

"Apa?!”
Wanita itu berdiri dengan sombong.
“Mencintaiku?” ulangnya, lalu tertawa kecil.
“Kau ingin aku jadi pacarmu?”
“Serius, Leon… kau gila, ya?”
“Hahaha..”
Tawa itu makin keras.
Beberapa warga yang tadinya lewat mulai melambat. Kemudian menonton, menikmati pertunjukkan itu. Leon berdiri kaku. Jarak mereka dekat. Tapi terasa jauh.
“Aku hanya—”
“Cukup.” Ayu mengangkat tangan, memotong.
“Pria miskin, pembawa sial sepertimu… berani bermimpi setinggi itu.”
Sejak dulu Leon selalu disalahkan karena terlahir sebagai anak Haram, dan satu persatu keluarganya mati sejak dia lahir.
“Dia bilang cinta…”
“Ke Ayu?”
“Tidak tahu diri…”
Bisikan warga mulai terdengar jelas.
“Ada apa ini, Ayu? Kenapa kau masih disini?”
Pria paruh baya datang, wajahnya langsung berubah saat melihat Leon berdiri didepan putrinya.
“Ini loh ayah,”
“..dia mau aku jadi pacarnya,” ucapnya manja.
Pria itu menatap Leon dengan tajam.
“Apa? Kau mau jadi pacarnya Ayu?” suaranya berat.
Tangan kasarnya mencengkeram lengan Leon.
“Kurang ajar! Berani sekali kau?!”
“Pak, tunggu—” ucap Leon berusaha menghentikan langkah pria itu, tapi sia sia.
Leon diseret melewati jalan tanah, diikuti tatapan warga yang kini menertawakan.
BRUKKK..!
Leon terdorong, tubuhnya jatuh ke tanah. Semua mata memandangnya seolah mengintimidasi.
“Awas kau ya! Kalau aku lihat kau masih berani mendekati Ayu lagi, kupatahkan tangan dan kakimu!” ancam pria itu, lalu pergi.
Ayu juga ikut berjalan dibelakangnya.
“Kalau mau sama aku, jadi pria sukses dulu!” ejek Ayu sambil berjalan melewatinya.
Suara tawa nya masih tertinggal seolah menempel di telinganya. Mengulang setiap hinaan yang merendahkanya.
Leon masih duduk di tanah, napasnya berat, bahunya naik turun. Debu menempel di bajunya, dan darah tipis mengalir dari lengannya yang tergores batu.
“Agh…”
Ia menatap luka itu, kemudian mengalihkan pandangan. Warga sudah pergi, tidak ada lagi yang menonton. Setidaknya untuk sesaat.
Leon berdiri perlahan meski kakinya goyah, tapi dia tetap berusaha untuk tegak. Ia berjalan pulang.
KRIEETT..!
Pintu rumah reyot itu terbuka dengan suara panjang, kemudian Leon masuk, lalu duduk di kursi kayu tua yang hampir patah.Perlahan tangannya mengusap luka di lengannya, menghapus tanah yang masih menempel.
Rumah itu sunyi semenjak kematian ibu dan neneknya… tidak ada lagi suara yang menyambutnya. Bahkan.. dia tidak pernah tahu siapa ayah kandungnya.
Di kota kecil ini, hal seperti itu bukan sekadar rahasia. Itu adalah aib.
‘Anak haram pembawa sial.’
Leon terkekeh pelan, namun bukan karena lucu. Tapi karena… sudah terlalu sering mendengar kalimat itu.
Leon mengambil ponselnya dari dalam saku.
“Leon, bantu aku di bengkel.”
Pesan dari Andre, temannya, seorang pemilik bengkel kecil di kotanya.
Leon bekerja serabutan. Warga masih membutuhkan tenaganya meski hanya sekedar untuk memperbaiki pipa yang bocor, atau atap yang rusak. Dari situlah Leon mendapatkan uang untuk makan.
Leon berdiri, mengambil sepedanya.
Namun langkahnya terhenti ketika matanya bertemu dengan wanita yang tidak asing.
“Leon..” teriak wanita itu.
Dia adalah Bela, gadis cantik yang kuliah di kota besar. Gadis itu berjalan cepat ke arahnya, rambutnya sedikit berantakan tertiup angin, napasnya terengah.
Leon tersenyum tipis.
“Kapan pulang?” tanya Leon.
“Semalam. Aku libur semester. Jadi bisa pulang lebih lama,” jawab Bela.
Matanya tak lepas dari Leon. Perlahan pandangannya turun. Memandang pipinya, ada bekas luka samar yang belum sepenuhnya hilang, kemudian berhenti di lengannya yang lecet.
Bela mendekat.
“Aku dengar keributan yang terjadi barusan,” ucapnya.
Leon diam.
“Tidak usah terlalu dipikirkan,” lanjut Bela.
“Mereka tidak akan mengerti… bagaimana rasanya jadi kamu.” ucapnya memberi dukungan.
Kata kata itu terasa menenangkan.
Leon hanya tersenyum kecil.
“Dan.. emm..”
Tiba tiba wajah Bela memerah.
“Pria sebaik dan.. setampan kamu.. tidak seharusnya merasa hancur cuma karena ditolak Ayu.”
“Masih banyak wanita yang menyukaimu dan—“
Kalimatnya terhenti.
Leon terdiam memandangnya.
“Ah, sudahlah,” ucap Bela tiba tiba mengalihkan pembicaraan.
Tatapannya langsung tertuju pada lengan Leon yang terluka, dan meraihnya.
“Kau berdarah. Sini—”
Leon refleks menarik tangannya.
Bela menyadari bahwa Leon sedang memberi jarak.
“Tidak perlu. Aku baik baik saja,” jawabnya.
Bela tersentak karena gerakan Leon yang tiba tiba itu.
Tangannya menggantung di udara sesaat… sebelum perlahan turun.
Bela memang sudah lama menyukai Leon.
Leon memang tampan. Kulit putih dengan tubuh proporsional.
“Aku harus pergi. Sampai nanti.” Katanya sambil menaiki sepeda.
Tanpa menunggu jawaban, ia langsung mengayuh sepedanya dengan cepat. Disisi lain, Bela masih berdiri diam memandangi punggung Leon yang mulai menjauh.
“Kau ini.. benar-benar tidak peka, Leon,” gumamnya.
Tak lama, Leon tiba di bengkel kecil di ujung jalan. Dia segera menyandarkan sepedanya di dinding.
“Datang juga.”
Suara Andre terdengar dari dalam, tangannya masih sibuk membongkar mesin motor.
“Sori terlambat,” ucap Leon.
“Ada satu motor yang belum kukerjakan tuh.”
Dia menunjuk ke sudut, di sana terdapat sebuah motor tua yang berdebu seolah sudah lama ditinggalkan.
Leon mendekat, matanya menatap mesin itu beberapa detik, sebelum akhirnya berjongkok.
Tangan Leon bergerak tanpa ragu, memegang alat seadanya, dia membongkar mesin seolah sudah hafal setiap bagiannya. Baut demi baut dilepas, dibersihkan, lalu dipasang kembali.
Siang itu, bengkel Andre dipenuhi suara mesin dan teriakan pelanggan.
“Ini bisa hari ini, kan?!”
“Cepat ya, dipakai kerja besok!”
Tidak ada waktu istirahat, tidak ada waktu makan siang.
Langit perlahan gelap ketika jarum jam menunjuk pukul enam sore.
“Ah… akhirnya selesai juga,” Andre menghela napas panjang sambil meregangkan tubuhnya.
Leon hanya mengangguk.
Leon merapikan kunci, obeng, dan oli, lalu dikembalikan ke tempatnya semula.
“Leon,” Andre menyodorkan sebuah amplop tipis.
“Upahmu hari ini.”
Leon menatapnya sejenak, lalu menerimanya.
Dia tersenyum tipis sambil menggenggam amplop itu dengan erat.
“Minum dulu.”
Andre memberinya sebotol air.
Leon langsung membukanya dan meneguk habis dalam sekali tarikan.
“Kau gak capek kerja dari pagi sampai pagi?”
Leon diam beberapa detik.
Menatap botol kosong di tangannya.
“Mana mungkin?” jawabnya singkat.
“Tapi.. mau gimana lagi?”
Nadanya datar. Itu bukan keluhan. Tapi kenyataan.
Andre sudah mengenal Leon sejak dulu. Dia tau bagaimana kehidupan Leon.
Andre menepuk pundaknya pelan.
“Yasudah hati-hati di jalan.”
Leon hanya mengangguk, lalu pergi.
Sepeda tuanya berderit pelan di jalanan yang mulai sepi. Lampu-lampu di kota itu mulai menyala.
“Nasi goreng satu, bungkus,” ucapnya kepada pemilik kedai.
Dia kembali mengayuh.
Beberapa menit kemudian, Leon tiba dirumahnya.
KRIEETT..
Pintu terbuka.
Leon masuk tanpa menyalakan lampu utama seperti biasanya, lalu melepas bajunya dan masuk ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian, dia duduk di meja makan sederhana, membuka bungkus nasi dan langsung makan dengan lahap.
Setelah habis, dia merebahkan tubuhnya di ranjang tipis. Ranjang itu sedikit berderit, ketika punggungnya menempel diatasnya, seolah hampir patah.
“Ah...akhirnya bisa istirahat.”
Matanya menatap langit-langit yang retak. Perlahan matanya terpejam.
Dalam tidurnya, Leon bermimpi. Wajah itu… tak pernah bisa dia lupakan. Wajah ibunya, terlihat begitu hangat dan lembut, berbeda dengan dunia nyata yang ia kenal.
“Leon..”
Suara itu menggema. Terdengar jauh… tapi jelas. Perlahan tangan ibunya terulur dan memberikan sesuatu. Tanpa sadar Leon menerimanya. Dia menatap cincin perak berukiran naga itu dengan perasaan bingung. Leon tidak sempat bertanya, ketika segalanya… memudar dengan cepat.
“Hah—!”
Leon terbangun dari mimpinya, nafasnya memburu. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Kamar itu tetap sunyi.
Tiba tiba alisnya mengernyit.
Ada sesuatu yang… terasa aneh. Dia menunduk. Lalu perlahan membuka telapak tangannya. Dan seketika itu juga matanya membesar.
“...cincin?”
Benda itu.. sama persis seperti di mimpinya. Ketika digenggam rasanya dingin, namun nyata.
TING—
Cincin itu tiba-tiba bergetar. Tidak lama cahaya redup muncul dari ukiran naga. Lalu menyala. Telapak tangannya terasa panas.
“Gh—!”
Refleks, Leon melemparnya. Cincin itu akhirnya jatuh ke lantai. Namun cahaya itu… tidak juga padam, bahkan kini berdenyut seolah ada kehidupan didalamnya.
Leon mundur satu langkah.
“A-Apa.. Apa itu?”