

"Ko, ini lima ratus ribu buat kamu, asal bisa motret badannya si Ratmi!"
Bagas mengibas-ngibaskan lima lembar uang seratusan di hadapan Joko. Sedangkan di depannya, Joko melotot tidak percaya.
“Ngaco kamu! Maksudmu si Ratmi anaknya Bu Sarminah itu?” tanya Joko.
“Ya iya lah, siapa lagi yang namanya Ratmi?” Bagas menjawab. Dia melirik sekitar, lalu perlahan mendekati Joko.
“Ntar malam, katanya si Ratmi itu mau ketemuan sama Juragan Broto. Di gubuk dekat sawahnya Pak Waluyo itu lho. Udah pasti toh di sana mereka bakal main?!”
Bagas lalu menurunkan suaranya. “Bayangin, Ko. Malam-malam, tempat sepi pula. Nggak mungkin kalau nggak sampai nganu. Kesempatan banget ini!”
“Emangnya kamu gak mau lihat badannya si Ratmi itu kayak apa?” lanjut Bagas lagi. Berusaha mengompori Joko.
“Nggak ah. Nggak mau! Gila kamu, Gas! Kenapa nggak pergi aja sendiri?” Joko membalas. “Juragan Broto itu, kalau sampai ketahuan dikit aja, bisa mampus aku dihajar anak buahnya."
“Alah, cuma sekali ini doang kok!” Bagas berkata tak senang.
“Lagian kan kamu pinter sembunyi. Emangnya aku nggak tau kalau kamu suka ngintipin Mbak Nur pas ditinggal Mas Bayu ke kota?” kata Bagas.
Mendengar itu, Joko menelan ludah. Mbak Nur adalah wanita muda yang baru saja menikah, suaminya sering ke kota berminggu-minggu.
Kadang, Mbak Nur sering meminta Joko untuk membawakan beras dari warung ke rumah, lalu diberi upah.
Saat itu lah kadang Joko tak sengaja melihat Mbak Nur baru saja habis mandi, atau sedang berganti baju.
Melihat Joko terdiam, Bagas tertawa puas. “Hehe. Iya toh? Udah nggak usah bela diri kamu, Ko.”
“Kali ini, sama aja dengan waktu itu. Bedanya kamu dibayar buat motret, dan yang kamu potret itu si Ratmi. Gampang to?”
“Nek kurang, tak kasih 1 juta deh.” ujar Bagas.
Joko terdiam, mulai berpikir untung rugi mengikuti permintaan Bagas.
Di kampung, Ratmi memang selalu jadi pembicaraan para pemuda. Tubuh gadis itu padat berisi, dadanya montok, dan pinggulnya bulat seperti buah persik.
Joko sendiri bukan orang suci. Diam-diam, dia juga sering membayangkan bagaimana rasanya menyentuh melon yang selalu jadi bahan gosip bapak-bapak kampung itu.
Lalu, Joki kembali mengingat sisa uangnya di dompet. Satu lembar sepuluh ribu rupiah. Hanya cukup untuk sekali makan.
“Ayo, mau nggak? Kalau nggak mau, aku nyuruh si Supri aja.”
Joko mulai bimbang. Matanya menatap ke arah lima lembar uang di tangan Bagas yang kembali diayun-ayunkan.
Itu setara dengan uang gajinya kerja selama satu bulan.
Kalau tidak ia ambil, bisa-bisa ia menyesal seumur hidup. Apalagi Bagas akan memberikannya pada Supri.
Mengingat wajah anak badung itu, Joko sama sekali tidak rela!
Akhirnya, Joko menyambar HP dari tangan Bagas. Tepat saat pemuda itu mau pergi mencari Supri. "Oke! Aku fotoin!"
"Nah, gitu lho. Baru laki!" Bagas tertawa puas dan menepuk pundak Joko. “Inget, aku mau lihat dadanya. Jadi, fokusin fotonya ke asetnya Ratmi ya!”
Joko mengangguk, lalu pulang ke rumah untuk bersiap-siap.
Malamnya, tepat jam 7, ia berjalan mengendap di sawah. Sinar bulan membantunya melihat jalan, sehingga tak perlu membawa senter.
Sesampainya di gubuk, Joko buru-buru merangkak dan bersembunyi di samping gubuk. Matanya dia tempelkan ke lubang dan mulai mengintip.
Saat itulah Joko terkejut. Di hadapannya, dalam kondisi ruangan remang-remang, Ratmi dengan tubuh bermandikan keringat bergerak di atas tubuh Juragan Broto.
Pinggangnya yang melengkung indah tertutupi kain jarik. Sementara bagian atas tubuhnya tak terhalang sehelai benang pun.
Wanita itu bergerak lincah, naik turun. Memuaskan Juragan Broto yang sesekali memainkan pepaya milik Ratmi.
Hingga kemudian, Juragan Broto berganti posisi. Membuat bagian atas Ratmi terekspos di depannya.
Joko menahan napas dan sekujur tubuhnya terasa panas.
Kali ini, dia berhasil melihat tubuh Ratmi yang membusung padat dan indah. Ukurannya jauh lebih besar daripada milik Mbak Nur yang pernah ia intip saat berganti pakaian.
Terlebih kali ini Ratmi sendiri yang memainkan pepaya dengan bersemangat. Menggoda Juragan Broto di depan Joko!
Joko tiba-tiba sadar hampir melewatkan momen emas.
Buru-buru dia mengambil ponsel milik Bagas dan mengarahkan kameranya ke celah bambu. Targetnya adalah dada Ratmi yang terekspos dengan dua pucuk merah jambu.
Setelah menemukan momen yang pas, Joko menekan tombol tengah.
CEKREK!
Seketika terdengar suara jepretan yang diikuti cahaya putih yang menyilaukan. Joko membeku. Flash ponselnya lupa dimatikan!!
Tanpa pikir panjang, dia berbalik hendak kabur dari tempat itu. Namun baru saja melangkah, kakinya tersandung batu dan jatuh tersungkur ke sawah.
Di saat yang sama, Juragan Broto menghambur keluar dengan sarung berantakan. Napasnya memburu dan wajah merah padam menahan amarah.
“Heh! Siapa di sana?!!” Juragan Broto berteriak mendekat.
Joko menoleh dengan wajah panik. Ia buru-buru bangkit dan mencoba lari lagi.
Tapi belum sempat menjauh, tangan Juragan Broto sudah lebih dulu mencengkram kerah bajunya. Menarik Joko dengan kasar.
"Jancok!! Joko! Ngapain kamu?! Bawa apa kamu itu?!" bentak Juragan Broto. Tanpa membuang waktu, dia merampas ponsel dari tangan Joko dan membuka isinya.
Setelah melihat foto telanjang Ratmi, dia membanting ponsel itu ke batu sampai hancur tak berbentuk.
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Joko, Membuat kepalanya terhuyung. “Anak bangsat!! Sudah miskin, sok banyak tingkah!”
“A–ampun, Juragan… saya cuma sekadar lewat. Nggak sengaja melihat,” Joko memohon ampun.
“Nggak usah bohong kamu!” Juragan Broto melotot bengis. “Ponsel dari mana itu? Memang dasarnya kamu niat merekam toh?!”
“Awas saja! Kalau sampai kejadian hari ini diketahui warga, apalagi ke telinga istri saya..” ancam Broto. “Tak matiin kamu! Ngerti nggak?!”
“I-iya. Saya ngerti, gan” jawab Joko ketakutan.
Juragan Broto lalu merogoh dompetnya dan menarik segepok uang. Lalu menghantamkan gepokan uang itu ke pipi Joko.
“Nih! Ambil lalu tutup mulut!" Juragan Broto melemparkan lembaran seratus ribuan itu ke tanah.
Joko menatap uang yang tergeletak di atas pematang. Totalnya 800 ribu. Lebih banyak daripada yang diberi Bagas.
Namun, dia tak bergerak untuk mengambilnya.
"Kenapa diam? Kurang?" Broto mendengus kasar. Dia sengaja menginjak uang itu dengan sandal. Lalu, membenamkannya ke dalam lumpur.
"Makanya kalau miskin nggak usah sok mau rekam rekaman segala! Kamu ngintipin Ratmi buat bahanmu toh? Mimpi!
Ingat ya, sampai mati pun orang kayak kamu itu nggak bakal mampu main sama cewek kayak dia!"
Mendengar penghinaan itu, Joko merasa marah. Tapi, tidak mampu membalas. Takut berurusan dengan anak buah Juragan Broto yang terkenal beringas.
Juragan Broto tertawa puas melihat wajah Joko yang gemetar menahan marah. "Ingat, kalau sampai tersebar, mati kamu!" ancam Broto lagi sebelum membalikkan badan.
"Ayo, Mi. Biarin monyet kere ini mungutin uangnya. Dia nggak akan macam-macam." Juragan Broto menarik pinggang Ratmi dan berjalan pulang.
Ratmi sempat menoleh singkat ke arah Joko.
Lalu ikut membuang muka dengan tatapan jijik.