

Malam ini tak biasa, suasana tampak sunyi dengan sinar rembulan sepenggal terlihat di sela-sela bilik bambu menerangi pelataran sebuah rumah reot yang tampak terlihat beberapa bambu penyangga lapuk dimakan usia. Terdengar jeritan seorang wanita di balik bilik bambu, seorang wanita yang baru melahirkan bayinya tadi siang. Seorang bayi mungil berbalut kain lampin tertidur pulas dalam dekapan ibunya yang tak pernah tahu inilah dekapan terakhir yang mengantarkan kepergian ibunya.
"Aahhh...! Aku tidak kuat lagi, Kek."
Napasnya sesak tersengal, tubuhnya menggigil di atas dipan kayu dan keringat mengucur membasahi dahinya bercampur air mata. Di hadapan seorang lelaki tua separuh baya, rambutnya putih seluruhnya, wajahnya penuh keriput namun sorot matanya tajam dan dalam, tangannya gemetar berusaha menggenggam wanita itu.
"Bertahanlah demi anakmu!"
Suaranya lirih. Wanita itu menggeleng pelan dengan napas yang semakin berat, berusaha sekuat tenaga menyerahkan anaknya kepada lelaki tua itu.
"Rawatlah dia... seperti cucumu, dan aku memberinya nama... WIRATAMA NARENDRA!"
Dengan suara terbata-bata. Pria tua itu mendekat dan mengangkat bayi mungil yang mulai terbangun gelisah seakan merasakan kesedihan mendalam.
"Dengarkan aku...!"
Ucapnya sambil memaksa membuka matanya dan suaranya semakin lirih. Pria tua itu terdiam dan memperhatikan dengan cemas. Dengan sisa tenaganya, wanita itu meraih sebuah benda yang tergeletak di sampingnya terbungkus kain berwarna merah berhiaskan rajutan bunga teratai yang berwarna emas. Sebuah pusaka berbentuk teratai namun tidak utuh, gagangnya patah seolah pernah dipisahkan secara paksa.
"Berikan ini... pada anakku..., dia harus... mencari ayahnya."
Pria tua itu terdiam, tangannya gemetar menerima pusaka itu. Matanya menyipit seperti memahami sesuatu yang jauh lebih besar di balik pesan itu.
"Siapa ayahnya?" tanyanya pelan.
Wanita itu tersenyum tipis, senyum yang pahit.
"Dia... pria yang membawa... patahan pusaka ini."
Tiba-tiba terdengar petir menyambar dan hujan pun turun. Tangisan bayi tiba-tiba memecah kesunyian malam.
"Wuaaa... wuaa...!"
Wanita itu menoleh dengan susah payah, sisa tenaganya dia kerahkan untuk melihat bayi laki-laki itu untuk terakhir kalinya dan air matanya mengalir di sudut matanya.
"Anakku... maafkan ibumu, Nak...!"
Dan kemudian sunyi. Angin seolah berhenti berhembus. Untuk sesaat, waktu seolah berhenti. Tubuh wanita itu tak lagi bergerak. Pria tua itu memeriksa nadi di pergelangan tangan wanita itu sambil tangannya membopong bayi mungil itu. Pria itu tertunduk sedih, ia hanya terdiam, tak bersuara hanya memandangi tubuh wanita itu. Tangisan bayi itu kembali terdengar, lebih keras seakan merasakan kehilangan ibunya.
Pria tua itu bangkit berdiri, mengangkat bayi tersebut perlahan dan ia menatap wajah bayi mungil itu, entah kenapa terasa tidak asing. Tatapannya berubah dalam dan penuh makna, tumbuh rasa kasih sayang untuk merawat dan menyayanginya seperti cucunya sendiri. Ia melirik pusaka teratai yang patah yang tadi diletakkan di sampingnya masih terbungkus rapi kain merah.
"Aku tahu sekarang..." gumamnya dalam hati.
Di luar, angin kembali berhembus menyibak pepohonan namun terasa ada sesuatu yang bergerak di balik kegelapan. Beberapa bayangan tampak melintasi pepohonan, seolah-olah sedang mencari seseorang.
Pria tua itu pun tak menunggu lama. Ia membungkus bayi mungil itu melapisi dengan kain lusuh ibunya yang tergeletak di samping meja, lalu mengambil pusaka teratai tersebut.
"Mulai malam ini... aku akan menjadi pelindungmu."
Ia memeluk erat bayi itu.
"Kau bukan lagi anak yang tak berdaya... kita harus pergi sekarang, banyak mata mencarimu!"
Pria itu berbalik, melangkah keluar dari gubuk itu meninggalkan tubuh wanita yang terbujur kaku di tengah hujan dan berjalan meninggalkan desa itu. Bayangan tubuhnya menghilang di kegelapan malam. Suasananya gelap sunyi hanya terdengar gemericik hujan dan sesekali petir menyambar.
Bayi mungil itu tertidur tenang dalam dekapan pria tua itu, mereka terus berjalan meninggalkan desa. Hujan semakin deras, pria tua itu menghentikan langkahnya dan berteduh di bawah gubuk tua yang tak berpenghuni. Cuaca tidak memungkinkan baginya melanjutkan perjalanan, hujan makin lebat dan sesekali terdengar suara petir menggelegar. Dipandanginya wajah bayi mungil itu yang tertidur pulas dalam dekapannya.
Malam itu pria tua itu sudah mengambil keputusan penting dalam hidupnya, yang mengubah hidup mereka berdua. Matanya memandang tajam dan dalam pada sesosok bayi dan dipeluknya erat tubuh bayi itu.
"Takdir seperti apa yang menantimu... anak kecil!" gumamnya pelan.
Ia tahu anak yang digendongnya itu bukan anak biasa dan pusaka teratai yang dibawanya bukanlah pusaka biasa.
"Kemanapun aku pergi... engkau akan ikut bersamaku." ucapnya lirih.
Malam itu ia memutuskan untuk berteduh dan bermalam di sebuah gubuk tua di tepi hutan karena cuaca tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan. Pria tua itu meletakkan bayi mungil itu di sampingnya di atas sebuah meja kayu tua. Matanya menyapu sekeliling rumah memastikan tidak ada orang lain di situ. Dibuatnya perapian dari kayu yang diambilnya dari samping halaman rumah untuk menghangatkan bayi mungil dan mengeringkan bajunya yang basah oleh air hujan.
Malam semakin larut, hatinya gelisah membuatnya tak bisa memejamkan matanya. Dipandanginya wajah bayi yang tertidur pulas dan diraihnya pusaka yang disimpan di balik jubahnya. Dibukanya kain merah pembungkus pusaka tersebut. Dikeluarkannya pusaka teratai itu dari pembungkusnya. Sekali lagi suara petir menyambar, cahayanya menerangi pusaka teratai itu, terlihat sinar kemilau keemasan berkilat dari pusaka teratai itu. Dipandanginya lekat-lekat pusaka itu, setiap ukirannya dibuat rapi dan kokoh penuh makna oleh tangan-tangan tak biasa.
"Pusaka ini akan membawamu... bertemu ayahmu!" bisiknya lirih.
"Aku tidak akan membiarkan... orang menyakitimu, bocah!" ucapnya seraya berjanji dalam hatinya.
Disarungkannya pusaka itu kembali di dalam kain berwarna merah dan menyimpannya kembali di balik jubahnya.
Ia berusaha memejamkan matanya dan menenangkan kegelisahan hatinya. Peristiwa sore tadi masih terbayang di benaknya membuatnya sulit memejamkan matanya. Malam pun telah berganti, kesunyian pagi terusik suara ayam berkokok bersahutan. Pria tua itu beranjak dari duduknya, menggendong bayi mungil tersebut dan bergegas melanjutkan perjalanannya kembali. Meninggalkan pondok tua, menyusuri perkampungan demi perkampungan menempuh perjalanan di tempat baru, memulai lembaran barunya bersama bayi mungil tersebut.
Setelah menempuh perjalanan beberapa hari dan melakukan beberapa persinggahan tibalah mereka di sebuah desa terpencil di kaki gunung. Desa yang dikelilingi pepohonan rindang, dialiri sungai jernih dan jauh dari pemukiman penduduk.
"Kita akan mulai hidup kita yang baru di sini, Wira." ucapnya sambil menatap wajah bayi mungil itu.
Bayi itu tersenyum seolah merespon perkataan pria tua itu.
"Aku akan menjadi kakek terbaik untukmu... seperti janjiku pada ibumu." sahutnya pelan.