Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sang Penakluk Alam Gaib

Sang Penakluk Alam Gaib

NabihanGo | Bersambung
Jumlah kata
28.7K
Popular
100
Subscribe
2
Novel / Sang Penakluk Alam Gaib
Sang Penakluk Alam Gaib

Sang Penakluk Alam Gaib

NabihanGo| Bersambung
Jumlah Kata
28.7K
Popular
100
Subscribe
2
Sinopsis
18+FantasiFantasi TimurKultivasiBalas DendamDunia Gaib
Revan "Si Bajak Laut" Prakasa, seorang pemuda nelayan dari Pulau Sumba yang dihina dan dibunuh oleh keluarga penguasa karena memiliki "darah terkutuk". Ia bangkit kembali setelah menyatu dengan Pusaka Keris Mpu Gandring yang hidup. Sistem kultivasi berbasis "Energi Alam Nusantara" (bukan qi biasa) muncul: ia bisa menyerap kekuatan gunung, lautan, gunung berapi, dan roh-roh leluhur. Revan naik level dengan cara membuka "Gerbang Alam" di berbagai pulau mistis Indonesia. Balas dendam ke kerajaan yang menghancurkannya, sambil mengumpulkan harem wanita berbakat (pendekar perempuan, dukun cantik, putri kerajaan). Ini adalah kisah tentang kekuatan, ambisi dan takdir. Tentang seorang pria yang bangkit dari Kematian dan bersumpah akan menaklukkan alam gaib Nusantara.
01

"Berhenti di sana, nelayan! Angkat tanganmu atau kepalamu yang akan kami angkat!"

Revan tertegun, jaring ikan di tangannya melorot jatuh ke pasir pantai yang basah. Di hadapannya, lima orang berpakaian zirah kerajaan berdiri dengan pedang terhunus. Matahari Sumba yang terik seolah menyengat kulitnya.

"Apa maksud kalian? Aku hanya mencari nafkah untuk ibuku," jawab Revan dengan suara bergetar.

"Darahmu, Revan. Darah di dalam tubuhmu adalah kutukan bagi kerajaan kami," sahut salah seorang prajurit, sosok jangkung dengan bekas luka melintang di pipi kirinya.

"Darah apa? Aku hanya orang biasa!" Revan memundurkan langkah, kakinya menekan pasir yang mulai basah oleh ombak.

"Pangeran Arya tidak mentoleransi benih pengkhianat. Namamu sudah ada dalam daftar eksekusi," ucap sang prajurit sambil mengayunkan pedangnya ke arah udara.

"Tunggu! Ini pasti kesalahpahaman. Aku tidak pernah berurusan dengan kerajaan," teriak Revan.

"Kebenaran tidak penting bagi kami. Kematianmu adalah satu-satunya jawaban," timpal prajurit lain sembari mengepungnya.

Revan menatap tajam ke arah mereka. Ia sadar, tidak ada jalan keluar. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih.

"Jika memang harus mati, aku tidak akan memohon," pikirnya dalam hati.

"Jika kalian haus akan darah, ambillah! Tapi ingat, keadilan tidak akan pernah mati bersama tubuhku," tantang Revan dengan suara lantang meski hatinya mencelos.

"Berani sekali kau bicara soal keadilan," ejek sang pemimpin prajurit.

Tanpa aba-aba, pedang panjang menebas udara. Revan menghindar dengan refleks yang tidak ia sangka, namun sebuah hantaman keras mendarat di rusuknya, melemparnya hingga tersungkur ke tanah. Rasa sakit yang tajam menghantam dadanya, napasnya tersengal.

"Darah terkutuk itu seharusnya tidak pernah ada," ujar prajurit itu lagi, kini berdiri tepat di atas Revan.

"Kalian pengecut," desis Revan.

"Pengecut atau penguasa, itu hanya soal siapa yang memegang kendali," balas sang prajurit.

Ujung pedang yang tajam dan berkilat perak tertuju tepat ke arah jantung Revan. Ia memejamkan mata, membiarkan deburan ombak menjadi suara terakhir yang ia dengar.

"Ibu, maafkan aku," batinnya perih.

Sebuah dorongan dingin menusuk dadanya. Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuh, membakar setiap saraf hingga ke ujung jari. Darah hangat mengalir dari lukanya, membasahi pasir pantai yang putih, mengubahnya menjadi merah pekat.

"Sudah selesai," ujar prajurit itu dingin.

"Bawa mayatnya ke tengah laut agar tidak ada jejak yang tersisa," perintah sang pemimpin.

Tubuh Revan yang lemas ditarik secara kasar oleh dua orang prajurit. Mereka menyeretnya seperti binatang buruan menuju perahu kecil yang tertambat di tepi pantai. Tanpa belas kasihan, tubuh itu dicampakkan ke dalam perahu, lalu didayung menuju perairan dalam.

Saat perahu mencapai titik terdalam, sang pemimpin menatap tubuh Revan yang terbaring kaku.

"Selamat tinggal, nelayan rendahan," bisiknya tanpa sedikit pun empati.

Tubuh Revan dilempar ke laut lepas, membuat tubuhnya perlahan tenggelam ke dasar yang gelap. Dunia di sekitar Revan perlahan memudar. Gelap. Hampa. Sunyi.

Namun, di tengah kegelapan itu, sebuah denyut terasa.

Di kedalaman laut yang jarang dijamah cahaya matahari, sesuatu mulai bergerak. Bukan ikan, bukan pula arus air. Sebuah artefak kuno, keris yang terkubur berabad-abad di bawah endapan pasir, mulai memancarkan aura keunguan yang mencekam. Pusaka itu seolah memanggil, seolah mengenali darah yang mengalir dari luka di dada Revan.

Saat tubuh Revan perlahan melayang di atas artefak tersebut, keris itu mulai bergetar hebat. Retakan-retakan kecil muncul di permukaan pusaka, mengeluarkan energi yang mampu menggetarkan isi laut. Seolah mendapatkan rumah baru, keris Mpu Gandring itu melesat, menembus kulit dan daging Revan, langsung menyatu dengan detak jantung sang nelayan.

Revan tidak lagi merasakan dinginnya air laut. Ia merasa seolah tubuhnya sedang direnggut dan disatukan kembali dalam bentuk yang berbeda. Darah yang seharusnya hilang kini justru terasa mendidih, mengalirkan kekuatan yang tidak ia pahami.

Di balik matanya yang terpejam, ribuan ingatan tentang sejarah yang tersembunyi berputar bagai badai. Sesuatu yang agung, sekaligus terkutuk, kini bersemayam di balik rusuknya.

Di permukaan, perahu para prajurit itu sudah menjauh, meninggalkan jejak buih yang menghilang ditelan gelombang besar. Mereka tidak tahu bahwa keputusan mereka hari ini bukanlah sebuah akhir, melainkan awal dari kehancuran yang mereka buat sendiri.

Di dasar laut, di antara terumbu karang yang mati, mata Revan, yang seharusnya sudah tertutup selamanya, perlahan terbuka.

Cahaya keemasan dan hitam berpadu di dalam iris matanya, memancarkan aura yang membuat arus laut di sekitarnya berhenti seketika. Pusaka itu tidak hanya hidup di dalam dirinya; ia kini menjadi bagian dari napas, aliran darah, dan dendam yang mulai bergejolak.

Revan tidak bergerak, namun hatinya berteriak. Sebuah dendam yang lebih kuat dari kematian kini tertanam di jiwanya. Ia akan kembali. Dan ketika ia sampai di permukaan nanti, dunia tidak akan lagi sama.

Pusaka di dadanya berdenyut selaras dengan detak jantungnya yang baru. Sang Nelayan dari Sumba telah mati, namun dari abunya, sesuatu yang lebih berbahaya telah lahir.

"Di mana... ini? Apakah ini neraka?"

Suara itu terdengar asing bagi Revan, seolah-olah bukan keluar dari tenggorokannya sendiri, melainkan bergema langsung dari dalam tempurung kepalanya. Di sekelilingnya hanya ada kegelapan yang pekat, namun anehnya, ia tidak lagi merasakan sesak napas. Air laut yang dingin kini terasa seperti pelukan hangat yang meresap ke dalam pori-pori kulitnya.

"Neraka? Kau terlalu sombong jika berpikir tempat serendah itu bisa menampung jiwa yang baru saja aku klaim, Anak Muda."

Revan tersentak, mencoba menggerakkan tangannya, namun tubuhnya terasa berat. "Siapa? Siapa di sana?"

"Aku adalah akhir dari banyak nyawa, dan awal dari kehancuran yang akan kau bawa. Manusia mengenalku sebagai kutukan, tapi kau... kau akan memanggilku Tuan."

Sebuah cahaya keunguan yang berpendar redup muncul tepat di depan mata Revan. sebilah keris tanpa sarung melayang perlahan. Bilahnya berkelok tujuh, dengan pamor yang tampak seperti aliran darah kering yang membeku selama berabad-abad.

"Kau... pusaka itu?" tanya Revan, suaranya bergetar antara takut dan takjub.

"Pusaka? Sebutan yang terlalu halus. Aku adalah kemarahan Mpu Gandring yang belum tuntas. Aku adalah janji kematian tujuh turunan yang kini menemukan wadah baru di dalam darah terkutukmu."

"Darah terkutuk... prajurit itu juga mengatakan hal yang sama. Apa maksudnya?"

"Mereka takut, Revan. Kerajaan itu, Pangeran Arya itu... mereka membunuhmu bukan karena kau salah. Mereka membunuhmu karena di dalam nadimu mengalir sisa-sisa energi naga purba yang sudah lama mereka coba musnahkan. Mereka pikir dengan menenggelamkanmu, rahasia itu akan terkubur. Mereka salah."

Revan merasakan sebuah denyutan tajam di dadanya, tepat di tempat pedang prajurit itu tadi menembus jantungnya. "Sakit! Ahhh! Kenapa dadaku rasanya seperti dibakar?"

"Jangan tampakkan kelemahan mu yang sia-sia! Serap energinya! Itu adalah proses penyatuan. Jantungmu yang hancur sedang kugantikan dengan inti jiwaku. Jika kau menyerah sekarang, kau hanya akan menjadi bangkai yang membusuk di dasar samudra ini!"

"Tapi ini terlalu panas... aku tidak kuat!" teriak Revan, air di sekitarnya mulai bergolak dan membentuk pusaran kecil.

"Kau ingin balas dendam, bukan? Ingat wajah ibu yang kau tinggalkan! Ingat tawa prajurit yang meludahi harga dirimu! Gunakan kemarahan itu sebagai bahan bakar!"

Revan memejamkan mata erat-erat. Bayangan ibunya yang menangis, gubuknya yang kumuh, dan ujung pedang yang dingin itu kembali terlintas. Rasa sakit yang tadi tak tertahankan perlahan berubah menjadi amarah yang mendidih. "Aku... aku tidak ingin mati di sini! Aku ingin mereka membayar semuanya!"

"Bagus! Begitulah cara bicara seorang penakluk. Sekarang, rasakan aliran energi alam ini. Dasar laut ini penuh dengan sisa-sisa kekuatan Nusantara yang belum terjamah. Biarkan aku menariknya untukmu."

Revan merasa seolah-olah ribuan jarum tak terlihat menusuk seluruh permukaan kulitnya. Energi dingin dari arus bawah laut ditarik paksa masuk ke dalam tubuhnya, berbenturan dengan energi panas dari sang keris di dalam dadanya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca