

Hujan di kota itu turun seperti kutukan orang miskin.
Bukan hujan romantis yang cocok buat orang pacaran sambil ngopi di kafe estetik. Bukan juga hujan tipis yang bikin udara adem dan kepala plong. Ini hujan model akhir bulan—deras, miring, dan bunyinya seperti dunia sedang menertawakan orang yang isi dompetnya tinggal serpihan harapan.
Di sebuah kamar kos ukuran tiga kali empat yang cat temboknya mulai mengelupas di sudut-sudut, Raka Pradipta sedang menatap panci mie instan dengan ekspresi orang yang baru sadar hidupnya tidak akan berubah hanya karena menambahkan dua cabai rawit.
Ia berdiri di depan kompor listrik pinjaman yang panasnya lebih labil daripada hubungan orang PDKT. Di atas meja plastik yang kakinya agak goyang, satu bungkus mie rasa ayam bawang sudah dibuka dengan penuh penghayatan. Tidak ada telur. Tidak ada sawi. Tidak ada sosis. Bahkan bawang goreng pun tinggal remah yang menempel di sachet.
Raka mengaduk mie itu sambil melirik dompet di samping rice cooker.
Dompet hitam kusam itu terbuka sedikit, seolah sedang memperlihatkan isi perutnya yang sama kosong.
Ia mematikkan kompor, menuang mie ke mangkuk plastik retak, lalu duduk di kasur tipis yang setiap malam mengingatkannya bahwa tulang belakang juga punya hak asasi.
Ia membuka dompet.
Dua lembar dua ribuan.
Satu koin seribu.
Satu struk ATM yang saldonya, kalau dibacakan keras-keras, mungkin akan dianggap lelucon nasional.
Raka memandangi semuanya selama beberapa detik.
Lalu ia menutup dompet dengan gerakan pelan, penuh hormat.
“Terima kasih atas perjuanganmu,” katanya datar. “Kita sudah melewati banyak hal bersama.”
Perutnya keroncongan, tapi kepalanya lebih ribut.
Tagihan kos jatuh tempo tiga hari lagi.
Uang semester masih kurang.
Laptopnya mulai error kalau dipakai buka lebih dari empat tab.
Dan besok pagi dia masih harus pura-pura jadi mahasiswa waras di kampus, padahal hidupnya sekarang sudah lebih mirip konten “eksperimen sosial: berapa lama manusia bisa bertahan dengan mie dan utang?”
Ponselnya bergetar di samping bantal.
Layar menyala.
Ibu
Raka menatap nama itu selama dua detik sebelum menghela napas pelan.
Lalu ia mengangkat telepon dengan suara yang sengaja dibuat lebih ringan.
“Halo, Bu.”
“Raka, kamu lagi apa?”
“Makan, Bu.”
“Alhamdulillah. Makan apa?”
Raka melirik mangkuk mie di tangannya.
“Ya… makan.”
Ibunya terdiam sebentar, lalu tertawa kecil dari seberang. Tawa yang hangat. Tawa yang selalu berhasil membuat dada Raka sesak tanpa alasan yang bisa dijelaskan.
“Kamu itu, kalau bohong suaranya selalu beda.”
Raka ikut tertawa kecil, tapi matanya tidak ikut.
“Lagi hujan, Bu. Jadi malas keluar.”
“Jangan sering makan mie.”
“Iya.”
“Uangnya masih ada?”
Pertanyaan sederhana itu membuat tenggorokan Raka terasa kering.
Ia melihat dinding kamar. Melihat kipas angin tua yang berdecit. Melihat jemuran kaus kaki di dekat jendela. Melihat hidupnya sendiri seperti orang luar.
“Masih, Bu,” jawabnya akhirnya.
Bohong.
Bohong yang diucapkan dengan tenang. Bohong yang sudah terlalu sering dipakai sampai terdengar seperti kebiasaan.
Ibunya menghela napas pelan.
“Bapak tadi habis pulang dari sawah. Kakinya pegal lagi. Tapi dia tetap maksa bantu Pakde bersihin kebun.”
Raka diam.
“Dia nggak bilang apa-apa sih,” lanjut ibunya, “cuma… kamu tahu sendiri. Dia kalau lagi kepikiran soal biaya kuliahmu, tidurnya nggak pernah nyenyak.”
Kalimat itu masuk ke dada Raka seperti paku.
Ia menunduk, memandang mie yang mulai mengembang terlalu lama di mangkuk.
“Aku lagi cari tambahan, Bu.”
“Jangan terlalu dipaksakan.”
“Harus dipaksakan.”
“Kamu jangan sakit.”
“Enggak akan.”
“Kamu kalau sakit juga nggak pernah bilang.”
Raka mengusap wajah dengan tangan kiri. Hujan di luar makin keras. Suara tetesan air di talang terdengar seperti hitungan mundur hidup.
“Bu…”
“Hm?”
“Kalau… misalnya ya,” katanya pelan, “kalau suatu hari Raka punya uang banyak, Ibu pengin apa?”
Ibunya tertawa kecil.
“Kenapa nanya begitu?”
“Pengen tahu aja.”
“Kalau Ibu…” Suara itu terdengar lembut. Sangat lembut. “Pengen Bapak nggak kerja terlalu capek lagi. Pengen atap dapur dibenerin. Sama… pengin kamu bisa makan enak tanpa ngitung harga dulu.”
Raka menelan ludah.
Kalimat itu sederhana. Tapi justru itu yang paling menyakitkan.
Karena mimpi ibunya bukan rumah mewah. Bukan mobil baru. Bukan emas. Bukan liburan ke luar negeri.
Cuma hidup yang sedikit lebih lega.
Cuma hidup yang tidak harus selalu hemat sampai ke napas.
“Raka?”
“Iya, Bu.”
“Kamu jangan dipikir sendiri, ya.”
“Iya.”
“Kalau lagi susah, pulang juga nggak apa-apa.”
Raka memejamkan mata sebentar.
Pulang.
Kata yang selalu terdengar hangat sekaligus menyakitkan.
Pulang artinya istirahat.
Tapi pulang juga artinya mengakui bahwa dia gagal.
“Belum bisa, Bu,” jawabnya pelan. “Aku… belum bisa pulang.”
Ibunya diam beberapa detik, lalu berkata pelan, “Ya sudah. Jaga diri. Jangan lupa makan yang bener.”
Telepon ditutup.
Kamar itu terasa lebih sunyi dari sebelumnya.
Raka meletakkan ponsel, lalu duduk diam sambil memegang garpu plastik yang salah satu giginya sudah patah. Ia tidak langsung makan. Ia cuma menatap mie itu seperti sedang menatap ringkasan hidup.
Murah.
Praktis.
Mengenyangkan untuk sementara.
Tapi kalau terus-terusan, pelan-pelan merusak dari dalam.
Kalau ada satu hal yang paling dibenci Raka dari hidupnya, itu bukan miskin.
Miskin itu berat, iya. Tapi yang lebih menyiksa adalah nyaris.
Nyaris cukup.
Nyaris aman.
Nyaris berhasil.
Nyaris lega.
Ia bukan anak yang lahir dari tragedi besar. Tidak ada cerita ayah pemabuk, ibu kabur, atau masa kecil yang dibuat-buat tragis seperti sinetron jam tujuh malam. Hidupnya biasa saja. Terlalu biasa, malah.
Ayahnya petani. Ibunya jualan kecil-kecilan dari rumah. Mereka bukan orang yang punya banyak, tapi selalu berusaha terlihat cukup.
Dan justru itu yang paling menyakitkan.
Karena Raka tumbuh melihat bagaimana dua orang yang sangat sederhana bisa terus tersenyum meski dunia berkali-kali memperlakukan mereka seperti cadangan.
Ia masuk kuliah bukan karena kaya, tapi karena keras kepala.
Ia kerja sambilan dari semester awal. Jadi admin online shop. Ngetik caption produk kecantikan. Bikin desain promosi murahan. Jual akun game bekas. Jadi joki tugas orang yang lebih kaya tapi lebih malas. Pernah juga ikut-ikutan teman masuk kripto, dan hasilnya cuma satu:
miskin dengan pengalaman baru.
Kalau ada yang bertanya cita-citanya apa, Raka selalu punya jawaban yang terdengar bodoh tapi jujur.
Kaya.
Bukan “membangun negeri.”
Bukan “bermanfaat untuk sesama.”
Bukan “menjadi versi terbaik diri sendiri.”
Omong kosong.
Raka cuma mau kaya.
Bukan karena serakah.
Tapi karena dia terlalu sering merasakan bagaimana rasanya jadi orang yang semua kebutuhannya harus ditunda.
Mau beli obat? Tunggu gajian.
Mau servis laptop? Tunggu transferan.
Mau traktir ibu makan? Tunggu rezeki.
Mau hidup tenang? Tunggu mukjizat.
Yang paling bikin muak adalah orang-orang yang lahir nyaman lalu berkata, “Uang bukan segalanya.”
Benar.
Tapi orang yang bilang begitu biasanya tidak pernah memilih antara bayar kos atau makan lauk.
Raka menyuapkan mie pertama ke mulutnya.
Lalu ponselnya bergetar lagi.
Grup kampus.
Bima: Besok jangan telat, Rak. Dosen killer masuk pagi.
Doni: Eh iya, sama iuran acara jangan lupa. Tinggal lu doang belum transfer.
Nisa: Yang belum bayar dicatat ya.
Raka memandangi chat itu tanpa ekspresi.
Bukan salah mereka. Memang dia yang belum bayar.
Tapi tetap saja, ada jenis malu yang tidak bisa dijelaskan ke orang yang tidak pernah merasakannya.
Malu karena selalu jadi yang terakhir.
Malu karena selalu “nanti ya.”
Malu karena bahkan seratus ribu pun bisa terasa seperti gunung.
Ia mengetik balasan.
Raka: Besok gue usahain.
Ia tidak menjawab soal iuran.
Karena “nggak punya” terlalu telanjang untuk diketik.
Jam menunjukkan pukul 19.17.
Di luar, hujan belum juga reda. Angin sesekali menghantam jendela kayu tipis sampai kaca bergetar kecil. Dari kamar sebelah terdengar suara orang main Mobile Legends sambil teriak-teriak seperti nasib bangsanya sedang dipertaruhkan.
Raka bangkit dari kasur, mencuci mangkuk, lalu berdiri di depan cermin kecil yang digantung miring di dinding.
Wajahnya tidak buruk.
Tinggi lumayan. Bahu cukup tegap. Rambut hitam sedikit berantakan. Mata tajam kalau sedang serius, tapi lebih sering terlihat lelah. Kalau hidupnya lebih baik sedikit saja, mungkin dia termasuk tipe cowok yang sering dibilang “diam-diam menarik.”
Sayangnya hidupnya tidak baik.
Dan dunia punya kebiasaan kejam: wajah bagus pun bisa terlihat kalah kalau isi rekeningmu memprihatinkan.
Ia menatap pantulan dirinya sendiri.
“Lu sebenernya mau jadi apa, sih?” gumamnya.
Pantulannya tidak menjawab. Ya jelas. Cermin bukan motivator.
Raka menghembuskan napas, lalu meraih laptop di meja.
Malam ini dia berencana lembur cari kerja freelance lagi. Apa pun. Ngetik. Edit. Caption. Terjemahan. Input data. Pokoknya apa saja yang bisa dibayar tanpa perlu harga diri terlalu mahal.
Laptop menyala lambat, seperti ikut lelah.
Ia membuka browser.
Satu tab.
Dua tab.
Tiga tab.
Lalu layar nge-lag.
“Ya Allah…” Raka memijat pelipis. “Kalau kamu mau mati, jangan sekarang.”
Ia klik satu situs lowongan.
Tidak ada yang cocok.
Klik situs lain.
Bayarannya hina.
Klik lagi.
“Dicari content creator berpenampilan menarik, kendaraan pribadi, laptop pribadi, mampu bekerja di bawah tekanan.”
Raka membaca itu lalu tertawa hambar.
“Yang dicari karyawan atau korban?”
Ia menutup laptop agak keras.
Dan tepat saat itu—
Byar!
Lampu kamar mati.
Kipas angin berhenti.
Laptop ikut padam.
Seluruh kamar tenggelam dalam gelap.
Raka terdiam tiga detik.
Lalu menatap langit-langit yang tak terlihat.
“Bagus,” katanya pelan. “Bagus sekali. Lengkap sudah.”
Dari luar terdengar suara beberapa anak kos mengeluh serempak.
“Listrik mati, woi!”
“Anjir!”
“WiFi ikut mati nggak?!”
“MATI SEMUA!”
Raka meraba-raba kasur mencari ponsel. Ketika layar menyala, cahaya putih kebiruan memotong gelap kamar itu dan menyorot hidupnya dengan sangat tidak sopan.
Ia menatap baterai ponsel.
12%
“Wah,” gumamnya. “Indah.”
Ia duduk kembali di kasur, menyandarkan punggung ke dinding.
Tidak ada kipas.
Tidak ada internet.
Tidak ada kerjaan yang bisa dikerjakan.
Tidak ada uang.
Tidak ada kabar baik.
Cuma ada suara hujan, kamar pengap, dan kepala yang terlalu penuh.
Aneh ya, pikirnya.
Kadang hidup tidak menghancurkanmu lewat satu bencana besar.
Kadang hidup cuma menumpuk hal-hal kecil yang menyebalkan sampai suatu malam kau duduk sendirian dalam gelap dan merasa sangat, sangat capek.
Raka menatap layar ponselnya yang mulai redup.
Ia membuka aplikasi mobile banking.
Saldo terakhir: Rp27.843
Ia menatap angka itu cukup lama.
Dua puluh tujuh ribu delapan ratus empat puluh tiga rupiah.
Harga dua kali makan sederhana.
Harga satu ongkir dan satu kopi.
Harga rasa aman selama… mungkin dua hari, kalau hemat.
Dan di momen itu, entah kenapa, ada sesuatu di dalam dirinya yang pecah.
Bukan pecah besar.
Bukan dramatis.
Bukan air mata atau teriakan.
Cuma rasa letih yang akhirnya menemukan bentuk.
Ia meletakkan ponsel di pangkuan.
Menengadah ke langit-langit gelap.
Lalu bicara.
Bukan dengan gaya orang saleh yang hafal doa-doa panjang.
Bukan dengan kata-kata puitis.
Tapi dengan kejujuran paling telanjang yang bisa dimiliki orang yang sudah terlalu capek pura-pura kuat.
“Ya Allah…”
Hujan masih turun.
Dari kamar sebelah, suara orang mengumpat karena sinyal hilang terdengar samar.
“Saya capek.”
Suara Raka pelan. Serak. Nyaris seperti bisikan.
“Saya nggak minta jadi orang paling hebat.”
Ia menelan ludah.
“Nggak minta terkenal.”
Tangannya menggenggam ponsel lebih erat.
“Nggak minta semua orang suka sama saya.”
Ia tertawa kecil. Tawa yang terdengar patah.
“Saya cuma mau kaya.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Sederhana.
Bodoh.
Jujur.
Dan justru karena jujur, kalimat itu terasa lebih berat daripada doa panjang mana pun.
“Saya cuma mau rekening tebal,” lanjutnya, setengah malu, setengah pasrah. “Biar nggak takut tiap tanggal tua. Biar nggak bohong terus kalau ditanya ibu. Biar kalau bapak sakit, saya nggak perlu mikir biaya dulu. Biar… saya bisa hidup kayak manusia normal.”
Ia mengusap wajahnya.
“Nggak usah miliarder juga nggak apa-apa. Cuma… cukup. Cuma pengin cukup.”
Petir menyambar di luar.
BRAK!
Cahaya putih dari kilat memantul sesaat di kaca jendela.
Dan tepat setelah itu—
ponselnya menyala sendiri.
Raka menatap.
Ia tidak menyentuh apa-apa.
Tidak ada notifikasi biasa. Tidak ada logo aplikasi.
Layar tiba-tiba berubah hitam total.
Lalu sebuah garis putih tipis muncul di tengah.
Raka mengernyit.
“Apaan…”
Garis itu berkedip.
Lalu membentuk teks.
PERMINTAAN TERVERIFIKASI.
Jantung Raka seperti tersengat.
Ia menegakkan badan.
“Apa?”
Tulisan baru muncul.
DOA PENGGUNA TELAH DITERIMA.
KEINGINAN UTAMA: KAYA.
TINGKAT KEPUTUSASAAN: VALID.
TINGKAT KEMISKINAN: MENYEDIHKAN.
Mulut Raka terbuka.
Ia menatap layar.
Lalu menatap sekeliling kamar.
Lalu kembali menatap layar.
“Siapa ini?” bisiknya. “Bima, kalau ini prank, sumpah gue kutuk keturunan lu miskin paket hemat.”
Layar tidak menjawab.
Tapi tulisan berikutnya muncul.
MENGINSTAL: SULTANISASI OTOMATIS v3.0
Raka langsung duduk tegak.
“Jangan.”
JANGAN PANIK.
“Aku panik.”
PANIK TERDETEKSI. MENYESUAIKAN FITUR.
“JANGAN MENYESUAIKAN APA-APA!”
Terlambat.
Layar ponsel memancarkan cahaya putih terang.
Bukan terang biasa. Ini terang yang salah. Terlalu putih. Terlalu padat. Terlalu… tidak normal.
Udara di kamar mendadak berubah.
Suhu turun sedikit.
Bulu kuduk Raka berdiri.
Suara hujan di luar mendadak terasa jauh, seperti ditarik ke belakang dinding tak terlihat.
Di atas kasurnya, tepat di depan lututnya, cahaya itu membentuk lingkaran tipis melayang.
Seperti retakan di udara.
Seperti pintu yang dibuka paksa di tempat yang seharusnya tidak punya pintu.
Raka menelan ludah.
Kalau ini mimpi, pikirnya, otaknya benar-benar kreatif saat stres.
Kalau ini bukan mimpi…
Ia tidak sempat menyelesaikan pikirannya.
Karena dari lingkaran cahaya itu, sesuatu—atau lebih tepatnya seseorang—jatuh.
Buk!
“Astaga!”
“AAH!”
Raka refleks mundur sampai punggungnya menabrak dinding.
Di lantai, tepat di atas karpet tipis murahan yang sudah pudar warnanya, seorang perempuan terduduk sambil menopang tubuh dengan satu tangan.
Perempuan itu mengangkat kepala perlahan.
Dan untuk beberapa detik, otak Raka benar-benar berhenti bekerja.
Karena perempuan itu…
tidak masuk akal.
Bukan dalam arti “terlalu cantik sampai lebay.”
Tapi dalam arti dia terlihat seperti seseorang yang salah alamat ke dunia ini.
Rambut hitam panjangnya jatuh rapi sampai punggung. Kemeja putihnya bersih tanpa kusut. Rok pensil hitam yang dikenakannya pas sempurna, dipadukan dengan blazer abu gelap yang sekarang sedikit miring akibat jatuh. Sepatu haknya mengilap. Jam tangan di pergelangan kirinya tampak mahal bahkan dalam cahaya redup layar ponsel.
Wajahnya tegas, cantik, dan punya aura “saya bisa memecat Anda hanya dengan satu tatapan.”
Ia menyapu kamar kos Raka dengan mata dingin.
Lalu berkata, dengan suara tenang yang sangat tidak cocok untuk situasi ini—
“Kenapa lantainya ubin?”
Raka berkedip.
“Apa?”
Perempuan itu berdiri perlahan, merapikan ujung blazer seolah baru keluar dari lift, bukan portal misterius.
“Saya dijanjikan transfer lokasi ke residential executive environment,” katanya datar. “Tapi ini terlihat seperti tempat penyimpanan trauma finansial.”
Raka tersinggung.
Karena itu akurat.
“Kamu…” Ia menunjuk perempuan itu dengan tangan gemetar. “Kamu siapa?”
Perempuan itu menatapnya. Tidak berkedip. Tidak gugup. Tidak terlihat panik sedikit pun.
Lalu ia mengulurkan tangan.
“Alea Pradana.”
Suaranya mantap. Bersih. Dingin.
“CEO termuda dari Pradana Nexus Group.”
Raka menatap tangan itu.
Lalu menatap wajahnya.
Lalu tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
Tapi karena otaknya memilih tertawa daripada rusak permanen.
“Oke,” katanya pelan. “Sebelum kita lanjut, aku cuma mau memastikan satu hal.”
Alea tidak menjawab.
“Aku lagi mimpi, kena santet digital, atau hidupku baru saja dibajak startup neraka?”
Alea memiringkan kepala sedikit.
“Secara teknis, Anda sedang aktif sebagai Host.”
“Host apaan?”
Ia menoleh ke ponsel Raka yang masih menyala di kasur.
Di layar, ikon emas berbentuk mahkota absurd kini berputar pelan.
Lalu teks baru muncul.
SELAMAT!
ANDA BERHASIL MENGAKTIFKAN SULTANISASI OTOMATIS v3.0
BONUS AKTIVASI: 1 ASET PREMIUM TERIKAT
Raka membaca kalimat itu.
Sekali.
Dua kali.
Lalu menoleh sangat pelan ke arah Alea.
“Jangan bilang… aset premium itu kamu.”
Alea menjawab tanpa ragu.
“Secara legal lintas dimensi, ya.”
Raka menatap kosong ke depan.
Lalu mengusap wajah dengan kedua tangan.
“Ya Allah…”
Ia berdiri, berjalan dua langkah, lalu balik lagi.
“Tidak. Nggak. Ini salah. Ini bug. Aku tadi cuma minta kaya!”
“Benar,” kata Alea.
“Bukan… ini!” Raka menggerakkan tangan ke seluruh arah Alea dengan panik, lalu buru-buru menurunkannya karena sadar itu terdengar salah. “Maksudku bukan perempuan random jatuh dari portal!”
Alea menatapnya datar.
“Random?”
“Bukan itu poinnya!”
Ponsel di kasur bergetar lagi.
FITUR UTAMA TELAH DIAKTIFKAN
SETIAP PENINGKATAN KEKAYAAN = BONUS KOMPANION TERIKAT
Raka membacanya.
Lalu wajahnya memucat.
Ia menoleh ke Alea.
“Kompanion… terikat?”
Alea mengangguk tipis.
“Dalam bahasa sederhana, saya terhubung ke jalur keberuntungan Anda.”
Raka tersenyum kosong.
Senyum orang yang sudah terlalu lelah untuk waras.
“Tidak.”
Ponsel:
YA.
“Aku menolak.”
PENOLAKAN DITOLAK.
“Apa maksudnya penolakan ditolak?!”
SISTEM TIDAK MENERIMA KOMPLAIN DARI PENGGUNA GRATIS.
Raka terdiam.
Lalu menunjuk layar ponsel dengan tatapan tersinggung berat.
“Ini aplikasi baru ngatain aku miskin?”
Alea melirik layar, lalu menatap Raka lagi.
“Secara antarmuka, ya.”
Raka ingin melempar sesuatu.
Sayangnya benda paling mahal di kamar itu sekarang justru ponselnya sendiri.
Dan sebelum ia sempat mengamuk lebih jauh—
TING!
Notifikasi baru muncul.
SALDO MASUK: Rp10.000.000
Semua suara di kepala Raka berhenti.
Ia menatap layar.
Tangannya bergerak lambat, seperti takut angka itu akan pecah kalau disentuh terlalu cepat.
Aplikasi mobile banking terbuka sendiri.
Dan di sana, terang, jelas, sangat nyata—
Rp10.027.843
Raka terduduk di kasur.
Jantungnya berdetak terlalu keras.
Sepuluh juta.
Bukan pinjaman.
Bukan editan.
Bukan transfer tipu-tipu.
Sepuluh juta rupiah.
Dadanya terasa sesak.
Ia tidak menangis.
Tapi untuk sesaat, ia benar-benar nyaris.
“Ini… beneran?” bisiknya.
Alea memandangnya.
Dan untuk pertama kalinya, ekspresinya melunak sedikit.
“Sepertinya,” katanya pelan, “hidup Anda baru saja berubah.”
Raka menelan ludah.
Lalu, karena dia tetaplah anak kos kere yang prioritas hidupnya sangat membumi, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah—
“Kalau aku tarik tunai sekarang… kena biaya admin nggak?”
Alea memejamkan mata sebentar.
“Mungkin saya terlalu cepat menaruh harapan.”
Raka tidak peduli.
Karena di layar ponselnya, angka itu masih ada.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rekeningnya terlihat seperti sesuatu yang bisa dibanggakan.
Bukan karena besar.
Tapi karena untuk pertama kalinya…
ia tidak terlihat seperti orang yang sedang tenggelam.
Ia belum tahu kalau malam itu baru pembuka.
Ia belum tahu kalau sepuluh juta itu cuma umpan.
Ia belum tahu kalau setiap rupiah yang masuk ke hidupnya akan datang dengan harga yang sangat aneh.
Dan yang paling penting—
ia belum tahu kalau di detik yang sama, jauh di tempat lain yang bahkan tidak bisa dijelaskan logika biasa…
sesuatu sedang bangun.
Sesuatu yang mendeteksi satu hal:
Raka baru saja naik level.
Di layar ponselnya, tepat saat ia masih terpaku menatap saldo, satu notifikasi kecil muncul di pojok bawah.
Hampir tak terdengar.
Hampir tak terlihat.
Tapi cukup untuk membuat tengkuknya mendadak dingin.
LEVEL 1 TERCAPAI. KOMPANION BERIKUTNYA SEDANG DIPROSES…
Raka membeku.
Lalu perlahan mengangkat wajah.
Menatap Alea.
Yang ternyata juga sedang menatap ponselnya dengan sorot mata yang untuk pertama kalinya…
tidak lagi tenang.
Bersambung…