Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
CEO Iblis, Istri Barunya Bukan Wanita Biasa

CEO Iblis, Istri Barunya Bukan Wanita Biasa

Kakak_Garang | Bersambung
Jumlah kata
54.1K
Popular
238
Subscribe
45
Novel / CEO Iblis, Istri Barunya Bukan Wanita Biasa
CEO Iblis, Istri Barunya Bukan Wanita Biasa

CEO Iblis, Istri Barunya Bukan Wanita Biasa

Kakak_Garang| Bersambung
Jumlah Kata
54.1K
Popular
238
Subscribe
45
Sinopsis
18+PerkotaanAksiPerangBalas DendamIblis
Ares Dirgantara, CEO termuda yang dijuluki 'Iblis' oleh seluruh Jakarta. Dingin, kejam, dan tidak punya hati. Satu-satunya tujuannya hidup: Menghancurkan Keluarga Pranata yang membunuh ayahnya.Tapi rencananya berantakan saat dia dipaksa menikahi Viona Sarasvati. Gadis desa lugu yang ternyata adalah gadis yang sama yang pernah dia selamatkan 5 tahun lalu. Awalnya Ares pikir Viona hanya beban. Tumbal untuk perang. Tapi wanita itu... berani menantang Iblis, merobek surat cerai, dan bersumpah akan ikut berperang di sisinya.Sekarang Iblis punya kelemahan sekaligus senjata paling berbahaya. Pertanyaannya: Akankah Ares berhasil balas dendam tanpa kehilangan Viona? Atau justru Viona yang akan menaklukkan hati Iblis dan mengubahnya jadi Raja?
Bab 1 - Wanita Pengganti Seharga 2 Miliar

Ares Dirgantara membenci pernikahan.

Lebih tepatnya, dia membenci kelemahan. Dan pernikahan adalah kelemahan terbesar seorang pria. Memberi celah untuk musuh menyerang jantungmu.

Tapi hari ini, 15 Juni 2026, dia berdiri di depan altar Masjid Istiqlal dengan setelan Armani seharga 300 juta, menandatangani surat yang akan memberinya satu kelemahan baru bernama Viona Sarasvati.

Bodoh.

Di hadapannya, wanita itu duduk kaku memakai kebaya putih murahan dengan riasan minimalis. Kepala tertunduk tidak secantik foto yang dikirim Pak Budi sebelumnya. Ini lebih kurus, lebih pucat. Matanya sembab jelas habis menangis.

2 Miliar harga yang dia bayar ke ayah Viona untuk menutup mulut soal kematian ayahnya Ares 3 tahun lalu. Bonusnya dapat istri tumbal untuk mengalihkan Keluarga Pranata.

"Ares Dirgantara bin Aditya Dirgantara," suara penghulu terdengar. "Saya nikahkan dan saya kawinkan Anda dengan Viona Sarasvati binti Haryono dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang 2 Miliar dibayar tunai."

Ares melirik wanita di sampingnya. Wanita itu bahkan tidak berani menatapnya. Tangan wanita itu terkepal di atas pahanya sampai buku jarinya memutih.

Pengecut.

"Saya terima nikahnya Viona Sarasvati binti Haryono dengan mas kawin tersebut tunai," suara Ares datar, tidak ada getaran apa pun. Karena ini jelas hanya transaksi bisnis. Bukan janji suci, bukan cinta dari hatinya.

SAHH!

Satu kata itu mengikatnya dengan wanita asing. Dengan kelemahan baru, dengan bidak catur yang akan dia korbankan kapan saja jika Keluarga Pranata mulai bergerak.

Acara selesai dalam 10 menit. Tidak ada sungkeman, tidak ada foto keluarga. Ayah Viona bahkan tidak datang. Hanya Pak Budi, sopirnya yang jadi saksi.

Di dalam Maybach hitam yang melaju menuju penthouse, Ares membuka jasnya. Melonggarkan dasi, dia butuh whisky sekarang.

Viona duduk di ujung kursi sejauh mungkin darinya, menempel ke pintu. Bau melati murahan dari kebayanya menusuk hidung Ares terasa sangat mengganggu.

"Berhenti gemetaran," perintah Ares tanpa menoleh. "Mengganggu konsentrasiku."

Gemetar itu berhenti sebentar setidaknya wanita ini cepat belajar.

"Pak Budi," panggil Ares. "Kontraknya."

Dari kursi depan, Pak Budi menyerahkan sebuah map tebal. Ares melemparkannya ke pangkuan Viona. "Baca. TTD. Malam ini."

Viona tersentak. Tangannya yang bergetar membuka halaman pertama.

KONTRAK PERNIKAHAN

Pihak Pertama: Ares Dirgantara

Pihak Kedua: Viona Sarasvati

Ares memperhatikan dari sudut matanya. Dia melihat mata Viona melebar saat membaca Pasal 1 lalu pasal 2. Wajah pucat itu jadi semakin pucat.

Bagus, takutlah Viona. Semakin cepat dia takut, semakin cepat dia mengerti posisinya.

"Ini... ini perbudakan," suara Viona akhirnya keluar. Gumaman kecil, bergetar tapi ada nada menantang di sana.

Ares akhirnya menoleh. Menatap Viona penuh untuk pertama kalinya. Mata wanita itu berwarna cokelat. Bukan cokelat biasa, tapi cokelat seperti madu hutan di bawah sinar matahari. Dan sekarang, mata madu itu menatapnya dengan campuran takut dan marah.

Menarik, sangat menarik.

"Ini kesepakatan bisnis, Nyonya Dirgantara," koreksi Ares, dia sengaja menekankan Nyonya Dirgantara. Agar wanita itu ingat siapa yang memberinya nama. "Ayahmu menjualmu 2 Miliar. Aku membelimu dari ayahmu yang bejad itu. Jadi sekarang kau milikku Viona, kontrak ini hanya meresmikan aturan mainnya."

"Aku bukan barang yang bisa diperjualbelikan." Viona membantah dengan suara yang sedikit lebih tinggi.

Ares menyeringai tipis. "Semua orang punya harga, Viona. Hargamu CUMA 2 Miliar, murah untuk seorang istri CEO Dirgantara Group." Dia mencondongkan tubuhnya. Mendekat. "Kecuali... kau mau kukembalikan ke ayahmu? Dengan utang 2 Miliar yang harus kau bayar sendiri?"

Ancaman itu berhasil membuat mata madu itu langsung redup, bahunya turun, perlawanannya yang sempat ada langsung redup.

Ares bersandar menang. Selalu menang. "Pasal 3. Kau akan jadi asisten pribadiku mulai besok. Gajimu 5 juta per bulan. Cukup untuk wanita sepertimu." Dia melirik kebaya murahan itu lagi. "Kantor akan sediakan apartemen. Tapi kau tidur di penthouse, kamar tamu."

Viona tidak menjawab, hanya menunduk, menatap kontrak di pangkuannya seakan itu adalah vonis mati.

Mobil berhenti di basemen Penthouse Darmawangsa. Pak Budi membukakan pintu.

"Turun," perintah Ares.

Viona turun dengan gerakan kaku. Seperti robot yang baru dirakit. Ares berjalan duluan masuk ke lift pribadi. Viona mengekor di belakang menjaga jarak 2 meter.

Penurut, tidak membantah. Bagus, Iblis tidak butuh istri yang susah diatur.

Di dalam penthouse lantai 88, Ares langsung menuang whisky. Menenggaknya sekali hingga habis. Api alkohol membakar tenggorokannya.

Dia melihat Viona masih berdiri kaku di dekat pintu, menenteng tas lusuhnya seperti orang asing. Memang orang asing.

"Kamar tamu di ujung lorong. Lantai dua," kata Ares sambil menuang gelas kedua. "Jangan keluar kamar tanpa izinku. Jangan sentuh apa pun. Jangan bicara padaku kecuali kutanya. Mengerti?"

Viona mengangguk lemah.

"Kontraknya kutunggu di mejaku sebelum jam 9 malam," Ares menambahkan. "Jika tidak, denda 10 juta. Potong dari gajimu bulan depan."

Itu seharusnya membuatnya menangis atau protes. Tapi wanita itu hanya mengangguk lagi, lalu berbalik dan berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. Punggungnya lurus, terlalu lurus untuk seseorang yang baru saja diancam.

Aneh.

Ares menghabiskan whisky-nya. Dia berjalan ke jendela kaca besar. Menatap Jakarta dari ketinggian. Kerajaannya dibangun dari darah dan air mata. Dari kematian ayahnya.

Keluarga Pranata, nama itu membakar dadanya. Mereka pikir Ares Dirgantara akan hancur setelah ayahnya mati. Mereka salah, dia malah jadi iblis dan iblis ini akan menyeret mereka semua ke neraka.

Viona Sarasvati hanyalah pion pertama. Dijadikan umpan dan tameng. Jika Keluarga Pranata mengincar istri iblis, mereka akan menemukan Viona. Wanita lemah yang tidak ada hubungannya dengan bisnis. Kematian Viona tidak akan menggoyahkan Ares. Justru akan jadi alasan untuk membantai mereka semua tanpa ampun.

Rencana sempurna.

Lalu kenapa bayangan mata madu yang ketakutan itu masih menempel di kepalanya? Kenapa punggung lurus wanita itu saat naik tangga tadi mengganggunya?

Ares menghempaskan gelasnya ke dinding, Pecah berantakan.

Dia Ares Dirgantara, seorang iblis. Dia tidak punya hati. Dia tidak akan lemah karena seorang wanita pengganti seharga 2 Miliar.

Titik.

Di lantai atas, Viona menutup pintu kamar tamu pelan-pelan. Bersandar di pintu lalu melorot jatuh ke lantai. Air mata yang ditahannya sejak ijab kabul akhirnya tumpah.

Ares tidak tahu dan tidak akan pernah tahu. Bahwa 5 tahun lalu, di Desa Lembang, seorang pemuda bertopeng sudah menyelamatkannya dari tiga preman. Pemuda yang memberinya luka gores di dada saat melindungi Viona dari pisau.

Pemuda yang namanya tidak pernah dia tahu. Tapi wajahnya, matanya. Ares Dirgantara memiliki mata yang sama persis.

Iblis ini adalah malaikatnya. Dan malaikatnya tidak mengenalinya lagi.

Ares berjalan ke brankas di dinding membuka laci rahasia. Di dalamnya ada satu foto lusuh. Seorang gadis desa 17 tahun dengan mata madu, memegang bunga liar. Di belakang foto tertulis Lembang, 5 tahun lalu.

Dia meremas foto itu. Kenangan yang seharusnya sudah mati. Kenangan yang membuatnya jadi Iblis.

"Jangan paksa aku mengingatmu, gadis bodoh," desis Ares. "Karena jika aku ingat, Keluarga Pranata akan membunuhmu lebih cepat."

Lanjut membaca
Lanjut membaca