Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Gairah Membara Sang CEO Muda

Gairah Membara Sang CEO Muda

mamiekbobo | Bersambung
Jumlah kata
45.7K
Popular
974
Subscribe
246
Novel / Gairah Membara Sang CEO Muda
Gairah Membara Sang CEO Muda

Gairah Membara Sang CEO Muda

mamiekbobo| Bersambung
Jumlah Kata
45.7K
Popular
974
Subscribe
246
Sinopsis
18+PerkotaanAksiKonglomeratPewarisHarem
Brian Mahaputra, putra bungsu seorang konglomerat yang selama ini dianggap sebagai aib keluarga, dipaksa keluar dari zona nyamannya ketika sang ayah, Rahadi Mahaputra, jatuh sakit akibat pengkhianatan internal. Terjepit dalam intrik takhta melawan kakaknya yang licik, Bakhtiar, Brian harus bertransformasi dari seorang "pemabuk" menjadi pemimpin korporasi yang dingin dan strategis. ​Di tengah gempuran skandal, Brian menemukan sandaran pada Yasmin Sanaya, seorang model iklan yang ia nikahi secara siri. Yasmin menjadi pilar emosional sekaligus partner rahasia Brian dalam menghadapi badai pengkhianatan. Konflik memuncak saat Widya Mahaputra, istri pertama Rahadi, kembali dari London membawa dendam masa lalu dan ancaman tentang identitas biologis Brian yang melibatkan sosok narapidana bernama Baskoro. ​Melalui pertaruhan berisiko tinggi di lantai bursa dan perang digital yang melibatkan spionase industri, Brian berhasil menumbangkan aliansi Widya dan Reno Subrata. Ia membuktikan bahwa legitimasi seorang pewaris tidak terletak pada tetesan darah, melainkan pada ketangguhan jiwa dan integritas. ​Kisah ini berakhir dengan keputusan radikal Brian untuk merestrukturisasi total kerajaan Mahaputra demi menghapus sistem monopoli yang berdarah. Di bawah fajar baru Jakarta, Brian berdiri sebagai nakhoda tunggal yang berhasil menyatukan harga diri keluarga, cinta sejatinya kepada Yasmin, dan visi bisnis yang transparan. Ia bukan lagi sekadar bayang-bayang ayahnya, melainkan arsitek utama bagi masa depannya sendiri.
Bab 1. Mahkota yang Berduri

​Gerbang besi tinggi dengan ukiran inisial "M" yang megah itu terbuka perlahan, menyambut sedan hitam yang meluncur halus membelah jalanan taman berhias lampu taman temaram. Bagi dunia luar, kediaman Mahaputra adalah simbol kejayaan finansial yang tak tergoyahkan. Namun bagi Brian Mahaputra, setiap jengkal aspal yang ia lalui menuju pintu utama terasa seperti jerat yang semakin kencang melilit lehernya.

​Brian mematikan mesin mobil. Ia terdiam sejenak, menatap pantulan dirinya di spion tengah. Matanya sedikit merah, bukan karena alkohol, ia hanya minum sedikit malam ini, tapi karena kelelahan jiwa yang akut. Di usianya yang baru menginjak dua puluh satu tahun, bahunya terasa seperti memikul beban sejarah keluarga yang berantakan.

​Ia melangkah masuk. Keheningan rumah itu selalu terasa intimidatif. Wangi aromaterapi mahal menyeruak, namun tidak mampu menutupi bau permusuhan yang selalu menggantung di udara.

​"Baru pulang, Pangeran Sampah?"

​Suara berat dan tajam itu menghentikan langkah Brian di ruang tengah. Di sofa kulit yang menghadap perapian digital, duduk Bakhtiar Mahaputra. Kakak tertuanya itu masih mengenakan kemeja kerja yang lengannya digulung hingga siku, dengan segelas wiski di tangan. Di sampingnya, Amelia Qanita sedang asyik memeriksa kuku-kukunya yang baru dipoles, tampak anggun namun mematikan.

​Brian tidak menoleh. "Ini baru jam sebelas, Kak."

​"Jam sebelas bagi orang normal adalah waktu istirahat setelah bekerja membangun imperium. Tapi bagi anak selingkuhan sepertimu, jam sebelas adalah puncak waktu foya-foya, bukan?" Bakhtiar berdiri, melangkah mendekat dengan aura intimidasi yang kental.

​Amelia tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti gesekan pisau. "Sudahlah, Bakhtiar. Jangan samakan standar kita dengan dia. Kita berdarah biru Mahaputra yang sah. Dia? Dia hanya hasil dari 'kecelakaan' Papa saat merasa kesepian setelah menceraikan Mama. Dia beruntung Papa masih mau memberikan nama belakang Mahaputra, meski sebenarnya nama itu terlihat kotor menempel di kulitnya."

​Brian mengepalkan tangannya di samping paha. Kalimat itu bukan hal baru, tapi selalu berhasil menyayat di tempat yang sama. "Papa yang memintaku tinggal di sini. Jika kalian keberatan, bicara langsung pada Papa."

​"Jangan bawa-bawa nama Papa untuk melindungimu!" bentak Bakhtiar tiba-tiba, suaranya menggelegar di aula yang luas itu. "Papa tidak ada di sini untuk menyuapimu dengan pembelaan. Dia sedang di Singapura mengurus proyek yang seharusnya aku yang pegang kalau saja dia tidak sibuk mengurus skandal kuliahmu yang berantakan itu!"

​Brian memejamkan mata. Ia ingin membalas, ingin meneriakkan bahwa nilai kuliahnya baik-baik saja, bahwa ia di klub malam hanya untuk mencari oksigen karena di rumah ini ia merasa tercekik. Namun, ia tahu itu sia-sia. Di mata Bakhtiar dan Amelia, Brian adalah noda hitam di atas kertas putih.

​"Brian!"

​Suara melengking dari arah tangga membuat suasana semakin panas. Laila, ibu kandung Brian, turun dengan wajah yang dipenuhi kecemasan yang berlebihan, yang biasanya berakhir dengan kemarahan. Ia mengenakan gaun tidur sutra, namun matanya yang tajam menunjukkan bahwa ia tidak sedang ingin beristirahat.

​"Dari mana saja kamu? Ibu sudah bilang, jangan pulang terlambat! Kamu tahu posisi kita di rumah ini sulit, kenapa kamu selalu memberi mereka alasan untuk menghina kita?" Laila menghampiri Brian, mengabaikan kehadiran Bakhtiar dan Amelia yang menatap mereka dengan pandangan merendahkan.

​"Ibu, aku hanya pergi dengan teman-teman..."

​"Teman-teman yang mana? Para penjilat yang hanya mengincar uang papamu?" Laila mencengkeram lengan Brian. "Masuk ke kamarmu sekarang! Jangan membuat malu lagi. Kamu harus belajar seperti Bakhtiar, atau setidaknya terlihat berguna di depan papamu!"

​"Lihat itu, Amelia," sindir Bakhtiar sambil kembali ke sofanya. "Si selir sedang mencoba mendidik anaknya agar terlihat seperti manusia. Sungguh tontonan yang menghibur."

​Wajah Laila memucat. Ia menggigit bibir, menahan tangis sekaligus amarah. Ia tidak berani membalas Bakhtiar maupun Amelia. Meskipun ia adalah istri sah Rahadi Mahaputra saat ini, statusnya sebagai 'istri kedua' yang masuk setelah perceraian Rahadi selalu membuatnya merasa seperti tamu yang tak diundang di rumah besar ini. Dan ketakutan itu ia tumpahkan seluruhnya kepada Brian dalam bentuk tuntutan yang menyesakkan.

​Brian melepaskan cengkeraman ibunya dengan lembut namun tegas. Ia menatap ibunya dengan tatapan kosong. "Aku bukan Bakhtiar, Bu. Dan aku juga bukan alat untuk melegitimasi posisi Ibu di rumah ini."

​Tanpa menunggu jawaban, Brian melangkah menaiki tangga. Ia bisa merasakan tatapan benci dari kedua kakaknya dan tatapan penuh beban dari ibunya menusuk punggungnya.

​Kamar Brian berada di ujung lorong lantai dua, jauh dari kamar utama. Begitu masuk, ia langsung mengunci pintu dan melempar tasnya ke sembarang arah. Ia merebahkan diri di tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang tinggi.

​Hanya ayahnya, Rahadi, yang pernah menepuk bahunya dan berkata, "Brian, kamu adalah putraku. Sama seperti mereka."

Namun kata-kata itu terasa hampa karena Rahadi jarang ada di sana untuk membuktikannya. Rahadi adalah sosok yang mencintai Brian, tapi dia lebih mencintai perusahaannya. Dia memberikan Brian fasilitas, uang, dan perlindungan hukum, tapi dia membiarkan Brian hidup dalam kandang singa sendirian.

​Ponsel Brian bergetar. Sebuah pesan masuk di grup WhatsApp teman-teman kuliahnya.

​“Bri, balik ke Eclipse yuk? Si Jo bawa botol baru. Jangan di rumah terus, nanti lo lumutan dengerin ceramah kakak-kakak lo yang sok suci itu.”

​Brian menghela napas panjang. Ia benci kebisingan klub malam. Ia benci bau rokok dan dentum musik yang memekakkan telinga. Tapi di sana, ia hanyalah "Brian", bukan "Brian sang anak istri kedua". Di sana, tidak ada yang peduli tentang silsilah keluarga atau siapa yang lebih berhak atas warisan Mahaputra.

​Ia bangkit dari tempat tidur, menuju jendela besar yang menghadap ke halaman belakang. Di sana, ia melihat bayangan dirinya sendiri pada kaca, seorang lelaki muda dengan segala kemewahan, namun memiliki mata yang paling kesepian di dunia.

​"Satu jam lagi," gumamnya pada diri sendiri. "Hanya satu jam untuk bernapas."

​Ia mengambil kunci mobilnya kembali. Ia tahu, jika ia keluar sekarang, besok pagi Bakhtiar akan mengadukannya pada Papa, Amelia akan mengejeknya di meja makan, dan ibunya akan histeris. Tapi bagi Brian, kemarahan mereka jauh lebih mudah dihadapi daripada kesunyian yang mencekam di dalam dadanya.

​Brian keluar lewat pintu belakang, menghindari area ruang tengah. Saat mesin mobilnya menderu pelan meninggalkan kediaman Mahaputra, ia merasa seperti seorang tawanan yang berhasil melarikan diri, meski ia tahu, fajar nanti ia harus kembali ke penjara yang sama.

​Perjalanan menuju pusat kota terasa cepat. Lampu-lampu Jakarta yang neon berseliweran di sampingnya. Brian memacu mobilnya, mencoba meninggalkan bayangan wajah Bakhtiar yang penuh hinaan dan wajah ibunya yang penuh tuntutan.

​Malam ini baru saja dimulai, dan bagi Brian Mahaputra, malam adalah satu-satunya waktu di mana ia merasa ia memiliki dirinya sendiri, sebelum esok hari ia kembali menjadi target panah di rumah yang ia sebut 'istana'.

Lanjut membaca
Lanjut membaca