Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Karena Disambar Petir

Karena Disambar Petir

hf rajak | Bersambung
Jumlah kata
93.8K
Popular
6.5K
Subscribe
893
Novel / Karena Disambar Petir
Karena Disambar Petir

Karena Disambar Petir

hf rajak| Bersambung
Jumlah Kata
93.8K
Popular
6.5K
Subscribe
893
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalPria MiskinHaremKekuatan Super
Hari ini, Udin, 22 tahun, pemuda yang miskin. Dan sia mempunyai 1 keinginan menjadi kaya agar ibunya tak harus bersusah-payah dan bahagis. Namun hari ini dia merasa sangat terpuruk. Dia dipecat. Dia yang sudah berusaha bersabar menghadapi keras dan kejam dunia, hari ini merasa tak sanggup lagi. Hati dan pikirannya sudah kalut karena keadaan yang tak bisa lagi dia hadapi. Saat keputusasaan membelenggu jiwanya dengan begitu kuat, Udin menyerah. Dia meminta pada Tuhan untuk mengakhiri hidupnya jika hanya dicipta untuk sengsara. Dia juga meminta diberi kemudahan mengarungi dunia, jika memang Tuhan masih belum menginginkan kematiannya. Dan Tuhan menjawab. Petir menyambar tubuhnya. Dia ambruk di tepi pantai. Tubuhnya mengepulkan asap, terbakar. Dan Tuhan memberinya kemampuan. Bisakah Udin kaya dan memberi ibunya kebahagiaan? Mari baca karya seru ini! 😍😍😍
-1- Petir & Keputusasaan

Langit senja dengan mendung tebal menggantung menutupi kota Jakarta.

Tuk, tuk, tuk.

Bunyi ketukan meja itu terdengar memenuhi ruangan HRD yang senyap dengan Udin berdiri di hadapan sang manajer.

Udin, lajang dua puluh dua tahun ini masih berdiri mematung di depan meja manajer HRD.

"Maaf Udin, ini sudah menjadi keputusan final perusahaan. Kau dipecat." Kata pak Broto dingin sambil mengetuk-ketuk meja dengan ballpoint.

"Maaf pak, ijin tanya. Alasan saya dipecat apa?" Tanya Udin memberanikan diri, karena sudah tiga tahun dia bekerja di perusahaan ini. Tak pernah sekalipun dia terlambat. Dia juga sering lembur meski tak dibayar, hanya diberi nasi bungkus dan es teh manis. Dia juga tak pernah ijin karena sakit atau alasan lainnya.

Namun, sore ini dia dipanggil hanya untuk mendengar keputusan dia dipecat.

"Efisiensi." Singkat, jelas, padat. Jawaban Broto yang berwajah dingin.

Udin menunggu kalimat lainnya, namun tak ada lagi kata yang keluar dari bibir tebal warna hitam karena kebanyakan merokok milik Broto.

Dia menatap Broto dengan senyum cengengesan untuk menutupi kegundahan hatinya.

"Tapi… Ada pesangon untuk saya kan pak?" Tanya Udin penuh harap, karena dia membutuhkan banyak uang sekarang.

Broto mendengus. Tampak sekali dia kesal.

"Tidak ada!" Jawabnya memberi penekanan di setiap suku katanya. "Kau harus mengerti Udin. Sekarang masa yang sulit. Perusahaan harus melakukan efisiensi agar selamat. Jadi, tak ada pesangon!" Lanjut Broto. "Sekarang, kau keluar dari sini. Ambil sisa upah kamu."

Sesak di dada.

Itulah yang dirasakan Udin.

Ingin sekali dia marah. Namun tak berani.

Setelah mengambil sisa upah sebesar dua ratus ribu, Udin keluar.

Sebuah motor bebek butut dengan warna kusam, ujung depan spatbor pecah dan beberapa karat di beberapa bagian body motor yang menyiksa mata yang melihat sedang menunggu Udin dengan setia di tempat parkir perusahaan.

Dengan langkah gontai dia menuju ke motor bebek dan langsung naik bersiap menyalakan dan pulang.

[terdengar dering ponsel]

Udin mengambil ponsel dari saku celana dan melihat ke layar ponsel.

Tulisan ibu tertera di layar, membuat Udin buru-buru menggeser tombol hijau di layar yang dipenuhi retakan.

"Iya bu…"

"Kau sudah mendapatkan uang itu nak?" Tanya Yatmi, ibunya Udin.

"Ah eh oh. Be – belum bu." Jawab Udin gelagapan. Dia tahu ibunya sangat butuh uang untuk membayar biaya rumah sakit.

"Aduh… Bagaimana ini Din? Rumah sakit memberi masa dua hari lagi harus lunas agar adik kamu bisa dilakukan operasi hernia. Duapuluh juta Din…."

Udin terdiam sesaat.

Dia mengatur suasana hatinya agar ibunya yang sangat dia sayangi ini tetap tenang.

Dia memiliki satu adik tiri, Yuni namanya, umurnya dua puluh tahun, dan menderita sakit langka untuk wanita. Hernia. Penyakit ini harus dilakukan operasi untuk sembuh. Dan itu butuh biaya besar.

Dan kini dia baru saja dipecat. Uang dalam dompet hanya ada dua ratus ribu lebih sedikit.

Setelah sedikit tenang, dia mengulas senyuman. Meski ibunya tak melihat.

"Ibu tenang saja. Dua hari lagi bukan? Ibu tenang ya…. Aku akan mendapatkan uang itu bayar semua itu. Ibu tenang dan percaya Udin bisa bukan?" Kata Udin dengan suara dia buat sangat tenang agar ibunya tak panik.

"Ibu percaya Udin. Tapi kamu jangan gelap mata ya? Jangan mencuri! Jangan merampok! Apalagi sampai menipu, membohongi orang! Kita orang miskin Udin. Ibu tak sanggup hidup jika kamu berurusan dengan polisi." Kata Yatmi dan mulai terdengar suara yang bergetar.

"Tidak ibu. Aku tak akan mencuri, merampok, atau menipu ibu. Percayalah sama anakmu ini yang akan bekerja keras agar kita kaya. Doakan anakmu ini ibu. Dan yakin lah, anak mu ini bisa mendapatkan uang itu." Pinta Udin dengan mata mulai sembab.

"Iya Udin. Ibu akan berdoa untukmu dan untuk kesembuhan Yuni. Kamu hati-hati ya… Jangan kepikiran nanti kamu kenapa – kenapa saat bekerja."

"Ya bu. Udin akan selalu berhati-hati. Sudah dulu ya bu, sekarang Udin lanjut kerja dulu ya bu." Pamit Udin bohong.

Dia menghembuskan napas lega saat sambungan telepon diputus. Namun sesat kemudian lega itu menghilang.

Kalut!

Perasaan sangat kalut setelah mengingat kebutuhan uang untuk biaya operasi hernia adik tirinya.

Udin kembali memeriksa dompetnya. Berharap ada keajaiban yang membuat isinya bertambah.

"Ah… Aku terlalu berharap seperti di novel on line saja." Kata Udin lalu menyalakan motor dan keluar dari perusahaan.

Dia kendarai motor membelah jalanan Jakarta yang padat. Kepalanya terasa panas karena memikirkan tekanan kehidupan ini.

Tak tentu arah.

Hujan deras mengguyur, Udin terus berkendara tak peduli tubuhnya basah dan kedinginan.

Petir dan guntur menggelegar. Namun semuanya kalah nyaring dengan keruwetan yang ada dalam benaknya.

Hingga motor butut berhenti di ujung jalan aspal.

Dia melihat hamparan pasir basah diguyur hujan dan pukulan ombak. Dia juga melihat beberapa perahu nelayan terombang-ambing di sebelah kanannya.

Sepi.

Tak ada manusia.

Hanya suara angin, hujan dan deburan ombak.

Udin turun dari motor dan berlari dan berhenti diatas hamparan pasir.

Dia merasa sangat lelah dan rasa putus asa mulai membelenggu pikiran dan hatinya.

Dia menengadah. Menatap langit kelam dengan cahaya petir berulang-ulang.

Air matanya menetes tak terlihat karena bercampur air hujan.

Dia rentangkan kedua tangan dengan kepala terus mendongak

"Oh, Tuhan! Selama ini aku telah mencoba berbuat baik seperti yang Kau pinta. Selama ini aku selalu berusaha untuk tak menyakiti orang lain, meski aku selalu mereka hina. Tak cukupkah Kau memberi diriku yang lemah ini dengan ujian dan cobaan?" Teriak Udin lantang namun lenyap ditelan deru hujan dan ombak.

Tak ada jawaban.

Dan langit tetap mencurahkan air dengan lebih besar lagi. Hanya deburan ombak memukul pantai dan suara angin yang menderu kencang hingga rambut dan pakaian basah Udin berkibar-kibar.

Air mata Udin semakin deras keluar. Dia angkat dua tangannya ke atas.

"Jika memang takdir yang Kau tulis untukku hanya untuk dihina, ambil nyawaku ini Tuhan! Kirim petir Mu! Sambar tubuhku!" Teriak Udin memohon karena rasa putus asa semakin membelenggu. "Jika Kau inginkan aku hidup untuk memberi kebahagiaan bagi ibuku beri aku kemudahan!" Teriaknya penuh harap.

Sepi.

Suara deru angin, deru hujan dan deru ombak.

Lelah. Udin sangat lelah. Dia menunduk dan menurunkan tangan.

Di langit kelam muncul kilatan putih beriring suara benda terbelah.

Kilatan putih menyusuri langit dan mengarah ke bumi.

DUAR!

Tubuh Udin disambar kilatan putih beriring guntur menggelegar.

Sesaat tubuh Udin diselubungi cahaya putih. Dan sesaat kemudian cahaya itu menghilang.

Tubuh Udin ambruk ke pasir basah. Bajunya koyak hangus terbakar. Asap putih mengepul sejenak lalu menghilang dibawa angin dan hujan.

Samar mata Udin melihat perahu nelayan terombang-ambing. Semakin lama pandangannya semakin menggelap.

"Akhirnya…"

Lanjut membaca
Lanjut membaca