

"Yudi, kemari."
Suara itu terdengar berat, tapi terasa hangat di pendengaran si pemilik nama.
Yudi—seorang anak laki-laki duduk di lantai kayu, menatap pria tua di depannya dengan mata penuh rasa ingin tahu.
Di tangan pria tua itu, ada sebuah benda kecil, tepatnya sebuah cermin.
Bingkainya gelap, dengan ukiran aneh yang membentuk pola lingkaran-lingkaran kecil. Kacanya tidak sepenuhnya jernih, seolah menyimpan sesuatu di dalamnya.
Yudi kecil mendekat. "Apa itu, Kek?"
Pria tua itu tersenyum tipis. "Cermin kuno," jawabnya pelan.
Yudi mengerutkan kening. "Cermin biasa?"
"Bukan cermin biasa." Nada suara kakeknya berubah sedikit serius. "Cermin ini sudah ada sejak zaman leluhur kita. Diturunkan dari generasi ke generasi."
Yudi menatap cermin itu lebih lama, masih dengan kedua alis yang berkerut. "Memang ada apa di dalamnya, Kek?"
Kakeknya tidak langsung menjawab. Ia justru menatap permukaan cermin itu, seolah melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain. "Cermin ini… punya 'spiritual'," ucapnya pelan. "Tapi tidak semua orang bisa merasakannya."
"Kok bisa, Kek?"
"Cermin ini hanya akan bereaksi pada orang yang dipilih."
Yudi kecil langsung mendekat lebih dekat. "Dipilih? Maksudnya apa?"
Sang kakek tersenyum tipis. "Kalau waktunya tiba… kau akan tahu sendiri."
Yudi menatap cermin itu dengan rasa penasaran, dan tangannya hampir menyentuh.
Jdarrr!
Petir yang menyambar seketika itu membuat Yudi kembali ke kenyataan. Ia tersentak kaget, menoleh ke sekitar sambil menggeleng kecil.
Kini, ia duduk di ruang tamu rumah tua itu dengan napas berat. Tidak ada lagi suara hangat itu. Tidak ada lagi sosok yang menjelaskan segalanya dengan sabar.
Hanya kesunyian, yang sudah terjadi sejak tiga hari lalu—sejak pemakaman kakeknya selesai.
Dan sejak itu... rumah ini terasa kosong.
Yudi mengembuskan napas pelan. Ia melirik tas lusuh di dekat kakinya. "Aku tidak punya waktu. Harus segera pergi."
Ia berdiri, menyambar tas itu, lalu berjalan menuju kamar belakang—kamar milik kakeknya.
Pintu kayu tua itu didorong perlahan, membuat engselnya berderit.
Di dalam hanya ada tempat tidur kecil, lemari kayu tua, dan meja penuh barang lama. Kakeknya memang tidak pernah suka membuang barang.
Yudi membuka tasnya dan mulai memasukkan beberapa benda—jam saku tua, foto dirinya bersama kakeknya yang sudah menguning, dan beberapa buku catatan usang.
Tangannya berhenti pada sebuah benda kecil di sudut meja.
Sebuah cermin.
Bingkainya dari logam gelap dengan ukiran yang sama seperti yang ia lihat dulu.
Yudi terdiam untuk sesaat. Ingatan sebelumnya kembali terlintas di dalam benak. "Kakek bilang, cermin ini punya spiritual." Ia mengangkat cermin itu perlahan. "Dan hanya akan bereaksi pada orang yang dipilih."
Sejenak, ia menatap pantulan di sana, tapi hanya mendapati wajahnya sendiri yang pucat dan lelah. "Aku pikir ini hanya cermin biasa…" gumamnya.
Kendati demikian, ia tetap memasukkannya ke saku celana, kemudian menutup tasnya. Namun, baru saja ia berbalik, suara benturan keras terdengar dari ruang depan.
Tubuh Yudi langsung menegang. Terlebih, langkah kaki ramai terdengar, disusul teriakan kasar.
"Dia pasti masih di sini!"
Yudi langsung mengenali suara itu, dan seketika raut wajahnya menegang.
Ia terlambat. Mereka datang lebih cepat dari yang ia kira.
"Santoso! Keluar kau!"
Santoso adalah ayahnya. Pria yang pergi membawa uang santunan kematian sang kakek, dan meninggalkan hutang besar pada rentenir.
Sejak saat itu, mereka terus datang. Mencari dan tak jarang menganiayanya, hanya karena ia tidak bisa membayar saat mereka datang menagih.
"Yudi! Bayar utang orang tuamu!"
Brak! Brak!
Suara barang dibanting terdengar dari ruang depan. Yudi tidak berpikir panjang. Ia langsung meraih tasnya dan berlari menuju pintu belakang.
Pintu dibuka dengan tergesa. Angin dingin langsung menyambutnya. Langit gelap. Dan rintik hujan mulai turun.
"Aku harus pergi dari sini."
Dan tanpa menoleh lagi, Yudi berlari menembus hujan. Sepatunya yang lusuh memercikkan air dari genangan di gang sempit itu.
Napasnya memburu. Dadanya sesak. Namun, ia tidak berhenti, menambah kecepatan sekuat tenaga. Ia hanya ingin menjauh dari para preman itu.
Ia terus berlari, sesekali menoleh hanya untuk memastikan tidak ada yang mengejar.
Nahas, di ujung gang sana, terlihat lima sosok yang dikenalnya berdiri menghadang.
Deg!
Langkah Yudi langsung terhenti. Tubuhnya kaku. Dan meski kacamatanya buram karena air hujan, ia seolah bisa melihat salah satu pria menyeringai seram.
"Nah… tebakanku pasti benar. Dia kabur lewat sini."
Ia menelan ludah dan memeluk tasnya dengan erat. Nyatanya, suara gemuruh yang bersahutan, tidak mampu menulikan telinganya, saat preman di depan sana memakinya.
"Kau bajingan tengik. Berani kabur dari kami, hah?"
"Aku sudah bilang berulang kali," kata Yudi hati-hati, berusaha memberanikan diri. "Saat ini aku tidak punya uang. Beri aku waktu."
"Waktu untuk kabur lagi?"
"Bukan—"
"Bukan urusan kami," potong salah satu dari mereka sambil mendekat. "Utang ayahmu. Kau yang bayar."
"Aku bukan—"
Bugh!
Belum juga selesai bicara, pukulan keras lebih dulu menghantam wajah Yudi dan tubuhnya terpental dan jatuh ke kubangan air.
Preman-preman itu tidak berhenti, kembali mendaratkan pukulan bertubi di perutnya.
Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Pandangan Yudi berkunang-kunang. Ia mencoba melindungi kepalanya, tapi tubuhnya terlalu lemah.
Hujan semakin deras. Darah bercampur air mengalir dari keningnya.
Tawa preman-preman itu terdengar samar di tengah hujan deras.
"Tinggalkan saja dia."
"Sampah miskin."
Salah satu preman menarik rambut Yudi. "Ke mana pun kau pergi, kami bisa menemukanmu," ujarnya, kemudian membenturkan kepala Yudi ke tanah. "Anggap saja kali ini kami kasihan."
Preman itu melepas rambutnya. "Kami akan datang lagi. Siapkan uangnya."
Setelah merasa cukup, preman-preman itu pergi meninggalkan Yudi, membuat gang kembali sunyi.
Hanya suara hujan yang tersisa dan dirinya yang tergeletak di tanah, dengan napas yang semakin lemah.
Pandangan Yudi mulai kabur. 'Beginikah akhir hidupku?'
Ingatan akan kehidupannya berputar-putar di hadapan, ayah dan ibu yang meninggalkannya bersama hutang, perlakuan rekan kerja yang meremehkannya, wanita yang dipuja justru selalu mencacinya.
Kenapa hidupnya seperti ini?
Saat kesadarannya hampir hilang, cermin yang disimpan di tas entah kenapa kini ada di sampingnya.
Cermin kecil itu memperlihatkan retakan tipis di permukaannya. Lalu, ketika ia menyentuh, darahnya tak sengaja menetes dan menciptakan cahaya putih keluar dari sana.
Cahaya yang seketika itu meluncur ke atas langit dan menyilaukan.
Di ambang kesadarannya, ia mengira malaikat datang menjemputnya. Namun, cahaya itu tiba-tiba menyusup ke dalam tubuhnya.
Tubuh Yudi mengejang. Ia tersentak dan tiba-tiba duduk. "A-apa yang terjadi?"
Di depannya, sebuah layar transparan tiba-tiba muncul di udara.
Ding!
'Inang terdeteksi.'
'Sistem Penguasa telah diaktifkan.'
Tulisan itu melayang di depan matanya.
Yudi mencoba fokus meski penglihatannya masih kabur.
"Sistem?"
Layar itu kembali berubah.
'Apakah Inang bersedia mengikat sistem?'
Ya / Tidak