Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
BERONDONG IDAMAN TANTE KESEPIAN

BERONDONG IDAMAN TANTE KESEPIAN

INISIAL R&S=K | Bersambung
Jumlah kata
121.4K
Popular
6.4K
Subscribe
776
Novel / BERONDONG IDAMAN TANTE KESEPIAN
BERONDONG IDAMAN TANTE KESEPIAN

BERONDONG IDAMAN TANTE KESEPIAN

INISIAL R&S=K| Bersambung
Jumlah Kata
121.4K
Popular
6.4K
Subscribe
776
Sinopsis
18+PerkotaanSekolahHaremUrban21+
Di balik kemegahan kampus swasta, Cris hanyalah seorang mahasiswa miskin yang memikul beban hidup yang teramat berat. Tubuhnya yang atletis dan gagah bukan sekadar pajangan, melainkan modalnya bekerja banting tulang sebagai pelatih di sebuah gym demi membiayai pengobatan ibunya yang kritis akibat radang paru-paru. Terjepit di antara tagihan rumah sakit yang membengkak dan ancaman drop-out dari kampus, Cris berada di titik nadir keputusasaan. Kesempatan datang dari Winda, seorang tante sosialita yang melihat "potensi besar" di balik ketampanan dan keluguan Cris. Sebuah tawaran gila diajukan: Menjadi pemuas nafsu bagi wanita-wanita kaya yang kesepian dengan bayaran yang fantastis. Meski hatinya menolak dan harga dirinya meronta, bayangan wajah sang ibu yang sekarat memaksa Cris untuk melangkah ke dalam dunia gelap yang penuh gairah. Malam itu, di bawah temaram lampu hotel mewah, Cris memulai debutnya. Ternyata, di balik sosoknya yang sopan dan pemalu, ia menyimpan bakat alami dan stamina perkasa yang mampu membuat para wanita bertekuk lutut.
Kebingungan Cris.

Cris duduk di selasar kampus dengan pandangan kosong, menatap layar ponsel yang retaknya sudah menjalar ke mana-mana. Ada pesan masuk yang bikin kepalanya serasa mau pecah.

Pesan itu dari bagian keuangan kampus yang bilang kalau dia nggak bisa ikut ujian semester depan kalau tunggakan tiga bulan belum lunas.

Pemuda itu mengusap wajahnya dengan kasar. Rasanya beban di pundak Cris jauh lebih berat daripada beban barbel seratus kilo yang biasa dia angkat di tempat kerja.

Dalam pikirannya. Kalau tak mengikuti ujian semester ini berarti ia harus mengulang lagi, dan itu artinya ia harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk kuliahnya.

Sementar selama ini ia dengan susah payah mengumpulkan uang untuk membayar kuliahnya, belum lagi kebutuhan lain yang tak kalah pentingnya.

"Cris... lu kenapa lagi.? Muka lu udah kayak kertas kusut gitu." sapa Juna, sahabat satu-satunya yang tahu kondisi Cris, sambil duduk di sampingnya.

Cris cuma menghela napas panjang. "Biasa, Jun. Urusan duit. Kampus udah ngasih peringatan terakhir, terus gue sama sekali gak punya uang sebanyak itu. Gue bingung harus cari tambahan ke mana lagi."

Juna terdiam sejenak, wajah konyolnya berubah jadi serius. "Gaji lu di gym emang nggak cukup ya.? Padahal lu kan pelatih yang paling banyak dicari emak-emak sosialita di sana."

"Nggak bakal cukup, Jun. Gaji tiga juta cuma habis buat bayar kontrakan sama beli obat harian Ibu. ya memang ada komisi kalau pelanggan ngasih, tapi ya kepotong 50% untuk gym . Dan gue nggak tahu harus gimana lagi." kata Cris sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.

“Gila… Rakus bener gym loe” juna sembari ikut pusing memikirkan nasib sahabatnya itu.

Cris adalah mahasiswa di universitas swasta yang katanya paling murah, tapi tiap hari dia harus mikir keras gimana caranya bisa makan besok pagi.

Tubuhnya memang atletis dan gagah karena tuntutan kerja sebagai personal trainer di gym. Banyak mahasiswi yang curi-curi pandang tiap dia lewat. Bahkan banyak yang meminta nomor pribadi nya, namun semua ia abaikan.

Sore itu, Cris pulang ke rumah kontrakan yang kecil dan lembap. Bau obat-obatan langsung menyengat hidungnya begitu dia membuka pintu.

Ibunya terbaring lemah di atas kasur tipis, napasnya terdengar berat dan sesekali terbatuk keras yang bikin dada Cris ikut sesak.

"Cris... kamu sudah pulang.?" suara ibunya terdengar sangat parau dan lemah.

Cris langsung mendekat, menggenggam tangan wanita itu yang mulai kurus kering. "Sudah, Bu. Ibu sudah minum obat tadi.?"

Ibunya cuma tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan rasa sakitnya di depan sang anak. "Sudah, Nak. Kamu jangan terlalu capek ya cari uang buat Ibu. Ibu nggak apa-apa kok kalau harus istirahat saja di rumah."

Cris mencium kening ibunya, menahan air mata yang hampir jatuh. "Ibu jangan mikir macam-macam. Pokoknya Cris bakal cari jalan keluar. Dan Ibu harus sembuh."

Malam itu, Cris nggak bisa tidur. Ia terbaring di ranjang usangnya menatap langit-langit kamarnya yang sudah berlubang di beberapa bagian.

Ia terus memikirkan cara untuk menambah penghasilan untuk mengatasi masallah keuangannya, namun semakin ia pikir semakin pusing kepalanya, hingga ia terlelap dalam tidurnya yang tak sepenuhnya tertidur.

Waktu berlalu begitu cepat. Pagi itu, ketenangan di rumah kontrakan kecil itu pecah seketika.

Cris yang baru saja mau menyiapkan sarapan sederhana mendadak lari ke kamar saat mendengar suara batuk ibunya yang sangat hebat.

Begitu pintu dibuka, jantung Cris serasa berhenti berdetak. Ibunya terduduk di pinggir kasur dengan telapak tangan menutupi mulut, dan di sana ada bercak darah segar yang merembes di sela jari-jarinya.

Tak lama setelah itu, tubuh lemah ibunya lunglai dan jatuh pingsan di pelukan Cris.

"Ibu... Ibu. Bangun, Bu." teriak Cris panik. Wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar hebat.

Tanpa membuang waktu, Cris menyambar ponselnya dan menelepon Juna. Beruntung, rumah Juna cuma beda beberapa blok.

Hanya dalam hitungan menit, Juna datang dengan mobil tuanya dan mereka langsung menggotong Maya ke rumah sakit tempat ibunya selalu di rawat.

Di lorong rumah sakit yang dingin, Cris mondar-mandir dengan perasaan hancur. Tak lama, seorang wanita cantik dengan jas putih keluar dari ruang penanganan.

Dia adalah Dokter Niken, dokter spesialis paru yang selama ini selalu sabar membantu pengobatan ibunya. Dokter Niken bukan cuma cantik, tapi hatinya sangat baik dan sering kali membantu meringankan biaya administrasi dan menjamin tunggakan biaya untuk ibunya Cris.

"Gimana kondisi Ibu saya, Dok.?" tanya Cris langsung mencegat langkah Dokter Niken.

Dokter Niken menghela napas panjang, menatap Cris dengan tatapan prihatin. "Kondisi Bu Maya sangat parah kali ini, Cris. Infeksinya menyebar luas. Ibu harus segera masuk ruang perawatan intensif atau ICU sekarang juga kalau mau selamat."

Cris terdiam cukup lama. Dia tahu masuk ICU artinya biaya yang dikeluarkan bakal berkali-kali lipat dari biasanya.

Juna yang berdiri di samping Cris menepuk pundak sahabatnya itu. Dia merogoh dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan. "Cris, ini ada uang jajan gue sisa bulan ini, ada lima ratus ribu. Pakai dulu ya buat daftar atau beli obat darurat."

Cris menerima uang itu dengan tangan gemetar. "Makasih banyak, Jun. Lu bener-bener sahabat gue."

Meski sangat berterima kasih, dalam hati Cris menjerit. Uang lima ratus ribu itu nggak ada artinya dibandingkan tagihan yang ada di depan matanya.

Dia baru saja mengecek bagian administrasi, dan total tunggakan lama ditambah biaya masuk ICU hari ini mencapai 20 juta rupiah. Jumlah yang mustahil dia dapatkan hanya dengan bekerja sebagai pelatih gym biasa.

Cris duduk di kursi tunggu, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tekanan dari kampus, tekanan dari rumah sakit, dan bayangan ibunya yang sekarat bener-bener membuat dia merasa terpojok di ujung jurang.

"Harus ke mana lagi gue cari uang sebanyak itu dalam semalam..." gumam Cris lirih.

Di tengah kebingungan yang luar biasa, tiba-tiba ponsel di saku celana Cris bergetar hebat. Dia mengangkatnya dengan malas tanpa melihat layar, suaranya terdengar parau karena habis menahan tangis.

"Halo.?"

"Cris. Kamu di mana.? Jam berapa ini.? Kamu tahu nggak pelanggan tetap kamu sudah menunggu dari tadi. Kalau begini terus, mending kamu nggak usah kerja sekalian." suara Robert, bos gym tempat Cris bekerja, meledak di seberang telepon.

Cris tersentak dan langsung melihat jam di dinding rumah sakit. Ternyata sudah pukul sebelas siang. Dia benar-benar lupa waktu karena mengurus ibunya yang pingsan tadi.

Tanpa pikir panjang, Cris langsung meminta tolong Juna untuk mengantarnya ke tempat gym. Beruntung Juna selalu siap sedia membantu sahabatnya itu dalam kondisi apa pun.

Begitu sampai di gym, Cris buru-buru mengganti baju dan menemui pelanggannya yang sudah menunggu.

Dia adalah Tante Winda, seorang wanita sosialita yang cukup cantik dengan bentuk tubuh yang masih terjaga kencang. Winda dikenal sebagai pelanggan yang ceria dan royal, dia sering memberi tip kecil untuk Cris setelah sesi latihan selesai.

"Duh, Cris... kok telat sih.? Tante sudah pemanasan sendiri lho dari tadi." sapa Winda sambil tersenyum manis.

Cris cuma bisa menunduk sambil minta maaf berkali-kali. "Maaf banget, Tante. Tadi ada urusan mendadak sekali."

Mereka pun memulai sesi latihan. Cris mencoba bersikap profesional, tapi pikirannya benar-benar kacau. Bayangan angka 20 juta untuk biaya ICU ibunya terus berputar di kepalanya.

Dia jadi sering salah memberikan instruksi dan gerakan tubuhnya terlihat sangat kaku.

Winda yang menyadari perubahan sikap Cris tiba-tiba menghentikan gerakannya. Dia berjalan mendekat, lalu dengan sengaja menempelkan telapak tangannya ke dada bidang Cris yang terbungkus kaos ketat.

Dia juga meremas pelan otot bisep Cris yang keras.

"Kamu kenapa sih, Cris.? Kok hari ini nggak fokus banget.? Ada masalah ya.?" tanya Winda dengan nada yang sedikit genit, matanya menatap tajam ke arah wajah ganteng Cris.

Cris yang dasarnya adalah cowok lugu dan belum berpengalaman menghadapi wanita seperti Winda, langsung merasa kikuk.

Dia mencoba menjauhkan sedikit tubuhnya karena merasa sungkan diperlakukan begitu. "Nggak apa-apa kok, Tante. Cuma kurang tidur saja."

Winda makin penasaran. Dia justru makin berani mendekat dan memegang pundak Cris. "Jangan bohong sama Tante. Muka kamu nggak bisa bohong. Ayo cerita, siapa tahu Tante bisa bantu meringankan beban kamu."

Awalnya Cris terus menolak untuk bicara soal masalah pribadinya. Tapi karena desakan Winda yang terus-menerus dan rasa putus asa yang sudah di ujung tanduk, akhirnya pertahanan Cris runtuh juga.

Dengan suara yang hampir bergetar, Cris menceritakan kondisi ibunya yang baru saja masuk ICU dan tagihan rumah sakit yang sangat besar yang harus dia lunasi segera.

Winda terdiam sejenak setelah mendengar cerita Cris. Matanya menatap tubuh tegap Cris dari atas sampai bawah, lalu dia menghela napas panjang seolah sedang menimbang sesuatu.

"Cris, dengerin Tante ya. Ibu kamu butuh uang itu sekarang juga, dan kalau kamu cuma ngandelin gaji di sini, sampai tahun depan pun nggak bakal kekumpul." kata Winda sambil mendekat, suaranya merendah jadi bisikan yang serius.

Winda kemudian memberikan tawaran yang bikin jantung Cris sedikit berdebar.

"Gimana kalau kamu kerja sampingan sama tante. Tante punya pekerjaan yang pas buat kamu." Ucap Winda.

Lanjut membaca
Lanjut membaca