

" Ooooh,Aaaaah!"
Rintihan dan desahan terdengar lirih di sebuah Rumah bilik bambu di lembah pinggiran gunung galunggung.
Rumah bilik bambu itu kalau kena angin sedikit saja sudah terdengar bunyi krek krek dan goyang-goyang disco.Dindingnya tipis dan rapuh, juga bolong-bolong, tapi hal tersebut bukan hal aneh di kampung ini, karena hampir keseluran rumah di sana ini memang terbuat dari bilik bambu. Hal itulah yang membuat banyak orang tiba-tiba menyamar menjadi cicak dadakan, sekedar untuk ngintip orang tidur atau mandi lewat celah bilik. Tapi jika angin besar mungkin rumah seperti itu bisa jebol dan roboh kapan saja bahkan kalau didorong terlalu keras pun akan penyok hingga jebol. Tapi jangan salah, Di dalamnya terasa hangat dan nyaman , meski sempit dan tidak ada ruang untuk menyembunyikan apa pun. Bahkan sekedar untuk menyembunyikan suara kentut. Suara kentut sekecil apa pun akan terdengar jelas dari luar, termasuk suara hasrat yang kini dirasakan oleh Cecep yang saat ini tengah memijit tubuh Surti, sang janda Cantik di desa ini.
Ya, hasrat Cecep kali ini memang bangkit begitu saja saat ia memijat Surti. Bahkan Anaconda besar dan panjang di balik celana Cecep sudah membuat celananya terasa mengecil. Janda cantik itu sedang tengkurap di atas tikar, tubuhnya hanya dibalut sarung tipis. Suaminya baru meninggal sebulan lalu karena tertimbun longsor di ujung desa. Sejak saat itu, Surti menjadi bahan pembicaraan hampir seluruh warga.Bahkan, Cecep pun beberapa kali kerap mencuri pandang kepada Teh Surti ini.Cecep menaruh hati pada Surti Tapi, sekali pun Cecep tak pernah berani mendekat karena Cecep merasa minder disebabkan dirinya yang hanya seorang gembala bebek yang sesekali menerima panggilan jasa pijat.
Tapi malam ini Cecep merasa beruntung karena dirinya dipanggil Surti untuk memijatnya, hal itu dijadikan kesempatan oleh Cecep untuk bisa menyentuh Surti, si Janda kembang ini.
“Ah… pelan dikit, Cep…” keluh Surti sambil menggigit bibir bawahnya. Bahunya menegang setiap kali jari Cecep menekan titik di punggungnya. Nafasnya mulai tidak teratur, antara menahan sakit dan sesuatu yang sulit dijelaskan. Tangannya mencengkeram tikar dengan kuat.
Cecep duduk di belakangnya, tangannya tetap bergerak dengan ritme yang terlatih. Ia memiringkan kepala sedikit, matanya sempat turun ke arah pinggang Surti yang mulai terbuka. Namun ia cepat-cepat mengalihkan pandangannya kembali. “Iya, tahan bentar,” jawabnya santai, meski tekanannya justru sedikit bertambah.
“Ini sakit tau…” desah Surti pelan, suaranya terdengar gemetar. Ia menggeliat sedikit, mencoba menahan tekanan yang datang. Namun tubuhnya justru semakin responsif terhadap sentuhan itu.
“Wajar,” jawab Cecep sambil menggeser posisi tangannya. “Pertama kali memang begitu. Nanti juga kebuka, darahnya lancar.” Nada suaranya ringan, tapi pikirannya mulai tidak fokus.
Sarung Surti sedikit naik tanpa ia sadari. Mata Cecep kembali turun sejenak, lalu buru-buru naik lagi ketika Surti menarik kain itu. Cecep batuk kecil, mencoba menenangkan diri.
“Ini teknik Galuh ya?” tanya Surti sambil sedikit menoleh.
“Iya. Pijat Galuh versi kota. Lebih dalam,” jawab Cecep.
“Versi kota apaan sih…” Surti terkekeh kecil, lalu langsung meringis lagi.
“Kamu kebanyakan duduk,” ucap Cecep.
“Akang tau dari mana?”
“Nebak.”
Tangannya turun ke pinggang Surti, membuat suasana berubah. Nafas Surti semakin terasa, ruangan menjadi lebih panas. Cecep sempat berhenti, lalu menggeleng pelan.
“Fokus, goblok…” gumamnya.
“Akang ngomong apa,sih?”tanya Surti
“Enggak. Nafas doang.”jawab Cecep spontan.
“Kayak orang kesel.”timpal Surti menebaknya.
“Emang.”jawab Cecep singkat.
Cecep menekan lagi. Surti mencengkeram tikar dan sedikit menggelinjang seperti cacing kepanasan.
“Cep… ini serius… Sakit, ih.”rintih Surti dgn pipi merahnya.
“Tenang,Teh. Udah hampir selesai,kok.”ujar Cecep sambil mengusap punggung Surti yang putih,mulus dan halus.
“Akang tadi juga bilang gitu…”
“Iya, tapi sekarang bener.”
Belum sempat Cecep menjawab, tiba-tiba-tiba ...
DUAAAAARRRR!!
Suara ledakan keras mengguncang udara hingga rumah bambu itu bergetar hebat. Surti langsung terlonjak dengan wajah pucat, matanya mencari-cari sumber suara. Nafasnya memburu saat ia menatap ke arah pintu.
“Ah! Apa itu?! Gempa?” teriak Surti dengan panik.
Cecep langsung berdiri, matanya menyapu sekitar dengan cepat. Ia tahu itu bukan gempa, ada sesuatu yang lain. Tanpa banyak bicara, ia menarik tangan Surti. “Keluar dulu,” ucapnya singkat.
“Eh, sarung gue…” belum selesai bicara, tubuh Surti sudah terangkat. Cecep menggendongnya keluar tanpa ragu.
“Cep! Turunin! Gue bisa jalan!” protes Surti.
“Diam dulu,” jawab Cecep.
Di luar, suasana desa sudah kacau. Orang-orang berlarian dan berteriak. Di kejauhan, asap hitam membumbung tinggi.
“Itu… arah padepokan…” ucap Surti pelan.
Cecep menatap ke arah itu, wajahnya berubah. Dadanya terasa berat. “Itu… rumah gue…” gumamnya.
Ia menurunkan Surti dan langsung berlari.
“Cep! Tunggu!” teriak Surti.
Namun Cecep tidak berhenti. Ia berlari sekuat tenaga, napasnya memburu. Suara dalam kepalanya kembali muncul, mencoba menahannya.
Begitu sampai, ia langsung berhenti.
Padepokan itu terbakar.
Api melahap bangunan, suara kayu runtuh terdengar jelas. Warga desa berusaha memadamkan, tapi tidak banyak yang bisa dilakukan.
“Jangan masuk!” teriak seseorang.
“Guru…” ucap Cecep pelan.
Seseorang menarik lengannya, tapi Cecep menepis. “Lepasin!”
Ia menerjang masuk. Panas langsung menyergap.
“GURU!!” teriaknya.
Ia mencari, membuka ruangan demi ruangan. Semua kosong.
“Guru…” suaranya melemah.
Setelah api mulai padam, ia keluar. Tubuhnya kotor, napasnya berat.
“Nggak mungkin…” gumamnya.
“Mereka nggak mungkin mati…” rinyih Cecep sambil mengedarkan netranya ke puing-puing padepokan yang sudah menjadi abu.
Di saat yang bersamaan, tiba-tiba Kepala desa mendekat dan berkata kepada Cecep.
“ cep, sebelum padepokan ini terbakar gurumu berpesan padaku, jika terjadi sesuatu dengan kuil ini. Guru-gurumu memintaku untuk menyerahkan ini padamu,” jelas sang kepala Desa sambil memberikan buntalan putih yang terlihat kusam . Cecep menerimanya dengan tangan gemetar.
Setelah itu Cecep lantas uduk di depan sisa padepokan dan membuka buntalan itu perlahan. Di dalamnya terdapat beberapa benda dan sebuah surat yang langsung dikenalnya. Ia menarik napas sejenak, lalu mulai membaca.
Cep,
Kalau kamu membaca surat ini, berarti apa yang kami khawatirkan sudah benar-benar terjadi.
Sejak lama kami menyadari bahwa ada pihak yang mengawasi padepokan ini. Karena itulah kami sengaja menjauhkanmu dari pusat masalah agar kamu tidak ikut terseret sebelum waktunya.
Sepuluh tahun lalu kami pernah menyelamatkan seorang pria bernama Bima Atmadja. Ia berutang nyawa pada kami, dan kini saatnya kamu menagih janji itu. Temui cucunya, Leona Marvin, dan bawalah Tasbih Sakti Galuh yang kami tinggalkan untukmu. Benda itu akan membantumu dalam mengobati.
Kami juga meninggalkan beberapa benda lain yang akan membantumu dalam perjalanan. Gunakan Cincin Mata Naga untuk melihat lebih jelas dari apa yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa. Pelajari Kitab Asma Galuh dan capai tingkat ketujuh sebelum kamu merasa siap menghadapi dunia luar.
Ingat satu hal, jangan terlalu dekat dengan perempuan. Jika kamu menginginkan pasangan, gunakan Token Pengendali Sukma yang telah kami siapkan. Semua itu memiliki tujuan yang akan kamu pahami nanti.
Sekarang saatnya kamu turun gunung dan menjalani hidupmu sendiri. Jalan yang akan kamu tempuh tidak akan mudah, tapi itu adalah jalan yang harus kamu lewati.
Jika kamu sudah mencapai tingkat ketujuh, kami akan kembali dan menjelaskan semuanya.
Dan jangan lupa, kamu memiliki kakak seperguruan. Namanya Resty. Carilah dia di Kota Jakarta.
— Gurumu
Cecep menurunkan surat itu perlahan. Ia diam cukup lama, menatap kosong ke depan. Angin malam berhembus pelan, membawa sisa bau hangus yang masih tersisa.
“Ya udah…” gumamnya akhirnya.
Ia berdiri dan menyimpan kembali semua benda ke dalam buntalan. Cincin tetap ia pakai, sementara tasbih ia simpan dengan hati-hati. Ia menatap sisa padepokan untuk terakhir kali sebelum menarik napas panjang.
“Turun gunung,ya…”
Ia berbalik dan mulai berjalan pergi.
Beberapa saat kemudian, lima sosok muncul dari bayangan. Mereka berdiri menatap arah kepergian Cecep dengan tenang.
“Sudah pergi dia…” ucap salah satu yang merupakan guru pertama.
“Tidak menoleh lagi,” sahut guru kedua
“Kita tidak akan memberitahunya tentang dia yang sebenarnya bukan yatim piatu dan tentang kedua orangtuanya yang diculik saat dia masih bayi?” tanya satu suara.
“Belum waktunya,” jawab yang paling depan yang merupakan guru kelima.
“Kalau dia tahu sekarang, dia akan mencari. Dan dia bisa mati,” lanjut yang lain.
“Dia belum cukup kuat. Minimal tingkat ketujuh.”
Salah satu menghela napas. “Aku khawatir kalau dia diperlakukan semena-mena.”
“Dia murid kita,” jawab yang lain.
Lalu satu suara berkata pelan, “Aku lebih khawatir perempuan.”
Beberapa tersenyum kecil.
Sementarai kejauhan, Cecep berhenti sejenak. Ia menarik napas panjang, lalu berteriak keras:
“HEEEY!! AKU TURUN GUNUUUUNG!” teriak Cecep sambil mengacungkan tangannya seolah menantang dunia.