

Hujan badai mengguyur Kota Megantara tanpa ampun.
Petir menyambar di langit malam, menerangi jalanan aspal yang tergenang air keruh. Angin bertiup kencang, menumbangkan beberapa dahan pohon di pinggir jalan.
Di tengah cuaca ekstrem itu, dua sosok pria berjalan kaki menyusuri trotoar.
Anehnya, tak satu pun dari mereka memegang payung. Namun, rintik hujan seolah menabrak sebuah dinding tak kasat mata saat berjarak satu inci dari tubuh mereka. Pakaian mereka tetap kering sempurna.
Pria yang berjalan di depan mengenakan jaket kasual berwarna gelap dan topi yang menutupi separuh wajahnya. Dia adalah Gavin.
Delapan tahun lalu, Gavin hanyalah pemuda sekarat yang dibuang ke jalanan dengan luka dalam yang parah. Saat dunia memunggunginya dan kematian sudah di depan mata, sebuah tangan yang hangat menariknya.
Tangan itu milik Kalandra, seorang pria sederhana pemilik kedai makan tradisional.
Kalandra merawat Gavin seperti adik kandungnya sendiri. Pria itu memberinya tempat berteduh dan mengajarinya arti bertahan hidup melalui masakan. Lebih dari itu, Kalandra lah yang pertama kali membuka pintu jalan kultivasi kuliner bagi Gavin. Pria berhati malaikat itu mengajarkan sebuah dasar resep yang luar biasa.
Namun, potensi kultivasi Gavin yang sangat langka, Bakat Kuliner Surgawi, tanpa sengaja terpancar dari racikan resep dasar tersebut. Bakat yang hanya muncul sekali dalam seribu tahun itu menarik perhatian tetua tertinggi dari Puncak Awan.
Demi menyelamatkan nyawa Gavin dari sisa luka dalamnya dan mencegah bakat mengerikan itu dimanfaatkan oleh sekte gelap, sang guru turun gunung, menculik, dan menarik paksa Gavin ke Puncak Awan untuk digembleng di kawah pelatihan neraka.
Di belakang Gavin, berjalan seorang pria berwajah dingin dengan bekas luka melintang di pipinya. Namanya Sena. Ia adalah pengawal spiritual tingkat tinggi sekaligus asisten koki yang setia menemani Gavin selama lima tahun terakhir.
Kini, setelah menyempurnakan resep itu dan mewarisi gelar Koki Dewa, Gavin turun gunung. Tujuannya hanya satu: pulang ke tempat Kalandra untuk membalas budi.
"Tuan, kita sudah memasuki jalan menuju kedai," ucap Sena pelan, suaranya mampu menembus deru hujan. "Namun, sebelum Anda tiba, ada laporan intelijen bayangan yang harus Anda dengar."
Langkah Gavin terhenti sejenak. "Bicaralah."
"Kehancuran Kedai Rempah Abadi akhir-akhir ini bukanlah kebangkrutan alami," lapor Sena dengan nada dingin. "Ini adalah konspirasi yang digerakkan oleh Grup Tirta."
Mata Gavin menyipit di balik bayangan topinya.
"Grup Tirta adalah sindikat raksasa yang sedang berusaha memonopoli industri medis dan F&B di Megantara," lanjut Sena. "Mereka mengincar resep spiritual peninggalan Anda yang dijaga oleh Tuan Kalandra. Mereka menekan kedai ini dari segala arah, memutus pasokan bahan, hingga menyogok preman lokal."
Udara di sekitar Gavin mendadak terasa membekukan tulang.
"Grup Tirta tidak bekerja sendiri. Untuk menghancurkan Kalandra dari dalam, mereka menggunakan tangan kotor... Bima. Mantan asisten cuci piring yang dulu Tuan Kalandra besarkan. Bima menjadi duri dalam daging yang meruntuhkan tempat ini demi janji jabatan di Grup Tirta."
"Dan... yang paling menyakitkan adalah saat Hendra, orang yang dulu ia anggap saudara sendiri, memilih memutus pasokan bahan baku dan bersekutu dengan Grup Tirta demi ambisi pribadinya."
Grup Tirta. Bima dan Hendra sang pengkhianat. Nama-nama itu kini terukir jelas dalam daftar kematian sang Koki Dewa.
"Kita lihat saja," gumam Gavin datar, kembali melangkah maju. "Siapa yang akan menjadi bahan cincangan lebih dulu."
Namun, saat langkahnya akhirnya membawa Gavin ke depan bangunan yang dituju, napasnya tercekat. Jantungnya berdesir hebat.
Di ingatannya, "Kedai Rempah Abadi" adalah tempat yang hangat. Papan namanya selalu diterangi lampu kuning yang ramah, dan aroma sedap selalu menguar hingga ke ujung jalan.
Namun, apa yang ada di hadapannya kini adalah sebuah rongsokan.
Papan nama kedai itu patah menjadi dua. Cat dindingnya terkelupas dan dipenuhi coretan grafiti kasar bernada ancaman. Jendela kacanya pecah, hanya ditutupi oleh kardus bekas dan plastik terpal yang berkibar ditiup angin.
Hawa dingin yang mematikan mulai merembes keluar dari tubuh Gavin, membuat Sena tanpa sadar menahan napas.
Gavin melangkah maju, mendorong pintu kayu yang engselnya sudah berkarat.
Kriet...
Suasana di dalam kedai gelap, lembap, dan berbau apak. Meja-meja kayu banyak yang patah. Kedai ini tampak seperti sudah tidak beroperasi selama berbulan-bulan.
Gavin berjalan ke salah satu meja di sudut yang paling gelap dan duduk dalam diam. Sena berdiri tegak di belakangnya layaknya bayangan.
"Maaf... kedai kami sudah mau tutup," terdengar suara lirih dari arah dapur.
Seorang wanita keluar dari balik tirai kusam mengenakan celemek yang sudah pudar warnanya.
Gavin mengintip dari balik pinggiran topinya. Itu adalah Alya. Istri Kalandra. Wanita yang dulu selalu tersenyum ceria saat menyuapkan makanan hangat untuknya.
Namun kini, Alya terlihat sangat rapuh. Wajah cantiknya pucat pasi, dan ada memar kebiruan di sudut bibirnya. Dada Gavin terasa seperti ditusuk ribuan jarum.
"Aku ingin pesan satu porsi Sup Kaldu Tulang Sapi Teratai Salju," ucap Gavin pelan, sengaja menyamarkan suaranya.
Langkah Alya terhenti. Tubuhnya menegang.
Sup Kaldu Tulang Sapi Teratai Salju adalah hidangan spiritual andalan Kalandra yang tidak pernah ditulis di papan menu. Justru karena keajaiban resep itulah, kedai ini dihancurkan oleh Grup Tirta.
"Maaf, Tuan," suara Alya bergetar. "Menu itu... sudah tidak ada lagi."
"Aku tahu menu itu ada. Buatkan saja. Aku akan membayar berapa pun," paksa Gavin.
Alya menatap pria bertopi itu, lalu menghela napas pasrah dan berbalik masuk ke dapur.
Selama setengah jam, Gavin duduk diam bak patung batu, menggunakan pendengaran spiritualnya untuk memantau gerakan Alya.
Tak lama, Alya keluar membawa semangkuk sup yang mengepulkan asap. Gavin menatap mangkuk itu. Ia mengambil sendok kayu, mencicipi kuah bening itu.
Hanya butuh satu detik bagi lidah seorang Koki Dewa untuk membedah segalanya.
Gavin meletakkan sendoknya kembali dengan suara ting yang tajam.
"Ini bukan sup yang kuminta," ucap Gavin dingin.
Alya terkejut. "T-tapi Tuan, itu adalah resep asli yang..."
"Suhu airnya kurang dua derajat saat teratai salju dimasukkan," potong Gavin tajam. "Jahenya dipotong terlalu tebal. Dan yang paling parah... sup ini terasa sangat pahit. Tidak ada kehangatan di dalamnya. Yang ada hanya rasa duka, ketakutan, dan keputusasaan. Ini bukan masakan Kalandra."
Mendengar nama suaminya, bahu Alya langsung bergetar hebat. Kritik tajam itu menghancurkan pertahanan mentalnya yang sudah sangat rapuh.
"Tentu saja ini bukan masakannya!" teriak Alya tiba-tiba, suaranya pecah oleh isak tangis.
Ia meremas celemeknya, tubuhnya merosot berlutut di lantai kedai yang kotor.
"Bagaimana bisa sup ini terasa hangat? Orang yang biasa memasaknya sudah meninggal! Mas Kalandra sudah pergi... Besok lusa adalah peringatan satu tahun kematiannya. Lalu apa yang Anda harapkan dari janda yang sudah kehilangan segalanya ini, Tuan?!" ratap Alya, menumpahkan keputusasaannya.
Ruangan itu mendadak hening.
Kalandra... meninggal? Besok lusa adalah satu tahun pria itu tiada?
Fakta itu menghantam dada Gavin. Energi spiritual di tubuhnya bergejolak buas. Sena terkejut karena dia tidak mendapat informasi tentang kematian Kalandra. Namun tidak ada waktu untuk keterkejutan, dia segera memusatkan energinya, mati-matian menahan tekanan aura Tuan-nya agar bangunan rapuh itu tidak langsung runtuh.
Gavin bangkit dari kursinya. Ia berjalan perlahan, lalu ikut berlutut dengan satu kaki di hadapan Alya. Tangan kanannya terulur melepas topinya.
"Kak Alya," panggil Gavin dengan suara yang serak dan bergetar hebat.
Alya menghentikan tangisannya sejenak. Ia mendongak, menatap wajah pria di hadapannya.
Saat Alya mengenali wajah pemuda yang dulu selalu menemani suaminya di dapur, yang kini telah berubah menjadi pria dewasa dengan sorot mata sedalam samudra, matanya terbelalak tak percaya.
"Gavin...?" bisik Alya lirih.
"Ya, Kak. Ini aku," ucap Gavin lembut, namun menyimpan badai amarah yang siap menghancurkan seisi kota Megantara. "Gavin pulang.”