

Angin malam Probolinggo berputar -putar membentuk pertanda berhembus membawa aroma amis laut yang bercampur dengan debu jalanan, menusuk hingga ke tulang-tulang Nanang yang hanya dibalut kulit tipis. Di bawah temaram lampu jalan yang berkedip sekarat, pemuda berusia 27 tahun itu tampak seperti bayangan yang tersesat di tengah hiruk-pikuk kota. Perutnya tidak lagi sekadar keroncongan; organ di dalam sana terasa seperti sedang meremas dirinya sendiri, melilit, dan mencakar dinding lambungnya yang kosong sejak dua hari lalu.
"Diamlah, bajingan," desis Nanang sambil menekan ulu hatinya yang perih. Suaranya serak, nyaris hilang tertelan deru mesin kendaraan yang melintas di depannya.
Nanang adalah residu dari kemajuan kota ini. Yatim piatu, pengangguran, dan tinggal di sebuah gubuk reot warisan orang tuanya yang lebih mirip kandang ternak daripada hunian manusia. Atap bocor dan lantai tanah adalah teman setianya. Di usianya yang hampir kepala tiga, jangankan bermimpi meminang gadis, untuk sekadar dipandang sebagai manusia pun Nanang tidak layak. Di mata warga, dia hanyalah 'Nanang Gembel', sampah visual yang merusak pemandangan kota.
Langkahnya terhenti di depan sebuah restoran mewah di pusat kota. Di sana, tawa riang orang-orang berdasi dan wanita-wanita dengan parfum mahal menguar hingga ke trotoar. Nanang menelan ludah yang terasa pahit. Pandangannya terpaku pada sebuah kantong plastik besar yang baru saja diletakkan seorang pelayan di dalam tong sampah stainless steel yang mengkilap.
"Tong sampah ini bahkan lebih bersih dari piringku di rumah," gumamnya getir.
Perjamuan di Balik Kebusukan
Nanang menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada satpam yang akan mengusirnya dengan tendangan. Dengan gerakan gesit yang terlatih karena keadaan, ia merogoh ke dalam tong sampah tersebut. Tangannya menyentuh sesuatu yang lembek dan dingin.
Sebuah bungkusan kertas cokelat.
Ia membukanya dengan tangan gemetar. Di dalamnya, ada sisa nasi putih yang sudah menggumpal, sepotong kecil ayam goreng yang sudah digigit, dan gumpalan sambal yang sudah mulai ditumbuhi bintik-bintik putih halus—jamur.
Logika Nanang berteriak bahwa ini adalah racun. Namun, rasa lapar adalah diktator yang paling kejam. Ia tidak punya pilihan. Dengan rakus, Nanang menyuapkan nasi berjamur itu ke mulutnya. Teksturnya yang lengket dan bau asam yang menyengat meledak di lidahnya. Ia terbatuk, nyaris memuntahkan kembali "makanan" itu, namun ia segera menutup mulutnya rapat-rapat dengan telapak tangan yang kotor.
"Telan, Nanang. Kalau tidak, kau mati besok," perintahnya pada diri sendiri.
Setiap kunyahan adalah penghinaan bagi martabatnya sebagai manusia. Ia mengunyah sisa kehidupan orang lain, menelan sisa kenikmatan yang dibuang oleh mereka yang terlalu kenyang untuk peduli. Air mata tanpa sadar menetes, membasahi pipinya yang kotor oleh debu jalanan. Di bawah langit Probolinggo yang megah, Nanang sedang merayakan kemiskinannya dengan pesta sisa makanan berjamur.
Kilatan di Balik Limbah
Saat ia mencoba mengais sisa-sisa nasi yang terjepit di lipatan kertas, jari-jarinya menyentuh sesuatu yang keras dan dingin di dasar tong sampah. Bukan tulang, bukan plastik keras. Benda itu berbentuk persegi panjang, terbungkus sebuah kain sapu tangan sutra yang kotor terkena noda saus.
Nanang menariknya keluar. Jantungnya berdegup kencang saat ia menyadari apa yang ia genggam.
Sebuah ponsel pintar. Layarnya retak di sudut kanan atas, namun casing belakangnya yang berwarna ocean blue berkilau terkena cahaya lampu jalan. Merk-nya adalah salah satu yang paling mahal di pasaran—ponsel yang harganya setara dengan biaya makan Nanang selama tiga tahun.
"Gila... Siapa yang membuang barang seperti ini?"
Nanang mencoba menekan tombol power. Tidak ada reaksi. Ia mencobanya lagi, lebih lama. Tiba-tiba, getaran pendek terasa di telapak tangannya. Logo perusahaan teknologi raksasa muncul di layar, menyinari wajah Nanang yang kusam.
Layar itu tidak terkunci. Saat menu utama terbuka, Nanang terpaku. Di sana, aplikasi kamera dan YouTube berada di barisan paling depan. Namun, ada yang aneh. Sebuah notifikasi berwarna merah menyala muncul di tengah layar:
[SISTEM TERDETEKSI: PENGGUNA BARU TERIDENTIFIKASI. MENYAMBUNGKAN KE SERVER 'ETHEREAL STREAM'...]
Nanang mengerutkan kening. "Sistem apa ini? Rusak ya?"
Namun, sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, ponsel itu tiba-tiba mengeluarkan suara beep yang sangat kencang. Secara otomatis, aplikasi kamera terbuka dan lampu flash yang sangat terang menyambar wajah Nanang, membutakan pandangannya sesaat.
Nasib yang Terbakar
Di saat yang sama, sebuah mobil mewah berhenti tepat di samping tong sampah itu. Seorang pria bertubuh besar dengan pakaian safari hitam turun dengan wajah penuh amarah.
"Hei! Gembel! Kembalikan ponsel itu!" teriak pria itu. Itu adalah ajudan seorang pejabat atau pengusaha yang sepertinya baru menyadari ponsel tuannya terjatuh atau dibuang secara tidak sengaja oleh selingkuhannya saat bertengkar tadi.
Nanang panik. Ia tahu jika ia tertangkap membawa ponsel mewah itu, tuduhannya hanya satu: pencurian. Dan di kota ini, tidak ada pengadilan bagi orang miskin. Pilihannya hanya dua: mati dikeroyok massa atau membusuk di penjara.
Nanang mendekap ponsel itu di dadanya dan lari sekencang-kencangnya menuju gang-gang gelap yang ia hafal di luar kepala.
"Berhenti, bangsat!" teriak pria itu sambil mengejar.
Nanang berlari melewati bau busuk selokan, melompati tumpukan kayu, hingga ia sampai di depan rumah reotnya. Ia segera masuk, mengunci pintu kayu yang sudah lapuk itu dengan balok kayu, dan jatuh terduduk di lantai tanahnya yang dingin. Napasnya memburu, paru-parunya terasa terbakar.
Ia menatap ponsel di tangannya. Ponsel itu masih menyala. Dan kali ini, muncul sebuah pesan yang membuat darahnya membeku:
[Streaming Dimulai dalam 3... 2... 1...]
[Judul Siaran: "Makan Malam Sang Terbuang - Live dari Neraka Dunia"]
[Jumlah Penonton: 1... 1.000... 50.000... (Angka terus melonjak tajam)]
Nanang ternganga. Di layar itu, ia melihat wajahnya sendiri yang kotor, penuh sisa nasi berjamur di sudut bibir, dengan latar belakang rumahnya yang nyaris roboh. Komentar-komentar mulai membanjiri layar dengan kecepatan yang tak masuk akal.
@User99: "Gila! Ini set film atau nyata? Miskin banget!"
@WhaleDonator: "Kalau dia makan sisa nasi itu lagi, aku kasih 10 Juta sekarang!"
Tiba-tiba, ponsel itu bergetar hebat. Sebuah notifikasi transaksi muncul di bagian atas layar:
[Selamat! Anda menerima donasi sebesar Rp10.000.000 dari @WhaleDonator. Saldo dapat dicairkan segera.]
Nanang gemetar. Sepuluh juta? Hanya untuk melihatnya menderita? Di luar, terdengar suara gedoran keras di pintu rumahnya.
"Buka pintunya, Gembel! Aku tahu kau di dalam! Serahkan ponselnya atau aku bakar rumah ini bersama dirimu!"
Nanang menatap pintu yang nyaris jebol, lalu menatap layar ponsel yang menjanjikan kekayaan dari penderitaannya. Antara nyawa, harga diri, dan peluang gila yang baru saja jatuh dari langit.