

Hujan deras mengguyur Jakarta, seolah langit sedang ikut meludahi nasib Bintang Samudra. Di depan sebuah kontrakan petak yang pengap, semua barang milik Bintang—beberapa helai baju, bantal kusam, dan satu-satunya laptop tua yang layarnya sudah bergaris—tergeletak di atas tanah becek.
"Keluar kamu sekarang! Sudah tiga bulan menunggak, kamu pikir ini yayasan sosial?!" teriak Bu Ratna, pemilik kontrakan, sambil berkacak pinggang. Suaranya yang melengking mengalahkan suara guntur.
"Tolong, Bu Ratna. Besok saya gajian dari narik parkir. Saya pasti bayar," mohon Bintang dengan punggung membungkuk. Air hujan mengalir dari rambutnya yang lepek, masuk ke dalam matanya yang merah karena kurang tidur.
"Besok, besok! Dari bulan lalu bicaranya begitu terus! Pergi sebelum saya panggil satpam!"
Bintang hanya bisa terdiam. Ia baru saja mengemasi barang-barangnya ke dalam tas ransel yang robek saat sebuah mobil sedan mewah berwarna putih berhenti di depan gang. Sosok wanita cantik turun dari mobil itu, menggunakan payung mahal yang dipegangkan oleh seorang pria berjas rapi.
Itu Siska. Mantan tunangan Bintang yang memutuskannya tiga bulan lalu karena alasan "ingin fokus karir"—yang ternyata berarti "fokus mencari pria yang lebih kaya".
"Bintang?" Siska menatap Bintang dengan tatapan jijik, seolah-olah Bintang adalah kotoran yang menempel di sepatunya. "Ya ampun, untung saja aku memutuskanmu. Kalau tidak, mungkin aku sekarang ikut tidur di pinggir jalan bersamamu."
"Siska... aku..."
Pria di sebelah Siska, yang dikenal Bintang sebagai Rendra, anak pengusaha minimarket sukses, tertawa terbahak-bahak. "Siska, ini yang kamu bilang calon imam masa depan dulu? Lebih mirip gelandangan bawah jembatan ya."
Rendra mengeluarkan dompet kulitnya, mengambil selembar uang seratus ribu, lalu menjatuhkannya ke tanah yang becek di depan kaki Bintang. "Nih, buat beli sabun. Bau badanmu sampai tercium ke sini."
Siska terkikik. "Ayo sayang, kita pergi. Tempat ini bau kemiskinan."
Mobil itu berlalu, mencipratkan air genangan tepat ke wajah Bintang. Hening. Bintang mengepalkan tinjunya hingga kukunya memutih. Amarah membakar dadanya, namun kenyataan jauh lebih pahit: perutnya keroncongan. Ia belum makan sejak kemarin.
Bintang merogoh saku celananya yang basah. Hanya ada satu lembar uang lima ribu rupiah yang sudah lecek. Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju minimarket terdekat milik keluarga Rendra yang kebetulan berada di ujung jalan.
Di dalam minimarket yang dingin ber-AC, Bintang mengambil satu cup mi instan termurah seharga Rp 4.500. Saat ia mengantre di kasir, tangannya tanpa sengaja merogoh saku kecil di dalam ranselnya. Jarinya menyentuh sesuatu yang keras, bulat, dan terasa hangat.
Koin?
Ia menarik benda itu keluar. Itu adalah koin 500 perak kuno bergambar bunga melati tahun 1991. Warnanya kekuningan seperti emas kusam. Bintang ingat, ini adalah satu-satunya benda yang ditinggalkan almarhum ayahnya sebelum meninggal dunia di rumah sakit karena tak mampu membayar biaya administrasi.
"Totalnya empat ribu lima ratus, Mas," ucap kasir dengan nada malas, menatap Bintang yang basah kuyup dengan tatapan menghina.
Bintang menyerahkan uang lima ribu leceknya. Si kasir memberikan kembalian selembar uang lima ratus rupiah yang sudah sangat hancur. Bintang memasukkan uang kembalian dan koin melati ayahnya ke dalam saku.
Namun, saat ia melangkah keluar dari pintu otomatis minimarket, saku celananya terasa bergetar hebat. Panas.
Bintang merogoh sakunya dengan panik. Ia tertegun.
Koin 500 perak melati itu ada di sana. Padahal, seingatnya ia baru saja memasukkannya ke dalam ransel. Tunggu, ia memeriksa tasnya. Tasnya kosong. Koin itu berpindah secara ajaib ke sakunya.
"Perasaan gue tadi udah gue simpan di tas..." gumamnya.
Tiba-tiba, ponsel bututnya di saku satunya lagi bergetar pendek. Sebuah notifikasi SMS masuk. Bintang membukanya dengan tangan gemetar.
[BANK INFO]
Transfer Masuk: Rp 500.000,00 dari (CASHBACK_KOIN_1000X).
Saldo Saat Ini: Rp 500.150,00.
Mata Bintang hampir keluar dari kelopaknya. "Lima... lima ratus ribu? Dari mana?!"
Bab 2: Keajaiban Koin Melati
Bintang berdiri mematung di bawah kanopi minimarket. Ia mengucek matanya berkali-kali, yakin bahwa ia sedang berhalusinasi karena kelaparan. Namun, angka di layar ponselnya tidak berubah. Saldo yang tadinya hanya seratus lima puluh rupiah, kini bertambah lima ratus ribu secara instan.
"Cashback koin seribu kali lipat?" gumamnya tak percaya.
Ia menatap koin melati tahun 1991 di telapak tangannya. Koin itu tampak biasa saja, namun saat ia menyentuhnya, ada sensasi aliran listrik statis yang menggelitik syarafnya.
Bintang memutuskan untuk melakukan eksperimen. Ia masuk kembali ke dalam minimarket. Kasir yang tadi masih menatapnya dengan curiga.
"Mau apa lagi? Jangan bikin lantai becek ya!" bentak kasir itu.
Bintang mengabaikannya. Ia mengambil satu botol minuman isotonik seharga Rp 5.000. Ia berjalan ke kasir dan menyerahkan koin 500 perak melati itu bersama uang lima ribu rupiahnya.
"Ini koinnya," kata Bintang.
Kasir itu mengerutkan kening. "Ini koin kuno, Mas. Tapi ya sudahlah, masih laku."
Kasir itu memasukkan koin tersebut ke dalam laci uang. Bintang segera berbalik dan berjalan cepat keluar toko. Ia menghitung dalam hati.
Satu... dua... tiga...
Saku celananya kembali terasa panas! Bintang merogohnya dan jantungnya hampir berhenti berdetak. Koin melati itu kembali ke tangannya!
Ting!
Ponselnya bergetar lagi.
[BANK INFO]
Transfer Masuk: Rp 500.000,00 dari (CASHBACK_KOIN_1000X).
Saldo Saat Ini: Rp 1.000.150,00.
"Gila... ini benar-benar gila!" Bintang ingin berteriak kegirangan, tapi ia menahannya. Ia segera berjalan menjauh dari minimarket itu sebelum ada yang menyadari keanehan ini.
Ia berjalan menuju sebuah ATM di pom bensin terdekat. Dengan tangan gemetar, ia memasukkan kartu ATM-nya yang sudah hampir kadaluwarsa karena tidak pernah berisi uang. Setelah menekan PIN, ia memilih menu 'Cek Saldo'.
Rp 1.000.150,00.
"Nyata. Ini nyata!" Bintang mencairkan uang itu sebanyak delapan ratus ribu rupiah. Mesin ATM menderu, dan tak lama kemudian, tumpukan lembaran merah segar keluar dari mesin. Bintang menghirup aroma uang itu. Aroma kemenangan.
Malam itu, Bintang tidak kembali ke emperan toko. Ia menyewa kamar di sebuah hotel melati yang jauh lebih layak dari kontrakannya yang dulu. Setelah mandi air hangat dan makan nasi padang dengan lauk rendang ganda, ia duduk di pinggir ranjang, menatap koin itu di bawah lampu kamar.
"Siapa sebenarnya ayahku? Kenapa dia meninggalkan koin seperti ini?"
Bintang mencoba memutar koin itu di atas meja kayu. Saat koin itu berputar kencang, sesuatu yang aneh terjadi. Suara-suara di sekitarnya mendadak hilang, digantikan oleh frekuensi tinggi yang tajam. Lalu, perlahan, ia mendengar suara percakapan.
"...pokoknya lahan parkir di depan pasar itu harus kosong besok. Kalau Bintang si kurir itu masih ada di sana, patahkan saja kakinya."
Bintang tersentak. Itu suara Rendra!
Suara itu seolah-olah keluar dari putaran koin. Bintang mendekatkan telinganya.
"Tenang saja, Bos Rendra. Anak buah saya sudah siap. Besok pasar itu akan jadi milik keluarga Bos sepenuhnya," sahut suara kasar lainnya yang Bintang kenali sebagai preman pasar bernama Baron.
Putaran koin melambat dan akhirnya jatuh berdenting. Suara itu pun hilang.
Bintang berkeringat dingin. Koin ini bukan hanya mesin pencetak uang, tapi juga alat penyadap? Koin ini memberitahunya bahwa besok nyawanya terancam.
"Kalian ingin mematahkan kakiku?" Bintang tersenyum, tapi matanya dingin. Ia menggenggam koin itu erat-erat. "Kita lihat siapa yang akan berlutut besok."
Bintang menyadari satu hal. Koin ini memberikan cashback seribu kali lipat dari setiap nilai nominal koin yang ia belanjakan atau keluarkan. Jika koin 500 perak memberinya 500 ribu, bagaimana jika ia bisa meningkatkan nominalnya? Atau bagaimana jika ia menghabiskan malam ini dengan "membayar" sesuatu berulang-ulang menggunakan koin ini?
Bintang mengambil botol air mineral di kamar hotel. Ia melihat label harganya. Ia menghabiskan sisa malam itu dengan keluar masuk toko kelontong 24 jam, menggunakan koin itu berkali-kali.
Setiap kali koin berpindah tangan, cashback masuk.
Setiap kali ia membayar parkir, cashback masuk.
Setiap kali ia memberikan koin itu ke pengemis, koin itu kembali ke sakunya, dan cashback masuk.
Menjelang subuh, saldo di ponsel Bintang sudah menyentuh angka yang tidak pernah ia bayangkan seumur hidupnya.
Saldo Saat Ini: Rp 150.000.000,00.
Namun, saat ia sedang asyik menghitung uangnya, koin di tangannya mendadak berubah warna menjadi merah membara. Bintang berteriak kesakitan dan menjatuhkan koin itu ke lantai.
Sebuah bayangan hitam tiba-tiba muncul di pojok kamar hotel yang gelap.
"Kekayaan besar menuntut harga yang besar, Bintang Samudra," ucap sebuah suara parau yang seolah datang dari dasar kubur.
Bintang menoleh dengan cepat, tapi tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada koin melati yang kini tergeletak tenang di lantai, namun di permukaannya kini muncul ukiran kecil baru yang menyerupai simbol tengkorak.
Bintang melihat ke arah cermin. Pupil matanya berubah menjadi keemasan sesaat sebelum sebuah ledakan keras menghancurkan pintu kamar hotelnya. Sekelompok pria berpakaian hitam dengan senjata tajam menyerbu masuk.
"Serahkan koin itu, atau mati!"