduk, ditekan oleh pesaing bisnis yang kejam.
Mada berdiri, membersihkan apronnya. Wajahnya masih terlihat tenang, tapi sorot matanya berubah saat mendengar nama ‘Tirta’.
“Aku akan cuci mobilnya,” kata Mada, lalu berjalan keluar menuju garasi.
Halaman itu luas, Mada menyalakan keran air. Cipratan air mengenai wajahnya. Ia menatap pantulan dirinya di kaca mobil mewah itu.
Tiba-tiba, ponsel di saku celananya bergetar.
Zzt... zzt-zzt... zzt.
Mada merogoh kantong mengambil ponsel itu. Layar ponsel menampilkan layar hitam dengan satu baris teks merah.
[TITIK HITAM TERDETEKSI DI SEKTOR 3. TARGET: KELUARGA LAZUARDI.]
Kesan patuh itu lenyap saat Mada menegakkan punggungnya. “Dua tahun aku diam,” bisiknya pelan, suaranya dingin. “Dan kalian berani menyentuh tempatku beristirahat?”
Mada Mahadana meremas spons cuci mobil di tangannya hingga hancur.
Mada selesai mencuci mobil mewah milik Axel tepat saat Alamanda keluar dari pintu utama. Istrinya itu membawa tas kerja dan amplop putih di tangan kanannya.
“Mada,” Alamanda menyodorkan amplop. “Maaf ya, Mama sering berlebihan, Ini uang untuk ganti rugi ke Mama, sisanya bisa kamu pakai untuk bensin dan makan siang nanti.”
Mada menatap amplop itu, lalu beralih pada mata istrinya. Di balik kekejaman yang dilemparkan keluarganya, Alamanda selalu punya cara untuk menjadi penawar. Kebaikan tulus itulah yang selalu berhasil membujuk Mada untuk bertahan.
“Simpan saja, Al. Aku punya tabungan dari hasil kerjaku minggu lalu,” tolak Mada halus. “Lagian, motorku bensinnya lumayan irit.”
“Ayo, ambil,” Alamanda sedikit memaksa, tangannya menyelipkan amplop itu ke saku kemeja yang dipakai Mada. “Tidak boleh sampai kelaparan di jalan. Hati-hati, ya. Jangan ngebut.”
Alamanda mengendarai mobilnya sendiri dan melaju menuju kantor pusat Lazuardi Group.
Mada menatap mobil istrinya menjauh hingga hilang di belokan gerbang kompleks. Senyum yang tipis di wajahnya itu memudar.
Ia berjalan menuju sepeda motor bebek butut keluaran lama, yang orang lain sebut sebagai rongsokan. Ia naik ke atas motornya, menyalakan mesin.
Mada mengeluarkan gawai, jemarinya bergerak lincah di atas layar. Hingga layar navigasi GPS yang tadinya menampilkan peta kota biasa berkedip, ada satu titik merah yang bergerak di peta itu ... mobil Alamanda. Tetapi, ada dua titik merah yang mengikutinya dengan jarak rapat.
“Ada dua mobil yang mengikuti,” Mada bergumam.
Tanpa menunggu balasan, Mada memutar tuas gasnya dalam satu hentakan mantap. Sepeda motor tua itu melesat keluar gerbang.
Jalanan di kota Westview lumayan padat di jam sibuk pagi hari ini. Di jalan layang menuju kawasan perkantoran, mobil Alamanda kini terjebak di jalur tengah. Wanita itu tidak menyadar, salah satu sedan hitam memepetnya pelan-pelan dari sisi kiri, sementara sedan satunya tidak memberikann celah di belakang.
Di dalam sedan hitam itu, masing-masing terdapat tiga pria bertato dengan penutup wajah sudah bersiap. Salah satunya memegang alat pemecah kaca.
“Tunggu dia masuk terowongan depan. Di sana tidak ada CCTV,” perintah pria di kursi depan lewat radio. “Ingat, Bos mau nona itu hidup-hidup. Suaminya yang pengantar makanan itu abaikan saja, dia tidak penting.”
“Siap, Bos.”
Mobil Alamanda mulai memasuki terowongan yang agak gelap, suasana di dalamm mendadak mencekam. Sebuah van hitam membuntuti dengan garang sebelum akhirnya banting setir ke depan mobil Alamanda.
BRAAAAK!