Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
CEO Tampan jadi Rebutan

CEO Tampan jadi Rebutan

Ailah Sarii | Bersambung
Jumlah kata
43.2K
Popular
279
Subscribe
95
Novel / CEO Tampan jadi Rebutan
CEO Tampan jadi Rebutan

CEO Tampan jadi Rebutan

Ailah Sarii| Bersambung
Jumlah Kata
43.2K
Popular
279
Subscribe
95
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalMiliarder21+Pria Miskin
Vincent Alexander Pradipta, pria berusia 30 tahun dengan latar belakang pria miskin yang setiap hasil dari keringatnya selalu diperas oleh keluarga. Tak ada cinta ataupun kasih sayang yang dirinya dapatkan dari keluarga. Mereka hanya bisa menjadikannya sebagai mesin penghasil uang. Penghinaan selalu ia dapatkan baik dari keluarga ataupun wanita. Namun, semuanya berubah drastis ketika dirinya bertemu dengan seseorang di masa lalu, dan sebuah kekuatan ajaib yang menguasai dirinya. Apakah Vincent akan tetap mencukupi kebutuhan keluarga yang selalu mencekiknya? Dan bagaimana dengan para gadis setelah hidupnya mengubah segalanya?
Bab 1 Diperas Keluarga

"Berikan seluruh uangmu padaku," kata seorang wanita sambil menyodorkan telapak tangannya kepada pemuda yang baru saja berdiri di ambang pintu masuk ke sebuah rumah sederhana.

"Hari ini aku tidak membawa uang, gajiku belum turun." Pemuda itu menjawab dengan nada pelan.

Wanita tersebut berdecak kesal, bagaimana mungkin sudah satu bulan ini tidak memberikan uang padanya.

"Kau itu adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarga ini, kau harus bisa mencukupi seluruh kebutuhan kami. Kau harus menggantikan ayahmu, bekerja menghasilkan uang."

Pria dengan pakaian lusuhnya yang belum sempat melangkah masuk itu hanya diam meratap nasibnya. Semenjak ayahnya tiada, ia benar-benar menjadi tulang punggung keluarga. Mencukupi seluruh kebutuhan mereka yang selalu di luar batas. Keinginan mereka membuatnya harus bekerja lebih keras, bahkan dirinya pun jarang sekali menikmati hasil kerjanya.

Seluruh uang yang didapatkan selalu dirampas oleh ibunya ataupun kakak perempuannya. Tubuh pemuda itu menyingkir dari sana ketika seorang pria yang jauh lebih tua darinya datang dengan tubuh sempoyongan.

"Kau mabuk lagi?" tanya ibunya pada pria tadi.

Pria itu berbicara dengan asal, tidak dapat dipahami karena memang sedang mabuk. Ini adalah hal yang sudah biasa terjadi dalam kehidupan pemuda itu. Setiap hari harus menyaksikan orang-orang yang toxic.

"Vincent, cepat buatkan air perasan lemon untuk ayahmu," perintah wanita itu.

Pemuda itu adalah Vincent, pemuda yang baru akan menginjak usia 30 tahun.

"Tunggu apalagi? Cepat buatkan, ini sudah menjadi tugasmu karena kau itu adalah lelaki!"

Selain mencukupi kebutuhan keluarga, Vincent juga harus mengurus rumah membantu ibunya. Sebab, dirinya adalah lelaki sehingga menjadi alasan untuk itu. Bagi ibunya, seorang lelaki tidak akan pernah ada yang menikahinya sekalipun itu berwajah tampan. Sedangkan, kedua adik perempuan tentu saja sangat berguna, karena kalau mereka cantik sudah pasti para pria kaya akan mengincarnya.

Vincent dianggap sebagai anak yang tidak berguna, karena kalau menikah hanya akan merugikan keluarga, membiayai pernikahannya nanti. Uang Vincent selalu digunakan untuk mempercantik saudaranya supaya tampil cantik, karena itu adalah jalan satu-satunya untuk memikat para pria kaya.

Pemuda itu hanya tidak ingin ada perdebatan dengan ibunya, ia pergi melaksanakan perintah. Kembali membawa permintaannya, tetapi ketika akan diberikan pada ibunya, justru gelas itu malah disingkirkan oleh pria mabuk sehingga menjadi hancur.

"Bersihkan, jangan ada satu pun pecahan yang nantinya dapat melukai para gadis di rumah ini." Wanita itu memberikan perintah seraya membawa pria tersebut menjauh.

Hanya helaan napas yang menunjukkan betapa dirinya harus menahan segala perasaannya seorang diri. Pulang kerja yang seharusnya istirahat, tetapi dirinya malah disuguhi dengan berbagai drama yang dapat menguras kesabaran.

Ketika memunguti pecahan itu, kedua adiknya melihat, tetapi tidak membantu. Mereka hanya menatap remeh, dari kecil memang tidak diajarkan untuk menyentuh barang-barang yang kotor karena hanya akan membuat jemarinya bermasalah.

"Aduh Ibu, aku laper." Salah satu adiknya merengek mencari ibunya.

Vincent lebih cepat membersihkan lantai itu.

"Minta buatkan makanan pada kakakmu," kata ibunya dari balik ruangan lain.

"Kak, buatkan makanan untuk kami."

"Untukku juga," timpal kakaknya yang baru muncul.

Vincent hanya mengangguk pelan, ia menghilang di balik tembok dapur. Semua alat dapur sudah dikenal baik olehnya, ia memasak dengan baik. Vincent sejak masih remaja memang sudah diajarkan tentang dapur. Biasanya itu terjadi pada anak perempuan, tetapi ini berbanding terbalik.

Makanan telah dihidangkan di atas meja, saatnya beristirahat, tetapi otaknya tidak mampu untuk diam sekalipun dalam tidurnya tetap terbayang-bayang oleh kejamnya kehidupan. Langkah yang mulai hampir menyentuh lantai kamarnya pun terhenti begitu saja.

"Vincent, segera minta gajimu pada bosmu itu. Kau lihat sendiri, kan kalau kebutuhan dapur sudah menipis."

"Untuk apa Ibu mempunyai suami, jika semuanya harus yang melakukan?" tanya Vincent yang kini mencoba buka suara untuk menegakkan keadilan.

"Kau tahu sendiri kalau ayahmu itu belum punya pekerjaan, jadi sementara kau saja yang mencukupi kebutuhan keluarga," jawabnya.

"Tapi setidaknya jangan mabuk terus, itu hanya akan menghabiskan uang untuk kebutuhan kita."

"Tutup mulutmu, dia itu ayahmu, berani sekali kau!"

Vincent tidak pernah menganggapnya sebagai ayah, karena ayahnya hanya satu yang telah meninggal dunia. Itu adalah ayah tirinya, yang setiap hari mabuk-mabukan dan juga berjudi. Uang hasil jerih payahnya tidak hanya untuk kebutuhan keluarga melainkan untuk pria itu juga.

Namun, ibunya tidak pernah menyalahkan suami barunya itu, justru malah Vincent yang akan mendapatkan akibat. Terkesan tidak adil, tetapi itulah kenyataannya.

"Kau jangan menghakimi ayah tirimu, jangan merasa paling benar, karena keluarga ini jatuh miskin juga gara-gara kau. Kalau bukan karenamu tentu ayahmu tidak akan mati, dan kita akan tetap menjadi keluarga yang berkecukupan!"

Hatinya terasa diiris ribuan pisau, ketika Vincent meminta keadilan, ibunya kerap kali menyangkut pautkan masa lalu yang begitu kelam. Membahas soal kematian suaminya dahulu. Hal itu membuat Vincent benar-benar tidak berdaya.

"Kalau kau bisa menikah dengan perempuan kaya lalu bisa mencukupi kebutuhan keluarga ini, maka kau tidak perlu lagi tunduk pada kami. Tapi itu adalah hal yang tidak mungkin, perempuan kaya seperti apa yang mau menikahi dengan pria miskin sepertimu! Sekarang kau cukup mencari uang dan uang, jangan pernah ada keinginan untuk menikah."

Vincey hanya dapat menelan salivanya kala mendengar ucapan yang begitu menyakitkan. Ia melanjutkan langkahnya, menutup pintu, mengeluarkan ponsel dari tas kerja yang tadi dibawanya.

"Bos, saya mau pinjam uang nanti bos potong saja gaji saya."

"Vincent, utangmu yang kemarin saja beli dibayar. Kau harus bekerja satu bulan lagi untuk bisa melunasinya, setelah itu di bulan selanjutnya baru saya bisa memberimu pinjaman lagi." Suara pria di balik telepon terdengar cukup tegas di telinganya.

"Baik, Bos."

Vincent duduk bersandar di pintu, rambutnya begitu dibuat berantakan, ia cukup frustasi dengan keadaan. Vincent adalah anak kesayangan ayahnya terdahulu, ia hanya diajarkan tentang bisnis perusahaan, tidak pernah menyentuh peralatan bersih-bersih rumah apalagi alat dapur.

Semua ada yang melakukannya tugasnya masing-masing. Namun, setelah ayahnya tiada Vincent harus menanggung segalanya sendiri. Ia dipaksa harus bisa melakukan semuanya. Akan tetapi, Vincent selalu mengambil sisi baiknya, ia bisa banyak belajar, ia bisa melakukan hal yang tidak pernah dilakukan sebelumnya.

Ia bangkit dari duduknya, kembali meninggalkan rumah untuk mencari pekerjaan sampingan guna menghasilkan uang. Tidak ada yang memberinya pekerjaan, bahkan para gadis menutupi hidungnya kala Vincent lewat. Mereka menganggap Vincent lelaki miskin yang tubuhnya bau karena bekerja di kandang ayam. Vincent tidak peduli itu, pandangannya beralih pada seorang wanita yang mondar-mandir karena motornya mogok.

"Nona, kalau anda tidak keberatan, izinkan saya memperbaikinya."

Wanita itu terdiam, ia melihat para gadis lain yang membicarakan Vincent yang jorok dan bau.

"Silakan," kata gadis itu.

"Kenapa perempuan itu baik padanya? Apakah tidak merasa jijik?" Gadis lain bertanya-tanya pada kawannya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca