Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
MELAWAN SANG PENULIS

MELAWAN SANG PENULIS

inku utama | Bersambung
Jumlah kata
42.6K
Popular
100
Subscribe
2
Novel / MELAWAN SANG PENULIS
MELAWAN SANG PENULIS

MELAWAN SANG PENULIS

inku utama| Bersambung
Jumlah Kata
42.6K
Popular
100
Subscribe
2
Sinopsis
FantasiIsekaiTeknologiIsekaiPertualangan
Indra tak pernah menyangka hidupnya berubah saat ia terbangun di dalam novel istana Barra sebuah dunia penuh intrik, perebutan tahta, dan pembunuhan yang tak terlihat. Namun di balik semua itu, ada ancaman yang jauh lebih besar: dunia tersebut perlahan runtuh. Di dunia nyata, Andika sang penulis memutuskan menghapus cerita itu selamanya. Sebagai satu-satunya “Editor”, Indra memiliki kekuatan untuk mengubah realitas. Bersama Silvi, ksatria yang menolak takdirnya, dan Sora, gadis misterius dari inti sistem, ia memimpin perlawanan melawan Darma—bayangan kelam sang pencipta sendiri. Saat batas antara cerita dan kenyataan mulai hancur, Indra dihadapkan pada pilihan mustahil: menyelamatkan dunia yang bukan miliknya… atau membiarkannya lenyap bersama semua yang ia perjuangkan.
BAB 1: Halaman Terakhir yang Menyesatkan

Dunia ini seharusnya berakhir dengan tinta hitam di atas kertas putih, bukan dengan aroma dupa yang menyengat dan rasa dingin yang merambat di ujung jemari.

Indra menarik napas panjang, atau setidaknya ia mencoba melakukannya. Namun, paru-parunya terasa seolah terisi oleh udara yang terlalu tebal, terlalu nyata untuk sebuah mimpi. Hal terakhir yang ia ingat adalah keheningan kamarnya yang sempit di lantai dua sebuah apartemen murah. Di sana, ia duduk meringkuk di bawah lampu meja yang temaram, memegang sebuah novel tebal berjudul “Istana Barra : Mahkota yang Runtuh”. Ia baru saja menyelesaikan kalimat terakhir di halaman 542: “Dan demikianlah, sang pangeran terbuang menutup matanya di bawah sorakan rakyat yang menuntut darah, sementara kerajaan yang ia cintai perlahan menjadi abu.”

Indra ingat betul betapa kesalnya ia. Ia melempar buku itu ke atas kasur sambil mengumpat, “Ending macam apa ini? Protagonisnya mati konyol karena difitnah, dan penulisnya bahkan tidak memberikan satu pun momen bahagia. Kalau aku jadi Indra di buku ini, aku sudah menendang meja dewan sejak awal!”

Lalu, kegelapan datang. Itu bukan kegelapan yang datang saat kita memejamkan mata, melainkan kegelapan yang menghisap.

Kini, Indra perlahan membuka matanya. Pandangannya kabur. Langit-langit di atasnya bukan lagi plafon putih dengan bekas rembesan air hujan, melainkan sebuah mahakarya arsitektur klasik. Langit-langit itu melengkung tinggi, dihiasi lukisan mural yang menggambarkan peperangan antara dewa dan naga, dengan warna emas yang berkilau terpapar cahaya mentari pagi yang masuk dari jendela-jendela besar nan megah.

“Sial, kepalaku...” Indra mengerang. Suaranya terdengar berbeda lebih berat, lebih jernih.

Ia mencoba bangkit, namun tubuhnya terasa sangat kaku. Saat ia menoleh ke samping, jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia tidak berbaring di atas kasur busa yang tipis. Ia berada di atas ranjang raksasa dengan tiang-tiang kayu jati berukir yang ditutupi tirai sutra berwarna merah marun.

“Ini... ini pasti lelucon,” bisiknya. Ia meraba wajahnya. Tekstur kulitnya terasa halus, jauh dari wajah lelahnya yang biasanya dihiasi kantung mata akibat lembur. Ia melihat tangannya , tangan yang bersih, tanpa bekas kapalan, dengan sebuah cincin emas bermata batu zamrud tersemat di jari manisnya.

“Pangeran? Anda sudah bangun?”

Suara itu mengejutkannya. Indra menoleh ke arah pintu besar yang terbuka. Di sana berdiri seorang pemuda dengan pakaian yang lebih mirip kostum drama sejarah daripada pakaian manusia modern. Pemuda itu memakai rompi kain kasar, celana menggantung, dan ekspresi wajah yang tampak seperti orang yang baru saja melihat hantu.

“Oding?” Indra berceletuk tanpa sadar. Nama itu muncul begitu saja di kepalanya, seolah memori asing sedang berusaha berintegrasi dengan otaknya.

Pemuda itu, Oding, menjatuhkan nampan perunggu yang dibawanya. PRANG! Suara dentangan logam itu bergema di seluruh ruangan luas tersebut. Roti dan segelas susu tumpah berantakan di lantai marmer.

“P-Pangeran Indra! Anda... Anda bicara!” Oding berteriak kaget, wajahnya pucat pasi. Ia segera bersujud di lantai, gemetar hebat. “Ampun, Pangeran! Saya tahu sarapannya terlambat! Tolong jangan potong gaji saya lagi! Saya masih harus membelikan obat untuk nenek saya!”

Indra tertegun. Kebodohan pemandangan di depannya ini mulai merusak suasana megah yang ia rasakan tadi. Ia menatap Oding yang sedang bersujud pria itu tampak sangat tulus ketakutan. Indra kemudian teringat pada karakter pelayan setia namun penakut di dalam buku yang ia baca. Oding. Pelayan pribadi Pangeran Indra dari Kerajaan Barra.

“Tunggu dulu,” Indra bergumam pada dirinya sendiri. Ia segera bangkit dari ranjang, mengabaikan pusing di kepalanya. Ia melangkah menuju sebuah cermin besar setinggi manusia yang berdiri di sudut ruangan.

Apa yang ia lihat di sana membuatnya ingin berteriak sekaligus menangis.

Pria di dalam cermin itu bukan lagi Indra sang editor buku yang lusuh. Pria itu adalah sosok rupawan dengan rambut hitam legam yang tersisir rapi, rahang tegas, dan mata yang memiliki binar tajam namun penuh kesedihan. Ia mengenakan jubah tidur berbahan sutra tipis yang menunjukkan postur tubuh atletis.

Ini adalah Pangeran Indra. Sang protagonis dari novel Barra: Mahkota yang Runtuh. Pangeran yang ditakdirkan untuk dikhianati oleh saudaranya, difitnah oleh ibu tirinya, dan akhirnya dieksekusi di depan rakyatnya sendiri.

“Aku... masuk ke dalam buku?” Indra menyentuh permukaan cermin yang dingin. “Ini gila. Ini sama sekali tidak masuk akal. Di mana kamera tersembunyinya? Apa ini acara prank?”

Ia berbalik ke arah Oding yang masih bersujud. “Woi, Oding! Berhenti bersujud seperti itu! Jelaskan padaku, hari ini hari apa?”

Oding mendongak sedikit, matanya berkaca-kaca. “H-hari ini? Hari ini adalah hari peringatan penobatan Yang Mulia Raja yang ke-30, Pangeran. Kenapa Anda bertanya? Apakah kepala Anda terbentur saat mencoba kabur dari jendela lagi semalam?”

Indra mematung. Hari penobatan ke-30. Dalam buku, itu adalah awal dari bencana. Malam ini, di pesta perayaan, Pangeran Valerius akan mulai meluncurkan rencana fitnahnya yang pertama dengan menjebak Indra dalam kasus upaya peracunan Raja.

Ini adalah titik balik yang akan membawanya ke tiang gantungan dalam waktu tiga bulan ke depan.

“Gila,” desis Indra. Ia berjalan mondar-mandir di ruangan itu. “Aku baru saja membaca cara pangeran ini mati. Dan sekarang aku adalah pangeran ini? Ini tidak bisa dibiarkan. Aku tahu siapa yang menaruh racunnya. Aku tahu siapa yang membayar para pembunuh bayaran itu. Aku tahu semua plotnya!”

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka kembali dengan bantingan keras.

Dua orang prajurit berbaju zirah perak masuk dengan wajah kaku. Di belakang mereka, melangkah seorang pria tinggi besar dengan jubah militer berwarna biru tua dan pedang besar di pinggangnya. Matanya sedingin es saat menatap Indra.

“Pangeran Indra,” suara pria itu berat dan penuh ancaman. “Ibu Suri Beatrice meminta kehadiran Anda di ruang takhta sekarang juga. Ada masalah sengketa perbatasan di wilayah Utara yang katanya... Anda kacaukan secara tidak sengaja melalui surat yang Anda kirim minggu lalu.”

Indra menelan ludah. Pria ini adalah Pangeran Valerius, kakak tirinya. Pria yang dalam buku akan memenggal kepalanya.

“Ah, Kakak Valerius,” Indra mencoba tersenyum, meski kakinya gemetar. Ia mengingat karakter pangeran asli yang pengecut dan sombong. “Surat itu? Oh, itu... aku hanya salah tulis alamat. Kau tahu kan, tintaku sedang buruk kualitasnya.”

Valerius menyipitkan matanya. Ia merasakan sesuatu yang aneh pada adiknya hari ini. Biasanya Indra akan langsung bersembunyi di balik selimut atau mulai merengek ketakutan. Tapi pria di depannya ini, meski terlihat gugup, memiliki tatapan mata yang berbeda-ada kecerdasan yang tidak biasa di sana.

“Jangan membuat alasan bodoh. Ikut kami sekarang, atau aku sendiri yang akan menyeretmu ke hadapan Dewan Penghakiman lebih awal,” ancam Valerius.

Oding, yang masih di lantai, mulai menangis tersedu-sedu. “Tuh kan, Pangeran! Saya sudah bilang jangan menulis surat cinta untuk putri musuh di Utara! Sekarang kita semua akan mati!”

Indra menatap Oding dengan kesal. “Diamlah, Oding! Aku sedang mencoba berpikir!”

Indra menarik napas dalam-dalam. Jika ia mengikuti alur buku ini, ia akan mati. Jika ia melawan tanpa rencana, ia juga akan mati. Ia harus menggunakan "pengetahuan tuhan"-nya tentang masa depan dunia ini untuk bertahan hidup.

“Maaf ya, penulis buku ini,” batin Indra sambil mengikuti langkah Valerius keluar ruangan. “Aku tidak berniat mengikuti ending tragismu. Jika dunia ini ingin menghakimiku, maka aku akan meruntuhkan meja penghakimannya lebih dulu.”

Saat ia melintasi koridor istana yang megah menuju ruang takhta, Indra sadar bahwa kehidupan membosankannya di apartemen sudah berakhir. Sekarang, setiap langkahnya adalah tarian di atas mata pedang. Antara sengketa takhta, cinta yang akan datang, dan konspirasi pembunuhan, ia harus menjadi lebih dari sekadar pembaca.

Ia harus menjadi sutradara bagi nasibnya sendiri.

Namun, saat ia melirik ke arah Oding yang berjalan di belakangnya sambil tersandung-sandung karena takut, Indra menghela napas. “Tapi kalau teman seperjuanganku hanya seorang pelayan penakut yang lebih peduli pada sarapan daripada takhta, sepertinya jalan ini akan sangat panjang dan penuh kebodohan.”

Satu hal yang pasti: Halaman terakhir novel itu tidak akan pernah terjadi. Tidak selama Indra masih memegang kendali atas tubuh ini.

Lanjut membaca
Lanjut membaca