

Pendingin ruangan di lantai dua belas itu terus mengembuskan udara beku. Kemeja putih Ravendra Kalyasena basah oleh keringat dingin.
Sebuah benda perak seukuran ibu jari meluncur kasar melintasi meja kaca, berhenti tepat di depan tangannya.
"Data nasabah VIP perusahaan ada di dalam sana," suara Baskoro memecah keheningan. Lelaki paruh baya itu mencondongkan tubuhnya ke depan. "Ditemukan di dasar loker seragam kamu pagi ini, Ravendra."
Rave berdiri mematung. Pandangannya turun menatap benda perak tersebut, lalu perlahan naik mencari sepasang mata atasannya. Di sisi kanan meja, Shinta bersandar pada kursi putarnya dengan kedua lengan terlipat.
"Saya memang membersihkan meja Bapak tadi malam," ucap Rave pelan. "Itu memang jadwal rutin saya, tapi saya tidak mengambil apa pun."
"Lalu benda itu berjalan sendiri ke dalam loker kamu?" Shinta menimpali. Senyum sinis tercetak di bibir perempuan itu.
"Saya tidak tahu-menahu soal benda itu, Bu."
"Tentu saja kamu akan bilang begitu." Shinta memajukan kursinya. "Orang-orang seperti kamu selalu punya alasan. Menjual data rahasia perusahaan ke pihak luar adalah jalan pintas yang sangat masuk akal, bukan?"
"Saya bahkan tidak tahu kata sandi komputer Bapak," kata Rave seraya menatap lurus ke arah Baskoro.
Urat di leher Baskoro menegang. Lelaki itu menarik sebuah map biru, membukanya dengan kasar, dan mendorong selembar kertas berlogo perusahaan ke tepi meja.
"Keamanan mengonfirmasi kamu orang terakhir yang keluar dari ruangan saya," ucap Baskoro. "Perusahaan tidak butuh skandal. Kami berbaik hati tidak melibatkan pihak kepolisian. Tapi kamu dipecat hari ini. Kemasi barang kamu dan keluar dari gedung ini."
Rave mengendurkan kepalan tangannya di balik punggung. Keheningan kembali merajai ruangan. Dia membungkuk perlahan, mengambil selembar kertas itu dengan tangan yang sangat tenang.
"Terima kasih atas kesempatannya selama ini, Pak."
Rave berbalik tanpa menunggu jawaban.
Dia melangkah keluar, membersihkan isi lokernya yang hanya berisi sebuah jaket, lalu melangkah melewati pintu kaca lobi utama untuk terakhir kalinya.
***
Sang mentari mulai tenggelam, menyisakan langit jingga yang kotor oleh asap dan debu. Rave memilih jalan pintas melewati lorong di belakang deretan gedung perkantoran. Tempat itu sempit, lembap, dan tertutup bayangan bangunan raksasa.
Tiga sosok lelaki melangkah keluar dari balik tumpukan palet kayu, memblokir jalan.
"Woy, berhenti." Lelaki yang berdiri di tengah mengangkat dagu. Tubuhnya gempal, lengannya dipenuhi tato. "Tas lo sini."
Rave menghentikan langkah. Napasnya memberat. "Gue cuma mau numpang lewat, Bang. Nggak ada apa-apa di tas gua."
"Sini tas sama dompet lo." Lelaki di sebelah kiri melangkah maju.
"Dompet gue kosong. Gue baru aja dipecat."
"Banyak bacot banget lo." Lelaki di sebelah kanan mendengus, lalu maju menarik kerah kemeja putih Rave secara kasar. "Pegawai kantoran mana ada yang miskin."
Rave mencoba menepis tangan itu.
Gerakannya terlalu lambat. Sebuah kepalan tangan mendarat telak di tulang pipi Rave. Pandangannya berputar. Tubuhnya limbung menghantam dinding bata.
Lelaki bertubuh gempal mendekat, menarik rambut Rave hingga ia terpaksa mendongak.
"Lo mau ngelawan?"
Tendangan mendarat di perut Rave. Napasnya terputus. Dia jatuh berlutut di atas aspal kotor. Kedua tangannya memeluk perut. Rasa mual seketika mengaduk lambungnya.
"Angkat."
Dua lelaki lain menarik lengan Rave secara paksa, membuatnya kembali berdiri.
"Ambil aja tasnya. Jangan ..." Suara Rave bergetar. Darah mengalir dari sudut bibirnya.
Kepalan tangan kembali mendarat di rahangnya. Rave terjerembap.
"Lemah banget." Lelaki gempal itu meludah ke tanah. "Cek dompetnya."
Rave mencoba merangkak mundur. Lelaki gempal itu maju, mencengkeram kerah kemeja Rave dengan kedua tangan, lalu mengangkatnya setengah berdiri.
"Sepatu gue kotor kena darah lo."
Lelaki gempal itu mendorong dada Rave sekuat tenaga. Tubuh Rave terlempar ke belakang. Kepalanya menghantam sebuah bongkahan batu tajam yang menonjol.
Dunia mendadak hening.
Rave terkapar. Matanya terbuka setengah. Langit tampak berputar cepat. Napasnya berhenti sejenak. Rasa sakit tidak langsung datang.
Hanya ada rasa dingin yang aneh mengalir dari bagian belakang tengkoraknya, menjalar ke sumsum tulang belakang, lalu merambat naik ke saraf matanya.
"Mati dia?" Suara lelaki di sebelah kiri terdengar sangat jauh.
"Biarin aja. Buruan periksa kantongnya."
Sebuah dengungan tajam bernada tinggi meledak di dalam telinga Rave.
Dia memejamkan mata erat-erat. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Darah yang mengalir dari belakang kepalanya terasa hangat. Tekanan di belakang bola matanya meningkat drastis, seolah-olah ada sistem paksa yang baru saja menyala karena trauma fisik ekstrem.
Rave membuka matanya.
Lelaki gempal itu berjongkok di dekat kakinya, tangannya terulur untuk mengambil tas Rave.
Rave berkedip. Kain celana denim yang dikenakan lelaki itu memudar. Warnanya menipis, lalu menjadi transparan.
Bukan karena pakaian itu hilang.
Mata Rave menembusnya.
Dia melihat lapisan kulit. Dia melihat jaringan otot yang berkontraksi saat lelaki itu berjongkok. Dia melihat struktur tulang. Di pinggang lelaki itu, tersembunyi di balik ikat pinggang yang kini tembus pandang, sebuah benda logam tajam bersarang, sebuah pisau lipat.
Mata Rave bergerak ke bagian dada lelaki itu. Di antara deretan tulang rusuk yang bergerak naik turun seiring tarikan napas, Rave melihat anomali. Dua tulang rusuk di sisi kiri tubuh lelaki gempal itu memiliki struktur yang tidak rata. Retak tua yang tidak menyambung dengan sempurna. Kelemahan fatal.
"Mata lo kenapa, hah?" Lelaki gempal itu menghentikan tangannya.
Rave tidak menjawab. Rasa takut yang melumpuhkannya menguap tak berbekas. Rasa sakit di sekujur tubuhnya seolah mati rasa.
Dengan kecepatan yang tidak dia duga sendiri, Rave menangkap pergelangan tangan lelaki gempal itu.
"Lepasin, anjing!" Lelaki itu mencoba menarik tangannya.
Rave menggenggam lebih erat. Memanfaatkan tarikan lelaki itu, Rave menarik tubuhnya sendiri untuk bangkit. Tangan kirinya melesat menghantam keras tepat di dua tulang rusuk kiri yang retak itu.
Mata lelaki gempal itu membelalak. Tubuhnya meliuk tajam, lalu jatuh berlutut sambil memegangi sisi kiri dadanya. Wajahnya memucat, napasnya tersengal parah.
"Ngapain lo?!" Lelaki kedua melangkah maju dengan cepat. Tangan kanannya merogoh saku dalam jaket kulitnya.
Rave menoleh perlahan.
Matanya menembus jaket tebal tersebut. Di dalam saku, Rave melihat tangan lelaki itu mencengkeram sebuah bungkusan plastik kecil berisi serbuk kristal. Otot jantung lelaki itu memompa darah dengan kecepatan tidak normal, memancarkan kepanikan.
"Keluarin tangan lo." Suara Rave serak. "Kecuali lo mau polisi di depan jalan sana ngelihat serbuk putih di jaket lo."
Langkah lelaki kedua terhenti seketika. Tangannya membeku di dalam saku.
"Dari ... mana lo tahu, bangsat?!"
"Keluarin." Rave melangkah maju satu langkah. "Atau gue bikin tulang rusuk lo remuk kayak temen lo."
Lelaki itu menarik tangannya perlahan, membiarkan saku jaketnya kosong. Matanya bergetar menatap Rave.
"Pisau lipat di pinggang temen lo itu ..." Rave menunjuk ke arah lelaki gempal yang mengerang di atas aspal. "... nggak bakal sempat keluar kalau kalian nggak kabur sekarang."
Lelaki ketiga yang berdiri paling belakang memundurkan langkahnya.
"Cabut. Kita cabut!"
Lelaki kedua memapah lelaki gempal itu. Mereka bertiga berjalan mundur perlahan, sebelum akhirnya berbalik dan berlari tunggang langgang menuju ujung jalan raya.
Lorong itu kembali hening.
Rave menyandarkan punggungnya pada dinding. Dia menyentuh bagian belakang kepalanya. Tangannya basah oleh cairan merah pekat. Dia melihat telapak tangannya sendiri. Kulitnya tidak tembus pandang.
Dagingnya tidak transparan.
Dia hanya bisa melihat menembus orang lain.
Rave mengambil tas selempangnya di lantai, lalu berjalan tertatih menuju ujung lorong. Sinar jingga lampu jalanan kota menyambut wajahnya.
Seorang perempuan muda berjalan melewatinya. Langkah perempuan itu cepat, wajahnya tegang. Dia mengenakan mantel panjang tebal.
Rave memfokuskan pandangannya. Kepalanya kembali berdenyut ringan.
Kain tebal mantel itu perlahan memudar. Rave melihat struktur otot punggung perempuan itu. Di balik tas selempang kecil yang tertutup rapat, pandangan Rave menembus bahan kulit tas tersebut. Dia melihat bongkahan logam padat berpeluru.
Sepucuk pistol kecil.
Perempuan itu terus berjalan masuk ke dalam sebuah gedung, sama sekali tidak menyadari bahwa semua lapisan pelindung dan rahasianya telah terbongkar utuh di mata seorang lelaki yang baru saja dilewatinya.
Bibir Rave perlahan melengkung. Senyumnya tidak simetris.
"Pakaian..." bisik Rave pelan. "...cuma topeng."
Rave menatap kerumunan manusia yang berlalu-lalang di trotoar seberang jalan. Di matanya, mereka semua rapuh. Semua kelemahan fisik, senjata tersembunyi, cedera masa lalu, dan rahasia mematikan yang disembunyikan rapat-rapat kini terbuka sangat lebar untuknya.
"Mulai hari ini..." Rave bergumam. Langkahnya tidak lagi berat, kakinya menjejak aspal dengan kepastian yang menakutkan. "...gue bisa melihat semuanya."