

Hari Senin pun tiba Tommy bersiap berangkat ke sekolah saat diperjalanan ia melihat seorang cewek SMP Tunggal Persada kelas 2 yang bernama Permata yang digoda 3 orang cowok SMA Negeri 1 kelas 1, Tommy pun menghampiri mereka.
"ada apa ya disini?" Kata Tommy
"aku lagi mau berangkat ke sekolah tapi dihadang mereka dan digoda gitu" kata Permata
"woy bocah mending lu minggat aja gak usah ikut campur" kata Anto salah satu anak SMA yang bertubuh tinggi dan gagah sambil melirik nama di seragam Tommy
"gimana ya tapi gua gak mau minggat nih?" Kata Tommy
"punya nyali juga lu Tommy, bocah SMP negeri 1, gais bawa dia ketempat sepi kita kasih pelajaran!" Kata Anto
"gak usah pegang-pegang gua bisa jalan sendiri" Kata Tommy
Permata pun tidak diganggu lagi oleh mereka sedangkan Tommy jadi sasaran mereka. Permata pun mengikuti juga dari belakang karena merasa bersalah kalau meniggalkan Tommy sendirian dan sampai lah mereka di lokasi sepi.
"jadi siapa yang mau nyerang duluan?" Kata Tommy
"lu dulu deh bocah sini maju" Kata Anto
Perawakan Tommy tinggi 175 cm dengan bobot 70 kg untuk ukuran anak SMP Negeri 1 dia yang paling tinggi di sekolah sedangkan 3 lawannya sekitar 185 cm (Anto) dengan bobot 65 kg, 170 cm (Kenny) dengan bobot 60 kg, 182 cm (Budi) dengan bobot 67 kg
Pertarungan pun dimulai Tommy yang akan menyerang duluan maka dari itu dia mulai menahan napas dan bergerak ke arah lawan, 3 lawannya pun terkejut melihat Tommy sudah tidak ada didepan dalam sekejap
" hilang kemana tuh bo..." Kata Anto saat belum selesai ngomong seketika Tommy sudah ada dibelakang Anto menyentuh pundaknya dari belakang
Refleks, kepala ia menoleh ke belakang.
Kosong
Tapi tepat di saat itu Tommy muncul lagi
Bugghh
Sebuah pukulan mendarat keras di perutnya. Anto terhuyung, napasnya tercekat. Ia mundur beberapa langkah, wajahnya berubah menjadi geram.
“woy sialan dimana lu?” Kata Anto.
Dan Tommy sudah terlihat lagi oleh mereka
“Gitu aja pukulan lu?” kata Anto
Kenny mulai panik. “Anjirr dia barusan ngilang”
“Trik doang itu!” Kata Budi, mencoba menenangkan diri.
“Serang bareng!” Kata Kenny
Mereka maju bersamaan.
Tommy menarik napas lagi (menghilang)
Lalu saat Tommy muncul didepan mata Kenny, Kenny dengan cepat mengayunkan pukulan ke Tommy tapi hanya memukul udara kosong.
“Sial! Di mana dia?!” Kata Kenny
Budi berbalik, matanya liar. “Gue gak lihat apa-apa!”
Karena Tommy tak mau berlama-lama dan takut terlambat sekolah, mau tak mau dia harus menjatuhkan mereka dalam sekali pukulan dan tendangan fatal
Bugghh
Anto jatuh pingsan saat Tommy menyerang (membuang napas) dari belakang Anto dengan tendangan kencang memutar kaki kanan ke arah kepala Anto
Lalu menghilang lagi (menahan napas)
Permata yang berdiri di ujung gang menutup mulutnya, matanya membesar. Ia melihat sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Seperti hantu bergerak dengan cepat kian kemari
Tommy muncul (membuang napas) sekejap di sisi Kenny dengan pukulan sikut tangan kanan ke arah belakang kepala dengan keras
Bugghh Kenny terkapar
Lalu Tommy hilang lagi (menahan napas)
Tommy muncul (membuang napas) di belakang Budi lalu menyentuh wajahnya dengan jari tangan kanan serta membanting kepala belakangnya ketanah sebanyak 3 kali
Bugghh bugghh bugghh
Lalu Budi pingsan setelah itu Tommy hilang (menahan napas)
Setiap kali ia muncul, hanya sepersekian detik. Cukup untuk menyerang lalu menghilang sebelum bisa dibalas balik lawan.
3 musuhnya pun sudah terkapar ditanah
Lalu Tommy muncul (membuang napas) disamping Permata
"Ya Tuhan kaget aku" kata Permata terkejut melihat Tommy sudah disamping nya
"Kamu gak apa-apa kan?" Kata Permata
"Iya gak apa-apa, ya udah yok berangkat sekolah nanti kamu telat biar aku antar" Kata Tommy sambil memegang tangan kiri permata dan berlari menuju ke SMP Tunggal Persada
"Akhirnya kita sampai juga, ya udah aku tinggal ya" kata Tommy
"Tunggu jangan pergi dulu makasih ya udah nolongin aku tadi, kenalin aku Permata, nama kamu siapa? Aku boleh minta no HP mu gak?" Kata Permata sambil mengeluarkan HP dikantong roknya.
"Iya sama-sama, nama ku Tommy, sini ku ketik nomornya" kata Tommy
"Ini HPnya" kata Permata sambil menyerahkan HPnya ke Tommy
"Kalau ada bahaya kamu telpon atau SMS aja ya nanti aku datang" kata Tommy sambil mengembalikan HP Permata
"Oke, hati-hati dijalan ya" kata Permata
"Iyaaa kamu juga hati-hati" kata Tommy sambil berlari kencang meninggalkan sekolah SMP Tunggal Persada
Sekitar 15 menit lalu tibalah Tommy disekolah dengan napas ngos-ngosan maka diliat jam tangan menunjukkan 08.50 WIB maka segera berlari lagi dia menuju kelas karena sudah mau bel 10 menit lagi dan tibalah dia dikelas jam 08.55 lalu duduk dikursi
5 menit setelah Tommy dan Permata pergi dari lokasi pertarungan tadi 3 cowok SMA itu mulai siuman dan merapihkan diri mereka untuk berangkat sekolah dan menceritakan apa yang terjadi tadi kepada satu sekolah mereka
“Woy orang rendahan” Kata Raka
Suara itu membuat seluruh kelas sedikit hening
Seorang siswa berdiri di depan mejanya. Dengan tinggi badan 170 cm bobot 55 kg, dengan tatapan merendahkan yaitu Raka
Salah satu yang paling sering membuat hidup Tommy sulit
“Katanya lu jago berantem sekarang?” kata Raka sambil menyeringai
“Ada kabar dari Abang gua barusan katanya tadi pagi ada 1 cowok SMP negeri 1 namanya Tommy yang ngelawan 3 cowok SMA negeri 1” kata Fauzi
Beberapa siswa mulai berbisik
“gua cuman mau nolong cewek yang diganggu mereka itu aja kok” Kata Tommy
"Udah mau jadi pahlawan aja nih anak pembunuh, kalau gitu kita tes kemampuan lu disini gapapa kan?" Kata Raka
Suasana mulai tegang.
Biasanya, Tommy akan diam. Tapi kali ini, ia berdiri perlahan
“Salah gua apa sehingga lu mukulin dan bully gua tiap hari?” tanya Tommy
"Salah lu gak ada cuman tangan gua gatal aja tiap lihat anak pembunuh kayak lihat pembunuh beneran" kata Raka sambil tertawa kecil
Ia mendorong bahu Tommy
Kelas mulai riuh
Tommy mengepalkan tangan lalu berhenti, ia sadar bahwa perkataan Raka sepenuhnya tidak salah karena ayahnya memang pembunuh berantai
“Kenapa? Takut?” ejek Raka.
Tommy menatapnya lurus.
Untuk pertama kalinya tanpa rasa takut.
“Gua gak takut” kata Tommy
“Bagus” kata Raka sambil menyeringai
Lalu Raka mengayunkan kepalan tangan ke arah Tommy
Tapi sebelum pukulan itu sampai, seseorang berteriak dari pintu kelas
“STOP!” kata Pak Yono (guru IPS)
Semua menoleh
Seorang guru berdiri di sana, wajahnya tegas
“Ada apa ini?!” kata Pak Yono
Raka langsung mundur, pura-pura santai. “Gak ada, Pak. Cuma bercanda”
Guru itu menatap tajam, lalu menghela napas. “Kalian semua duduk. Sekarang”
Kelas kembali normal setidaknya di permukaan
Tommy pun kembali duduk dengan tenang serta mengikuti pelajaran pertama yaitu IPS setelah itu pelajaran kedua yaitu IPA setelah itu jam 1 siang istirahat, disitulah akan dimulai konflik lagi