

"Itu dia! Tangkap orang itu! Jangan biarkan dia kabur!" teriak salah satu pria berbaju hijau diliputi amarah.
"Tunggu, tunggu! Ini ada apa?” teriak Mario bingung menghentikan orang-orang yang akan menghajarnya.
“Tidak usah mengelak, kau pencuri itu!” sergah seseorang merebut tas itu dengan kasar.
“Jangan! Kembalikan tas itu.” Mario berusaha mengambil kembali tas hitam itu. “Kembalikan, itu bukan punya saya. Itu titipan orang.” ucap Mario berusaha merebut kembali.
“Tidak usah banyak alasan! Kau telah mencuri tas ini. Hajar saja orang ini, tidak ada guna!” Teriak pria bertato meninju rahang Mario dengan kuat.
“Tidak! Bukan saya! Tas ini dititipkan orang!" teriak Mario berusaha menjelaskan.
Namun amarah orang-orang sudah membutakan akal sehat. Tanpa mendengarkan penjelasan, pukulan demi pukulan mendarat keras di wajah Mario.
Bugh! Bugh! Bugh!
"Berani-beraninya mencuri di sini! Dasar tak tau diri!"
Pukulan dan tendangan menghujani tubuh kurus Mario. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain melindungi kepalanya dengan kedua tangan. Teriakan minta tolongnya tenggelam dalam teriakan masa yang semakin menjadi-jadi.
Darah mulai mengalir dari hidung dan bibirnya. Pandangannya mulai kabur, tulang-tulangnya terasa remuk pun dengan kepalanya yang mulai berdenyut.
Mario tergeletak tak berdaya, badannya penuh luka, darah menggenang di sekitar kepalanya. Nafasnya tersengal nyaris putus. Mario rasa seolah ajal sudah sangat dekat.
Nasibnya untuk mengadu dikota, berujung pada penyiksaan. Pemuda berusia dua puluh lima tahun itu menutup mata, merasakan sakit disekujur tubuhnya.
Pakaiannya yang lusuh kini telah berubah warna serupa darah. Mario datang dari desa untuk menemui temannya yang memberikan pekerjaan, berniat mengubah nasib hidupnya.
“Berhenti!!” Teriak seseorang membelah kerumunan.
"Sudah! Cukup!! Apa yang kalian lakukan, kenapa harus menyiksa orang seperti ini?" Teriaknya menatap semua orang yang terlibat.
Suara wanita yang tegas itu cukup membuat orang-orang gentar, pakaian rapi dengan kacamata berlensa tipis berjongkok membantu Mario duduk.
"Lihatlah! Dia sudah hampir mati! Kalian mau membunuh orang yang tidak bersalah?!" seru wanita itu lagi menatap iba Mario.
Orang-orang terdiam, hingga seorang pria memberikan tas hitam yang sedari tadi ia pegang.
“Bukankah tas ini milik anda?” Tanyanya seraya memberikan tas itu.
Wanita itu mengangguk sekali. “Betul, tapi bukan dia pencurinya.” Ucapnya membuat orang-orang kembali ricuh saling menyalahkan.
“Saya hafal dengan wajah pencuri itu, dan bukan dia pelakunya! Kalian main hakim sendiri tanpa mau mendengar penjelasan!" bentak wanita itu tegas.
Seketika orang-orang itu merasa bersalah dan membantu Mario untuk bangkit, sebagian mencari kendaraan dan membawanya kerumah sakit.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, mata Mario yang setengah terbuka hanya bisa melihat wajah penyelamatnya.
“Te…terima kasih.” Ucap Mario lemah, rasa sakit di sekujur tubuh membuatnya susah untuk berbicara.
“Tidak. Saya yang berterima kasih, anda telah menyelamatkan barang saya dan… Maaf, anda jadi terluka seperti ini.” Ucap wanita itu meneteskan air mata.
Sesampainya di rumah sakit, Mario langsung dibawa ke ruang gawat darurat. Keadaannya sangat memprihatinkan, kesadarannya hampir hilang sepenuhnya.
Dokter dan perawat sibuk mengobati dan menjaga kestabilan tubuh pasien. Mario merasa inilah akhir kisah hidupnya.
“Ya ampun... baru aja sampai kota, udah dapat bonus babak belur. Nasib apa ini? Mau cari kerja, malah hampir jadi mayat,” batinnya pasrah.
Tiba-tiba Mario merasa sekelilingnya menjadi sunyi, suara riuh alat medis serta perawat dan dokter seperti menghilang begitu saja. Digantikan dengan suara mekanisme yang bergema di dalam otaknya.
< Ding! >
[Sistem Kekayaan telah mendeteksi tuan rumah yang baru.]
[Apakah tuan bersedia bergabung dengan sistem?]
[Ya atau tidak]
Di batas ambang kesadaran Mario dikejutkan dengan suara sistem, hingga tanpa sadar membuatnya berteriak-teriak mengejutkan semua orang dalam ruangan.
“Dokter, suster ini ada apa sebenarnya? Apa saya sudah meninggal? Apa malaikat tengah menanyai saya?”
“Mas, sabar ya. Sebentar lagi selesai.” Seorang suster menghampiri Mario mengelus bahu dan terus menenangkannya.
“Bagaimana ini dokter, kenapa pasien berteriak-teriak seperti ini?”
Dokter menggeleng pelan, menghampiri Mario yang memejamkan mata, namun mulutnya berteriak dengan kencang.
[Tuan, maukah anda bergabung dengan sistem kami? Sistem akan memberikan kekayaan kepada tuan secara bertahap dengan syarat tuan harus menyelesaikan misi yang sistem berikan!]
“Misi? Misi macam apa ini? Apakah di surga harus melakukan misi?”
[Bagaimana tuan, apakah tuan bersedia?]
“Mas, apa yang mas nya rasakan? Apa kepala anda yang sakit?” Tanya Dokter memegang tangan Mario yang mencengkram erat kepalanya.
“Ya.” Tanpa sadar Mario menjawab kedua pertanyaan itu, hingga sedetik kemudian Mario merasakan tubuhnya sedikit lebih ringan dan kepalanya tidak merasakan sakit lagi.
“Arrgghhhh…”
[Proses binding dimulai…]
10%...
50%...
100%...
[Sistem telah berhasil terikat dengan tuan rumah.]
“Syukurlah pasien sudah tenang, lanjutkan menjahit luka di kaki dan biarkan pasien beristirahat.” Perintah dokter.
“Baik dok.”
Setelah melakukan perawatan, dokter dan suster keluar ruangan, membiarkan Mario beristirahat dengan tenang.
[Selamat datang tuan, selamat bergabung dengan sistem.]
“Hei, kamu siapa sebenarnya, kenapa sedari tadi terus berbicara tanpa menampakan wujud?” Tanya Mario celingak celinguk.
[Saya sistem kekayaan yang akan membantu tuan menjadi orang nomor satu. Dan saya tidak mewujud dalam bentuk apapun.]
“Maksudnya?”
[Ah, dasar tuan bodoh. Kenapa pula pusat mencarikan tuan rumah yang bodoh seperti ini.]
Mario terbelalak. “Apa kau sedang mengejekku? Sialan bener nih, kayaknya aku gegar otak gara-gara pukulan tadi.” Gumam Mario menggeleng-gelengkan kepala.
[Sistem ini hadir untuk mengubah nasib tuan. Misi yang diberikan beragam, mulai dari membantu sesama, membangun usaha, hingga menyelesaikan berbagai masalah. Setiap misi yang selesai akan diberi hadiah berupa uang, aset, atau bahkan kemampuan khusus!]
“Ah yang benar? Kenapa saya tidak percaya sedikitpun?” Tantang Mario merasa tak percaya.
[Baik, sebagai tanda perkenalan sekaligus memulai misi, sistem akan mengirimkan hadiah kepada tuan rumah.]
Mario melihat layar biru mengambang di depan matanya, meski mengerjap berulang kali tulisan itu tak kunjung hilang.
[Sistem Kekayaan]
~ Status ~
NAMA : Mario Fernandes
UMUR : 25 Tahun
KETAMPANAN : 40
KEPINTARAN : 20
SALDO : -
MISI : -
HADIAH MISI : -
PENYIMPANAN SISTEM : -
SISTEM PEMANDU : Aseta Fortis
“Aseta Fortis, siapa?”
[Itu adalah nama sistem tuan, seperti kegunaannya, aseta fortis bisa berarti aset yang kuat / kekayaan yang kokoh dan tangguh.]
“Wah, hebat. Tapi kenapa kepintaranku hanya 20 saja?”
[Sepertinya memang begitu tuan, sistem tidak pernah memberikan info yang salah.]
“Ah sialan, jadi kau bilang aku bodoh!”
[Tidak tuan, saya tidak mengatakan seperti itu.]
Terdengar suara cekikikan yang membuat Mario semakin jengkel. “Menyebalkan!”
< Ding! >
[Sistem telah mengirimkan Hadiah perkenalan kepada tuan rumah.]
[Tuan rumah telah menerima uang tunai 500.000 (lima ratus ribu rupiah) dari sistem.]
“Hah? Yang benar? Aku tidak percaya.” Kukuh Mario memalingkan wajah, dia rasa ini semua hanya khayalannya saja, tidak akan mungkin ada yang berbaik hati mengirimkan uang dengan cuma-cuma.
[Silahkan tuan cek sendiri di rekening.]
Bersambung…