Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Resep Takdir: Sajian Karma

Resep Takdir: Sajian Karma

Gold Diamond | Bersambung
Jumlah kata
46.0K
Popular
520
Subscribe
95
Novel / Resep Takdir: Sajian Karma
Resep Takdir: Sajian Karma

Resep Takdir: Sajian Karma

Gold Diamond| Bersambung
Jumlah Kata
46.0K
Popular
520
Subscribe
95
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalIdentitas Tersembunyi21+Harem
Dikhianati istri dan dihina mertua membuat Vincent kehilangan segalanya. Namun, pertemuan tak terduga dengan Sofia, seorang pemilik restoran yang terancam bangkrut, mengubah segalanya. Melalui sebuah pernikahan kontrak dan keahlian memasak yang jenius, Vincent bangkit untuk merebut kembali dunianya. "Dulu kalian menyebutku beban, sekarang bersiaplah untuk merangkak di kakiku."
Bab 1 Harga Diri Sejuta Rupiah

"Aahh..." Suara desahan familiar di telinganya.

"Kau dengar itu? Suara desahannya jauh lebih merdu daripada denting pisau dapurmu yang membosankan," batin Vincent.

Vincent mematung di lorong sunyi Hotel Gold Diamond. Ponsel masih menempel di telinga kanan, namun suara yang keluar dari speaker gawai itu tumpang tindih dengan suara dari balik pintu kamar 400. Ia baru saja menyelesaikan kelas memasak anak-anak, masih mengenakan apron putih yang sedikit bernoda tepung cokelat.

Jantungnya berdegup tidak keruan. Iramanya menghantam rongga dada seperti palu godam. Ia mengenali nada dering itu, lagu jazz lembut yang ia pilihkan sendiri untuk ponsel istrinya.

"Puspita?" bisiknya ke arah ponsel.

Suara di seberang sana terputus. Namun, lenguhan di dalam kamar itu justru semakin menjadi.

Vincent merasa dunianya miring. Ia tidak ingin percaya, namun instingnya berteriak ada pengkhianatan yang sedang dirayakan di balik pintu kayu mahoni itu.

Vincent berlari kecil menuju meja resepsionis di ujung lorong. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi pelipis. Ia menghampiri Tomy, teman lamanya yang sedang bertugas sebagai pengawas operasional malam itu.

"Tomy, berikan aku kunci duplikat kamar 400. Sekarang," pinta Vincent dengan suara gemetar.

Tomy mengerutkan kening, melihat kegelisahan yang tidak wajar pada sahabatnya. "Itu melanggar prosedur, Vin. Ada apa?"

"Istriku di dalam. Aku tahu itu suaranya. Tolong aku, sekali ini saja," Vincent mencengkeram tepi meja hingga buku jarinya memutih.

Tomy ragu sejenak sebelum merogoh saku jasnya. Ia menyerahkan kartu akses berwarna emas itu dengan tangan gemetar.

"Cepatlah, sebelum manajer melihat. Jika kau tertangkap basah, jangan bawa-bawa aku, ya?"

"Tenang saja. Biar aku yang kena masalah sendirian jika ketahuan."

Vincent kembali ke depan pintu 400. Tangannya menggigil saat menempelkan kartu pada sensor elektronik. Bunyi klik kecil terdengar seperti ledakan di telinganya.

Pintu terbuka perlahan, menyingkap pemandangan yang menghancurkan seluruh sisa harga dirinya. Di atas ranjang dengan sprei yang sudah kacau balau, Puspita sedang berada di posisi woman on top. Rambut panjangnya tergerai, bergerak seiring dengan ritme tubuhnya di atas seorang pria.

Vincent mematung di ambang pintu. Napasnya tertahan di tenggorokan. Ia melihat istrinya, wanita yang ia puja selama empat tahun ini, sedang memberikan segalanya pada pria asing.

Pria itu menyadari kehadiran orang lain. Mereka berganti posisi, dan saat itulah mata Puspita bertemu dengan mata Vincent yang memerah. Tidak ada ketakutan di sana, hanya kekesalan yang luar biasa.

"Vincent?! Kenapa kau bisa ada di sini? Mengganggu kesenangan orang saja!" bentak Puspita sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.

Vincent melangkah maju, suaranya parau. "Empat tahun, Puspita. Hari ini anniversary kita. Kenapa kau melakukan ini?"

Puspita tertawa sinis, merapikan rambutnya dengan jemari yang lentik. "Kau tanya kenapa? Karena aku muak hidup dalam kepura-puraan yang kau bangun dengan kelas memasak anak-anakmu itu."

Pria di sampingnya, Ebenezer, duduk dengan tenang sambil menyalakan rokok setelah meminum segelas whiskey. Ia menatap Vincent dengan tatapan merendahkan.

"Ben ini teman sekolah kuliner aku. Dia akan memberiku dunia, bukan sekadar dapur sempit dan bau keringat bocah," lanjut Puspita pedas.

Vincent mengepalkan tangan. "Aku bekerja keras untuk membiayai sekolah kulinermu sampai kau lulus hari ini!"

"Sekolah itu menjadikanku selebgram chef ternama. Kau? Kau cuma guru masak just for fun. Kita beda level, Vincent. Sadarlah," Puspita meludah ke lantai.

Rasa sakit hati Vincent memuncak menjadi amarah yang mendidih. Ia mengeluarkan ponsel, melakukan panggilan video kepada ayah mertuanya. Ia ingin pria tua itu melihat kebobrokan putrinya sendiri.

Layar ponsel menunjukkan wajah pucat ayah Puspita yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Vincent mengarahkan kamera ke arah ranjang maksiat itu.

"Lihat ini, Ayah! Apa yang dilakukan putri kesayanganmu di belakangku!" teriak Vincent.

Pria tua di layar itu terbatuk, namun matanya tidak menunjukkan keterkejutan. "Vincent, matikan kameranya. Kau memalukan."

"Apa? Dia selingkuh, Ayah!" Vincent tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Puspita butuh pria yang setara dengannya. Kau hanya beban bagi kariernya. Pergilah sebelum kau semakin mempermalukan dirimu sendiri," suara ayah mertuanya terdengar dingin dan tajam.

Vincent merasa seperti disambar petir di siang bolong. Mereka semua bersengkongkol. Keduanya sudah merencanakan untuk menyingkirkannya begitu Puspita meraih kesuksesan.

"Kalian tidak punya hati!" Vincent menerjang Ebenezer.

Pukulan Vincent mendarat di rahang Ben, namun pria itu jauh lebih kuat. Ebenezer membalas dengan hantaman keras ke perut Vincent. Vincent tersungkur, rasa asin darah mulai memenuhi mulutnya.

Puspita meraih telepon hotel dengan wajah geram. "Halo, keamanan? Ada orang asing masuk ke kamarku dan melakukan kekerasan. Segera ke sini!"

Hanya butuh hitungan menit sampai Manajer Hotel datang bersama dua petugas keamanan. Pria berseragam rapi itu menatap Vincent dengan jijik.

"Maafkan ketidaknyamanan ini, Nona Puspita," ucap Manajer itu membungkuk hormat.

Manajer itu kemudian berbalik ke arah Vincent. "Kau dipecat! Sekarang juga. Tidak ada gaji, tidak ada pesangon. Kau telah mencoreng reputasi Gold Diamond dengan keributan ini."

"Tapi dia istriku! Pria itu selingkuhannya!" protes Vincent sambil diseret oleh petugas keamanan.

Puspita turun dari ranjang, mengenakan jubah mandi sutranya. Ia mengambil dompet dari atas meja rias. Ia menarik seikat uang kertas ratusan ribu dan menghamburkannya ke wajah Vincent.

"Ini sejuta. Anggap saja upahmu mengajar masak hari ini. Belilah harga diri yang baru dengan uang ini," ejek Puspita dengan senyum kemenangan.

Lembaran uang merah itu melayang-layang sebelum jatuh berserakan di atas karpet hotel yang mewah.

Vincent menatap uang itu, lalu menatap wanita yang pernah ia cintai lebih dari nyawanya sendiri.

Ia tidak menyentuh selembar pun. Vincent berdiri tegak, meski badannya nyeri dan hatinya hancur berkeping-keping.

"Simpan uang harammu, Puspita," suara Vincent kini terdengar tenang, namun mengandung janji yang mengerikan. "Kalian akan merangkak di kakiku suatu hari nanti. Ingat kata-kataku!"

Vincent berbalik dan berjalan keluar dengan kepala tegak. Ia melewati Tomy yang hanya bisa menunduk ketakutan di lorong.

Saat Vincent melangkah keluar dari lobi hotel, langit seolah pecah. Hujan turun dengan sangat lebat, mengguyur bumi tanpa ampun. Angin kencang menerpa wajahnya yang basah oleh air mata dan air hujan.

CIIAAR!

Kilat menyambar tepat di atas gedung Hotel Gold Diamond. Suara guntur menggelegar, menggetarkan kaca-kaca jendela. Vincent berdiri di tengah badai, membiarkan tubuhnya menggigil.

Ia menengadah ke langit yang hitam pekat. Petir kembali menyambar, seolah memberikan jawaban atas sumpah yang baru saja ia ucapkan.

"Saksikanlah," bisik Vincent di antara deru angin. "Hari ini kalian mengambil segalanya dariku. Besok, aku akan mengambil seluruh dunia kalian."

Lanjut membaca
Lanjut membaca