

"Kita selesai, Riyan. Jangan pernah hubungi aku lagi."
Kalimat itu meluncur dari bibir Sinta dengan sangat dingin, lebih dingin dari es kopi murah yang mulai mencair di depan Riyan. Di luar Cafe Kenangan yang atap sengnya bocor di beberapa titik, hujan deras Jakarta mengguyur tanpa ampun.
Riyan Aditya menatap perempuan di depannya dengan tatapan tidak percaya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena cinta, tapi karena rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit paru-parunya.
"Hanya karena ini, Sin? Hanya karena aku belum bisa membelikanmu tas branded yang kamu pamerkan di Instagram kemarin?"
Sinta mendengus, menyilangkan tangannya di dada. Matanya menyapu penampilan Riyan dari ujung rambut yang basah hingga sepatu kets yang sudah jebol di bagian samping.
"Bukan cuma tas itu, Riyan. Tapi semuanya. Aku capek makan di pinggir jalan. Aku capek naik motor butut kamu yang kalau lewat polisi tidur rasanya mau rontok semua. Aku butuh kepastian, dan kamu? Kamu cuma kuli serabutan yang besok mau makan apa saja masih bingung."
"Aku sedang berusaha, Sinta. Aku kerja lembur di gudang, aku narik ojek malam-malam—"
"Berusaha sampai kapan?" Sinta memotong dengan nada tinggi, membuat beberapa pengunjung cafe menoleh ke arah mereka. "Sampai aku keriput? Sampai aku tua dan nggak bisa menikmati hidup? Liat diri kamu sendiri. Kamu itu sampah di kota ini. Nggak punya koneksi, nggak punya modal, cuma punya mimpi kosong."
Tiba-tiba, sebuah mobil mewah BMW hitam berhenti tepat di depan cafe yang kumuh itu. Seorang pria dengan kemeja rapi dan jam tangan emas yang berkilau turun sambil membawa payung besar. Ia berjalan masuk ke cafe dengan senyum meremehkan yang menghiasi wajahnya.
"Sinta, Sayang. Sudah selesai urusannya dengan... siapa tadi namanya?" Pria itu berdiri di samping Sinta, merangkul bahunya dengan posesif.
Sinta langsung berubah manis, senyumnya merekah lebar. "Sudah, Mas Sony. Ayo pergi, tempat ini baunya nggak enak, bikin pusing."
Pria bernama Sony itu menatap Riyan, lalu merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan selembar uang seratus ribu dan melemparnya ke atas meja, tepat di depan wajah Riyan.
"Ini buat bayar kopi kalian. Sisanya buat kamu beli bensin motor bututmu itu, supaya nggak mogok di tengah jalan. Kasihan kalau kehujanan."
Riyan mengepalkan tangannya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah mendidih di dadanya, namun ia tetap diam. Ia tahu, memukul pria ini hanya akan membuatnya berakhir di penjara tanpa uang jaminan.
"Simpan saja uangmu, aku nggak butuh belas kasihan orang sombong sepertimu," desis Riyan pelan namun tajam.
Sony tertawa terbahak-bahak. "Sombong? Bro, di dunia ini, kalau kamu nggak punya uang, kamu itu nggak dianggap. Ingat itu baik-baik."
Sinta menatap Riyan untuk terakhir kalinya dengan tatapan jijik sebelum berbalik mengikuti Sony menuju mobil mewah tersebut. Riyan hanya bisa terpaku di kursinya, menyaksikan lampu belakang BMW itu menjauh dan menghilang di balik tirai hujan.
"Brengsek!" Riyan memukul meja dengan keras. Kepalanya tertunduk, menyembunyikan mata yang mulai memanas. Harga dirinya hancur berkeping-keping.
Ia berdiri, mengabaikan uang seratus ribu di meja, dan berjalan keluar menembus hujan. Motor Astrea tuanya terparkir di pojok, tampak menyedihkan.
Aku harus sukses, batin Riyan sambil memacu motornya di tengah jalanan Jakarta yang mulai banjir. Aku akan buat mereka berlutut dan memohon maaf padaku. Suatu hari nanti.
Namun, kenyataan pahit kembali menghantamnya. Saat melewati jalanan terbuka di daerah Kemayoran, langit tiba-tiba berubah menjadi ungu gelap yang mencekam. Petir menyambar-nyambar dengan suara menggelegar yang memekakkan telinga.
"Sial, hujannya makin parah!" teriak Riyan melawan suara angin.
Tepat saat ia hendak berbelok di bawah jembatan layang, sebuah kilatan cahaya raksasa turun dari langit. Cahaya itu begitu terang hingga memutihkan seluruh pandangan Riyan. Suhu di sekitarnya melonjak drastis dalam sekejap mata.
BOOM!
Suara ledakan itu seperti menghantam tepat di jantungnya. Riyan merasakan sengatan listrik jutaan volt merambat masuk ke pori-pori kulitnya, membakar syaraf-syarafnya, dan menghentikan kesadarannya seketika. Tubuhnya terlempar dari motor, melayang di udara sebelum akhirnya menghantam aspal yang keras dengan posisi telentang.
Dunia menjadi sunyi. Riyan tidak bisa merasakan kakinya. Ia tidak bisa merasakan napasnya sendiri. Di tengah kegelapan total yang mulai menyelimuti matanya, sebuah suara mekanis yang dingin dan tanpa emosi menggema di dalam kepalanya.
Inisialisasi DNA Pengguna... Berhasil.
Integrasi Sistem Rabbat: 10x Rezeki... 10%... 45%... 100%.
Sinkronisasi selesai.
Riyan ingin berteriak, tapi lidahnya kelu. Rasa sakit yang luar biasa tadi tiba-tiba digantikan oleh sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia merasa seolah-olah setiap sel di tubuhnya sedang dibangun ulang.
Selamat datang, Riyan Aditya. Anda telah terpilih sebagai inang tunggal Sistem Rabbat.
Aturan Dasar: Setiap satu rupiah yang Anda belanjakan untuk keperluan pribadi atau investasi, sistem akan memberikan pengembalian tunai sebesar sepuluh kali lipat secara instan ke rekening Anda.
Peringatan: Kekayaan membawa risiko. Sistem akan terus memantau detak jantung dan keberanian Anda. Semakin besar Anda berbelanja, semakin besar tantangan yang akan muncul.
Riyan terengah-engah. Ia mencoba membuka matanya yang terasa sangat berat. Air hujan yang jatuh ke wajahnya kini terasa berbeda—tidak lagi dingin menusuk, melainkan segar. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mencoba duduk di pinggir jalan yang sepi.
Motornya tergeletak beberapa meter di depannya, hancur berantakan dan mengeluarkan asap hitam. Riyan menatap tangannya. Tidak ada luka bakar, tidak ada tanda-tanda ia baru saja tersambar petir yang seharusnya menewaskannya di tempat.
Tiba-tiba, sebuah panel transparan berwarna biru neon melayang tepat di depan matanya. Panel itu bergerak mengikuti arah pandangannya, seolah-olah tertanam di dalam retinanya.
STATUS PENGGUNA
Nama: Riyan Aditya
Level: 1 (Pemula)
Saldo Rekening: Rp 15.450
Akumulasi Cashback: Rp 0
Misi Aktif: Lakukan Pembelian Pertama Anda.
Riyan mengerjapkan matanya berulang kali. "Apa ini? Aku sudah gila? Aku pasti sudah mati dan ini adalah neraka," gumamnya dengan suara serak.
Ia mencoba menyentuh panel itu, namun tangannya menembus cahaya biru tersebut. Panel itu tetap ada, diam menunggunya. Riyan merogoh saku celananya yang basah kuyup dan mengeluarkan ponsel murahnya yang layarnya sudah retak seribu. Anehnya, ponsel itu masih menyala.
Ia membuka aplikasi m-banking miliknya. Saldo di sana benar-benar hanya menunjukkan angka lima belas ribu empat ratus lima puluh rupiah. Sisa uang terakhirnya untuk menyambung hidup sampai lusa.
Pengembalian sepuluh kali lipat? Riyan menelan ludah. Pikirannya yang tadi hancur karena Sinta kini beralih sepenuhnya pada fenomena gila di depannya. Kalau aku beli sesuatu seharga sepuluh ribu, apa benar aku akan dapat seratus ribu?
Riyan tertatih berdiri. Kepalanya masih sedikit pening, tapi rasa lapar mulai menyerang perutnya. Di seberang jalan, ia melihat sebuah minimarket yang masih buka di tengah badai.
"Kalau ini mimpi, aku ingin makan mie instan dulu sebelum bangun," bisik Riyan pada dirinya sendiri.
Ia berjalan dengan langkah goyah menuju minimarket tersebut. Pakaiannya yang compang-camping dan basah kuyup membuat sang kasir menatapnya dengan curiga, persis seperti tatapan Sinta tadi. Tapi Riyan tidak peduli. Ia mengambil sebungkus mie instan dari rak dan sebotol air mineral kecil.
Total harganya dua belas ribu rupiah.
Dengan tangan gemetar, Riyan menyerahkan uang pas ke kasir. Begitu transaksi selesai dan struk tercetak, sebuah suara dentingan emas yang sangat nyaring terdengar langsung di telinganya.
TING!
Pembelian Terdeteksi: Rp 12.000.
Cashback 10x Diaktifkan!
Rp 120.000 telah dikirimkan ke rekening Anda.
Hampir pada saat yang sama, ponsel di saku Riyan bergetar kuat. Ia buru-buru membukanya. Sebuah notifikasi SMS perbankan muncul di layar.
Dana masuk: Rp 120.000. Saldo Anda saat ini: Rp 123.450.
Riyan terpaku di depan meja kasir. Matanya membelalak lebar melihat angka di layar ponselnya. Ini bukan mimpi. Ini nyata.
"Mas? Ada yang salah?" tanya kasir itu dengan nada tidak sabar.
Riyan tidak menjawab. Ia menatap panel biru yang kini menunjukkan: Akumulasi Cashback: Rp 120.000.
Sebuah seringai tipis mulai muncul di wajah Riyan. Jika dua belas ribu bisa menjadi seratus dua puluh ribu, maka sejuta bisa menjadi sepuluh juta. Seratus juta bisa menjadi satu miliar.
Ia menoleh ke arah jalanan, ke arah BMW Sony tadi menghilang. Rasa sakit hati yang tadi menghimpitnya tiba-tiba menguap, digantikan oleh ambisi dingin yang membara.
"Sinta... Sony..." Riyan membisikkan nama-nama itu dengan nada yang sangat rendah. "Kalian bilang uang adalah segalanya, kan?"
Riyan meremas botol air mineral di tangannya hingga remuk.
"Mari kita lihat, siapa yang akan memiliki segalanya di kota ini."
Layar transparan di depannya tiba-tiba berkedip merah, memberikan sebuah notifikasi baru yang membuat bulu kuduk Riyan meremang.
PERINGATAN: Target terdeteksi. Seseorang sedang melacak lokasi energi sistem. Segera tinggalkan area ini atau bersiaplah untuk konfrontasi pertama.
Riyan menoleh ke luar pintu kaca minimarket. Di tengah kegelapan hujan, sebuah mobil van hitam tanpa plat nomor perlahan-lahan berhenti tepat di depan toko.
Pintu gesernya terbuka, dan tiga pria bertubuh besar dengan pakaian serba hitam turun dengan tatapan tajam yang tertuju langsung ke arahnya.
Keajaiban ini ternyata datang dengan harga yang sangat mahal.